
"Mas, kamu lebih ramah sedikitlah sikapnya ... Ingat, ada Kenzo bersama kita."
Silvia mengungkapkan keluhannya. Selama mereka makan siang bersama, Bara sangat kentara memperlihatkan ketidaksukaan terhadap dirinya. Silvia sudah berusaha bersikap manis, namun Bara tidak meresponnya sama sekali. Bara tidak mengajaknya bicara, hanya sekedar menjawab singkat jika ia tanya.
Saat ini Kenzo sedang bermain di area permainan yang disediakan restoran keluarga tempat mereka makan siang. Silvia berharap kesempatan berdua dengan Bara bisa dimanfaatkan untuk mempererat kembali hubungan yang sempat renggang. Bagaimanapun juga mereka masih pasangan suami istri yang sah di mata hukum dan negara.
Bara tidak menggubris kemauan Silvia. Sejak tadi ia hanya memainkan sedotan di dalam gelas. Pikirannya melayang jauh mengkhawatirkan Retha. Dia lupa membawa ponsel dan belum mengabari Retha kalau dia tidak bisa pulang ke apartemen untuk makan siang bersama. Ia sedang memikirkan bahwa nantinya Retha pasti akan sangat kecewa dan marah kepadanya. Kalau bukan karena Kenzo, sudah pasti ia tak mungkin bersikap manis kepada Silvia.
"Mas ...."
"Hentikan rengekanmu!" bentak Bara. Seketika Silvia terdiam. Murka Bara tergambar jelas dari nada bicaranya. "Aku sudah mengikuti kemauanmu seperti ini apa belum cukup? Muak rasanya melihat tingkahmu yang seperti ini." Bara berusaha mengatur intonasi bicaranya agar tidak menarik perhatian orang sekitar. Saat ia membuka mulut, rasanya hanya umpatan yang ingin keluar untuk mencaci istri pertamanya.
"Ini bukan kemauanku, tapi kemauan Kenzo, Mas!" Silvia berusaha mencari alasan. Ia tahu Bara sangat lemah jika dihadapkan dengan Kenzo.
"Berhenti menggunakan Kenzo sebagai alasan. Aku tahu dia tidak akan memiliki inisiatif seperti mengajak makan siang bersama kalau bukan kamu yang membahasnya."
Tebakan Bara benar. Silvia tak punya pilihan selain menggunakan Kenzo sebagai alat. Jika dengan Kenzo ia bisa berbaikan dengan Bara, maka ia akan melakukannya.
__ADS_1
"Apa kamu tidak pernah memikirkan harapan seorang anak yang menginginkan keharmonisan hubungan orang tuanya, Mas? Kenzo pasti juga berharap kita bisa akur seperti dulu lagi."
"Jangan membuatku tertawa, Silvia. Memangnya siapa yang dulu merusak mimpi itu dari Kenzo? Kenapa sekarang menyalahkan aku? lihat dirimu sendiri!" Bara ingin tertawa lepas dengan kegilaan Silvia. Wanita itu, meskipun bersalah tapi masih tetap tidak merasa bersalah, bahkan selalu berusaha menyalahkan orang lain.
"Aku salah, Mas! Aku mau berubah. Jadi tolong, jangan bahas kesalahanku yang dulu lagi. Aku akan menjadi istri yang kamu impikan, juga menjadi ibu yang baik sesuai harapan Kenzo." Ucapan Silvia terdengar halus dan bijaksana seperti seorang peri.
Bara tak serta merta mempercayai Silvia. Wanita itu licik dan manipulatif. Sebelum mereka menikah juga sering terjadi masalah-masalah kecil yang Silvia alami. Dulu, mungkin ia naif mencintai wanita itu tanpa menilai sisi lain darinya. Bahkan setelah menikah, ia masih saja begitu mencintai istrinya. Apalagi dia wanita yang telah melahirkan Kenzo ke dunia serta merawatnya dengan penuh kasih sayang.
Bara kira sifat Silvia akan berubah setelah mereka menikah dan memiliki anak. Akan tetapi, sifat keras kepala dan egoisnya semakin menjadi-jadi. Bara sudah sekuat tenaga bersabar mendengar keluhan Silvia yang tak pernah puas dengan uang yang ia berikan. Ia sampai bekerja mati-matian tak kenal waktu mengorbankan kebersamaan bersama keluarga. Tapi, itu juga masih Silvia jadikan sebagai alasan bahwa dia kurang perhatian terhadap keluarga. Justru ia jarang pulang karena berusaha memberikan perhatian yang selalu Silvia harapkan, yaitu uang yang melimpah.
Mungkin karena terlalu lama ia tak sukses, akhirnya Silvia pergi mengejar kesuksesannya sendiri. Awalnya Bara merasa bersalah tidak bisa mempertahankan istrinya. Lambat laun perasaannya mati dan tak berkembang lagi. Sampai akhirnya perasaannya kembali tumbuh ketika seorang wanita biasa hadir dalam kehidupannya.
"Jangan bilang kamu pulang ke tanah air karena ada masalah di sana, Silvia," tebak Bara.
Silvia terlihat cukup terkejut mendengar pertanyaan Bara. Ia sampai mematung sejenak dan melan ludahnya sendiri. "Bicara apa kamu, Mas? Aku pulang karena merasa bersalah dengan kalian. Aku juga sudah mengumpulkan banyak uang agar tidak merepotkanmu. Juga supaya ibumu tidak menghinaku lagi," kilah Silvia.
"Biasanya ibuku tidak akan menghina orang jika kelakuannya masih pada batas normal, Silvia."
__ADS_1
"Ya, dia ibumu. Wajar kalau kamu membelanya. Tapi, coba lacak kenapa ayahku bisa dipecat dari perusahaan, usaha keluargaku hancur dan memaksa mereka pindah kota. Pasti ada kaitannya dengan keluargamu, Mas." Silvia ngotot merasa dirinya benar.
Bara akan menyelidiki hal itu juga. Meskipun sudah lumayan lama terjadi seharusnya masih bisa dicari tahu. Ia yakin ibunya pasti juga punya alasan untuk mengambil tindakan. Rasanya tidak bisa dipercaya kalau ibunya menentang hubungan mereka hanya karena label status sosial rendah.
***
Retha menunggu dengan gusar kehadiran Bara. Sudah satu jam berlalu sejak waktu makan siang, namun Bara tak kunjung datang. Belasan panggilan dan beberapa pesan yang ia kirimkan sama sekali tidak direspon. Ia masih berpikiran positif jika suaminya masih sibuk bekerja, mengecek berkas-berkas penting, bertemu klien, atau sedang rapat.
Hidangan yang ia masak dengan penuh cinta masih menganggur di atas meja. Saking semangatnya menyambut permintaan suami hang ingin makan di rumah, ia sampai memasak banyak makanan. Bahkan, ia mengenakan pakaian yang cukup vul9ar sesuai kemauan suami. Ia memakai kostum maid yang mini berwarna putih hitam yang membuatnya kelihatan tampak s3ksi dari berbagai sisi. Sayangnya, orang yang seharusnya melihat itu tidak juga kunjung datang.
"Mas Bara kenapa, sih! Kalau tidak bisa pulang seharusnya mengabari dulu ... tadi pagi saja semangangatnya menggebu-gebu," gerutu Retha.
Ada rasa jengkel yang muncul di hatinya. Ia punya rencana akan cuek saat suaminya pulang nanti. Ia juga tidak akan mau diajak tidur sekamar lagi.
"Aku sudah dandan memalukan begini, mana orang yang tadi pagi meminta aku berpakaian seperti ini? Perlu aku sunat dua kali biar kapok!" Retha menancapkan garpunya pada sosis goreng yang dibuatnya, lalu melahapnya dengan kasar dan penuh emosi.
Hari-hari yang mereka lewati masih dalam suasana baru. Wajar saja perasaan Retha masih menggebu-gebu. Bahkan setiap hari ia harus keramas saking lengketnya badan diajak bergumul mesra di atas ranjang. Bara tak akan membiarkannya menganggur.
__ADS_1
Retha kembali menatap ponselnya, mengecek status pesan yang dikirimkan, belum juga berubah menjadi centang biru. Artinya Bara belum membaca pesannya sama sekali. Tubuhnya jadi lemas dan tak bersemangat. Retha merebahkan kepalanya di atas meja. Ia menusuk-nusuk sosis yang ada di atas piring sembari membayangkan sedang memarahi suaminya habis-habisan.