Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Menjemput Kenzo


__ADS_3

Retha terlihat menghela napas saat mobil yang Bara kemudikan berhenti tak jauh dari yayasan TK tempat dirinya pernah mengajar. Rasa sesak menghinggapi hatinya mengingat ia harus meninggalkan pekerjaan yang disukainya. Ia tidak menyangka Tiur tega menyebarkan foto-fotonya saat bekerja di klab ke pihak sekolah. Beruntung Ibu Jihan masih menutupi kasusnya meskipun tetap harus mengeluarkannya.


Tiur, Teman yang ia anggap baik meskipun memiliki pekerjaan semacam itu, diam-diam menaruh kebencian terhadap dirinya. Hanya karena ia akhirnya dicintai oleh seorang Bara Atmaja, Tiur tega membuka rahasia yang berusaha ditutupinya.


Bara menggenggam tangan Retha, seketika membuyarkan lamunan wanita itu. "Kamu ingin ikut masuk ke sana?" tanya Bara.


Retha mengulaskan senyum. Sebenarnya ia masih belum bisa menerima berhenti dari tempat itu. Tempat penuh kenangan yang membuat dirinya menjadi sangat menyukai anak-anak.


"Kalau kamu ingin kembali mengajar di sana, akan aku rundingkan dengan kepala sekolah." Bara seakan bisa membaca pikiran Retha.


"Jangan, Mas. Nanti kamu yang bakalan repot. Kenzo juga tidak akan kita beri tahu tentang pernikahan ini. Kalau kita terlihat terlalu dekat di luar, nanti akan semakin banyak yang mempertanyakan hubungan kita." Retha sadar diri dengan posisinya. Menikahi seorang lelaki yang status sosialnya jauh di atasnya, serta kondisi keluarganya yang bisa dibilang tidak baik-baik saja, menjadi tantangan yang sangat sulit.


"Apa kamu kecewa dengan sikapku?" Bara ingin memastikan perasaan Retha kepadanya.


Retha menggeleng. "Kita sudah sering membahas tentang hal ini. Aku bisa memahami pemikiran dan pendapatmu. Mas Bara pasti berharap yang terbaik untuk hubungan kita."


"Boleh aku berkata terus terang?"


Retha menatap dalam-dalam wajah Bara, bersiap mendengarkan ucapan lelaki itu.


"Setelah kegagalan rumah tangga di masa lalu, aku tidak tertarik lagi untuk menikah. Kamu satu-satunya wanita yang membuatku ingin menikah lagi."


"Dan membuat benda ini kembali berfungsi."


Retha malu sendiri. Ia menutup wajahnya saat Bara menunjuk miliknya yang ada di balik celana. "Bisa nggak Mas, bicaranya yang serius aja jangan campur mesvm," protesnya.


"Mesvm apanya sih? Aku kan sedang cerita kalau milikku bisa bangun karena kamu."


"Stop! Jangan dilanjutkan lagi!"


Melihat respon Retha yang lucu justru membuat Bara semakin ingin mengganggunya. "Enak nggak sih? Sebenarnya kamu pengin lagi nggak? Soalnya aku jadi pengin terus sejak waktu itu."


Retha menutupkan telapak tangannya pada mulut Bara yang tertawa lebar. Wajahnya sudah memerah mendengarkan perkataan vulg4r tersebut. "Kenzo sudah menunggu, cepat turun!" perintah Retha.


Bara menium telapak tangan Retha dan mengulaskan senyum. "Aku turun dulu, ya ...," ucapnya.


Retha menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Ia sangat heran kenapa pembahasan Bara selalu menjurus kepada hal-hal semacam itu. Ia sampai bosan dengan segala godaan yang lelaki itu lakukan untuk menarik perhatiannya. Kalau saja waktu itu ia tidak mabuk, tidak mungkin hal gila itu terjadi. Dan Bara semakin gila sejak malam itu.

__ADS_1


Tak berselang lama, ia melihat Kenzo berlari ke arah mobil yang dinaikinya, sementara Bara tetap berjalan biasa di belakang Kenzo. Retha membukakan pintu mobil saat anak itu mendekat.


"Miss Retha!" seru Kenzo kegirangan. Anak kecil itu langsung memeluk Retha, guru kesayangannya. Retha mendudukkan Kenzo di atas pangkuannya.


"Sekolahnya sudah selesai?" tanya Retha.


"Sudah! Kenzo langsung lari karena kata Daddy ada Miss Retha di mobil. Kok Miss Retha tidak mengajar Kenzo lagi?" tanya Kenzo.


"Karena mulai sekarang, Miss Retha akan mengajar Kenzo di rumah. Biar Miss Retha khusus ngajar Kenzo saja supaya jadi pintar," sahut Bara yang baru masuk mobil.


"Memangnya benar, Miss?" tanya Kenzo memastikan.


"Kalau Kenzo mau diajari, Miss Retha mau!"


"Kenzo mau ... Miss Retha juga bisa main bareng Kenzo. Kan Daddy sibuk kerja terus, jarang ada di rumah. Kenzo ditinggal-tinggal terus."


Celotehan Kenzo menyindir lelaki yang berada di balik kemudi. Retha juga ikut tersindir karena Bara terus menginap di apartemennya. Ia jadi merasa bersalah telah membuat anak kecil itu merasa kesepian.


"Daddy kan kerja untuk Kenzo juga. Kalau Daddy tidak kerja, bagaimana bisa membelikan Kenzo mainan."


Bara mati kutu dengan ucapan putranya sendiri. Ia tidak bisa memberikan pembelaan. Dia memang sedang cukup egois untuk mencari kesenangan dirinya sendiri.


"Bagaimana kalau Kenzo menginap di tempat Miss Retha jika Daddy sedang sibuk kerja? Nanti Miss Retha yang temani Kenzo menggantikan Daddy."


"Memangnya boleh?" tanya Kenzo.


"Boleh, dong ... Miss Retha kan guru privat Kenzo. Selain bisa mengajari baca tulis, juga bisa temani Kenzo main. Biar Daddy fokus kerja, kamu juga tidak kesepian kalau bareng Miss Retha."


Bara garuk-garuk kepala. Ia sebenarnya ingin memprotes ide Retha mengajak anaknya ke apartemen Retha tinggal. Karena ia tidak akan bisa bermesraan dengan wanita itu di sana kalau ada Kenzo.


Mobil yang Bara kemudikan terus melaju hingga mereka sampai di apartemen Retha. Bara hanya bisa menyaksikan kedekatan putranya dengan calon istrinya. Kenzo terlihat sangat ceria dan menyukai Retha. Namun, ia belum berani mengatakan kepada Kenzo kalau Retha akan menjadi ibu barunya. Kenzo masih sering menanyakan tentang Silvia. Anak itu akan kebingungan jika diberitahu jika ayahnya telah mencintai wanita lain yang bukan ibunya. Belum lagi kemungkinan Kenzo akan mengadu kepada orang tuanya. Jika orang tuanya tahu siapa wanita yang akan dinikahinya, semua akan menjadi masalah.


"Masakan Miss Retha enak!" puji Kenzo ketika mereka makan bersama.


"Kalau kamu suka, kapan-kapan Miss Retha buatkan lagi chicken katsu untuk Kenzo."


"Ini mirip yang biasa kita beli di restoran, Dad."

__ADS_1


Bara tersenyum melihat kebersamaan mereka. Rasanya kehangatan keluarga yang sudah lama tidak ia rasakan perlahan telah kembali. Memilih Retha sebagai pasangan ia yakin sebagai keputusan yang tepat.


Retha sosok wanita yang dewasa dan keibuan meskipun usianya terpaut cukup jauh di bawahnya. Ia juga bisa menerima anaknya dengan baik. Retha bisa menjadi pendengar yang baik bagi anaknya. Ia bahkan terkadang merasa tidak enak hati setiap kali Kenzo membahas Silvia. Ia takut Retha akan tersinggung, namun wanita itu berlapang dada karena tahu Kenzo tidak tahu apa-apa tentang permasalahan mereka.


"Kenzo sudah tidur, Mas. Apa Mas Bara tetap akan membawanya pulang ke apartemen Mas Bara?" tanya Retha.


Mereka memandangi sosok anak manis yang terlelap di atas ranjangnya. Setelah lelah bermain bola dengan Retha, akhirnya anak itu mengantuk dan tidur siang.


Bara memeluk Retha, mencium tengkuk wanita itu. "Bagaimana kalau menurut pendapatmu?"


"Aku tidak masalah kalau Kenzo tinggal di sini."


"Itu artinya kita tidak bisa leluasa bermesraan di sini," keluh Bara.


"Kasihan Kenzo, Mas. Dia sering kita tinggal gara-gara urusan kita."


"Dia sudah biasa aku tinggal di tempat neneknya kalau aku pergi ke luar kota."


"Sekarang kan kamu tidak ada urusan di luar kota , biarkan Kenzo memiliki waktu denganmu juga. Aku tidak mau jadi orang yang mendominasimu."


Bara semakin mengeratkan pelukannya. "Padahal aku yang serakah ingin selalu bersamamu. Tapi, kenapa malah kamu yang merasa bersalah?"


"Kita akan mengajak Kenzo tinggal di sini setelah kita selesai bulan madu nanti."


"Apa tidak kelamaan meninggalkannya?" Retha tampak menimbang-nimbang. Rencananya Bara akan membawanya bulan madu selama dua minggu ke Italia setelah mereka mencatatkan pernikahan.


"Tidak, aku jamin dia tidak kesepian. Dia punya dua sepupu, anak-anak adikku."


"Bagaimana kalau Kenzo kita ajak?"


Bara cemberut. "Kita kan mau pergi bulan madu, bukan liburan keluarga."


"Itu anakmu sendiri loh, Mas ...."


Bara bergelayut manja seperti anak-anak. "Tahu, tapi aku juga butuh perhatianmu. Kayaknya aku juga kurang kasih sayang."


Retha mencebikkan bibir. Lelaki itu kembali mengeluarkan jurus rayuannya agar dia luluh.

__ADS_1


__ADS_2