Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.48 Kedatangan Adam


__ADS_3

Beberapa jam sebelumnya,


Hari sudah menunjukkan pukul 6 lewat 15 menit. Adam sedang merebahkan tubuhnya di ranjang kamar dengan mata menatap kosong ke atas langit-langit kamar. Pikirannya sedang menerawang ke kejadian siang tadi.


Saat itu Adam hendak menyendiri di cafe seberang Angkasa Mall. Namun, saat sedang memutari jalan menuju eskalator, matanya tak sangka menangkap siluet tubuh Anggi di dalam sebuah kios yang masih kosong. Awalnya ia tak yakin, lalu ia berhenti sejenak untuk memastikan apakah itu benar Anggi. Saat siluet itu membalik badannya, ternyata dugaannya benar, itu adalah sang mantan istri yang kini telah menjelma menjadi sangat cantik. Tak ada lagi rambut berantakan, wajah kusam, dan pakaian lusuh. Tak ada lagi Anggi yang udik dan kampungan. Yang ada sekarang hanyalah Anggi yang sangat cantik dan fashionable. Apalagi ia sekarang sudah berhijrah dengan memakai hijab untuk menutupi rambut hitamnya, membuat kadar kecantikannya naik hingga 100%.


Adam terpaku terdiam menikmati kecantikan wanita yang pernah mengisi hari-harinya itu. Pesona Anggi sungguh luar biasa sekarang. Diraba dadanya, detak jantungnya seakan dipompa dengan sangat cepat. Darahnya pun mendesir hebat. Ia pun memutuskan melangkahkan kakinya untuk mendekati sang mantan istri.


Setelah posisinya hampir tak berjarak, segera Adam cengkraman erat tangan Anggi. Ia berniat mengajaknya berbicara, namun siapa sangka ternyata Anggi terkejut hingga berteriak. Disaat itu juga, muncul sesosok lelaki yang tampan , gagah, dan juga tampak sangat mapan yang menatap nyalang dirinya.


Pria yang mengaku calon suami Anggi itu meminta Adam melepaskan cengkraman tangannya, tapi Adam menolak membuat lelaki itu kalap dan memelintir tangannya hingga cengkraman itupun terlepas. Akhirnya mereka berdebat, tapi karena Adam terpancing emosi, ia hendak memukul tapi dengan mudahnya dihindari lelaki itu, membuat harga dirinya seakan jatuh. Perdebatan pun kembali berlanjut dan baru berakhir ketika Anggi menghentikannya.


Adam mencoba menghalangi kepergian Anggi dan mencoba mengajaknya berbicara, tapi keinginannya ditolak mentah-mentah membuat harga dirinya lagi-lagi dijatuhkan. Adam hanya dapat menatap punggung Anggi saat ia berlalu membuat Adam mengepalkan tangannya. Dadanya bergemuruh, ia coba redam emosinya dengan menenggak kopi setibanya di cafe yang hendak ditujunya tadi.


Saat pikiran Adam masih menerawang ke kejadian siang itu, Adam langsung berpikir bagaimana caranya menjerat Anggi kembali ke pelukannya. Anggi saja jelas menolak mentah-mentah dirinya, jangankan berbicara, menatap pun enggan.


"Ah, benar, aku harus gunakan anak-anak. Kalau anak-anak berpihak padaku, pasti Anggi mau kembali padaku." seringai Adam.


Lalu Adam meraih ponselnya untuk menghubungi adiknya, Sulis. Dia pasti tau dimana Anggi tinggal. Bukankah beberapa hari yang lalu dia baru saja ke toko Anggi. Ia yakin Anggi tinggal di toko atau kalaupun tidak, ia pasti menyewa rumah yang tak jauh dari toko. Ia harus bergerak cepat dan mengambil hati anak-anaknya agar mereka dapat membantu membujuk Anggi kembali padanya sebelum semua terlambat.


"Halo ,Lis."


"Iya, mas, tumben telepon kemari. " sarkas Sulis karena memang kakaknya itu tak pernah menghubunginya sama sekali kecuali saat sedang benar-benar genting.


"Bisa kamu kirim alamat atau lokasi toko Anggi ke aku, sekarang." tekan Adam


"Hufftt, tuh kan nunggu perlu aja baru menghubungi." terdengar Sulis mendengus kasar. "Ya ya ya, tunggu saja, bentar lagi aku kirim." ucap Sulis kesal lalu segera menutup telepon itu

__ADS_1


Tring...


Sebuah pesan masuk dari Sulis berisikan alamat dan share location toko Anggi


Tak mau buang waktu, Adam gegas mengambil kunci mobil dan memakai jaketnya, lalu ia berjalan keluar kamar.


"Mau kemana mas?" tanya Adinda yang sedang bersantai sambil menonton televisi


"Bukan urusanmu." jawab Adam datar


"Bagaimana bukan urusanku, mas. Kamu itu suami aku, jadi wajar aku tau kamu kemana. Kalau ada apa-apa nanti juga pasti aku yang repot." Adinda mendelik tapi ucapan Adinda tak digubris sama sekali oleh Adam. Ia tetap melangkahkan kakinya menuju mobilnya lalu dengan sigap ia melajukan mobilnya ke alamat yang dikirimkan Sulis.


Setibanya Adam di dekat toko, ia tampak memperhatikan toko dari seberang jalan dengan jarak agak jauh. Karena bagian depan toko terbuat dari kaca bening, mempermudah Adam memperhatikan keberadaan Anggi. Tapi setelah setengah jam ia di sana, ia tak kunjung mendapati sosok yang ia cari termasuk anak-anaknya. Tapi tak lama kemudian, ia melihat Tita sedang melangkahkan kaki menuju rumah yang cukup besar yang terletak tepat di samping toko. Adam memajukan sedikit mobilnya untuk melihat rumah siapa yang didatangi Tita. Ia tau Tita merupakan anak panti yang sudah dianggap adik oleh Anggi karena itu ia mengikutinya untuk memastikan apa yang ada di pikirannya. Hingga saat ia menangkap sosok yang ia cari, senyum seketika tersungging di bibir Adam.


"Binggo ... Akhirnya papa menemukan kalian, nak." gumamnya


Tita, Lia, dan Luna yang sedang menemani si kembar dan Damar bermain, tiba-tiba mengernyit bingung. Tanda tanya muncul dalam hati mereka , siapa yang datang sebab Tita, Lia, dan Luna tidak mengenali pemilik mobil itu. Berbeda dengan Damar dan si kembar, mereka langsung menegang, dan dengan sigap Damar membantu adik-adiknya agar masuk ke dalam rumah membuat Tita, Luna ,dan Lia penasaran. Namun penasaran mereka terjawab, saat langkah kaki seseorang terdengar turun dari dalam mobil itu.


"Mas Adam." gumam mereka terkejut saat melihat sosok yang sudah menghancurkan kakak perempuannya itu telah berdiri di hadapan mereka.


Tubuh mereka menegang , tapi dengan cepat mereka mencoba mengendalikan diri agar terlihat tenang di hadapan Adam. Walau sebenarnya mereka cukup gusar karena Anggi sedang tidak berada di rumah.


"Hai Tita, Luna, Lia. Masih ingat sama mas Adam kan?" Adam mencoba berbasa-basi dengan ketiga adik angkat Anggi


"Hhmmm... tentu masih, bagaimana kami bisa melupakan sosok yang sudah menyakiti dan menghancurkan hati dan perasaan mbak Anggi." jawab Luna sinis


Adam tergelak mendapat sambutan sinis dari adik angkat Anggi tersebut.

__ADS_1


"Baguslah kalau masih ingat. Bisa kalian panggilkan anak-anak. Bilang pada mereka papa mereka ingin bertemu." ucap Adam dengan nada angkuh sambil merebahkan bokongnya di kursi yang terletak tepat di teras rumah itu


"Maaf nggak bisa. Tadi mas Adam liat sendiri kan, saat mobil mas Adam masuk, mereka langsung kabur begitu aja ninggalin mainannya. Mas tau kan artinya!" jawab Luna masih santai. Luna memang anak yang tegas dan berani, tidak seperti Tita dan Lia yang cenderung takut-takut apalagi saat menghadapi orang lain. Luna takkan segan-segan melawan tak peduli itu lelaki atau perempuan bila Bernai mengganggu atau berbuat yang tidak menyenangkan.


Adam mendengus kasar. "Tak usah sok melawan, ingat kamu itu hanya cewek lemah. Aku laki-laki, aku bisa berbuat kasar bila kalian tak menuruti keinginanku." Jawab Adam tak kalah sinis. " Lagi pula mereka anak-anakku, jadi aku punya hak untuk bertemu mereka." jawab Adam lagi.


Luna , Lia, dan Tita terdiam , tak mampu kembali menjawab sebab apa yang dikatakan Adam memang benar.


"Baiklah, mas Adam tunggu aja di sini, Tita coba bilangin sama Damar, Karin, dan Kevin dulu mau nggak ketemu mas." ucap Tita mewakili


Adam hanya mengangguk samar lalu kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi saat ia melihat Tita telah memasuki rumah.


Tita mengetuk kamar Damar meminta izin untuk masuk sebab Karin dan Kevin juga ada di sana sedangkan kamar dalam keadaan di kunci jadi ia tidak bisa masuk dengan bebas.


tok tok tok...


"Bang, buka pintunya donk, mbak onty mau masuk nih!" izin Tita tapi ternyata panggilannya tak diacuhkan Damar , Karin, dan Kevin


"Bang, ayo buka donk, papa mau ketemu tuh!" ujar Tita


"Nggak mau, kami nggak mau ketemu papa. Onty bilang aja kami udah tidur." teriak Damar dari dalam kamarnya


"Duh, kalian nyuruh onty bohong ya? Kan Abang, Karin , dan Kevin tau bohong itu dosa."


"Pokonya Ayin ndak mau ketemu papa. Titik " pekik Karin


"Epin juga ndak mau ketemu papa. Kami ndak mau ketemu papa. Onty bilang aja ke papa , kami ndak mau ketemu lagi." pekik Kevin

__ADS_1


__ADS_2