Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Berita Mengejutkan


__ADS_3

Hai ... Sebelumnya mau ngucapin terima kasih untuk yang baca sampai bab ini. Berkat kalia juga karyaku nampang di beranda depan banner paling atas. Walaupun nggak bisa balas semua komentar, tapi aku baca komentar-komentar kalian. Sekali lagi terima kasih sudah mau mampir ke karyaku ini. 😘





"Iya, nanti Kakak transfer uangnya. Tapi tunggu nanti soalnya Kakak masih di rumah sakit." Rerha tampak berjalan sembari menempelkan ponsel di telinganya. Ia berbicara dengan Edis di seberang telepon.


"...."


"Nggak, Kakak nggak sakit ... Cuma mau periksa kandungan saja. Soalnya bulan ini Kakak belum haid." Retha menepis kekhawatiran Edis mendengar dirinya di rumah sakit.


"...."


Rertha tampak menyunggingkan senyum. "Doakan saja begitu, soalnya Kakak baru baru saja sampai di rumah sakit."


"...."


"Hm, kakak mau ke poli kandungan dulu. Kamu tunggu saja transferannya masuk."


Retha menutup teleponnya. Baru saja ia sampai di rumah sakit menaiki taksi. Ia hanya sekedar ingin menjawab rasa penasarannya saja terhadap keanehan yang terjadi pada dirinya. Ia sudah telat haid selama satu minggu. Memang terlalu dini untuk mengira kehamilannya, namun Retha sudah antusias jika ada makhluk kecil yang akan tumbuh di rahimnya.


Baru membayangkannya saja ia sudah senyum-senyum sendiri. Mengandung buah cintanya bersama Bara merupakan harapan terbesarnya. Ia ingin melahirkan anak dari lelaki yang sangat dicintainya.


Menyadari dirinya telat datang bulan selama satu minggu, ia sudah merasa bahagia. Tanpa sepengetahuan Bara, ia akan memeriksa dirinya sendiri. Jika nanti hasilnya positif, ia akan memberikan kejutan untuk suaminya di apartemen.


Saat tiba di rumah sakit, Edis mengabarinya bahwa sang adik butuh uang untuk kebutuhan si sekolahnya. Anak itu memang sudah ia berikan jatah yang sesuai dengan kebutuhannya. Namun, untuk kebutuhan di luar uang jajan, Retha secara bertahap melunasinya.

__ADS_1


Retha menghentikan langkah saat kedua matanya menangkap sosok Bara ada di sana. Suaminya tampak sedang merangkut seorang wanita yang tak lain adalah Silvia. Keduanya tampak mesra berjalan menuju ke poli kandungan.


Perasaan Retha sudah mulai tidak nyaman. Padahal ia sudah mengatakan untuk percaya sepenuhnya kepada Bara. Namun, saat melihat pemandangan yang ada di depan mata, ia kembali menjadi ragu. Apalagi Bara membawa wanita itu ke tempat poli kandungan dengan begitu perhatian.


"Tidak mungkin Silvia hamil, Kan? Mas Bara tidak pernah menginap di apartemen Silvia," gumam Retha lirih.


Ia memutuskan untuk membuntuti keduanya dari kejauhan. Ia berharap apa yang saat ini dipikirkan tidak benar-benar terjadi. Bara dan Silvia dengan mudah langsung masuk ke dalam ruangan dokter tanpa harus mengantri.


Retha yang penasaran mendekat ke arah pintu. Ia sampai menempelkan telinganya pada daun pintu untuk menjaga percakapan mereka di dalam. Bahkan lirikan aneh para pasien yang berobat di sana juga ia abaikan. Mereka pasti mengira dia tidak mau mengantri.


"Sabar, Mba. Semua akan dapat giliran," celetuk salah satu pasien kepada Retha.


Retha menyunggingkan senyuman termanisnya. "Maaf, Ibu. Terima kasih sudah menasihati," ucapnya.


Ia kembali fokus pada perbincangan yang ada di dalam. Dengan berani ia membuka sedikit pintu agar suara dari dalam lebih jelas.


"Selamat ya, Sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua baru. Ibu Silvia positif hamil."


"Silvia hamil?"


Retha mematung dan melamun seperti orang gila. Tiba-tiba gairah hidupnya hilang mengetahui Silvia sedang hamil. Tanpa terasa, air matanya sudah jatuh begitu saja.


Seharusnya ia tidak mudah percaya kepada Bara. Lelaki itu sudah pernah membohonginya dan bodohnya ia masih percaya. Kehangatan yang Bara berikan kepadanya setiap malam seakan membuatnya terlena dan menjadi buta akan cinta. Ia selalu merasa menjadi kesayangan Bara.


Tidak mungkin lelaki bisa tahan dengan wanita secantik Silvia. Mungkin mereka sempat tidur beberapa kali di apartemen mereka.


"Mas, kamu sebenarnya mau bagaimana denganku," lirih Retha.


Bara bilang mau menyelesaikan masalahnya sendiri. Namun, jika awalnya ia berniat untuk menceraikan Silvia, dengan keberadaan anak itu ia yakin akan semakin membuat Bara luluh.

__ADS_1


Retha memutuskan untuk pergi meninggalkan poli kandungan dengan langkah yang lunglai dan sedih hati. Memang lebih baik ia pergi dari sana. Sejak awal posisinya sudah salah, menerima tawaran pernikahan Bara karena uang.


***


Sebelumnya ....


Silvia memegangi kepalanya yang terasa pening. Belum lama ia tersadar dari pingsan akibat tubuhnya terlalu lemah. Bara ada di sana, duduk menunggui di kursi samping ranjangnya.


Lelaki itu kelihatan memberikan tatapan kesal. Silvia merasa kali ini tak bisa mengelak lagi. "Maaf, Mas. Aku tadi tiba-tiba pusing, ucapnya."


Bara hanya bisa menghela napas. "Dokter menyuruhku membawamu ke poli kandungan untuk memastikan apa kamu bemar-benar hamil atau tidak," ucap Bara.


Silvia tertegun sejenak. Ia sangat ingin langsung melompat turun dari ranjangnya ketika mendengarkan kata-kata kehamilan. Bara belum waktunya tahu, namun lelaki itu sudah lebih dulu mengetahui kemungkinan yang terjadi kepadanya. Terpaksa mau tidak mau ia menuruti permintaan Bara.


Dengan bantuan Bara, Silvia berjalan menuju poli kandungan yang letaknya tak jauh dari ruang perawatannya.


Seorang asisten dokter membukakan pintu untuk merea. "Selamat darang, silakan duduk," ucap wanita itu dengan ramah.


Mereka duduk di hadapan sang dokter.


"Ada keluhan apa, Bapak, Ibu?" tanya Dokter Ester dengan seulas senyuman.


Silvia menoleh ke arah Bara. Lelaki itu tampak membuang muka tak mau membantunya menjawab.


"Maaf, Dokter. Saya sudah satu bulan tidak haid. Apa saya sedang hamil?" tanya Silvia.


"Em, untuk memastikannya, kami harus melaksanakan pemeriksaan. Silakan ibu Silvia langsung berbaring di atas ranjang!" pinta ibu dokter.


Asisten dokter mengoleskan gel bening di seluruh permukaan perut Silvia. Dokter Ester perlahan menggerakkan benda berbentuk seperti microfon ke perut Retha. Sontak sebuah gambaran janin telah tumbuh di dalam diri Retha.

__ADS_1


"Bapak Ibu, selamat, ya. Sebentar lagi kalian akan menjadi sepasang orang tua," ucap Dokter Ester.


__ADS_2