
"Kakak kok nggak pernah cerita kalau sudah punya pacar dan mau menikah?" tanya Edis.
"Kita belum lama pacaran kok, Mas Bara mau langsung serius saja katanya."
Edis melirik ke arah Bara yang masih berbicara dengan ayahnya. Sementara, dia mengajak kakaknya agak menjauh agar bisa berbicara berdua. "Pak Bara kelihatannya orang kaya, ya, Kak?"
"Dia memang orang kaya, Edis. Kalau kamu tahu PT Atmajaya Sentosa, dia CEO-nya."
Edis mangguk-mangguk. "Sayang sih, dia duda. Harusnya Kakak dapat yang masih sama-sama perjaka saja."
"Kalau dapatnya jodoh sudah duda mau bagaimana lagi, Edis?"
"Jangan-jangan Kakak punya uang banyak juga dari Pak Bara, ya?"
"Iya. Dia sudah banyak membantu Kakak untuk masalah keuangan."
"Kalau begitu, aku minta maaf," ucap Edis.
Retha mengerutkan dahi mendengar adiknya meminta maaf. "Kenapa kamu meminta maaf kepada Kakak?" tanyanya.
"Aku kan sempat marah-marah sama Kakak, menuduh Kakak jadi wanita nggak benar."
Retha tersenyum. "Kakak memang pernah kerja di klab malam, kok. Tapi tidak seperti yang kamu pikirkan. Sekarang Kakak juga sudah berhenti berkat Mas Bara."
"Tapi, aku agak gimana gitu Kak ... masa Kakak mau menikah tapi tidak diumumkan? Takutnya suatu saat Kakak ditinggalkan Pak Bara." Edis terlihat cemas dengan masa depan kakaknya kelak. Ia tak berani bersuara saat mereka berbincang bersama karena merasa akan masih dianggap sebagai anak-anak yang pendapatnya tidak bisa diterima.
"Masa Kakak tidak akan dikenalkan kepada keluarga sana?"
"Kehidupan orang kaya itu tidak sesederhana kehidupan kita, Edis. Aku dan Mas Bara sudah mempertimbangkan banyak hal bersama."
"Siapa istri sebelumnya? Kenapa mereka berpisah? Jangan-jangan Pak Bara tipe suami kasar. Bagaimana kalau itu juga terjadi kepada Kakak?"
Retha tertawa kecil mendengar kekhawatiran adiknya. "Pemikiranmu terlalu jauh. Mas Bara berpisah dengan istri pertamanya karena istrinya pergi begitu saja ke luar negeri untuk mengejar karir. Kalau kamu kenal model Silvia Agnesia, itu mantan istrinya."
Edis sampai ternganga saat mendengar nama model yang katanya dulu sempat booming. "Dia cantik banget loh, Kak!"
Retha melirik ke arah Edis. "Memangnya kamu pikir Kakak tidak cantik?" gumamnya.
Edis menunjukkan senyuman lebar. "Cantik kok, tapi aura cantiknya beda sama model internasional, Kak. Hahaha ..."
__ADS_1
"Kamu bagaimana? Mau tetap tinggal di asrama atau tinggal dengan Ayah? Mas Bara sudah membelikan satu unit perumahan untuk kalian."
Edis membulatkan mata. "Pak Bara kasih rumah?" tanyanya dengan nada terkejut.
"Iya."
Edis baru yakin jika memang calon suami kakaknya benar-benar orang kaya. Baru mau menikah saja sudah memberikan rumah untuk calon mertuanya, menyanggupi untuk memberikan uang bulanan, serta akan menanggung biaya pendidikan Edis sampai lulus kuliah. Padahal kakaknya sudah menceritakan kondisi keluarganya yang sebenarnya, seorang CEO perusahaan besar itu tetap mau menikahi kakaknya.
Edis kembali menoleh ke arah Bara, memperhatikan tingkahnya saat berbicara dengan ayahnya. Meskipun seorang pemimpin perusahaan, memiliki jabatan tinggi, ia tetap merendah saat berbicara dengan ayahnya yang lebih tua. Tak ada kesan meremehkan kondisi mereka saat bertemu.
"Jadi, bagaimana? Kalau kamu mau tinggal dengan Ayah, nanti aku akan menghubungi pihak sekolah. Atau kamu mau pindah ke sekolah yang lebih bagus juga boleh."
"Tidak usah, Kak. Aku mau tinggal di asrama dan bersekolah di tempat yang sekarang sampai lulus," ucapnya.
Edis merasa tidak enak hati kepada kakaknya terlebih kepada Bara. Saat ia pindah ke asrama, kakaknya sudah mengeluarkan banyak uang. Jika ia meminta pindah sekolah, maka akan memerlukan biaya lagi. Alasan lain tentunya karena di sana ada Angga yang sekarang jadi pacarnya. Kalau pindah sekolah, kemungkinan mereka akan lebih sulit bertemu.
"Kak, Ayah bagaimana, ya ... kalau sikapnya seperti itu terus, apa tidak akan membuat hubungan Kakak dan Mas Bara rusak?" Edis agak khawatir kalau ayahnya yang suka meminta-minta uang itu akan terus merongrong calon kakak iparnya karena tahu menantunya orang kaya. Ia bahkan sangat malu saat sang ayah membawa-bawa namanya untuk meminta uang.
"Kakak juga tidak tahu lagi harus bagaimana dengan Ayah, Dis. Kata Mas Bara tidak masalah kalau untuk urusan uang."
"Ini juga sebenarnya yang membuat kakak setuju untuk menyembunyikan pernikahan sementara. Kalau orang tua Mas Bara tahu sikap Ayah seperti ini, kayaknya hubungan kami tidak akan direstui."
Bara dan Pak Agus tampaknya sudah selesai bicara. Mereka berjalan menghampiri arah Retha dan Edis berada.
"Kak, apapun keputusanmu, aku harap Kakak selalu bahagia," ucap Edis dengan nada lirih.
Retha memberikan pelukan kepada adik yang sangat disayanginya.
"Sepertinya kita harus pulang sekarang. Kalau kemalaman nanti Edis dimarahi kepala asrama," ucap Bara.
"Siapa yang mau mengantar Ayah dan Edis?" tanya Retha.
"Biar Pak Diman yang mengantar ayahmu dan Edis."
Bara dan Retha mengantarkan Pak Agus dan Edis ke parkiran menjumpai Pak Diman. Pak Diman merupakan sopir pribadi Bara. Dia telah diberi tahu oleh Bara tentang rencana pernikahannya dengan Retha dan disuruh untuk merahasiakan dari pihak keluarga Bara.
Bara menggandeng tangan Retha. Perasaannya menjadi lega setelah berbicara langsung dengan calon mertuanya. Akhirnya mereka mendapat restu untuk menikah.
"Kita kembali ke dalam sekarang?" ajak Bara.
__ADS_1
Retha mengangguk. Mereka terus bergandengan tangan berjalan ke arah lift menuju apartemen yang masih satu komplek dengan restoran yang baru saja mereka kunjungi.
"Aku minta maaf dengan sikap ayahku ya, Mas. Kamu tidak perlu selalu mengikuti permintaannya," kata Retha.
"Sudah aku bilang kalau untuk masalah uang itu hanya hal sepele untukku. Kamu tidak perlu memikirkannya."
"Sebenarnya aku malu kamu jadi tahu kalau karakter ayahku seperti itu. Padahal dulu ayahku tidak begitu."
Bara menarik Retha ke dalam pelukannya. " Aku juga jadi tahu sehebat apa dirimu bisa sabar memiliki ayah seperti Pak Agus. Mulai sekarang, biar aku yang menanggung bebanmu."
"Lalu, aku harus apa?"
"Kamu cukup melakukan tiga hal setiap hari," ucap Bara.
"Apa itu?"
Bara mengulaskan senyum. "Dandan yang cantik, masak yang enak, dan puaskan aku di ranjang," bisiknya nakal.
Sontak ucapan Bara langsung membuat wajah Retha memerah. Lelaki itu kalau sudah berani beebicara vulg4r kepadanya, membuat Retha jadi panas dingin. Apalagi pengalaman yang pernah terjadi di antara mereka akan otomatis terputar kembali di kepalanya.
"Apa hari ini aku diizinkan melakukannya?" rayu Bara.
"Melakukan apa?" Retha pura-pura tidak tahu arah pembicaraan Bara.
"*3**!" ucap Bara.
Retha sampai melebarkan mata lelaki itu benar-benar sudah tidak tahu malu berbicara dengannya. Padahal mereka masih berada di dalam lift dan belum sampai di apartemen.
"Mas, memang tidak ada hal lain selain itu?" Retha keheranan dengan isi kepala Bara. Setiap hari juga suka memancing-mancing ke arah sana. Bahkan terkadang sengaja t3l4njang saat keluar dari kamar mandi untuk menggodanya. Bara juga suka pura-pura salah masuk kamar agar bisa tidur seranjang dengan Retha, padahal kamar mereka berbeda.
"Tidak ada. Aku memang pengin itu. Boleh, nggak?" Sejak malam pertama mereka, lelaki itu terus mengatakan menginginkanya. Namun, Retha selalu menolak meskipun memang mereka sudah pernah tidur bersama.
"Kesepakatannya kan setelah kita menikah."
"Dua hari lagi, kan? Apa bedanya? Aku juga sudah pernah melubangimu."
Retha langsung memukuli Bara yang asal bicara. Mereka akhirnya keluar dari lift dan sampai di depan apartemen.
"Kayanya masa puasanya kurang lama, ya! Mas Bara makin nggak jelas, deh!" gerutu Retha sembari masuk ke dalam apartemen mereka.
__ADS_1
"Kalau lebih lama lagi, kayaknya aku bakal mati!" Bara menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Rasanya ia sudah tidak sabar menunggu hari pernikahan yang hanya berselang dua hari lagi. Seluruh berkas-berkas yang diperlukan sudah ia siapkan dan hanya perlu menuju ke pengadilan agama untuk mengesahkan pernikahan mereka. Pak Agus juga sudah menandatangani berkas-berkas yang diperlukan.