
Luna dan Aglian turun dari tangga sambil bergandengan tangan. Senyum lebar selalu menghiasi bibir mereka. Davindra dan Ajeng yang sudah duduk di meja makan memandangi mereka dengan tatapan penasaran. Bukan masalah mereka turun dengan bergandengan tangan ataupun senyum manis yang tercetak jelas di wajahnya, tapi seperti ada sesuatu yang sangat membahagiakan mereka. Davindra dan Ajeng saling bertatapan seakan bertanya, ada apa dengan mereka? Tapi keduanya malah saling mengedikkan bahu, karena mereka memang sama-sama tidak tahu ada apa.
"Pagi ma, pagi pa." sapa Aglian.
"Pagi ma, pagi pa." giliran Luna yang menyapa kedua orang tua itu.
"Pagi." sahut Davindra dengan tersenyum tipis.
"Pagi juga, sayang." sahut Ajeng dengan senyum lebarnya. "Wah, cerah banget kayaknya cuaca hari ini ya!" pancing Ajeng. "Ada kabar baik apa nih?"
Aglian menoleh ke arah Luna yang tersenyum malu-malu, lalu Aglian menggenggam tangan kanan Luna dan mengecupnya sekilas membuat Luna makin tertunduk malu.
Davindra menggeleng-geleng melihat romantisme putranya pada sang istri, tak mau kalah saingan, Davindra meraih tangan Ajeng yang baru saja duduk di sampingnya dan mengecupnya mesra membuat Aglian berdecak.
"Papa ikut-ikutan aja. Nggak mau kalah saingan sama yang muda." ejek Aglian seraya mencibir.
"Emang kenapa? Bukannya itu bagus. Kita itu, semakin berumur harusnya semakin romantis supaya rumah tangga kita terus harmonis. Benar kan, ma?" ujar Davindra yang lagi-lagi mengecup tangan Ajeng.
Ajeng tersipu malu karena ucapan suaminya.
"Itu benar, Lian. Kamu bisa liat sendiri buktinya, mama dan papa selalu harmonis. Pertengkaran antara suami istri itu wajar, tapi tetap kita tidak boleh mengutamakan ego. Harus tetap menggunakan akal sehat . Jangan menyakiti, berusaha memahami, insya Allah rumah tangga kamu akan damai dan sejahtera. " timpal Ajeng sekaligus memberikan petuahnya sebagai orang tua.
"Iya, ma. Akan Lian ingat nasihat mama dan papa." sahut Aglian. "Oh ya ma, kami ada kabar gembira buat mama dan papa. " ujarnya sambil tersenyum sumringah. Ajeng dan Davindra saling berpandangan dengan alis tertaut seolah bertanya apa itu. "Cucu mama dan papa bakal nambah lagi, ma, pa. " Aglian menjeda ucapannya, "Nana hamil ma, pa." lanjutnya dengan senyum merekah
"Alhamdulillah." seru Ajeng dan Davindra bersamaan.
__ADS_1
"Pagi ini Nana akan ikut Lian ke kantor. Siang nanti kami akan ke dokter memeriksakan kandungannya juga mengkonsultasikan obat-obatan yang masih dikonsumsinya. Takutnya, obat-obatan itu nggak bisa diminum wanita hamil."
"Kamu benar Lian, sebaiknya kalian segera memeriksakan kandungan Luna secepatnya." ujar Ajeng yang turut mendukung pemikiran anak dan menantunya itu.
...***...
Kini Luna dan Aglian telah berada di ruang kerja Aglian. Tampak sekretaris Aglian masuk ke ruang kerjanya. Mata Luna seketika melotot melihat penampilan gadis di depannya itu yang ia nilai sudah seperti ondel-ondel. Bagaimana tidak Luna melotot tajam, gadis itu memakai blus berwarna soft pink yang agak tipis dan ketat hingga bra yang ia kenakan pun terlihat menerawang, walaupun telah ia tutup dengan blazer, namun masih terlihat jelas karena jenis blazer yang digunakan gadis itu adalah boyfriend blazer yang sepertinya sengaja tidak ia kancingkan. Jangan lupakan juga rok 10 centi di atas lutut yang sepertinya juga sengaja ia gunakan untuk memamerkan kaki jenjangnya. Belum lagi make up tebal dengan lipstik merah merona dan blush on menyala membuat Luna mengumpat dalam hati, 'Nih cewek serius sekretaris mas Lian? Dia ini mau kerja atau mau manggung sih? Udah kayak biduan Pantura aja.'
Gerak-gerik dan setiap ekspresi juga arah pandangan Luna ternyata tak lepas dari pandangan Aglian, ia pun mengarahkan arah pandangan Luna ke mana dan ia menyadari ternyata istrinya itu tengah memandangi penampilan sekretaris barunya itu. Ia sebenarnya juga jengah, tapi ia belum sempat menegur. Biar ia minta Robi saja yang menegurnya nanti. Demi kesehatan dan kesejahteraan lahir batinnya, ia harus bertindak cepat.
"Baiklah, kamu silahkan keluar." titah Aglian setelah sekretarisnya itu menyerahkan berkas-berkas untuk meetingnya pukul 9 nanti.
"Baik, tuan. Kalau begitu, saya permisi." ujarnya sambil tersenyum manis, sengaja memamerkan deretan gigi putihnya.
"Kenapa, hm? Kok cemberut? Kamu nggak suka sama sekretaris, Mas?" ujar Aglian yang bisa menebak pikiran istrinya itu.
"Kok tau?" Luna mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya membulat wajahnya jadi makin menggemaskan.
"Taulah, Mas bisa membaca pikiran kamu kok."
"Emang Mas cenayang?" Luna memutar bola matanya malas sambil mencibir.
"Tuh tau." ujarnya sambil terkekeh. "Dia itu sekretaris baru gantiin Stefani. Dia juga baru 2 Minggu kerja di sini. Sebelumnya, Mas minta Robi handle semua sampai dia kewalahan." ujarnya sambil terkekeh. "Kamu tenang aja, nanti Mas minta Robi tegur dia biar bisa berpakaian lebih pantas dan sopan." ujar Aglian seraya menjatuhkan dagunya di pundak Luna. Menghirupi aroma yang menguar dari tubuh Luna. Aroma parfum baby yang bercampur aroma alami tubuh Luna merupakan aroma yang paling disukainya kini.
...***...
__ADS_1
Jam makan siang sebentar lagi, tadi Safa sudah mengabari kalau ia sudah dalam perjalanan menuju Angkasa Grup. Aglian pun sudah berpesan pada bagian resepsionis untuk mengantarkan Safa bila telah tiba. Ia tidak ingin kejadian seperti yang menimpa Luna tempo hari terjadi lagi.
Sesuai perkataan Safa di telepon, 15 menit kemudian Safa pun tiba di Angkasa Grup. Ia diantarkan langsung ke ruang kerja Aglian oleh resepsionis kantor.
"Assalamualaikum kak Lian, kakak ipar." ucap Safa seraya tersenyum lebar .
"Wa'alaikum salam, Fa." sahut Aglian dan Luna bersamaan. "Masuk sini." panggil Luna mengajaknya duduk di sampingnya.
"Duh, enak banget ya yang jadi CEO, bisa kerja sambil ditemenin istri, coba kalau karyawan lain yang kayak gini, pasti udah kena SP." ledek Safa pada Aglian seraya cekikikan.
"Ya enaklah. CEO mah bebas. Kalo anak buah mau ikutan, bisa-bisa kerjanya nggak konsentrasi. Jadi kalau mereka pingin kayak gini juga, mereka harus punya usaha sendiri, jangan jadi karyawan biar bebas." sahut Aglian dengan bangga.
"Cih, kalau om Davindra nggak mewariskan usahanya sama kakak, belum tentu juga kakak punya usaha sendiri." ucap Safa dengan senyum mengejek.
"Nasib orang beda-beda, Saf. Kalau kakak udah ditakdirkan jadi anak papa emangnya salah? Nggak kan! Walaupun perusahaan ini milik papa tapi aku juga banyak sumbangsih untuk kemajuan dan perkembangannya. Kalau aku menduduki jabatan ini hanya karena sebagai pewaris tapi tanpa kemampuan, tetap akan percuma. Bukannya perusahaan tambah gede, justru sebaliknya, bisa hancur. Namun, sejauh ini, walau aku baru beberapa tahun menjabat, perusahaan ini makin berkembang pesat di berbagai sektor dan bidang. Padahal sebelumnya, aku juga sembari mengurus Angkasa Mall." jelas Aglian.
Aglian tentu harus menjelaskan. Ia tak mau dinilai bisa memimpin hanya karena status pewaris. Percuma menjadi pewaris bila tak ada kemampuan, bukannya usaha berkembang, justru sebaliknya, usaha yang telah dibangun bertahun-tahun yang lalu itu justru akan hancur dan berakhir gulung tikar.
Dan kini ia dapat membuktikan, apa yang dinilai orang itu salah. Dengan kemampuannya, ia mampu membungkam mulut nyinyir orang-orang. Ia sanggup membuktikan kalau ia mampu dan sanggup karena ia memang memiliki kemampuan.
Setelah berbincang sebentar dengan Safa, Luna dan Aglian kini pun berencana makan siang bersama. Tapi itu niat awal, karena niat mereka berubah. Ia ingin menjalankan misi perjodohan antara 2 jomblo akut. Luna dan Aglian berharap, misi perjodohan mereka dapat berjalan lancar.
...***...
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1