
From: Angga
Hari ini aku sangat senang bertemu denganmu.
Wajah Edis langsung memerah saat membuka pesan tersebut. Meskipun sangat telat membacanya, namun pesan tersebut mengingatkan dirinya ternyata telah memiliki seorang pacar. Dia dan Angga kemarin sudah memutuskan untuk berpacaran.
Saat dijemput calon suami kakaknya, Edis lupa membawa ponselnya. Dari sore hingga malam, ia tidak sempat memikirkan tentang keberadaan ponselnya. Setelah pulang dari acara makan malam, ia langsung tidur. Baru pagi hari ia ada waktu mengecek ponselnya. Ternyata kemarin sore ada pesan masuk dari Angga yang baru terbaca olehnya.
Edis sudah bersiap mengenakan seragam sekolahnya. Kebetulan hari ini ada tugas piket sehingga ia memilih untuk berangkat lebih awal dari pada teman asramanya yang lain. Letak sekolahannya masih satu kawasan dengan asramanya, hanya perlu berjalan sekitar lima menit ia sudah sampai di sekolah.
Saat keluar melewati lobi asrama, langkahnya terhenti ketika melihat seseorang berdiri di sana. Lelaki itu terlihat keren dengan seragam sekolahnya yang rapi, tas punggung yang disampirkan pada satu bahu, serta tatanan rambut belahan pinggir yang dibuat berjambul.
Edis antara terkejut dan senang bisa melihat Angga berdiri di sana tepat di hadapannya. Ia menoleh ke sekeliling, beberapa penghuni asrama turut memperhatikan Angga. Ia jadi ragu untuk tetap melangkah maju mendekati Angga atau berlari pergi mencari alternatif jalan lain.
Angga sepertinya paham dengan gerak-gerik Edis. Ia berbalik pergi meninggalkan wanita itu menuju ke area jalan belakang, gang sepi menuju sekolah. Edis mengikutinya. Saat kondisi sudah sepi, mereka baru berdekatan.
"Kenapa Kakak sepagi ini datang?" tanyanya. Didatangi cowok ganteng tiba-tiba di depan asrama membuatnya jantungan. Ia hampir lupa kalau lelaki itu sekarang adalah pacarnya.
"Aku ingin jalan ke sekolah bareng." Padahal Angga berharap hari pertama mereka resmi pacaran akan memberikan kesan romantis untuk pacarnya. Bukannya respon malu-malu bahagia, Edis malah kaget melihatnya.
"Apa demam Kakak sudah sembuh?" tanya Edis.
Bukannya menjawab pertanyaan Edis, Angga justru langsung memeluknya. Sontak hal itu membuat Edis terkejut dan tanpa sengaja mendorong lelaki itu menjauh.
Angga syok, merasa ditolak. Wajahnya tiba-tiba berubah sendu.
"Kamu sebenarnya tidak ingin pacaran denganku, ya?" tanya Angga dengan tatapan mata tegas dan serius. Bekas-bekas memar di wajahnya masih ada. Bahkan Edis merasa ada tambahan memar di pipi Angga.
Angga berbalik pergi meninggalkan Edis dengan tatapan kecewa. Sebelum lelaki itu lebih jauh melangkah, Edis lebih dulu mencegahnya. "Ini tidak seperti yang Kakak kira!" Edis mencoba menjelaskan kesalahpahaman di antara mereka.
"Kalau maksudmu bukan seperti itu, lalu seperti apa?" tanya Angga.
__ADS_1
Edis menunduk. "Aku ... aku hanya belum terbiasa saja kalau kita sudah pacaran."
"Bilang saja kalau kamu malu terlihat bersamaku."
Kata-kata Angga begitu menohok namun ada benarnya juga. "Aku hanya ingin mencoba menjaga perasaan orang-orang yang menyukai Kakak. Mereka pasti kaget jika melihat kita bersama."
"Lalu, bagaimana denganku? Apa perasaanku kita lebih penting dari mereka?" bantah Angga. Edis dibuat mati kutu olehnya. "Kalau kamu memang benar-benar menyukaiku, fokus hanya memandangku saja," ucapnya.
Melihat Edis yang terus diam sembari tertunduk membuat Angga merasa kecewa. Ia kembali berniat pergi, namun lagi-lagi Edis memegangi tangannya. "Aku minta maaf," ucap Edis.
Angga menarik Edis ke dalam pelukannya. Entah mengapa memeluk wanita itu membuat perasaannya selalu menjadi nyaman. Ia labuhkan ciuman pada bibir tipis milik kekasihnya, memberikan sapuan ringan yang membuat pelukan mereka saling erat.
Ketika Angga hendak menjulurkan lidahnya, Edis menyerah dan beringsut mundur. Ia tak ingin aktivitas mereka kebablasan di ruang publik di mana semua orang mungkin saja melewati jalan yang bagus tersebut.
Edis mengajak Angga duduk di bangku yang dekat tempat itu. Ia mengoleskan krim ke daerah sekitar bibir dan pelipis Angga yang mengalami luka.
"Apa Kakak berkelahi dengan orang lagi? Sepertinya ada tambahan memar di sebelah sini." tanya Edis.
Edis mematung sesaat. Ia merasa bersalah juga melihat kondisi Angga yang seperti itu karena dirinya.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah. Bagi seorang laki-laki, ini banya luka kecil. Membela kehormatan orang yang aku sukai lebih penting."
"Kalau bisa Kakak tidak perlu meladeni mereka. Semua orang mengkhawatirkan Kakak. Melihat Kakak yang jadi suka berkelahi, sepertinya itu bukan diri Kakak yang sebenarnya."
"Bagaimana kalau sebenanya aku sangat suka berkelahi?" tanya Angga. "Apa kamu masih mau berada di sisiku?"
Edis menatap serius mata Angga. " Berarti Kakak belum mengamalkan dharma ke dua pramuka, cinta alam dan kasih sayang sesama manusia."
"Hahaha ... tapi, aku menyukaimu. Bukankah itu juga bentuk kasih sayang sesama manusia juga?"
Edis kembali menyimpan obat-obatannya ke dalam tas. Angga menggenggam tangannya, mengajak berangkat ke sekolah sembari bergandengan tangan.
__ADS_1
Sebenarnya Edis belum cukup siap mental membocorkan hubungannya dengan Angga. Akan tetapi, ia yang telah menyepakati komitmen di antara mereka. Mau tidak mau ia harus bisa berdiri tegap sembari tersenyum menghadapi orang-orang yang mungkin tidak menyukai hubungan mereka.
Seperti yang Edis banyangkan, ada banyak pasang mata menyambut saat mereka memasuki halaman sekolah sembari bergandengan tangan. Orang-orang menatap mereka dengan tatapan terkejut dan tidak percaya. Mereka saling berpandangan dan tersenyum melihat respon orang sekitarnya.
"Pulang sekolah nanti kita jalan-jalan, ya!" ajak Angga.
"Kemana?" Edis mengerutkan dahinya.
"Bagaimana kalau ke mall, sekalian nonton?"
Edis menimbang-nimbang sebentar, mengingat membali ada janji lain atau tidak. "Baiklah. Sampai bertemu nanti pulang sekolah."
Angga berhenti setelah mengantar Edis ke kelasnya. Ia langsung melanjutkan perjalanan menuju kelasnya sendiri yang terletwk di seberang gedung bangunan kelas Edis.
Saat Edis masuk kelas, suasana di dalam begitu riuh terutama teman wanita sekelasnya yang sangat ingin tahu hubungan mereka.
"Waouw! Ada yang baru diantar pacarnya!" seru Enggar, murid paling cerewet di kelas Edis. Ia yang paling antusias menggoda Edis yang sekarang pacaran dengan Angga.
"Beneran kamu pacaran sama Angga? Gila sih! Padahal banyak yang mau sama dia tapi kamu yang terpilih," sahut Syita.
"Selamat ya ...."
"Selamat, Dis!"
"Keren banget kamu, Dis! Bisa pacaran sama kakak kelas ganteng."
Edis hanya bisa tersenyum-senyum melihat respon temannya yang sangat ramai. Rata-rata turut bahagia karena menurut mereka, adik kelas yang bisa pacaran dengan kakak kelas sangat keren. Artinya sudah mengalahkan kepopuleran kakak kelas. Padahal, menjalani hubungan dengan Angga tidak semenarik yang mereka pikirkan. Baik Edis maupun Angga sama-sama memiliki masalahnya sendiri.
"Hati-hati, Dis. Kamu bisa jadi sasaran Kak Lova," ucap Gina.
Edis sampai hampir melupakan hal itu. Bahkan ketika ia menolak Angga, Lova masih tetap tidak suka kepadanya.
__ADS_1