
Edis dan Angga masih duduk berdua di bangku taman. Keduanya memandangi malam yang gelap berhiaskan bintang-bintang.
"Kak Angga sebelumnya tidak pernah berkelahi, tidak pernah punya masalah apapun di sekolah. Karena menolongku waktu itu, Kakak jadi harus terlibat perkelahian dan jadi sorotan para guru." Edis masih saja menyesali kejadian itu. Meskipun ia merasa bersyukur Angga orang yang telah menolongnya, namun ia juga sedih Angga menjadi sasaran kemarahan para guru.
"Bagaimana Kakak akan datang ke sekolah besok dengan wajah seperti ini?" Edis begitu mengkhawatirkan kondisi Angga. Melihat lelaki itu dimarahi oleh Pak Mada di ruang guru, membuatnya sedih. Angga adalah panutan setiap siswa di sekolah. Tidak semestinya reputasinya hancur.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun." Angga menundukkan pandangannya. Ia sendiri sebenarnya sudah tidak peduli terhadap kehidupannya sendiri. Bahkan kalau harus mati, ia juga tidak akan keberatan.
"Bagaimana bisa aku tidak mengkhawatirkan Kakak? Kondisi Kakak akhir-akhir ini tidak seperti biasanya!" gerutu Edis.
Angga meraih tangan Edis seraya menggenggamnya erat. "Aku bisa menjaga diri dengan baik, jangan khawatir," ucapnya dengan tatapan kesungguhan.
"Mungkin kamu tidak khawatir pada dirimu sendiri. Tapi, selain dirimu, ada orang lain yang mengkhawatirkan keadaanmu. Apa tidak boleh ada yang tidak ingin melihatmu terluka dan benci melihatmu terluka seperti ini?" mata Edis sampai berkaca-kaca mengatakannya. Mungkin Angga belum merasakan tingkat kepeduliannya yang tinggi terhadap lelaki itu.
Angga mengangkat kepalanya. "Apa kamu sungguh-sungguh mencintaiku?" tanyanya.
"Kenapa Kakak menanyakanannya?" Ia kira Angga telah memahami perasaannya.
"Aku takut kamu menerimaku hanya karena terpaksa." Angga menunjukkan ekspresi wajah sendu.
Edis menggeleng. "Aku benar-benar mencintaimu dan peduli padamu."
Angga menarik tubuh Edis ke dalam dekapan eratnya. "Jangan pernah berhenti mencintaiku."
Sejenak mereka mengekspesikan perasaan cinta dengan saling memeluk. Hubungan mereka baru dijalani selama beberapa hari, namun terasa begitu berat langkah mereka ke depannya. Seakan mereka memiliki sekat yang sulit ditembus untuk bisa saling bersama.
"Katanya Kakakmu hari ini menikah?" tanya Angga sembari melangkah mengantarkan Edis pulang ke asrama.
"Iya, tapi pernikahan yang sederhana saja. Tidak ada acara apapun."
"Apa kamu juga ingin menyusulnya menikah?"
Edis tertawa sembari memandang ke arah Angga. "Apa yang sedang Kakak bicarakan? Kita masih sebatas anak SMA. Ada-ada saja."
__ADS_1
"Enam bulan lagi aku bukan anak SMA lagi. Kamu juga sisa satu setengah tahun menjadi anak SMA. Bagaimana kalau setelah lulus kita menikah?"
"Hahaha ... apa Kakak benar-benar sudah siap?" Edis menganggap ucapan Angga hanya sekedar gurauan belaka.
"Kalau kamu siap, aku akan melamarmu!"
Edis hanya tersenyum mendengar perkataan Angga. "Aku masuk dulu, Kak. Sampai jumpa besok," pamitnya.
Angga masih berdiri si depan pagar pintu asrama memperhatikan Edis yang melangkah masuk ke dalam. Ia memastikan kekasihnya lebih dulu masuk ke dalam sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan, Angga merenung tentang tujuan hidupnya ke depan. Kalau bukan karena Edis, rasanya ia sudah tidak ingin lagi hidup. Ia sangat benci dengan garis takdirnya yang harus tinggal dengan seorang lelaki yang sangat ia benci dan berstatus sebagai ayahnya.
Sebelum semuanya terkuak, ia merasa sang ayah sebagai sosok sempurna, ayah yang bertanggung jawab dan mencintai keluarga. Ayahnya sering bekerja lembur, pulang pergi dari luar kota bahkan luar negeri. Segala fasilitas mewah dinikmati hasil kerja keras sang ayah.
Akan tetapi, setelah mengetahui perselingkuhan yang selama ini ayahnya lakukan, ia berbalik membenci ayahnya sendiri. Ia merasa kebaikan sang ayah yang ditunjukkan hanya sebagai kedok untuk menutupi kebusukannya di luar rumah.
***
Retha masih memandangi sang suami yang tengah tertidur di sampingnya. Lelaki yang biasanya terlihat bersemangat, malam ini tertidur dengan lelap setelah sesi bercinta mereka telah berakhir.
Tidurnya terlihat lelap dan tenang, hembusan napasnya teratur. Bara terlihat mempesona, benar-benar tampan dan menawan di mata Retha.
Terkadang ia heran sendiri bisa dipertemukan dengan lelaki seperti Bara. Lelaki yang mampu mengangkat dirinya dari jurang keterpurukan ke tahta teratas seorang ratu. Wanita paling beruntung di dunia adalah wanita yang diratukan oleh suaminya, begitu kata pepatah yang pernah ia dengar.
Retha meraih ponselnya, mencoba menghubungi sang adik. Entah mengapa di malam yang bahagia ini ia ingin berbicara sebentar dengan adiknya.
"Halo ...," ucap Edis dari seberang telepon.
"Aku kira kamu sudah tidur, Edis," kata Retha.
"Baru saja aku mau tidur, tapi ponsel bergetar dan ada telepon masuk dari Kakak aku mengurungkan niat untuk tidur."
Retha tersenyum mendengarnya. Sejak Edis pindah ke asrama, mereka jadi semakin jarang bertemu dan bicara. Ia sangat mencintai adiknya dan selalu akan mencintai adiknya.
__ADS_1
Ia selalu teringat kembali saat-saat ibunya meninggal, adiknya masih kecil. Edis harus kehilangan kasih sayang seorang ibu di usianya yang masih tergolong muda. Sekuat tenaga ia berperan untuk memberikan kasih sayang kepada Edis, meskipun tetap saja tidak dapat menggantikan kasih sayang seorang ibu.
Edis sebagai anak remaja sering kali tidak bisa mengerti jalan pikirannya. Ia selalu bertindak demi kebaikan keluarga, sementara Edis sering menganggapnya egois, termasuk soal sang ayah yang dulu sempat ia terlantarkan. Edis kesal kepadanya karena membenci ayah.
"Apa kamu sudah belajar?" tanya Retha.
"Sudah, Kak. Ini sudah larut malam, waktunya orang untuk tidur, bukan lagi untuk belajar."
Rerha tertawa kecil mendengar Edis menggerutu. Pukul sebelas malam memang kebanyakan orang telah tidur. Namun, ia sama sekali belum merasa mengantuk.
"Kakak kenapa? Bukannya ini malam pengantin? Apa Kakak ditinggalkan Kak Bara?"
"Tidak, dia sudah tidur di sampingku."
"Hah, tidur?"
Edis terdengar kaget dengan ucapan yang baru saja Retha katakan.
"Iya, dia sudah tidur." Retha mengulangi jawabannya agar Edis percaya.
"Biasanya orang malam pertama tidak sempat tidur, Kak. Kakak kok aneh ...."
"Kata siapa? Memangnya kamu sudah pernah? Lagipula kamu masih kecil kok tanyanya begitu!
"Kakak sendiri yang meneleponku, aku kira mau curhat tentang malam pertama. Takutnya Kakak ditinggalkan Kak Bara."
"Itu tidak mungkin, Mas Bara orang yang sangat baik."
"Semoga saja seterusnya begitu ya, Kak. Aku akan ikut bahagia kalau kakak bahagia."
"Terima masih, Edis. Kamu sudah menjadi seorang adik yang baik."
"Seharusnya aku yang berterima kasih kepada Kakak, telah menjadi seorang kakak yang baik dan penyabar."
__ADS_1
Retha kembali teringat masa-masa sulit yang pernah dialami dirinya dan adiknya. Sebagai seorang kakak yang dulu sudah cukup dewasa untuk memahami kondisi keluarga, ia benar-benar tidak ingin kembali kepada masa lalu. Ia ingin dirinya dan keluarganya bahagia untuk seterusnya.