Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.60 Story


__ADS_3

"Baik, kalau memang Anggi adalah saudara kembarmu, tentu aku tidak bisa melarangnya. Itu malah bagus artinya ia memiliki keluarga yang jelas. Ia takkan lagi mendapat cemoohan sebagai anak yang tak jelas asal-usulnya. Ia pasti akan sangat bahagia. Tapi bisakah kau menceritakan kronologis hilangnya saudara kembarmu itu?" tanya Diwangga dengan raut wajah sangat serius


Mata Aglian tampak menerawang, pandangannya kosong, tersirat kesedihan dan kerinduan yang mendalam di dalamnya. Mulutnya tampak bergerak membuka dan menutup, hendak memulai bercerita, tapi terasa berat. Lidahnya Kelu dengan sendirinya.


"Mau om bantu bercerita?" tawar Suseno karena dia juga merupakan salah satu saksi bagaimana nelangsanya keluarga pendiri Angkasa Grup itu saat kehilangan putrinya yang merupakan saudara kembar Aglian.


"Sepertinya Lian butuh bantuan om untuk menceritakan pada si pencemburu akut ini." ujarnya dengan senyum mengejek


Diwangga mendengus kesal mendengar ejekan dari putra sahabat ayahnya tersebut.


Suseno pun mulai membuka memori tentang masa-masa terpuruknya seorang Davindra dan istrinya, Ajeng saat putrinya diculik 23 tahun yang lalu.


"Dulu sewaktu Davindra masih menjabat sebagai CEO Angkasa Grup, dia memiliki seorang asisten pribadi bernama Carlos. Davindra sangat mempercayai asisten pribadinya itu, tapi ternyata Carlos menusuknya dari belakang. Dia melakukan korupsi besar-besaran. Tapi yang namanya bangkai, lambat laun baunya pasti tercium, bukan!" ucap Suseno penuh penekanan dan diangguki oleh Diwangga dan Aglian. "Begitu pun Davindra, ia mulai menyadari setiap kejanggalan dalam laporan keuangan yang diserahkan Carlos. Puncaknya, saat pembangunan resort di pulau Dewata, kejanggalan itu makin kentara hingga dewan audit mengadakan inspeksi besar-besaran. Angkasa Grup bahkan hampir gulung tikar di kala itu. Hingga Davindra meminta papa dan sahabat kami Rionald Hiddenbergh, CEO dari Hiddenbergh Corp untuk menyelidikinya. Bahkan Rionald juga membantu menyuntikkan dana segar alih-alih berinvestasi demi kelangsungan Angkasa Grup. Tak butuh waktu lama, kami akhirnya mengetahui kecurangan-kecurangan yang dilakukan Carlos. Hingga akhirnya, Davindra terpaksa melaporkan perbuatan Carlos ke polisi. Ternyata hal tersebut menyulut dendam di hati Carlos. Kami yang tidak pernah mengetahui kalau bi Rada , pengasuh Anggi dan Aglian adalah ibu dari Carlos, merasa sangat kecolongan. Carlos memaksa ibunya menculik anak-anak Davindra. Akhirnya bumi Rada menculik Anggi saat usianya masih 3 tahun. Di bawah tekanan Carlos, Bi Rada dipaksa membunuh Anggi tapi sepertinya bi Rada yang telah mengasuh Anggi dari bayi baru lahir tidak tega. Ia pun membuangnya ntah dimana. Saat orang-orang Davindra berhasil mengetahui tempat persembunyian Bi Rada, ternyata itu adalah saat-saat terakhir hidupnya. Bi Rada meninggal sebelum sempat menyebutkan dimana ia meninggalkan Anggi." cerita Suseno


"Lalu bagaimana kabar Carlos sekarang?" tanya Diwangga


"Dia sudah dibebaskan 3 tahun yang lalu. Aku sudah mencari keberadaannya, tapi tidak ditemukan." ujar Aglian frustasi sambil mengusap kasar wajahnya


Diwangga tampak berfikir keras. "Kita harus berhati-hati, takutnya dia tiba-tiba muncul dan berulah kembali."


"Kau benar, bang. Itu juga yang aku khawatirkan. Karena itu, aku selalu menempatkan anak buahku tak jauh dari keluargaku kemanapun mereka pergi, termasuk Anggi. Walaupun aku belum bisa memastikan apakah Anggi benar kakak kembarku, tapi aku memiliki keyakinan itu benar, karena itu tanpa sepengetahuannya aku mengirim orang untuk mengawasi setiap kegiatannya." tutur Aglian


"Baguslah. Aku pun akan mengawasinya lebih ekstra."


"Itu memang kewajibanmu calon Abang ipar." ujar Aglian sambil tersenyum mengejek


"Ck dasar calon ipar menyebalkan." desis Diwangga lalu mereka bertiga pun tergelak bersama


Flashback off

__ADS_1


"Nggi, kau ingat undangan pernikahan teman mas tempo hari?" tanya Diwangga pagi itu saat ia berkunjung ke rumah sakit sambil mengantarkan sarapan buatan sang mama untuk calon istri dan anak-anaknya


Anggi tampak berfikir, "Oh, undangan yang mas perlihatkan saat di kantor tempo hari?" tepatnya saat pertama kali Anggi merasa kecewa dengan Diwangga walau hanya sementara karena semua hanya kesalahpahaman.


"Iya, pestanya malam ini. Kamu bisa kan temenin, mas?" ucap Diwangga


"Tapi gimana dengan anak-anak, mas?" ujar Anggi bingung


"Kan kamu bisa minta tolong Luna, Tita, Lia, bisa juga Aji dan Raju. Masa' mas udah punya calon istri malah dibiarin pergi sendiri, ntar kalo ada yang godain mas, gimana?" goda Diwangga sambil menaik turunkan alisnya


"Idih, silahkan aja, kalo mas mau ya monggo, Anggi nggak ngelarang. Tapi mas harus siap-siap menghadapi konsekuensinya." ancam Anggi dengan mata memicing


"Yah, kalau masalah tergoda atau nggak sih, mas yakin nggak bakal. Buktinya mas bisa setia nunggu kamu selama bertahun-tahun tanpa kepastian. Kesetiaan mas nggak perlu kamu raguin lagi. Tapi ya gitu, mas kan sekarang udah punya kamu, jadi mas pingin mulai saat ini kami bisa jadi pendamping mas. Mas butuh pawang mas yang cantik ini. Kamu tega mas dikatain jomblo akut?" ujar Diwangga sambil terkekeh


'Sumpah deh, aku penasaran banget. Nunggu aku bertahun-tahun, memang kapan kami pernah ketemu. Aish, mas Angga hobi banget buat aku penasaran.' batin Anggi. Namun rasa penasarannya kini malah berganti menjadi sebuah kekehan kecil saat mendengar kata-kata Diwangga tentang jomblo akut.


"Kan bentar lagi mas nggak jadi jomblo akut lagi, malah langsung dapat teman hidup." tutur Anggi membuat bunga-bunga seolah merekah bersamaan di hati Diwangga. "Ya udah, aku coba hubungin ke rumah dulu ya mas, siapa tau ada yang bisa temenin." ujar Anggi yang diangguki Diwangga


"Gimana?" tanya Diwangga


"Alhamdulillah Lia dan Aji bisa ke sini mas." ujar Anggi


"Syukurlah. Acaranya mulai jam 7.30, nanti jam 7 mas jemput di rumah ya?" yang diangguki Anggi. "Kalau gitu, mas pergi kerja dulu, ya!" pamit Diwangga


Baru saja Diwangga hendak melangkah, tapi ia malah berbalik lagi menghadap Anggi. Lalu ia agak membungkuk ke sisi kiri Anggi dan berbisik. "Sebenarnya mas pingin banget cium kening kamu ,tapi sayang belum halal." ujarnya sambil terkekeh yang dihadiahi tepukan ringan di bahu kanannya.


Diwangga pun melenggang pergi sambil terus terkekeh meninggalkan Anggi yang mematung sambil memegang dada kirinya karena jantungnya yang berpacu begitu kencang.


.

__ADS_1


.


.


Hari sudah beranjak siang, sudah waktunya Luna menjemput Damar sesuai permintaan Anggi. Luna pun melajukan motornya dengan kecepatan standar menuju sekolah Damar.


Saat tiba di lampu merah, Luna menghentikan motornya di tempat yang aman. Setelah lampu berganti hijau, ia kembali melajukan motornya. Namun saat akan berbelok ke kiri, tiba-tiba ada sebuah mobil dari arah berlawanan yang melaju cukup kencang sehingga sedikit menyenggol motornya. Alhasil, motor Luna oleng dan menabrak bahu jalan. Luna pun terjatuh sambil meringis karena kaki kirinya yang tertimpa motor.


¹


Kondisi jalanan yang ramai tapi sepi pejalan kaki mengakibatkan tak ada yang bergerak menolong, hingga terdengar suara serak tapi tegas seseorang yang bergema di pendengarannya membuatnya mendongak melihat siapa yang menyapanya itu .


"Kamu tidak apa?" tanya seseorang itu. Luna nampak terkesima saat melihat sosok di depannya ini. Seorang pemuda seumuran Anggi dengan rahang tegas dan berpenampilan rapi bak eksekutif muda. Lalu Luna menoleh ke mobil yang menepi tak jauh darinya, mobil milik pemuda yang menyapanya kini, membuat alis Luna otomatis mengernyit tak suka.


"Tidak apa gundulmu? Udah liat kakiku tertimpa motor bukannya dibantuin dulu, malah ditanyain dulu." ketus Luna


"Oh, sorry sorry. Nggak liat." ucap pemuda itu dengan perasaan menyesal. "By the way, aku nggak gundul." ucapnya sambil terkekeh namun tangannya tetap bergerak membantu menyingkirkan motor itu dari kaki Luna.


"Aduh..." Luna tampak meringis saat ingin menggerakkan kakinya


"Sepertinya kakimu terkilir. Itu ada luka juga, gimana kalau kita ke rumah sakit? Sekalian aku juga mau ke rumah sakit." ujar pemuda itu


"Tapi aku mau jemput ponakan ku pulang sekolah dulu, ini udah hampir terlambat. Takutnya dia nungguin."


"Telfon dan minta dia naik taksi aja." saran pemuda itu


Luna mendengus kesal. " Dia itu baru kelas 2 SD, disuruh naik taksi, yang ada dia diculik orang." hentak Luna membuat pemuda itu terkesiap


"Duh, so sorry. Aku nggak tau. Gini aja, aku telfon asisten pribadi aku dulu buat bawa motor kamu ke bengkel terus aku yang akan menemani kamu ke sekolah jemput keponakan kamu. Setelah itu, baru kita ke rumah sakit, gimana?"

__ADS_1


Luna tampak berfikir sejenak, akhirnya dia pun menyetujui usul pemuda itu.


__ADS_2