Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Silvia Kembali


__ADS_3

Ratih dan Mikha duduk santai di bangku taman halaman depan sembari mengawasi ketiga anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran. Kenzo, Gisel, dan Eril tertawa riang bermain bersama dengan akur. Eril yang disuruh untuk mengejar kakak-kakaknya yang berlari lebih kencang.


"Thea sudah lama juga ya tidak datang ke sini. Apa dia menghubungimu?" tanya Ratih sembari menyeruput segelas teh.


"Kemarin dia menghubungiku, katanya sedang sibuk mengurus bisnisnya di luar kota." Mikha mengambil camilan yang dibuatkan oleh pelayan rumah.


"Apa menurutmu Thea itu benar-benar menyukai Bara?"


"Sudah jelas itu, Ma. Sejak pertama kita kenal, dia selalu menanyakan tentang Bara. Katanya dia sudah suka Kak Bara senak SMA. Sayang saja Kak Bara menikah dengan Kak Silvia jadi dia kira cintanya tidak akan berlabuh. Tahu Kak Bara sudah duda, dia jadi semangat ingin mendekati Kak Bara lagi."


"Kakakmu sejak awal sudah salah memilih istri. Mama selalu mengingatkan agar memilih pasangan yang setidaknya setara dengan keluarga kita, tidak seperti keluarga Silvia yang mentalnya seperti orang kaya baru. Ini bukan tentang masalah harta, tapi lebih pada cara berpikir yang berbeda. Pokoknya, Mama tidak suka kalau keluarga kita berhubungan dengan keluarga darinstrata sosial yang berbeda dengan kita."


"Ma, yang penting Kak Bara bahagia seharusnya itu sudah cukup. Dia sudah bisa bertanggung jawab kepada kehidupannya sendiri." Mikha agak keberatan dengan pendapat ibunya.


"Kamu ini bicara apa, Mikha? Tahu sendiri kelakuan Silvia yang gila harta itu? Dia sangat tidak sabaran ingin jadi orang kaya sementara kakakmu maunya berusaha dari bawah. Dari satu hal itu saja mereka sudah berbeda prinsip. Seharusnya mereka tidak menikah sejak awal."


Mikha memilih diam. Ia tidak akan bisa membantah ibunya sendiri yang keras kepala. Sama keras kepalanya dengan Silvia. Ia tidak memungkiri berakhirnya rumah tangga kakaknya salah satunya juga karena ibunya sendiri yang tidak memiliki hubungan baik dengan Silvia. Istri kakaknya itu juga terlalu berani kepada mertua sehingga beberapa kali terjadi cekcok.


"Mommy ... Mommy ...."


Mikha dan Ratih tersentak kaget mendengar Kenzo memanggil ibunya. Mereka saling bertatapan. Saat mereka menoleh ke arah Kenzo, ternyata benar, di arah pintu masuk gerbang ada seorang wanita cantik mengenakan dress selutut berwarna merah dengan rambut pirang yang tergerai. Keduanya langsung berdiri menyadari kehadiran Silvia. Wanita yang bertahun-tahun hilang tanpa kabar tiba-tiba ada di halaman rumah mereka.

__ADS_1


Kenzo kegirangan bertemu kembali dengan ibunya. Ia meminta digendong dan memeluk wanita itu dengan erat. Ternyata, anak itu masih mengenali ibu yang sangat dirindukannya. Sementara, Eril dan Gisel hanya terbengong memandangi wanita cantik yang ada di hadapan mereka.


"Berani kamu kembali setelah pergi begitu saja, hah?" Ratih sangat emosi dengan kehadiran mantan menantunya itu. Ia berjalan tergopoh-gopoh mendekat ke arah Silvia. Mikha turut mengikuti ibunya dari belakang.


"Apa kabar, Ma? Lama tidak bertemu." Silvia mengulaskan senyuman termanisnya menghadapi sang mertua dengan tampak tenang.


"Turunkan Kenzo dan cepat pergi dari sini!" Ratih sedikit memelankan suaranya, berusaha untuk bersabar mengingat ada ketiga cucunya di sana. Eril dan Gisel yang ketakutan bersembunyi di belakang tubuh Mikha sembari memegang baju ibu mereka.


"Kenapa Mama belum juga berubah? Aku datang untuk Kenzo, bukan untuk Mama. Tenang saja. Apa Mas Bara ada di dalam?" Silvia tak mau menurunkan Kenzo dari gendongannya. Ia terus memeluk putra semata wayangnya dengan penuh kasih sayang.


"Kehidupanmu sudah terlepas dari Kenzo dan Bara sejak kamu memutuskan pergi. Apa kamu tidak punya harga diri untuk kembali lagi ke sini?" Ratih sangat ingin menampar dan menjambak wanita itu.


"Siapa bilang kami sudah lepas? Mas Bara belum menceraikan aku, Ma."


"Hahaha ... lucu sekali. Tidak ada yang bisa memutuskannya selain Mas Bara dan Kenzo. Ini kehidupan keluarga kami, bukan kehidupan keluarga Mama. Tolong, jangan ikut campur lagi!" Silvia tegas berani menentang mertuanya.


"Kamu ...." Ratih hendak maju memukul Silvia, namun Mikha menghentikannya. Ibunya bisa saja jantungan jika terus emosi dengan Silvia.


"Kak Silvia, lebih baik kamu pulang dulu. Turunkan Kenzo," pinta Mikha.


"Aku tidak mau. Sudah lama aku ingin bertemu dengan putraku sendiri dan kamu berani melarangku?" Silvia semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Kak Bara masih ada urusan di luar negeri. Mungkin beberapa hari lagi baru kembali. Jadi, tolong pergi dulu dan kembalilah ke sini setelah Kakakku pulang." Mikha berusaha bicara selembut mungkin. Meskipun ia juga tidak terlalu suka dengan Silvia, namun ia tetap menghormatinya sebagai ibu dari keponakannya.


"Kenapa aku harus pergi menyerahkan Kenzo kepada kalian? Aku bisa menjaga Kenzo sendiri di apartemen kami seperti dulu." Silvia rindu kehidupan rumah tangganya yang dulu. Setelah tiga tahun berlalu, akhirnya ia bisa kembali dan bertemu putranya. Ia berjanji akan menjadi istri sekaligus ibu yang baik untuk memperbaiki kesalahannya di masa lalu.


Silvia telah melewati satu fase terberst dalam hidupnya, yaitu meninggalkan anak dan suami. Saat ia kembali, pintu apartemen dengan sandi yang masih sama, interior yang tidak diganti, serta foto-foto yang masih terpajang rapi membuat dirinya terharu. Apalagi Kenzo juga masih mengenalinya. Ia yakin Bara dan Kenzo memiliki rasa rindu yang sama dengannya.


Silvia akan menunggu Bara kembali. Ia akan meminta ampunannya dan memperbaiki diri. Bahkan jika harus mencium kaki Bara, akan ia lakukan. Silvia bahagia suaminya masih tetap setia meskipun ia telah meninggalkannya cukup lama.


"Wanita ini ...." Ratih kembali geram. Mikha menahan tangan ibunya agar tidak gegabah. Masalah akan semakin rumit jika ibunya ikut campur.


"Kak Silvia, aku beri tahu, ya ... Kakakku sudah tidak memiliki perasaan yang sama terhadapmu seperti dulu. Ia belum menceraikanmu hanya untuk kepentingan pendaftaran sekolah Kenzo, bukan karena dia masih mengharapkanmu kembali. Jadi, biarkan Kenzo di sini dan setelah Kakakku pulang, silakan kalian menyelesaikan masalah kalian sendiri."


Silvia tersenyum. "Kamu tidak perlu repot-repot menjagakan Kenzo di sini. Aku akan menunggu Bara di apartemen kami."


"Silakan kalian mau bicara apa saja tentangku, mau menjelek-jelekkan aku, aku akan tetap bertahan jika Mas Bara yang memintanya. Tolong jangan ikut campur lagi dengan kehidupan keluarga kami."


"Silvia ...."


"Sudah, Ma ...." Mikha jadi khawatir melihat kondisi ibunya yang sudah memegangi area dada. Sepertinya penyakit asmanya kumat.


"Mama kenapa?" dalam kondisi seperti itu, Silvia masih santai bertanya, membuat Mikha geram.

__ADS_1


"Silvia, mending kamu segera pergi dari sini!" usir Mikha. Ia memegangi tubuh ibunya yang hampir limbung.


"Baiklah, aku akan pulang bersama Kenzo. Beritahukan kepada Mas Bara kalau aku sudah pulang," ucap Silvia. Ia menggendong Kenzo pergi meninggalkan kediaman keluarga Bara menuju mobil yang dikemudikannya sendiri.


__ADS_2