Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Kebohongan


__ADS_3

Hendry terdiam sejenak sembari memandangi wanita di bawahnya. Ia agak kecewa karena Citra seakan tidak ikut menikmati bahkan berusaha menghindari ciuman yang ia berikan.


"Kalau kamu tidak berusaha menikmatinya, mungkin aku akan menyakitimu."


Citra terdiam. Sangat sulit menerima kehadiran orang baru yang tiba-tiba datang dalam hidupnya. Meskipun mereka sudah menikah, Hendry masih terasa asing untuknya.


"Buka mulutmu dan coba untuk membalas ciumanku dengan baik!" pinta Hendry.


Lelaki itu kembali mendekatkan wajahnya. Kali ini Citra menurut. Ia membuka sedikit mulutnya yang langsung dipagut oleh Hendry dengan lembut.


Citra terlalu takut dengan perasaannya sendiri. Rasa yang baru itu muncul ketika lidah mereka saling bertemu. Tidak bisa dipercaya ia melakukan hal seintim itu dengan lelaki yang dibencinya sejak SMA. Bahkan ia yang awalnya titak suka semakin terlena dengan sentuhan bibir suaminya.


Ia merasakan rabaan tangan Hendry mulai menjamahi tubuhnya. Rasanya semakin aneh, membuat ia ingin menolak namun tidak bisa. Lelaki itu menepati ucapannya untuk berhati-hati dengan perutnya.


Ia biarkan lelaki itu memberikan kenikmatan lewat setiap sentuhan yang mendarat di sekujur tubuhnya. Dimana Hendry memberikan sentuhan, Citra seakan dibuat melayang dalam kenikmatan. Apalagi saat mulut Hendry menyesapi bagian dadanya dengan bersemangat.


Matanya membelalak saat tiba-tiba lelaki itu membenamkan wajahnya di atas kepemilikannya. Reflek ia merapatkan paha ketika dengan gilanya Hendry seakan ingin memakannya. Suara desa.han tak henti-hentinya keluar dari mulutnya.


Perlakuan Hendry tak bisa membuatnya benci. Citra bahkan sudah terbawa hasrat betapa nikmatnya kegiatan mereka sekarang.

__ADS_1


Saat Hendry membuka kedua kakinya, ia menghela napas dalam-dalam. Sekilas ia melihat milik sang suami yang langsung membuatnya memalingkan wajah karena malu.


Hendry sudah tidak bisa menundanya lagi. Ia ingin segera menyalurkan hasratnya. Tak ada hal lain di hatinya kecuali kebahagiaan bisa menyentuh wanita yang merupakan cinta pertama.


Ada rasa gugup saat ia mulai melakukan penyatuan, ia begitu berhati-hati agar tidak menyakiti wanita itu dan calon bayinya. Ia satukan tangannya dan tangan Citra, bibir mereka saling memagut. Perlahan ia dorong miliknya ke dalam tempat rahasia yang terus berdenyut memanjakan miliknya sampai ia harus geleng-geleng kepala saking nikmatnya.


Meskipun tak ada percakapan di antara mereka, suara desa.han yang saling bersahutan telah menjelaskan bahwa keduanya sama-sama menikmati apa yang mereka lakukan.


***


Citra dan Hendry sama-sama terbaring di atas ranjang setelah melewati aktivitas panas yang cukup melelahkan. Keduanya masih belum sempat berpakaian. Tubuh polos mereka hanya tertutupi oleh selimut tebal. Mereka sama-sama masih terdiam setelah mencapai pelepasan.


"Tidak sakit, kan?" tanya Henry mulai membuka pembicaraan.


Apa yang tidak bisa ia dapatkan dari pernikahannya sebelumnya, bisa ia rasakan di pernikahannya yang sekarang. Mungkin pengalamannya kali ini tidak akan bisa ia lupakan dan akan terus terbayang-bayang bagaimana setiap gerakan yang Hendry berikan membuatnya mabuk kepayang.


"Apa kamu masih marah padaku?" tanya Hendry lagi.


Pertanyaan itu tidak bisa Citra jawab. Ia tidak bisa marah kepada orang yang baru saja menyenangkan tubuhnya dan membuat pikirannya menjadi rileks.

__ADS_1


"Aku tidak bisa mengontrol diriku setiap kali melihatmu memberikan perhatian pada mantan suamimu itu. Aku ingin kamu mulai melihatku karena aku suamimu. Meskipun kamu belum mencintaiku sekarang."


"Bukankah lebih baik jika kita belajar untuk saling mencintai? Bayi di dalam perutmu juga pasti akan merasa senang jika ayah dan ibunya akur seperti tadi."


Wajah Citra langsung memerah malu.


Hendry tidak menyangka kali ini akhirnya dia berhasil *******. Ia kira akan terjadi seperti dulu, hanya setengah jalan dan gagal. Ternyata ia berhasil mempertahankannya sampai akhir. Pikirannya pun terasa lebih ringan seakan beban di kepalanya telah hilang.


"Apa selama ini kamu berbohong?" tanya Citra sembari menundukkan pandangan.


"Aku berbohong? Tentang apa?" tanya Hendry penasaran. Ia bahkan tidak tahu kebohongan apa yang telah ia ungkapkan kepada Citra.


"Katanya ... Itu tidak bisa berfungsi," kata Citra lirih. Ia malu mengatakannya. Apa yang pernah Hendry katakan sama sekali tidak sesuai dengan realita.


Hendry tercengang. Ia baru ingat saat awal sebelum mereka menikah kalau miliknya memang bermasalah. "Aku rajin konsultasi ke dokter. Juga rajin olahraga dan memperbaiki gaya hidup. Apa kamu kecewa dengan performaku? Kamu masih kurang puas? Mau aku ulangi lagi?" tanya Hendry bersemangat sembari bergeser mendekat ke arah Citra. Wanita itu beringsut menjauh sambil menahan selimut yang menutupi tubuhnya agar tidak lepas.


"Aku masih lelah!" tolak Citra.


Hendry menghela napas kecewa. Padahal ia sudah kembali menginginkannya lagi. Sesuatu di bawah sana sepertinya masih belum puas. Apalagi setelah merasakan sesuatu yang menyenangkan.

__ADS_1


Namun, karena istrinya sudah cukup kelelahan karenanya, ia tidak berani meminta lagi. Ia hanya melabuhkan ciuman singkat di pipi kiri Citra.


"Mandilah dulu. Aku akan memesankan makan malam kita."


__ADS_2