
Bara mengantar Silvia sampai ke apartemen. Pak Agus telah pergi untuk menjemput Kenzo dari sekolah. Sejak dari rumah sakit, wanita itu terus diam tak berani berbicara dengan Bara. Bahkan ia terkesan ingin menghindarinya.
"Tunggu!" Bara mencekal tangan Silvia ketika berusaha pergi ke dalam kamar.
"Aku lelah," ucap Silvia mencari alasan.
"Lelah atau mau menghindar?" Bara menyeret Silvia dan mendudukkannya di sofa. Tatapan mata tajamnya terus mengarah pada Silvia. "Kali ini siapa lagi yang menghamilimu?" tanyanya.
Silvia menoleh ke arah Bara dengan raut wajah terkejut. "Kamu bicara apa sih, Mas! Kesannya kok aku murahan di matamu!" Ia marah-marah merasa direndahkan oleh Bara.
Plak!
Satu tamparan keras Bara berikan kepada Silvia. Ia sudah tidak tahan terus bersikap sabar kepadanya. Harapan bahwa Silvia bisa berubah telah kandas. Wanita itu bukannya menjadi lebih baik malah bertambah parah. Seharusnya sejak dulu ia tidak perlu berniat membantu Silvia.
Wanita itu sama sekali tidak menghargai niat dan usahanya menerima Silvia dengan tulus. Dulu, ia benar-benar menyayangi Silvia dan bisa menerima apapun yang terjadi pada wanita itu. Ia tahu kehidupan Silvia sulit dan sebenarnya wanita itu baik. Ia ingin sisi baik dalam diri Silvia bisa berkembang jika bersama dengannya. Nyatanya, Silvia menjadi semakin serakah setelah menikah dengannya. Segala pemberiannya selalu dianggap kurang.
"Jangan kira aku tidak tahu kalau Kenzo sebenarnya bukan anak kandungku, Silvia ... Dia anakmu dengan Rangga, kan? Kamu harus diapakan supaya sadar, hah!" Bara berbicara dengan nada tinggi.
__ADS_1
Silvia memegangi pipinya yang masih terasa panas akibat tamparan Bara. Rasanya ia ingin mati di tempat saja. Bara ternyata sudah tahu tentang kenyataan yang selama ini dipendamnya. Ia memang sedang hamil saat meminta Bara menikahinya.
Bara lelaki yang baik, namun bukan lelaki yang menjadi idamannya. Sebagai wanita yang pernah muda, dulu dia lebih suka tipe lelaki seperti Rangga yang terlihat keren, manly, dan jagoan. Meskipun saat itu Rangga sudah punya pacar dan dirinya juga sudah pacaran dengan Bara, ia tetap menyimpan rasa suka kepada Rangga.
Selama pacaran, Bara tipe lelaki yang lembut dan mengayomi. Tentu saja Silvia menyukai sifat yang Bara miliki. Oleh karena itu, ia tetap bertahan menjadi pacarnya. Apalagi Bara anak orang kaya. Meskipun ia tahu ibu Bara sangat tidak menyukainya, ia tetap yakin jika Bara akan mempertahankannya.
Rangga termasuk orang yang berpengaruh dalam kehidupan Silvia. Lelaki itu yang membuatnya menjadi foto model dan bintang iklan jauh sebelum mengenal Bara.
Silvia selalu kagum kepada Rangga. Bahkan ia rela memberikan tubuhnya kepada lelaki itu sebagai ucapan terima kasih, meskipun Rangga mengatakan tidak bisa menjadikan dia sebagai pacarnya. Rangga sudah dijodohkan dengan Ivonne, teman Thea.
Silvia terus menjalin hubungan rahasia dengan Rangga sejak SMA. Sesekali mereka bersenang-senang dan tidur bersama tanpa memberitahu pasangan masing-masing. Bahkan, hubungan itu berlanjut sampai mereka kuliah.
Momen pertemuan dengan Rangga menjadi hal rahasia yang membahagiakannya. Ia pernah memberi kode kepada Bara untuk melakukan hubungan yang lebih jauh, namun lelaki itu selalu menolak. Silvia hanya mendapatkan pengalaman s3ksnya dengan Rangga selama bertahun-tahun. Hingga suatu ketika, ia tiba-tiba merasa dirinya hamil.
Silvia kembali menghubungi Rangga dan mengatakan bahwa dirinya sedang hamil. Rangga tidak percaya karena Silvia selalu meminum pil penunda kehamilan yang diberikannya. Sampai Silvia memohon agar Rangga menikahinya, namun lelaki itu tidak mau dengan alasan masih fokus pada S2 yang ditempuhnya.
Di saat pikirannya sedang kalut, orang tuanya yang mulai menjadi gila harta sejak ia sukses di dunia modeling, mendesak dirinya agar secepatnya menikah dengan anak orang kaya, yaitu Bara. Pikiran Silvia menjadi tercerahkan. Bara, satu-satunya orang yang selama ini tulus kepadanya. Sekaligus menjadi satu-satunya harapan terakhir untuk dirinya.
__ADS_1
Seperti yang ia perkirakan, Bara sangat mudah ia pengaruhi. Entah lelaki itu bodoh atau terlalu baik, Bara mau menikahi Silvia dengan segera. Bahkan lelaki itu berani menghadapi pertentangan dari keluarganya. Pada akhirnya, ibu Bara merestui mereka. Sebuah pesta besar digelar dimana Silvia menjadi seorang ratu yang sangat cantik dan menyita banyak perhatian dari kalangan pengusaha.
Sayangnya, karir Silvia meredup setelah hamil dan melahirkan. Kondisi keuangan Bara saat itu menurutnya jauh dari kata mapan. Apalgi ia juga harus memberikan uang kepada keluarga yang mata duitan. Rangga juga tidak bisa dihubungi lagi, ia menjadi semakin stres. Ia merasa tidak bahagia dengan pernikahannya. Bahlan, ia membenci Kenzo, putranya sendiri.
Sampai pada titik puncaknya, Silvia memutuskan pergi tanpa pamit. Kenzo sengaja ia tinggal karena dianggap hanya akan menjadi beban. Ia pergi ke luar negeri untuk mencari Rangga, bukan untuk mengejar karirnya yang hanya dijadikan sebagai alasan.
Rangga telah menjadi pengusaha muda di luar negeri. Penampilannya semakin menarik dan menawan, apalagi Rangga belum menikah. Pertunangannya dengan Ivonne batal.
Silvia kembali mendekati Rangga, menceritakan tentang kehidupannya di tanah air. Ia juga memperlihatkan foto Kenzo yang sedikit banyak ada kemiripan dengan Rangga. Namun, tetap saja hal itu tidak membuat Rangga berniat menikahi Silvia. Lelaki itu malah menertawakan Silvia karena telah memperdayai Bara supaya mau menikahi wanita itu.
Sudah terlanjur pergi ke luar negeri, Silvia mencoba membangun kembali karirnya di sana. Apalagi tubuhnya telah kembali ke bentuk semula. Berbekal dari pengalamannya sebagai model dan bintang iklan, ia mudah diterima di sana.
Perjalanan karirnya berjalan dengan tidak mudah. Ada banyak saingan dari berbagai dunia yang mencoba berkarir di sana. Ketika berada dalam masa sulit dalam berkarir, Silvia dipertemukan dengan seorang lelaki yang sudah cukup berumur, sekitar 45 tahunan. Orang tersebut menyukai wanita Asia seperti Silvia. Namanya Gerald.
Gerald tidak percaya dengan pernikahan. Ia menawari Silvia untuk menjadi pacarnya dengan imbalan akan dimudahkan karir dan dibiayai kehidupannya. Orang yang mudah putus asa seperti Silvia tentu saja mau menerima tawaran Gerald.
Setelah berpacaran dengan Gerald, apa yang Silvia inginkan bisa tercapai. Ia menjadi salah satu top model asia yang berhasil merintis karir di luar negeri. Fasilitas mewah juga diberikan kepadanya. Kehidupan Silvia kembali menanjak tinggi meskipun harus menjadi teman tidur lelaki yang mungkin lebih cocok menjadi paman atau ayahnya. Bahkan ia hampir lupa tentang Bara dan Kenzo.
__ADS_1
Hingga akhirnya Gerald meninggal secara mendadak karena penyakit jantung. Untuk menghindari kecurigaan keluarga Gerald, ia memilih pulang kembali ke tanah air. Untung saja sebagian harta Gerald telah beralih nama kepadanya. Setidaknya ia memiliki kenang-kenangan terakhir dari Gerald.
Ia pulang kembali ke apartemen lamanya. Betapa bahagia Silvia menyadari bahwa kode apartemen itu belum berubah. Bahkan dekorasi di dalamnya tidak ada yang diganti, termasuk foto pernikahan mereka. Ia terharu dengan ketulusan cinta Bara. Silvia semakin yakin hanya bermodalkan permintaan maaf dan tangisan penyesalan, Bara pasti akan menerimanya kembali sebagai istri.