
"Aku tidak menyangka akhirnya kita bisa menjebloskan ayah Thea ke penjara," ucap Hendry saat menyimak berita yang sedang muncul di televisi.
Rudy Hartanto, pemilik PT Jaya Karsa yang ikut terlibat dalam proyek pembangunan hotel dan taman hiburan terbukti melakukan penggelapan dana pembangunan untuk kompensasi lahan terdampak proyek. Pengakuan yang tanpa sengaja keluar saat akan menjalin kerjasama dengan Hendry itu bisa dijadikan bukti untuk menjeratnya ke dalam penjara.
Bara bisa sedikit bernapas lega. Setidaknya nama baik perusahaannya bisa dipulihkan dengan tertangkapnya Rudy. Ia sengaja meminta tolong kepada Hendry untuk menjebak pengusaha licik tersebut. Ia tahu Rudy sangat suka mendekati pengusaha muda yang mulai merangkak naik dalam bisnis.
Awalnya sulit menemukan bukti dan saksi. Namun, setelah Hendry akhirnya berhasil memancing pengakuan Rudy, susunan puzzle akhirnya lengkap dan semua penyelewengan yang dilakukan terkuak.
"Ini semua juga berkat dirimu. Terima kasih," ucap Bara. Ia mengarahkan pandangan kepada istrinya yang masih bersama Citra tampak sedang tertawa-tawa entau membicarakan apa.
"Berhati-hatilah! Kemarin kantorku sempat mendapat ancaman. Lewat surat kaleng, ada yang memperingatkan agar tidak melibatkan Rudy kalau tidak ingin kantorku dibakar. Aku rasa selanjutnya kamu juga akan kena."
Bara mengangguk. "Aku sudah memperkirakannya. Thea tidak akan tinggal diam melihat ayahnya dipenjara. Apalagi perjodohannya denganku juga akhirnya gagal."
"Sayang, Mikola tidak bisa dibebaskan meskipun otaknya sudah tertangkap."
Bara jadi memikirkan tentang Mikola. Ia terakhir kali bertemu dengan mantan sekertarisnya dua bulan lalu. Mikola tetap akan menerima hukumannya karena telah ikut menggelapkan uang proyek.
"Oh, iya. Kenzo mana? Sudah lama juga tidak bertemu dengan anak itu," tanya Hendry.
"Masih di rumah orang tuaku. Adikku yang menjaganya karena aku repot mempersiapkan kelahiran adiknya akhir-akhir ini."
"Bagaimana responnya setelah memiliki adik?"
"Dia bahagia, apalagi adiknya cowok. Katanya bakalan tambah teman mainnya. Dia kan biasa main bareng sepupunya."
"Orang tuamu juga sudah bisa menerima Retha dengan baik, ya! Kalau aku belum berani menghubungi orang tuaku." Hendry mengungkapkan kebingungannya.
__ADS_1
Meskipun ia pernah mengatakan bahwa orang tuanya tidak masalah jika Hendry menikahi Citra, sebenarnya ia belum mengabari tentang pernikahan keduanya dan juga kehamilan Citra.
Setiap kali Citra menanyakan tentang respon orang tuanya terhadap pernikahan mereka, Hendry selalu menjawab jika mereka tidak masalah dengan hal itu.
Bara melirik ke arah Hendry. "Kamu harus cepat memberitahukannya. Terkadang, apa yang kamu khawatirkan bisa saja tidak terjadi. Kasihan Citra."
Hendry mengangguk. "Mauku begitu. Niatnya dalam pertengahan bulan ini aku akan mengajak Citra ke Amerika menemui orang tuaku."
"Sekalian menemui mantan istrimu, Hen. Hahaha ...," ledek Bara.
Hendry menatap tajam ke arah Bara. "Bagaimana kalau aku juga menemui Silvia, aku bilang saja kamu merindukannya?" balasnya.
Bara melemparkan bantal tepat mengenai wajah Hendry. "Kenapa jadi bahas mantan. Sia lan!" gerutunya.
"Memangnya siapa yang mulai duluan? Sia lan!" balas Hendry.
***
Thea membalikkan badannya. Senyuman terkembang saat mendengar berita baik dari orang kepercayaannya. Akhirnya, ia memiliki cara untuk melakukan balas dendam terhadap orang yang telah membuat ayahnya masuk penjara.
"Kenapa kerjamu lambat sekali, Jad?" tanya Thea. Biasanya Jad selalu bisa menyelesaikan tugas yang ia berikan secepat mungkin. Seandainya Jad bisa lebih cepat menyelesaikan tugasnya, mungkin ayah Thea tidak akan masuk penjara.
"Mereka menyembunyikan orang itu dengan sangat baik, Nona. Kami benar-benar kehilangan jejak sampai akhirnya tidak sengaja menemukannya saat mengunjungi Pablo di lapas."
Thea mengernyitkan keningnya. "Pablo?" tanyanya heran.
"Benar, Nona. Salah satu anak buah kita yang terancam hukuman mati karena kasus penyelundupan satu ton ganja."
__ADS_1
"Bukannya dia ...."
"Benar, Nona. Orang yang kita cari mereka sembunyikan di Pulau Nusa Kambangan," ucap Jad.
Thea mengembangkan senyuman lebih lebar. Sudah lama ia mengejar ayah mertua Bara. Saking kesalnya Bara menolak perjodohan mereka, Thea nekad menelusuri asal-usul Retha.
Ia sangat terkejut mendapati fakta bahwa Retha berasal dari keluarga yang sangat miskin. Istri Bara itu masih memiliki seorang adik dan seorang ayah yang hobi berjudi dan mabuk-mabukan. Jika fakta itu terkuak ke media, keluarga Atmaja pasti akan kehilangan muka. Bukan hanya perusahaan Bara yang akan terimbas, tetapi juga perusahaan ayah Bara.
"Aku ingin melihat bagaimana respon orang-orang bahwa putra keluarga Atmaja memilih untuk menikahi wanita miskin dengan mertua penjudi dari pada memilihku sebagai istrinya."
Awalnya Thea memang hanya menginginkan Bara bercerai dengan Silvia. Hal itu sudah terkabul. Ia senang Silvia menderita. Namun, karena Bara masih mengusik ayahnya, Thea tidak bisa membiarkannya. Jika keluarganya harus tercoreng, maka keluarga Atmaja harus merasakan hal yang sama.
"Istri Tuan Bara saya dengar juga sudah melahirkan, Nona."
"Benarkah?" tanya Thea memastikan.
"Benar, Nona. Saya dengar anak yang dilahirkan berjenis kelamin laki-laki."
"Wah ... Sepertinya Bara sedang merasa sangat berbahagia. Bagaimanapun juga, kita harus memberikan hadiahnya supaya kebahagiaan mereka bertambah!" Thea begitu bersemangat. Ia tidak sabar untuk melaksanakan rencananya.
"Apa yang harus saya lakukan dengan tamu kita, Nona?"
"Ah, iya! Hampir saja lupa. Tentu saja kamu harus memperlakukannya dengan baik seperti tamu kehormatan. Berikan kamar yang bagus dan layani dia selama di sini. Kalau waktunya tiba, kita bisa memanfaatkannya!"
"Baik, Nona!" orang tersebut kembali keluar dari ruangan Thea.
Thea berjalan menuju ruangan rahasianya. Pada dinding sederhana tersebut, terdapat foto beberapa orang yang telah ia tandai sebagai musuh. Salah satunya adalah Bara.
__ADS_1
Ia menatap kesal pada foto Bara yang sedang tersenyum. Terlihat begitu menyebalkan baginya.
"Tersenyumlah sebelum menanggung malu, Bara. Pembalasan akan selalu lebih menyakitkan dari pada apa yang telah kamu lakukan kepada keluargaku," ucapnya mengingatkan. Ia bersumpah pada diri sendiri akan menghancurkan Bara.