
Kehadiran Bara di kantor menyita perhatian setiap karyawan yang berpapasan dengannya. CEO yang terkenal dingin kepada siapapun terutama wanita, hari ini datang bersama seorang wanita yang mendorong kursi rodanya. Saking dinginnya kepada wanita, bahkan sempat ada rumor yang mengatakan bahwa Bara telah berubah haluan sebagai penyuka sesama jenis. Apalagi ia hanya bisa benar-benar dekat dengan Zack yang notabene terkenal playboy akut.
Meskipun dalam kondisi sakit, karismanya sebagai seorang CEO muda tetap ada. Ia memang dikenal sebagai pekerja keras, pantang libur kerja selama masih hidup. Kedisiplinannya menular kepada para pegawai yang benar-benar mendedikasikan waktunya untuk bekerja demi perusahaan. Jangan harap Bara akan mempertahankan pegawai yang tidak kompeten dan pemalas.
"Siapa itu?"
"Aku juga tidak tahu. Mungkin sekertaris baru Pak Bara."
"Setahuku Pak Rona masih bekerja kemarin. Masa tiba-tiba diganti."
"Aku juga hanya mengira-ira. Lagipula, apa urusannya dengan kita? Yang penting kita tidak dipecat saja sudah syukur."
"Tapi, syukurlah kalau Pak Bara masih normal."
"Memangnya kenapa kalau Pak Bara normal? Beliau juga pasti tidak akan melirikmu!"
Retha terlihat risih karena diperhatikan oleh setiap orang yang ditemuinya. Ia hanya bisa menunduk sembari berpura-pura tidak tahu kalau ada banyak orang yang berbisik-bisik membicarakan tentangnya. Ternyata, berhubungan dengan orang penting tidak semudah yang ia pikirkan. Tentu saja ia akan ikut menjadi sorotan karena berada dekat dengan seseorang yang memiliki jabatan tinggi.
"Jangan menunjukkan sikap canggung di depan orang-orang. Nanti kamu akan kewalahan ditanya yang macam-macam. Bersikap biasa saja supaya mereka yakin kalau kamu adalah asisten pribadiku," tegur Bara. Ia tahu wanita itu merasa risih berada di kantor.
"Baik, Pak. Maafkan saya." Retha kembali menegakkan pandangannya. Seperti yang dikatakan Bara, ia harus meyakinkan sebagai seorang asisten pribadi.
"Selamat pagi, Pak Bara," sapa seorang lelaki paruh baya yang masih tampak bugar dengan pakaian kerjanya.
"Selamat Pagi, Pak Fahri." Bara menjawabnya dengan nada datar dan sikap yang tegas.
"Apa kondisi Anda sudah membaik? Bukankah kata dokter Anda perlu rehat selama satu dua bulan ke depan?"
__ADS_1
Bara hanya tersenyum dengan pertanyaan Pak Fahri. Ia tahu ada sebagian orang yang sangat ingin dirinya hengkang dari proyek tersebut. Mereka berusaha mencari celah kesalahan agar bisa menggantikan posisinya sebagai pimpinan utama yang dipercaya para investor.
"Hanya kaki kanan saya yang sakit, Pak Fahri. Tangan dan otak saya dalam kondisi yang sangat sehat untuk bisa meneruskan proyek ini dengan baik. Saya jamin kondisi saya juga tidak akan menjadi halangan karena saya didampingi oleh asisten pribadi saya, Retha. Juga masih ada sekertaris kepercayaan saya, Pak Rona."
"Syukurlah kalau begitu. Saya ikut senang dengan semangat anak muda dalam berbisnis."
"Kami duluan, Pak Fahri. Sampai jumpa di ruang rapat," pamit Bara.
"Silakan, Pak Bara."
Pak Fahri menahan rasa kesalnya dengan sikap angkuh yang ditunjukkan oleh Bara. Meskipun bibirnya tersenyum, dalam hatinya ia menyimpan dendam yang mendalam terhadap pengusaha baru yang selalu terlihat menonjol. Ia ingin kembali mendapatkan tempatnya menjadi seorang pengusaha yang disegani.
Bara dan Retha masuk ke dalam lift menuju lantai teratas tempat rapat akan dilaksanakan. Lift yang mereka gunakan khusus untuk VIP sehingga Pak Fahri tidak bisa naik bersama mereka.
"Kenapa cara bicara Anda seperti itu, Pak? Saya rasa orang tadi jadi kurang suka dengan Anda." Retha cukup khawatir dengan sikap yang Bara tunjukkan kepada orang lain. Sikap ketus dan angkuh bisa membuat orang berpenyakit hati berubah menjadi pendendam. Apalagi Bara hidup di lingkungan pengusaha yang erat kaitannya dengan persaingan.
"Tidak apa-apa. Dia memang tidak menyukai posisi saya di dalam proyek ini."
"Matanya jangan lupa kedip, nanti lepas!" ketus Bara yang menyadari Zack tidak henti-hentinya memandang wanita yang sedang mendorong kursi rodanya.
"Pak Bara, saya sudah menyiapkan semua berkas yang Anda minta," ucap Rona yang sedari tadi sedang berdiskusi dengan Zack di depan pintu ruang pertemuan.
"Terima kasih atas kerja kerasnya, Pak," ucap Bara.
"Bar, kenapa kamu ajak dia ke sini? Kamu mau pamer pacar baru?" sindir Zack.
"Sekarang dia asisten pribadiku. Kamu tidak boleh mengganggunya," tegas Bara.
__ADS_1
Zack begitu heran dengan Bara. Sudah jelas-jelas dia yang pertama kali menemukan Retha. Dia juga yang mengirim Retha ke tempat iti dengan biaya puluhan juta hanya untuk Retha, bahkan bisa ratusan juta jika digabung dengan wanita pesanan lainnya. Zack yang repot mengurus Retha sampai di sana, seenaknya saja Bara meminta wanita pilihannya itu. Kalau bukan demi persahabatan, mungkin mereka akan bertengkar.
"Retha, kamu tunggu saya di luar ruang rapat saja," pinta Bara.
"Tapi ...."
"Setelah ini Zack dan Pak Rona yang akan membantuku. Rapatnya hanya sekitar satu jam, usahakan kamu sudah ada di sini jelang rapat berakhir, mengerti?"
Retha mengangguk. "Baik, Pak."
Bara memberi kode agar Retha mendekatkan wajahnya. "Jangan coba-coba dekat dengan siapapun. Kamu bekerja untukku. Awas kalau sampai ada yang menjadikanmu sebagai alat menjatuhkanku," ancamnya.
Sekali lagi Retha mengangguk.
Retha masih berdiri di pintu ruang rapat, melihat kursi roda Bara didorong oleh Pak Zack dan Pak Rona. Setelah pintu kembali tertutup, ia memilih untuk duduk di salah satu bangku yang letaknya paling ujung. Sengaja ia pilih tempat itu agar tidak banyak berpapasan dengan orang lain.
*****
"Loh! Kamu Retha?" seseorang keluar dari balik pintu emergency menenteng kain pel dan seember air.
"Damar?" ucap Retha ragu.
"Benar, aku Damar, teman SMP kamu dulu. Sudah lama, ya, kita tidak bertemu." Damar meletakkan alat kerjanya dan duduk di sebelah Retha. Bertemu dengan teman lama selalu menjadi sesuatu hal yang seru. "Apa kabar, Ta? Kayaknya sekarang kamu jadi orang yang sukses," puji Damar yang menilai Retha dari penampilannya.
Retha hanya tersenyum lebar. Kalau Damar tahu kehidupannya yang sebelumnya, ia pasti akan tertawa.
"Kamu bekerja di sini?" tanya Retha.
__ADS_1
"Iya, aku bekerja di sini. Seperti kamu lihat, aku hanya bekerja sebagai petugas kebersihan. Beda banget kan sama kamu?" Damar sedikit minder melihat penampilan temannya. Meskipun ia juga bangga memiliki teman yang sukses.
"Kita sama kok, Damar. Mungkin hanya seragam kita yang beda," ucapnya. sebenarnya Retha berkata jujur, namun ia tak bisa mengatakan pada Damar kalau dia hanya pura-pura menjadi orang penting di sana.