
"Apa nggak lebih enak kita belajar di perpustakaan?" tanya Edis.
Mereka baru saja sampai di apartemen Angga. Suasana saat Edis masuk cukup kotor, tandanya memang Angga malas berbenah-benah. Di dalam juga kelihatannya sepi tak ada orang.
"Catatanku bisa lebih mudah kamu pahami daripada buku di perpustakaan. Apalagi kamu akan dapat tutor gratis, kan?" Angga melepaskan sepatunya dan meletakkan di rak sepatu yang terdapat di samping pintu.
"Ayahmu kemana?" tanya Edis sembari melepas sepatu mengikuti Angga.
"Masih dalam perjalanan bisnis ke luar kota. Mungkin besok baru pulang."
Edis mangguk-mangguk. "Setidaknya Kak Angga bersih-bersih sedikit, buang sampahnya. Masa aku datang selalu disambut sampah di depan pintu."
"Hahaha ...." Angga menertawakan kritikan Edis. Ia mengambil sebotol jus jeruk besar dari dalam lemari lalu di bawa ke ruang tengah tempat Edis duduk. "Nanti sore juga dibersihkan petugas kebersihan, kok. Kalau aku yang bersihkan, nanti mereka kerja apa?" kilahnya.
"Alasan aja sebenarnya Kakak malas, kan?" ejek Edis sembari memanyunkan bibirnya. Tanpa ia duga, Angga memberikan ciuman kilat di bibir manyunnya. Seketika ia langsung terdiam.
"Berani protes, aku cium lagi, ya? Manis banget kalau diam begini...." giliran Angga yang mengejek Edis dengan menepuk-nepuk kepalanya. Edis jadi seperti anak kucing. Ia menyembunyikan wajahnya di atas meja ditutup dengan tangannya.
"Sudah, ah! Katanya kita mau belajar. Cepat buka bukumu!"
Hal paling malas untuk Edis lakukan adalah belajar matematika. Baru melihat cover bukunya saja sudah membuatnya pusing dan mengantuk. Dengan malas ia buka tas sekolahnya, mengeluarkan buku paket matematika, buku tulis, serta alat tulis.
"Belum mulai sudah lemas begitu ... ck! Pacar siapa sih ini?" Angga geleng-geleng kepala dengan kelakuan Edis. Ia mengambil buku tulis kekasihnya itu, membuka lembar demi lembar tulisan tangan Edis. Matanya melebar setiap kali melihat nilai-nilai yang tertera di dalamnya. "Kamu nggak pernah tuntas dalam pelajaran? Kok nilainya di bawah 70 semua?" Angga seperti orang kota yang baru masuk desa, suka kagetan. Apalagi melhat nilai Edis yang parah, diwarnai nilai 20, 30, 40, dan 50.
__ADS_1
"Matematika memang sulit kok untukku, Kak. Makanya aku sudah pasrah. Mending nggak usah belajar, nanti Kak Angga malah emosi." Edis menidurkan kepalanya di atas meja dengan pasrah.
"Nggak, kita akan tetap belajar. Tegakkan tubuhmu!" perintah Angga.
Edis langsung menegakkan kepalanya. Matanya kembali melebar saat Angga duduk tepat di belakangnya membuatnya seakan terpenjara oleh pemuda itu. Wangi tubuhnya membuat ia tidak bisa berkonsentrasi belajar. Apalagi mengingat kondisi rumah yang sepi, membuat pikirannya melanglang buana kemana-mana. Bukannya memikirkan pelajaran, ia malah membayangkan keromantisan berdua dengan Angga.
"Kita mulai dari halaman ini saja, ya! Kayaknya kamu paling nggak bisa tentang materi limit fungsi, ya?"
Angga memajukan duduk hingga tubuhnya menempel pada punggung Edis. Ia tidak sadar kalau posisinya bahkan membuat Edis ketar-ketir tidak bisa fokus. Saat Angga mulai menjelaskan, tubuhnya justru merasa merinding dan tidak nyaman.
"Kak, sebenarnya aku tidak bisa semuanya. Mau itu limit, baris dan deret, suku banyak, turunan dan tanjakan ... belokan, turunan ... mau dijelaskan berkali-kali juga nggak bakal nyangkut di otak!" Edis terlihat menghela napas.
Angga tertawa dengan lelucon yang Edis ucapkan. "Kamu tenang saja, pacarmu ini bisa menjelaskannya dengan baik, kok. Kamu coba dulu menyimak penjelasanku." Angga tak ingin menyerah. Ia tetap ingin menjelaskan pengetahuannya kepada Edis.
Angga tertegun sejenak. Ia bahkan tak berpikir apa-apa sampai melihat wajah Edis yang memerah. Angga menyeringai. Ia sengaja memeluk Edis dari belakang dengan erat sembari mengecupkan bibir pada leher kekasihnya itu."
"Aduh, Kak ... geli!" Edis berusaha mengelak namun tak bisa kemana-mana karena pelukan Angga. "Hahaha ... Kak Angga, berhenti nggak! Jangan ... geli!"
Angga semakin gemas menciuminya. "Otakmu pasti mesvm, ya. Disuruh belajar malah memikirkan hal yang macam-macam."
Wajah Edis semakin memerah. Angga melepaskan pelukannya, ia kembali membukakan buku untuk Edis. "Kamu harus fokus belajar," pintanya.
"Kakak jangan di belakangku, aku grogi ...."
__ADS_1
"Grogi atau jadi pengin dicium?" bisik Angga tepat di telinga Edis. Hembusan napasnya membuat area telinganya jadi sens1tif dan membuatnya merinding.
"Setiap kamu bisa mengerjakan soal dengan benar, nanti aku akan menciummu supaya kamu senang. Kalau salah terus, kita puasa nggak ciuman sampai kamu bisa. Adil, kan?"
Rasanya Edis ingin protes dengan syarat yang Angga ajukan. Lelaki itu yang dulunya selalu menciumnya, memberikan dia pengalaman berciuman sampai ia menyukainya. Gilirsn dia suka, untuk melakukan hal yang disukainya malah dikenakan syarat. Kalau syaratnya bisa matematika, ia rasa sampai lulus SMA mereka tidak akan berciuman lagi.
"Jadi, limit fungsi bisa dicari nilainya dengan tiga cara. Pertama, dengan substitusi dulu. Kalau langsung ketemu, berarti hasilnya sudah ketemu. Contohnya ini. Kita masukkan saja nilai x ke dalam fungsi." Angga memberi penjelasan sembari mempraktikkan agar bisa dipahami oleh Edis. "Kalau dengan substitusi hasilnya nol per nol atau tak terdefinisikan, kita perlu memfaktorkan dulu. Nanti kalau ada faktor yang sama bisa dicoret, supaya lebih sederhana, baru nilai x dimasukkan."
"Tapi, biasanya apa yang aku pelajari, soal ulangannya beda lagi. Yang diajarkan A, yang keluar Z," keluh Edis.
"Nanti kalau sudah terbiasa juga bisa kok. Biasanya yang dijadikan soal juga itu-itu saja. Makanya perhatikan baik-baik, nanti kamu bisa."
"Iya, iya ...." Edis berusaha fokus mendengarkan penjelasan yang diberikan Angga. Belajar dengan Angga memang lebih mudah dari pada saat ia mendengarkan penjelasan guru di kelas. Apalagi cara guru menjelaskan membuat ngantuk, ia semakin malas mengikuti pelajaran matematika. Sementara, apa yang Angga ajarkan lebih sederhana dan mudah dipahami.
"Kakak belajarnya bagaimana sih? Kok bisa bertahan di lima besar terus?"
"Belajar itu bagaimana? Di kelas mendengarkan penjelasan guru terus mencoba menerapkan apa yang sudah didengarkan. Banyak-banyak berlatih supaya paham. Nanti kalau kamu mau masuk perguruan tinggi juga berguna."
"Kayaknya nanti aku akan memilih jurusan yang nggak ada matematikannya."
Angga kembali tertawa dengan jawaban Edis. "Sudah, ya. Kita lanjutkan lagi. Cara ketiga menentukan nilai limit fingsi yaitu dengan perkalian dengan akar sekawan. Kamu tandai saja kalau ada soal limit yang ada akar-akarnya, nanti kamu pakai yang ini."
Edis terus mendengarkan penjelasan Angga dengan baik. Baru kali ini otaknya tercerahkan dan limit tidak lagi menjadi terlalu menyeramkan untuknya. Bahkan, saat ia mencoba, meskipun masih dibimbing oleh Angga, ia menemukan bahwa pelajaran itu cukup menyenangkan. Apalagi yang mengajarinya adalah pacarnya sendiri. Sesekali ia menyandarkan punggungnya pada tubuh Angga ketika ia lelah menggerakkan penanya. Belajar bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan.
__ADS_1