
"U ... is." panggil Bu Tatik pada Sulis yang sedang membaca novel online di ponselnya. Akibat dari sakit stroke yang dideritanya, Bu Tatik bukan hanya tak mampu menggerakkan anggota tubuhnya, tapi juga kesulitan berbicara.
"Mama manggil Sulis?" tanya Sulis saat ia sudah berada di samping Bu Tatik. "Mama butuh sesuatu?"
Bu Tatik menggerakkan sedikit kepalanya, seperti isyarat mengiyakan.
"A ... us."
"Mama haus? Mau minum?" tanya Sulis memperjelas. Bu Tatik mengangguk.
Lalu Sulis pun membantu Bu Tatik minum dengan menyendokinya ke dalam mulut Bu Tatik. Setelah dirasanya cukup, Sulis mengembalikan air minum itu ke atas nakas.
"Mama ada butuh yang lain?" tanya Sulis lagi.
"A ...gi." ucapnya dengan lirih dan mata berkaca-kaca.
"Mama pingin ketemu Anggi?" tanya Sulis meyakinkan apa yang ditangkapnya dari ucapan dan gerakan mata ibunya itu.
Bu Tatik lagi-lagi mengangguk hingga tanpa sadar air mata mengalir di pipinya. Bahkan Sulis pun ikut menitikan air mata melihat raut wajah ibunya yang nampak sendu. Terlihat jelas kesedihan mendalam dan rasa penyesalan di wajah tua itu.
"Nanti Sulis temuin Anggi ya ma, terus bilang mama pingin ketemu."
"A ...pi a ...pa A ...gi au?" ucap Bu Tatik terbata.
"Insya Allah Anggi pasti mau, ma. Mama percaya sama Sulis deh. Anggi itu wanita yang baik hati , pasti Anggi mau menemui mama." ucap Sulis meyakinkan.
Karena itulah, Sulis kini telah duduk di ruangan Anggi menunggu mantan iparnya itu selesai rapat. Sulis sudah menunggu hampir 30 menit, akhirnya rapat yang dipimpin Anggi pun selesai dan ia segera kembali ke ruangannya setelah diberi tahu sang sekretaris bahwa ada yang menunggunya di ruangannya.
"Sulis." ucap Anggi dengan raut wajah terkejut saat melihat wajah kuyu mantan iparnya tersebut.
__ADS_1
"Anggi." ucapnya dengan tersenyum getir. "Boleh aku bicara sebentar?" tanya Sulis.
"Iya, silahkan!" ucap Anggi seraya mendudukkan dirinya di sofa yang berseberangan dengan Sulis.
Sulis pun memulainya dengan mengucapkan permohonan maaf atas perbuatan dan kelakuan buruknya dulu. Ia menjelaskan, ia telah menuai karma atas perbuatannya dulu. Suaminya berselingkuh dengan Adinda lalu pergi dari rumah dengan membawa semua perhiasan, uang, dan surat rumah. Bahkan rumah peninggalan almarhum ayahnya telah ditempati orang lain. Awalnya mereka tinggal di rumah Adam, namun karena cicilannya terlalu besar sedangkan pengeluaran mereka banyak, kini mereka telah tinggal di perumahan minimalis.
Bukan hanya itu, Sulis pun menjelaskan kalau kini ia tengah hamil membuat mata Anggi terperangah. Anton juga sudah berada di penjara. Ia akan menjalani masa hukuman selama 2 tahun. Jauh lebih ringan karena ia menyerahkan diri secara sadar. Namun ia telah memaafkan segala kesalahan Anton dan akan menunggunya. Ia juga akan membesarkan anaknya dengan baik.
Anggi begitu iba setelah mendengar segala penuturan Sulis tentang kehidupan Adam, Sulis, dan Bu Tatik sekarang. Adam tidak menceritakan perihal kehidupan keluarganya saat menemuinya tempo hari.
"Nggi, mama pingin banget ketemu sama kamu, kamu mau ya? Aku mohon!" ucap Sulis dengan tatapan memelas.
Anggi tampak melihat jam di pergelangan tangannya lalu menelfon sekretarisnya untuk menanyakan jadwalnya hari ini. Setelah mengetahui ia tak memiliki jadwal penting lainnya sesudah ini, ia pun mengajak Sulis menemui mantan ibu mertuanya itu.
"Dad, Anggi tampak keluar sama seseorang! Mungkin inilah kesempatan kita." pesan Lea pada ayahnya.
Tak butuh waktu lama, Lea pun menerima balasannya.
"Dad ada di sini?"
"Yes, baby. Daddy ada di basemen. Daddy udah liat dia, Daddy jalan dulu, okay*!"
Setelah mendapatkan balasan dari ayahnya, Lea tak lagi membalas pesan itu. Ia hanya menyeringai tipis seraya memperhatikan lalu lalang pengunjung Angkasa Mall yang jauh lebih ramai dari hari biasanya karena ada lomba fashion show anak-anak. Ia juga tadi melihat, Aglian tengah sibuk dengan anak-anak Anggi, jadi pasti rencananya akan berjalan lancar karena semua orang tampak sibuk.
Mobil Anggi yang disupiri sopir pribadi yang sengaja disiapkan Aglian pun mulai membelah jalanan kota. Meski jalanan sedikit macet, mobil itu tetap melaju dengan tenang. Tampak sang sopir pun mengemudikan mobil itu dengan santai namun mata elangnya sibuk memindai kesana kemari untuk memastikan majikannya itu tiba di tempat tujuan dengan aman dan selamat tanpa satu kurang apapun.
"Ehem ..." tampak sang sopir sudah beberapa kali berdeham membuat Anggi sedikit penasaran pada sopir yang usianya tampak lebih muda darinya itu.
"Kamu sakit tenggorokan, Ren?" tanya Anggi pada sopirnya yang bernama Reno.
__ADS_1
"Oh, eh, iya Bu. Tenggorokan saya sedikit sakit mungkin karena kurang minum." dusta Reno , padahal sebenarnya dehaman itu adalah sebuah kode yang ia sampaikan pada seseorang melalui earphone yang melekat di telinganya.
"Oh ... kamu mau permen pelega tenggorokan? Aku ada nih!" ucap Anggi seraya menyodorkan permen pelega tenggorokan pada Reno.
Reno tersenyum canggung lalu ia menerima permen itu untuk meyakinkan majikannya itu kalau ia memang benar sedang sakit tenggorokan.
"Terima kasih, Bu " ucap Reno.
"Sama-sama. " sahut Anggi dengan seulas senyum membuat Reno yang melihat dari kaca spion di atas kepalanya terkesima.
'Cantik.' pujinya dalam hati. 'Ah, kok muji dia sih! Ingat tugas , bro! ' batin Reno
.
.
.
Satu jam kemudian, mobil yang dikendarai Reno pun tampak memasuki sebuah halaman rumah yang berbentuk sangat minimalis itu. Di halaman depan terdapat sebuah taman kecil yang tertata apik bunga-bunga beraneka want g
Setelah turun dari mobil, Sulis pun mempersilahkan Anggi memasuki rumah mereka. Anggi menatap sendu rumah itu. Ukurannya sangat jauh lebih kecil dari rumah lamanya apalagi rumah mantan mertuanya itu. Hanya terdapat 2 kamar tidur. Sulis tidur dengan sang mama , sedangkan Adam sendirian. Sebersit rasa bersalah merasuki jiwa Anggi karena menjual rumah yang ditinggalinya bersama Adam. Tapi bukankah itu haknya dan anak-anaknya. Bila ia tak bertindak cepat, pasti ia takkan memperoleh apapun. Terbukti saat ia keluar dari rumah itu, tak sepeserpun Adam memberikan uang , untuk ongkos sekalipun.
Tibalah Anggi di kamar dimana tubuh ringkih bu Tatik terkapar lemah tak berdaya. Anggi mendekati tubuh ringkih itu dan duduk di sisi ranjang tempat Bu Tatik terbaring. Ditatapnya wajah Bu Tatik yang jauh lebih kurus dari terakhir ia melihatnya, yaitu saat hari pernikahannya. Hati Anggi bagai diiris sembilu. Tepat menghujam jantungnya hingga membuatnya tanpa sadar terisak.
"A ... A ...gi." panggil Bu Tatik lirih.
"I-iya, ma." sahut Anggi. Ia mengucapkan kembali kata mama, setelah sebelumnya ia memanggil Bu Tatik dengan sebutan Tante, namun kini ia kembali mengumumkan kata mama di depan Bu Tatik.
"A...af...in a ...ma." ucap Bu Tatik terbata. Walau sulit mengeluarkan kata, Bu Tatik tetap berusaha mengucapkan kata maaf pada mantan menantunya itu. Mungkin ini adalah hukuman baginya yang bersikap kejam, tak adil, tega, dzalim pada mantan menantunya yang baik hati ini. Bahkan setelah disakiti berkali-kali, ia tetap bersedia datang menemuinya di saat-saat sulitnya. Ia tidak merendahkan, menghina, apalagi membalas semua sakit hatinya pada dirinya , Adam, dan Sulis. Padahal, bila ia mau , mudah sekali bagi Anggi untuk membalaskan sakit hatinya, tapi ia tidak melakukannya sama sekali.
__ADS_1
"Udah ma, mama nggak usah minta maaf. Sebelum mama meminta maaf pun, Anggi sudah memaafkan semua. Mama harus kuat ya ,ma. Mama harus berjuang untuk kesembuhan mama. Kapan pun mama butuh bantuan Anggi, Anggi pasti akan membantu. Nanti kapan-kapan, Anggi juga akan ajak anak-anak kesini. Mama mau kan ketemu cucu-cucu mama?" tanya Anggi seraya menggenggam erat tangan Bu Tatik. Bu Tatik mengangguk antusias. Anggi senang , sangat senang, akhirnya mantan mertuanya itu menerima keberadaan cucu-cucunya dengan tangan terbuka.