Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Ciuman Pertama


__ADS_3

Tidur Citra terasa terusik. Ia seakan tidak bisa bebas menggerakkan tubuhnya. Ada sesuatu yang menempel padanya.


Mata Cotra terbuka. Dilihatnya pemandangan baru saat ia terbangun. Ia hampir lupa kalau semalam dirinya mulai tidur di apartemen milik Hendry.


Punggungnya terasa hangat. Ia membuka selimut, mendapati sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Mata Citra membulat menyadari sosok lelaki yang ada di belakangnya kini adalah Hendry, suami sekaligus bosnya di kantor.


"Tuh kan ... Baru hari pertama janjinya sudah dilanggar," keluh Citra seraya berusaha menyingkirkan tangan itu darinya.


Saat Citra hendak bergeser dari tempatnya, tangan itu kembali memeluknya bahkan tanpa sengaja menyentuh aset berharganya. "Pak Hendry!" teriaknya seraya mendorong tubuh lelaki itu menjauh.


Sontak Hendry terbangun, mendapati Citra duduk di ranjang sembari memasang wajah marah kepadanya. "Kenapa, Sayang?" tanyanya santai seakan tanpa rasa bersalah.


"Jangan pura-pura tidak tahu! Bapak tukang cari-cari kesempatan! Dasar lelaki mesvm!" teriaknya.


Mendengar tuduhan yang ia merasa tidak lakukan, Hendry terpancing marah. Ia bangkit seraya mendekat ke arah Citra. Tanpa ragu ia terus maju hingga wanita itu merasa terpepet dan berbaring di bawahnya.


Sorot mata Hendry tajam seakan ingin memangsa wanita yang baru saja terlihat garang memarahinya. "Coba katakan sekali lagi ... Aku mesvm katamu?" tanyanya mengintimidasi.


Citra menyilangkan kedua tangan di dada, memasang mode pertahanan dari singa yang baru saja terbangun. Wajah mereka sangat dekat dan Hendry kelihatan kesal sama seperti dirinya.


"Bapak sengaja curi-curi kesempatan waktu saya tidur, kan? Main peluk-peluk tanpa izin ... Raba-raba ... Dasar lelaki tidak bisa dipegang kata-katanya!"


"Benarkah? Memang bagian mana yang sudah aku raba-raba?" tanya Hendry dengan heran karena merasa tidak melakukannya.


"Pak Hendry!" Citra terlihat kesal. Bukannya menyadari kesalahan Hendry malah mengajak bercanda.


Hendry mengernyitkan dahi. "Bukankah kita sudah sepakat untuk saling memanggil 'Sayang'? Kalau kamu tetap memanggilku 'Pak Hendry', kesannya sekarang aku sedang berniat untuk berbuat mesvm dengan salah satu karyawanku."


"Bapak juga mengingkari ucapan sendiri!" kilah Citra.


"Hm, panggil 'Bapak' sekali lagi, aku benar-benar akan menciummu. Kamu bandel juga, ya ...." Perhatian Hendry sudah terpaku pada bibir tipis yang ada di hadapannya. Sebenarnya ia sudah tidak ingin menahan diri untuk memagutnya.


"Tolong menyingkir ... kita punya kesepakatan untuk tidak saling menyentuh." Citra semakin waspada. Hendry sepertinya tidak bisa dipercaya.

__ADS_1


Hendry menyunggingkan senyum. "Bukankah kesepakatan kita hanya sebatas tidak melakukan hubungan suami istri? Bagaimana bisa kita membangun chemistry sebagai pasangan suami istri kalau berciuman saja tidak mau? Di hadapanmu ini suamimu sendiri, bukan orang lain. Ayah dari bayi di dalam kandunganmu. Apa salahnya kalau kita berciuman?"


"Permintaan Bapak sudah kelewatan."


Citra menggunakan tangannya untuk mendorong dada Hendry. Namun, yang terjadi, Hendry menyingkirkan tangan Citra dan melabuhkan ciuman di atas bibir itu.


Mata Citra melebar saat tiba-tiba bibirnya dicium. Kedua tangannya tidak bisa digerakkan karena ditahan.


Hendry tersenyum lebar melihat respon wanita yang ada di bawahnya. "Sudah aku bilang kamu akan aku cium kalau masih memanggilku 'Bapak'."


"Pak Hendry!"


Lagi-lagi Citra keceplosan memanggil Hendry. Tanpa sungkan, Hendry kembali mencium wanita di bawahnya bahkan dengan ciuman yang mendalam hingga menautkan lidah mereka. Citra yang awalnya menolak dibuatnya terhanyut dalam ciumannya. Terlihat wajah wanita itu memerah serta desa.han di sela-sela ciuman.


"Cukup dulu, ya! Gawat kalau kamu sampai ketagihan," ledek Hendry saat menghentikan ciumannya. Wanita di bawahnya sudah pasrah karena perbuatannya.


Hendry hanya senyum-senyum. Ia bangkit pergi meninggalkan Citra yang masih terbaring di atas ranjang. "Aku mau mandi. Apa kamu juga mau ikut sekalian supaya lebih cepat?" godanya.


Berciuman dengan Hendry serasa seperti sesuatu yang baru. Seakan hal tersebut merupakan pengalaman pertamanya. Bahkan debaran kencang jantungnya masih bisa ia rasakan.


***


"Bapak yang masuk duluan atau saya?" tanya Citra ketika mereka telah sampai di basement parkiran kantor.


Hendry menatap ke arah Citra dengan fokus. "Cium!" katanya singkat.


Citra hanya tercengang dengan kemauan Hendry. Baru saja tadi pagi di apartemen ia merasa canggung menikmati sarapan bersama lelaki itu. Saat hendak masuk kantor, Hendry masih meminta hal yang aneh-aneh.


"Aku kan sudah bilang kalau kamu masih memanggilku begitu, kamu harus menciumku." Hendry memanfaatkan kelalaian Citra untuk kesenangannya.


"Tapi, kita sudah di area kantor, Pa ...." Citra langsung menutup mulutnya takut salah bicara lagi.


"Ini kan belum di kantor. Ini masih parkiran. Atau kamu mau kita ciuman saja di depan para karyawan? Sekalian kita umumkan pernikahan kita?" ancam Hendry.

__ADS_1


"Jangan!" seru Citra. Ia baru memberi tahu Lilis saja kalau dirinya menikah dengan Hendry. Ia tidak ingin karyawan lain tahu agar tidak ada berita yang macam-macam.


Hendry mengembangkan senyum. "Ayo, cium dulu. Orang salah kan harus mendapatkan sanksi."


Citra mengepalkan tangannya. Ia menghela napas memberanikan diri untuk mendekat kepada Hendry yang masih terduduk di kursi kemudi.


"Sini biar aku bantu!" Hendry menarik tengkuk Citra seraya memagut bibirnya. Lelaki itu seakan tidak sabaran untuk menyatukan kedua bibir mereka.


"Terima kasih, Sayang," ucap Hendry mesra setelah mendapatkan apa yang diinginkannya. "Kamu boleh masuk duluan." Ia mengizinkan Citra lebih dulu keluar dari mobil.


Dengan tatapan mata yang masih kosong, Citra keluar dari mobil. Nyawanya seakan baru saja disedot oleh Hendry sampai ia tidak berdaya. Ia menggeleng-gelengkan kepala menyadarkan diri agar tidak lagi terjebak dalam kemauan Hendry. Lelaki itu sangat licik, mampu memanfaatkan keadaan untuk menggodanya.


"Cie ... Cie ...." Lilis menyambut Citra dengan raut wanah gembira sekaligus ingin menggoda. "Pengantin baru kita akhirnya sudah sampai," lirihnya.


"Lis, jangan dibahas di sini. Nanti yang lain bisa tahu," Citra mengingatkan.


"Iya, tenang saja! Rahasiamu aman!" Lilis memeluk rekan kerjanya itu dengan perasaan senang.


"Kalian kenapa, pagi-pagi sudah berpelukan sudah kayak teletubies aja," ucap Jia yang kebetulan lewat di depan mereka.


"Kenapa, Jia? Mau aku peluk juga?" goda Lilis sembari menjulur-julurkan lidahnya.


Jia bergidik. Ia memilih melewati mereka berdua dan berjalan menuju ke mesin fotokopi.


"Aku tidak menyangka akhirnya bos duda kita bisa kamu takhlukkan, Citra. Aku turut senang walaupun bukan aku yang Pak Hendry pilih." Lilis masih memeluk lengan Citra sampai mereka sampai di meja kerja.


"Ngomong-ngomong ... Pak Hendry bagaimana?" tanya Lilis dengan sorot mata berbinar dengan keingintahuan yang tinggi.


"Aku kan sudah ceritakan semuanya, apa masih belum jelas kalau alasanku menikah hanya karena calon bayi di perutku?" Citra seakan malas membahas kehidupan pernikahannya.


"Hm, masa punya suami seganteng Pak Hendry tega kamu anggurin, Cit. Lumayan kamu bawa jalan-jalan, kalau bisa buat manasin mantan," ucap Lilis.


Citra berusaha tak mempedulikan saran dari Lilis. Ia lebih memilih untuk membuka pekerjaannya yang belum terselesaikan.

__ADS_1


__ADS_2