Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Deep Talking


__ADS_3

"Habis dimarahi guru masih bisa senyum-senyum, Kak?" Edis menatap heran ke arah Angga. Sejak tadi ia perhatikan lelaki itu terus tersenyum padanya.


"Siapa yang senyum-senyum karena dimarahi Pak Mada? Aku tersenyum karena sekarang punya pacar."


Edis menggeleng-gelengkan kepalanya lalu meminum kembali jus yang dibelinya.


Setelah selesai urusan dari ruang guru, Angga menarik Edis untuk ikut dengannya. Mereka duduk berdua di tangga dekat pintu ke rooftop yang terkunci. Sebenarnya Edis malas jalan berdua dengan Angga karena ada banyak pasang mata yang memperhatikan mereka.


Tapi, ad untungnya hari ini Angga mengajaknya bertemu. Ia jadi selamat tidak diajak silaturahmi oleh Lova. Biasanya kalau kakak kelasnya itu marah, ia akan diundang datang ke gudang belakang sekolah. Selain dijambak atau ditampar, terkadang ia disiram dengan minuman atau dipalak uangnya. Apalagi kalau Angga terlihat mendekati dia, Edis yang akan disalahkan.


Sekarang, saat ia telah menjadi pacar Angga, mungkin akan semakin banyak musuhnya. Dulu ia diam saja karena miskin. Katanya kalau orang miskin tidak boleh banyak tingkah agar tidak ken masalah. Dulu punya uang saja susah. Setelah kakaknya punya calon suami orang kaya, ia jadi punya banyak uang. Bara sangat royal kepadanya, lebih dari kakaknya sendiri. Ia jadi bahagia dan tidak takut kelaparan lagi. Juga tidak terlalu takut kalau harus berurusan dengan siswa-siswa arogan. Lagipula ia berhak jatuh cinta kepada siapapun yang ia kehendaki, tidak ada orang lain yang berhak mengaturnya.


Cup!


Satu kecupan kilat Angga di bibirnya membuat lamunan Edis buyar. "Kakak apa-apaan sih, ini sekolahan!" Ia sampai melotot sebagai bentuk protes pada kelakuan Angga.


"Kabur, yuk! Kalau di luar sekolah boleh, kan?" ucap Angga enteng.


"Kakak kenapa, sih? Kayaknya Kak Angga benar-benar berubah, ya?" Edis sampai keheranan Angga bersikap sebagai orang yang sangat lain dari yang selama ini ia tahu.


"Memangnya kamu pikir aku seperti apa?"


"Kak Angga orang yang sopan, santun, ramah, kharismatik, dan nggak mungkin kayak gini." Edis keherana sendiri Angga menyandarkan kepala di bahunya dengan santainya.


"Itu sebelum punya pacar, kan? Setelah punya pacar aslinya keluar. Bahkan mungkin aku akan lebih mengagetkanmu." Angga masih merasa nyaman menyandarkan kepalanya pada Edis.


"Memang sudah berapa kali Kakak pacaran?" tanya Edis.


"Baru kali ini," jawab Angga.


Edis terkejut mendengar jawaban dari Angga.


"Kalau kamu?"

__ADS_1


"Sama. Aku juga pertama kali pacaran."


Angga tertawa.


"Kenapa tertawa?" tanya Edis keheranan.


"Nggak, nggak apa-apa ...." Angga hanya sedang kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan wanita itu. Ia masih suka tertawa sendiri setiap kali terngiang-ngiang ucapan Edis tentang mental jelly.


"Kak ...."


"Hm?"


"Boleh aku bertanya sesuatu?"


"Apa? Katakan saja. Aku pasti akan menjawabnya."


"Waktu piket membersihkan sampah, tidak sengaja aku sempat dengar teman-teman Kakak sedang membicarakan tentang Kakak." Edis sedikit ragu bertanya, namun ia sangat ingin tahu. "Katanya dua hari ini Kakak tidak pulang ke rumah?"


Angga langsung menegakkan duduknya. Sebenarnya ia tidak ingin menceritakan masalahnya, namun Edis malah menanyakannya.


"Tidak, kamu boleh tahu semua tentang diriku!" jawab Angga. "Hubungan dengan ayahku memang tidak baik. Kalau dia pulang ke apartemen, aku yang akan keluar."


Edis keheranan dengan ucapan Angga. "Tapi, kenapa? Bukankah ayahmu satu-satunya keluargamu?"


"Masalahnya sedikit rumit." Angga memijit keningnya. Ia sedang memilih kata-kata yang tepat untuk berbicara dengan Edis.


"Dalam keluarga memang terkadang ada perselisihan, tapi apapun yang terjadi bukankah lebih baik saling memaafkan?"


Angga tertawa kecil. "Mungkin perselisihan aku dan ayahku lebih serius dari keluargamu. Ibuku meninggal akibat stres dan depresi karena ayahku menghamili wanita lain. Di rumah tingkahnya seperti seorang ayah yang bertanggung jawab, tapi di luar ia mungkin hobi menjadi tukang menabur benih. Ibuku sampai stres diteror oleh selingkuhan ayahku." Angga merasa sesak saat menceritakan masa lalu keluarganya. "Apa kalau seperti itu kamu akan memaafkannya?"


Edis membisu mendengar cerita Angga. Ia tak bisa memberikan pendapatnya karena tidak merasakannya sendiri. Memiliki seorang ayah penjudi dan hobi mabuk saja sudah membuatnya terkadang emosi apalagi berkaitan dengan perselingkuhan.


"Apa ayahmu akhirnya menikahi selingkuhannya?"

__ADS_1


"Kalau secara resmi tidak. Status ayahku duda. Tapi tidak tahu kalau ayahku melakukan pernikahan tak tercatat. Atau mereka tidak butuh menikah, hanya sekedar kumpul kebo ... siapa yang tahu urusan bisnis ayahku juga sekalian mengurusi selingkuhannya dan anaknya."


"Aku rasa ayahku tidak berani menikahi selingkuhannya karena takut kehilangan hak warisnya."


Edis menyimak cerita Angga dengan penuh perhatian. "Aku kira Kakak orang yang paling tidak punya masalah," ucapnya.


Angga kembali tertawa kecil. "Apa menurutmu aku bermental jelly?" tanyanya.


"Hah?" Edis tidak mengerti dengan maksud ucapan Angga.


"Beberapa bulan yang lalu kamu pernah mengumpat di atas gedung katanya anak orang kaya mentalnya selembek jelly, punya masalah kecil maunya bunuh diri. Apa kamu masih ingat?"


Edis menutup mulut dengan telapak tangannya untuk menutupi mulutnya yang menganga karena kaget. "Kakak kok bisa tahu? Kakak dengar, ya?" tanyanya.


"Uang seratus ribu yang kamu ambil, itu uangku."


Edis membulatkan mata. Ia langsung menutup wajahnya karena malu. Ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya saat itu. Meskipun sudah lama berlalu, ia masih mengingat momen itu.


"Apa aku harus menghanti uangnya?" tanya Edis.


Angga langsung meraih tubuh Edis ke dalam pelukannya. "Ganti uangku dengan cintamu. Karena mulai saat itu, aku jadi tergila-gila padamu."


Edis baru tahu kalau Angga menyukainya memang sejak lama. Ia kira lelaki itu hanya random mengucapkan cinta serta mendekatinya hanya karena taruhan atau iseng karena ia seorang adik kelas. Rasanya tidak bisa dipercaya seorang siswa populer jatuh hati padanya pada pandangan pertama.


***


Retha dan Bara berada si sebuah ruangan pengadilan agama. Mereka didampingi oleh Pak Agus dan Edis. Tidak ada orang lain lagi selain mereka. Berkas-berkas yang diperlukan sudah Bara persiapkan jauh-jauh hari.


Mereka hanya perlu membacakan ikrar janji pernikahan serta kesetiaan di hadapan petugas serta menandatangani buku nikah. Hari itu, Retha langsung mendapatkan buku nikah berwarna hijau tua. Hari itu juga status Retha telah resmi berubah sebagai seorang istri dari Bara Atmaja.


"Selamat ya, Kak ...."


"Terima kasih, Edis ...."

__ADS_1


Edis memeluk haru sang kakak. Ia berharap sang kakak akan bahagia dengan kehidupan barunya. Sebagai seorang adik yang masih sangat menyusahkan kakaknya, tidak ada yang bisa ia berikan selain restu dan doa terbaik untuk mereka.


__ADS_2