
"Bu, apa Hendri masih membiayai kebutuhan di ?" tanya Citra.
"Iya, Citra. Apa kamu keberatan?" Ibu Hana menjawab pertanyaan Citra sembari menyulam.
"Katanya dia juga yang dulu membiayai sekolahku."
Ibu Hana menghentikan kegiatannya mendengar ucapan Citra. Ia merasa tidak pernah mengatakan hal tersebut kepada anak asuhnya itu. "Siapa yang memberitahumu?" tanyanya penasaran.
"Guru BK di SMA, Bu. Apa itu benar?"
Ibu Hana tidak bisa mengelak lagi. Rasanya saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mengatakannya. "Itu benar, Citra."
"Kok Ibu tidak pernah mengatakan apa-apa kepadaku," protes Citra.
"Hendry sendiri yang tidak ingin kamu tahu. Dia sering sekali datang ke panti, mengintipmu yang sedang belajar di taman setiap sore."
"Jadi, Ibu juga sudah mengenalnya sejak lama?" Citra tidak percaya hanya dirinya yang tidak tahu apa-apa tentang Hendry.
Ibu Hana mengangguk. "Sejak dulu dia sudah menyukaimu. Tapi, mungkin karena ia sendiri sadar akan susah bagi kalian untuk bersama, makanya dia tidak berani mengatakan perasaannya padamu."
"Saat kalian sudah sama-sama kuliah, dia juga pernah bercerita, dirinya kesal karena kamu memilih kampus yang berbeda dengannya. Mau pindah juga tidak diperbolehkan ayahnya. Dan saat itu kamu sedang dekat dengan Yoga."
"Hendry akhirnya pergi ke luar negeri untuk meneruskan kuliahnya. Di sana dia dijodohkan dengan wanita pilihan kedua orang tuanya. Sementara, saat kembali kamu juga sudah menikah dengan Yoga."
"Dia sempat mampir ke sini, bercerita tentang hal itu. Dia merasa mungkin memang ķalian tidak berjodoh, tapi ia tetap ingin memastikan kamu bahagia dengan kehidupanmu."
Kata-kata Ibu Hana masih terngiang di kepala Citra. Ia memikirkannya sembari melanjutkan kegiatan di dapur. Sejak lama lelaki itu sudah menyukainya tanpa ia mengetahui hal tersebut. Tidak disangka Hendry orang yang sebaik itu. Citra menyesal telah memperlakukan lelaki itu dengan dingin bahkan tidak pernah berusaha untuk menerima cinta yang diberikannya.
Ting!
Terdengar suara pintu lift terbuka. Citra segera melepas apron dan berjalan menyambut kedatangan suaminya.
Hendry yang semula terlihat lesu saking lelahnya bekerja langsung tersenyum sumringah saat melihat Citra menghampirinya. Seakan energinya kembali terisi setelah bertemu istrinya.
"Sayang ... Suamimu pulang ...," ucapnya dengan girang.
__ADS_1
Saat Hendry merentangkan tangannya, Citra menghambur ke dalam pelukannya. Wanita itu memberikan pelukan untuknya. Raut wajah Hendry berubah heran.
Biasanya, Citra akan menepis tangannya dan membantu membuka jas serta dasi dengan wajah yang murung. Meskipun ia senang, rasanya aneh wanita yang biasanya cuek itu menjadi sangat peduli kepadanya.
"Sayang, aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita."
Ucapan Citra semakin mengherankan Hendry. Istrinya hari ini benar-benar aneh. Hendry terus memandangi wajah wanita yang dihiasi senyuma tulus saat membantu melepaskan jas dan dasinya. Hal itu membuat Citra semakin menawan.
"Sayang, bagaimana kerjaan di kantor? Apa semua berjalan lancar?" tanya Citra dengan ramah.
Hendry menahan tangan Citra saat hendak melepaskan kancing kemeja teratasnya.
"Kamu mau mandi dulu atau makan dulu?" tanya Citra lagi.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Hendry heran.
Citra mengerutkan dahi. "Memangnya kenapa?"
"Kamu kelihatan aneh," kata Hendry.
"Hari ini kamu kelihatan bahagia menyambutku pulang. Juga mau memanggilku 'Sayang'. Biasanya tidak mau, kan?" selidik Hendry.
"Ah, begitu, ya ...." Citra tersenyum kaku. "Bukannya kita memang ada kesepakatan untuk saling memanggil 'Sayang'?" kilah Citra. Ia malu juga mengekspresikan kasih sayangnya. Selama ini memang dia hampir tidak pernah mau melakukan hal tersebut.
"Ya, setiap hari harus begitu. Jangan hanya hari ini." Apapun alasannya, Hendry tetap senang Citra mau memanggilnya dengan panggilan tersebut.
"Jadi, kamu mau mandi dulu atau makan dulu?" tanya Citra.
"Aku maunya mandi bareng kamu, apa boleh?" seperti biasa, Hendry mencoba menggoda istrinya.
"Tentu. Biar aku siapkan dulu airnya," ucap Citra seraya berbalik hendak pergi ke arah kamar.
"Eh, tunggu!" Hendry mencekal tangan Citra.
"Kenapa, Sayang?" tanya Citra heran.
__ADS_1
"Kamu serius mau mandi bareng?" tanya Hendry meyakinkan.
"Mau!"
Hendry melebarkan mata. Ia seakan mendapati istrinya kini sudah mendapatkan hidayah menjadi istri yang baik. "Sayang, kamu menolak saja aku pasti akan tetap memaksamu. Apalagi kalau kamu mau sendiri, aku tidak akan melepaskan kesempatan ini."
Hendry langsung membopong istrinya. Reflek Citra mengalungkan tangannya di leher Hendry. Lelaki itu tidak mengajaknya ke kamar mandi, melainkan mendudukkannya di ruang makan.
"Kita makan dulu baru setelah itu mandi bareng. Jangan pura-pura lupa, ya!" ucap Hendry seraya duduk di samping istrinya.
Citra membantu Hendry mengambilkan makanan di piring dengan wajah yang ceria. Hendry masih saja terheran-heran dengan perubahan sikap yang ditunjukkan istrinya. "Apa ada kabar gembira sampai membuatmu menjadi sehangat ini?" tanyanya.
"Retha sudah melahirkan anaknya. Bagaimana kalau besok kita menjenguknya di rumah sakit?" ajak Citra.
"Oh, jadi itu yang membuat kamu jadi bahagia hari ini?"
Citra hanya tersenyum. Ia tidak mau mengatakan alasan sebenarnya.
Acara makan malam berlangsung dengan menyenangkan diiringi obrolan sederhana di antara keduanya. Hendry membahas pekerjaan di kantor, sementara Citra menceritakan tentang berita yang dilihatnya di TV.
Usai makan, keduanya benar-benar masuk kamar mandi untuk melakukan mandi bersama. Hendry hanya tercengang saat Citra begitu berani melepaskan pakaian tepat di hadapannya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam bath tube.
Wanita yang selalu malu-malu saat diajak bermesraan itu berubah menjadi wanita yang blak-blakan di depannya. Citra tanpa ragu menanggalkan satu per satu kain yang menempel di badannya memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya yang terlihat erotis.
Hendry mengagumi tubuh istrinya yang indah. Dengan perut yang sudah mulai terlihat membusung, tak mengurangi kecantikan wanita yang biasanya tampak polos itu. Apalagi bagian dadanya yang semakin tumbuh membesar seiring usia kehamilannya. Ia jadi kembali mengingat dulu pernah meledek wanita itu sebagai gadis berdada rata.
"Sayang, cepat masuk! Kamu lama-lama membuatku gila kalau hanya disuruh melihat saja!" pinta Hendry tidak sabaran.
Citra tertawa kecil. Dengan segera ia ikut melangkah masuk ke dalam air hangat itu. Hendry langsung menariknya ke ke dalam pelukan. Lelaki itu memagut bibirnya dengan lembut sembari tangannya menggerayangi area dadanya.
Citra tak tinggal diam. Dengan berani ia mengulurkan tangan, meraih milik suaminya. Hendry sampai menjeda ciuman mereka saking kagetnya. Baru kali ini Citra mau berinisiatif tanpa harus ia minta. Raut wajah Hendry memerah saat tangan sang istri menyentuh miliknya. Keduanya kembali bercumbu mesra sembari saling menyentuh.
"Sayang, sepertinya kita harus pindah ke kamar. Aku takut tidak bisa mengendalikan diri kalau melakukannya di sini," pinta Hendry.
Sentuhan tangan Citra membuatnya meremang hingga hampir gila. Ia tidak akan bertahan jika terus berada di sana. Diangkatnya tubuh sang istri dari dalam air dan memindahkannya ke atas ranjang. Di dalam kamar, mereka akan menuntaskan hasrat membara yang masih menyala dalam diri keduanya.
__ADS_1