Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Di Balik Sikap Menyebalkannya


__ADS_3

"Saya tetap tidak habis pikir dengan kelakuan Hendry yang dulu, Bu. Dia sangat menyebalkan," ucap Citra.


"Tapi, sekarang kamu malah jadi istrinya, kan?" ledek Ibu Ruth. "Lucu juga kisah kamu dari benci bisa jadi cinta."


Kalau bisa jujur, Citra juga belum sepenuhnya mengakui bahwa dirinya telah mencintai Hendry. Mereka memang tinggal bersama dan tidur bersama, namun hal itu ia anggap sebatas kewajiban saja. Bukan berarti dia tidak menikmati keintiman yang terjadi di antara mereka, namun ia masih sulit untuk percaya pada cinta. Kehancuran rumah tangganya terdahulu masih begitu membekas dan meninggalkan trauma.


"Hendry itu sebenarnya sejak dulu suka kamu. Yah, mungkin cara mengekspresikannya saja yang salah."


"Masa orang suka malah menyusahkan orang yang disukainya, Bu? Sepertinya dia punya dendam saja karena sering saya laporkan pada Ibu." Citra masih belum bisa mengakui jika Hendry menyukainya sejak SMA.


"Kalau dendam, untuk apa dia membantu biaya sekolahmu dulu?"


"Apa?" Citra tampak terkejut.


Ibu Ruth menutup mulutnya sendiri. "Ah, kenapa aku sampai bicara seperti ini," gerutunya pada diri sendiri. Hendry selalu mengingatkan agar jangan sampai Citra tahu yang sebenarnya. Tapi, saking senangnya bisa bertemu dengan Citra, ia kelepasan bicara.


"Ibu, tolong katakan yang sejujurnya kepada saya," pinta Citra penuh harap. Ia begitu ingin mengetahui sisi Hendry yang sama sekali tidak ia ketahui.


Selama ini, setahu Citra ia bisa tetap bisa bertahan di sana karena beasiswa. Sekolahan memiliki program untuk memberikan pendidikan gratis bagi siswa tidak mampu yang cerdas. Citra menjadi salah satu siswi beruntung yang mendapatkan beasiswa tersebut.


Ibu Ruth tidak ada pilihan selain berkata jujur. "Citra, sebenarnya pihak sekolah pernah berniat mengeluarkanmu saat akhir semester dua kelas satu. Kamu pasti sadar jika nilaimu mengalami penurunan."


Citra kembali mengingat masa lalunya. Ia memang pernah keluar dari jajaran 10 besar peringkat siswa saat itu. Tapi, saat menghubungi TU, dia menjadi lega karena diberitahu beasiswanya masih aman. Kejadian itu terus berlanjut sampai ia lulus meskipun nilainya merosot. Ia kira sekolahan punya kebijakan baru terhadap siswa penerima beasiswa.


"Waktu itu Hendry mendengar saat kami berdiskusi untuk mengeluarkanmu. Dia dengan tegasnya mengatakan mau menanggung segala pembiayaan sekolahmu sampai lulus. Dia juga berjanji akan lebih giat belajar jika pihak sekolah tidak mengeluarkanmu."

__ADS_1


"Kami yang sering mendapat teguran dari orang tua Hendry yang mengeluh anaknya suka membolos, akhirnya menyepakati hal tersebut. Hendry menepati ucapannya untuk rajin masuk sekolah dan tidak merokok lagi."


Citra tertegun mendengar cerita Ibu Ruth. Ada banyak hal yang tidak ia tahu dari Hendry. Di balik sikap menyebalkanny dulu, ternyata Hendry begitu peduli padanya. Ia bahkan hampir setiap hari mengutuk Hendry saking menyebalkannya.


"Sepertinya dia menggunakan uangnya sendiri untuk membayar biaya sekolahmu. Kedua orang tuanya saja tidak boleh tahu. Kalau sampai tahu, katanya kami akan dipecat. Tapi, kalau sekarang dia marah karena Ibu memberitahumu, itu tidak masalah. Karena Ibu juga sudah tua dan sudah waktunya memikirkan pensiun."


"Apa Ibu tidak berbohong?" tanya Citra.


"Memangnya kapan Ibu pernah berbohong padamu? Bahkan, Ibu selalu menghukum Hendry setiap kamu melaporkannya," kilah Ibu Ruth. "Hendry itu sudah menyukaimu sejak dulu, Citra. Walaupun agak nakal, tapi jiwa kepeduliannya tinggi. Terutama kepadamu."


"Hari ini saja dia datang ke sini menemui kepala sekolah untuk mengurus biaya sekolah adik-adikmu di panti, Citra."


Citra melebarkan mata. "Dia mau membiayai adik-adikku?" Citra semakin terkejut.


Ibu Ruth mengangguk. "Sudah Ibu katakan kalau dia sering datang ke sini. Salah satunya untuk membahas kelanjutan sekolah adik-adikmu dari TK sampai SMA."


"Kalau bisa jangan beri tahu Hendry kalau Ibu sudah kelepan bicara seperti ini. Nanti dia bisa marah-marah kepada wanita tua ini." Ibu Ruth cukup takut kalau sampai Hendry marah padanya.


"Dia orang yang baik, Bu. Tidak mungkin berani memarahi Ibu," ucap Citra.


"Ya sudahlah, Ibu juga tidak masalah kalau dia sampai marah. Memang Ibu kadang-kadang suka kelepasan. Namanya juga orang tua." Ibu Ruth mengeluarkan jurus andalannya agar dimaklumi.


"Ibu kayaknya sangat menyayangi lelaki menyebalkan itu, ya!"


"Mau bagaimana lagi? Dia salah satu anak pemilik sekolah yang tidak terlalu berbuat onar. Dia juga baik dan sopan kepada guru. Kalau dihukum karena salah juga tidak membantah. Makanya walaupun menyebalkan, staf dan pengajar di sini pasti menyukai Hendry."

__ADS_1


Tok tok tok


Klek!


Pintu ruangan terbuka. Hendry muncul dari balik pintu.


"Ah, ternyata guru imut ini yang sudah menculik istriku," gurau Hendry.


Setelah menyelesaikan urusanya dengan kepala sekolah, Hendry buru-buru keluar dan mencari Citra. Ia sempat mengelilingi sekolah dan tidak kunjung menemukan istrinya. Awalnya ia sempat panik. Namun, saat bertemu salah seorang tukang kebun, akhirnya ia ditunjukkan kemana tadi istrinya pergi. Ternyata Citra masuk ke dalam ruangan milik Ibu Ruth yang setiap minggu pasti ia datangi karena membuat ulah.


Ibu Ruth senyum-senyum melihat kedatangan Hendry. "Citra sedang melaporkan kenakalanmu pada Ibu," ucapnya.


Citra hanya terdiam memandangi sosok suaminya. Kali ini, tatapan matanya berbeda. Sosok yang selalu ada di sisinya ternyata malaikat tak bersayap yang sudah menolongnya. Perasaan kesal dan kecewa yang pernah ada berganti menjadi kekaguman terhadap lelaki itu.


Hendry serasa bernostalgia berada di ruangan itu. Seakan waktu kembali pada masa yang lalu. "Memangnya aku membuat salah apa kali ini?" tanyanya.


Hendry mendekat ke arah Ibu Ruth. Ia bersalaman dan mencium punggung tangan Ibu Ruth. "Ibu awet cantik, ya! Padahal guru BK." Hendry suka meledek Ibu Ruth sejak dulu. Ia duduk di sebelah Citra.


"Memangnya guru BK harusnya cepat tua, Hendry?"


"Seharusnya begitu. Pekerjaan Ibu kan setiap hari marah-marah dan suka menghukumku," ucap Hendry.


Ibu Ruth tersenyum melihat kedua muridnya dulu duduk berdampingan. Ia masih ingat setiap kali kedua anak itu datang, kantornya pasti akan bising. Citra dan Hendry akan saling adu mulut dan membuatnya pusing. Citra tidak mau memaafkan Hendry dan meminta agar diberi hukuman supaya jera.


Sementara, Hendry lebih memilih dihukum terus dari pada disuruh untuk berhenti mengganggu Citra. Katanya, mengganggu Citra sudah seperti makanan pokok, ia bisa sakit kalau tidak mengganggu wanita itu.

__ADS_1


Dua orang yang dulunya sering cekcok itu akhirnya dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Ibu Ruth hanya berharap rumah tangga mereka akan langgeng. Ia tahu jika keduanya merupakan anak yang baik.


__ADS_2