Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Hamil Tanpa Disentuh


__ADS_3

"Citra, ikut aku sekarang!"


Hendry tiba-tiba menghampiri Citra di meja kerjanya dengan wajah yang serius.


"Ada apa, Pak?" tanya Citra keheranan. Beberapa karyawan lain yang melihat juga penasaran dengan apa yang terjadi.


"Kemasi barang-barangmu dan ikut aku. Cepat!"


Perintah Hendry seakan suatu keharusan. Terpaksa Citra menuruti kemauan atasannya. Bahkan, karyawan lain hanya bisa melihat tanpa berkomentar.


"Sudah, Pak!" jawab Citra usai mengemasi barang-barang dan mematikan komputernya.


Tanpa berkata-kata, Hendry menarik tangannya dan membawanya berjalan keluar dari ruang HRD. Ia sampai harus setengah berlari untuk mengimbangi langkah kaki yang lebar. Rekan kerjanya cemas dengan nasib Citra, seakan Citra telah melakukan kesalahan fatal.


"Kita mau kemana sebenarnya, Pak?" tanya Citra saat telah masuk ke dalam mobil Hendry.


"Pasang sabuk pengamanmu, nanti kamu akan tahu."


Citra kembali menurut. Hendry mengemudikan mobilnya dengan kecepatan kencang. Citra tak berani bertanya lagi, ia hanya berpegangan kencang pada gagang di atas pintu karena takut dengan kecepatan laju mobil Hendry.


Sesampainya di depan sebuah rumah sakit, Hendry menghentikan mobilnya. Ia kembali menuntun Citra masuk ke dalam sana. Citra benar-benar menjadi patuh tanpa berkomentar sedikitpun. Raut wajah serius Hendry seakan menegaskan ia tidak ingin dibantah.


Citra agak heran kenapa Hendry membawanya ke rumah sakit yang sangat familiar baginya. Ia sudah beberapa kali datang ke sana untuk berkonsultasi tentang kesehatan alat reproduksinya. Apalagi Hendry membawanya masuk ke ruangan Dokter Ester.


Selain Dokter Ester, di sana juga ada Dokter Jenny yang sempat menanganinya menggantikan Dokter Ester.


"Selamat sore, Ibu Citra. Ada hal penting yang harus kita bahas. Mungkin akan cukup mengejutkan," ucap Dokter Ester dengan raut wajah yang seolah cemas.


"Sebenarnya kenapa, Dokter?" Citra benar-benar bingung.


"Bisa ikut kami sebentar, ada yang ingin kami pastikan. Ibu Citra bisa berbaring dulu di ranjang pemeriksaan," pinta Dokter Ester.

__ADS_1


Citra menoleh ke arah Hendry. Lelaki itu memberikan kode agar dirinya menuruti kemauan sang dokter.


Dengan perasaan dipenuhi tanda tanya, ia menuju ranjang pemeriksaan dan membaringkan tubuhnya.


"Maaf, saya buka bagian perutnya sebentar ya, Ibu Citra."


Dokter Ester menaikkan blouse yang Citra kenakan hingga perut ratanya terekspose. Perutnya dibaluri oleh gel bening yang terasa dingingin saat menempel di kulitnya.


"Dok, saya mau diapakan? Kok seperti mau periksa kandungan?" tanya Citra heran.


"Benar, Ibu Citra. Saya periksa dulu, ya!" Dokter Ester menempelkan sebuah alat yang mirip dengan gagang microfon ke area perurnya.


Citra semakin heran. Bisa-bisanya ia diperiksa kebamilan padahal ia sudah lama tidak melakukan hubungan se.ksual dengan Yoga. Bahkan, mereka sudah bercerai dan tidak pernah bertemu lagi.


Raut wajah Dokter Ester terlihat cemberut. Ia bertukar pandang dengan Dokter Jenny yang ada di sana. Keduanya seakan merasa kecewa setelah memeriksa Citra.


Dokter Ester membersihkan sisa-sisa gel yang menempel di perut Citra dengan lembut. Ia persilakan kembali Citra duduk bersama Hendry.


Mendengar perkataan Dokter Ester, Citra mendapatkan firasat yang kurang enak. "Silakan katakan saja, Dok. Kenapa sejak tadi berputar-putar penjelasannya?"


Dokter Ester menghela napas. "Ibu Citra, di rahim Anda sedang tumbuh janin berusia 6 minggu."


Citra membulatkan mata. "Maksudnya? Saya sedang hamil?" tanyanya penasaran.


"Benar, Ibu Citra. Anda sedang hamil." Dokter Citra memberikan penegasannya.


"Itu tidak mungkin, Dokter ... Saya tidak pernah berhubungan dengan lelaki manapun, bahkan dengan mantan suami saya sebelumnya." Bibir Citra terasa bergetar. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


Meskipun sebelumnya ia sangat menginginkan kehamilan, namun tidak mungkin ada wanita bisa hamil tanpa disentuh lelaki. Ia yang selama ini sering melakukan hubungan badan dengan Yoga selama tiga tahun saja tak kunjung hamil.


"Ibu Citra, maafkan saya!" Dokter Jenny angkat bicara. Raut wajahnya menunjukkan ketakutan saat berbicara. "Saya telah melakukan kesalahan fatal!" wanita itu hampir menangis mengakui kesalahannya.

__ADS_1


"Apa Ibu Citra masih ingat, pernah datang ke tempat ini sekitar sebulanan yang lalu? Saat saya tidak ada di tempat dan digantikan oleh Dokter Jenny?" sambung Dokter Ester.


"Iya, Dok saya ingat. Katanya ayah Dokter Ester meninggal sehingga digantikan oleh Dokter Jenny." Citra belum memahami permasalahan sebenarnya sejauh ini.


"Waktu itu, seharusnya jadwal Ibu Citra untuk melakukan papsmear. Tetapi, Dokter Jenny telah melakukan sesalahan, mengira Anda sebagai Ibu Tatiana yang hendak melakukan program inseminasi buatan."


"Dokter Jenny telah memasukkan benih dari Bapak Hendry ke rahim Anda, Ibu Citra."


Napas Citra seakan tercekat. Ia sangat syok mendengarkan penjelasan yang dokter berikan. Di rahimnya kini sedang tumbuh seorang janin yang berasal dari benih Hendry, atasan di kantornya.


Perasaannya campur aduk. Kehamilannya mampu menepis tudingan bahwa dirinya mandul. Ia sampai menitihkan air mata dan menangis tersedu-sedu saking bingung dan bahagianya.


Ketiga orang di ruangan itu merasa kebingungan melihat Citra menangis. Bagaimanapun juga, hal tersebut bisa terjadi akibat kesalahan yang mereka lakukan.


"Ibu Citra, mohon tenangkan diri dulu," ucap Dokter Ester. Namun, Citra terus menangis dan tidak bisa menghentikan tangisannya.


Hendry merasa kebingungan. Apa yang terjadi pada Citra juga membuat dirinya syok. Ia tidak menyangka jika benihnya telah dimasukkan ke rahim yang salah.


Seharusnya benih itu akan ditanam ke dalam rahim Tatiana. Namun, sebelum rencana tersebut terealisasi, hubungannya dengan Tatiana memburuk. Hendry sampai lupa dengan program inseminasinya. Sampai akhirnya Retha yang mengingatkannya kembali tentang program tersebut.


Hendry langsung menuju ke tempat Dokter Ester berniat membatalkannya karena telah bercerai dengan Tatiana. Ternyata, saat ingin dikonfirmasikan, Dokter Jenny mengatakan telah menjalankan tindakan kepada orang yang salah, yaitu Citra, wanita yang kebetulan datang di hari yang sama dengan Jadwal tindakan kepada Tatiana.


Mengetahui identitas penerima donor benihnya ternyata adalah Citra, ia buru-buru menjemput Citra di kantor dan membawanya untuk memastikan. Ternyata program tersebut berhasil. Benih Hendry yang telah dimasukkan tanpa sengaja telah tumbuh menjadi janin di dalam perut Citra.


"Maafkan saya ... Maafkan saya ... Ini salah saya ... Huhuhu ...."


Dokter Jenny merasa sangat bersalah. Ia berlutut di hadapan Citra sembari menangis tersedu-sedu. Seharunya waktu itu ia melakukan prosedur papsmear malah justru melakukan inseminasi buatan.


"Meskipun kami mengakui kesalahan, tapi kami masih berharap Ibu Citra bisa menyelesaikan ini secara kekeluargaan," ucap Dokter Ester.


"Maafkan saya ... Jangan bawa kasus ini ke jalur hukum, saya mohon ... Huhuhu ...." Dokter Jenny begitu ketakutan dengan kesalahan yang telah dilakukan.

__ADS_1


__ADS_2