
Pagi ini Luna sudah kembali bekerja. Saat memasuki gedung agensi, netranya menangkap sosok Kentaro yang sedang berdiri sambil bersedekap dada mengadap dirinya. Luna mengerutkan dahi, menatap heran melihat ekspresi tak biasa dari sahabatnya itu.
"Kayaknya loe makin dekat ya sama om-om itu?" ucapnya sarkas.
Luna meletakkan tas selempangnya di meja yang tak jauh dari tempat Kentaro berdiri, lalu ia membalikkan tubuhnya menghadap Kentaro.
"Om-om? Maksudnya Mas Lian? Umurnya nggak setua itu kali, Tang. Selisihnya aja cuma beberapa tahun ke gue. Masa' gue panggil saudara kembarnya mbak, terus panggil dia, om. Aneh deh loe, Tang! " Luna mendelik kesal. Ia menghela nafas lalu melanjutkan ucapannya. "Terus kalau gue makin dekat sama dia kenapa ? Gue berhak dan bebas buat dekat sama siapa aja."
"Tapi gue nggak suka, Lun. Bukannya loe udah kasi gue kesempatan buat dapetin hati loe." kesal Kentaro.
Luna mendudukkan tubuhnya di kursi dekat Kentaro, "Ya, emang gue kasi loe kesempatan tapi tetap loe nggak berhak larang gue dekat sama siapapun, Tang. Itu hak gue, ingat itu." tukas Luna.
Ia tak pernah bertengkar seperti ini sebelumnya dengan Kentaro. Tapi semenjak ia memberi kesempatan pada Kentaro untuk meraih cintanya malah membuat lelaki itu seakan menjadi posesif dan itu sangat mengganggu. Belum jadi kekasih saja seperti itu apalagi sudah.
Sebenarnya Luna juga heran pada dirinya sendiri, ia jelas tau Aglian juga bersikap posesif padanya bahkan tanpa sepengetahuannya, lelaki itu mengutus orang untuk menjaga dan mengawasinya dari jauh, tapi ia tidak pernah terusik dengan semua itu. Tapi saat Kentaro yang melakukannya, ia justru merasa kesal.
Kentaro sadar Luna mulai kesal dengan sikapnya, ia pun berusaha merubah raut mukanya, ia tak ingin Luna tiba-tiba menjauhinya. Cukup Jelita yang menghilang, jangan Luna. Ia sudah cukup lama memendam perasaan pada gadis itu dan ia ingin segera mendapatkannya.
"Ehem, sorry Lun, jangan marah, please! Bukan maksud gue ngelarang loe deket sama cowok lain, tapi gue cuma takut, gue cemburu. Loe ngerti kan Lun, gue sayang sama loe, gue cinta sama loe, dan gue nggak rela kalau loe jatuh ke tangan orang lain." ucap Kentaro dengan wajah muram penuh kesedihan dan rasa takut kehilangan.
"Tang, loe tau kan jodoh itu di tangan Allah dan loe nggak bisa mencegah atau melarang. Loe tau kan maksud gue apa?"
Kentaro mengepalkan tangannya yang tersembunyi dalam saku celananya. Ia paham maksudnya, tapi tetap saja ia tidak bisa menerima bila Luna jadi milik orang lain.
'Luna itu milik gue, hanya gue. Gue nggak rela loe jatuh ke tangan orang lain.'
"Iya, gue paham Maafin keegoisan gue, ya!" ujarnya seraya menyunggingkan senyum manisnya.
Luna pun balas tersenyum ke arah Kentaro.
"Loe yakin aja Tang, jodoh itu nggak akan tertukar. Kalau kita memang berjodoh, kita pasti akan bersama dan kalaupun tidak, gue yakin, apapun yang dipilihkan Allah buat kita, itu adalah yang terbaik buat kita." ujar Luna dengan seulas senyum yang tak luntur dari bibirnya. Senyum yang selalu bisa menggetarkan dada Kentaro. Senyum yang selalu mampu membuat harinya cerah. Senyum yang selalu bisa meluluhkan hatinya .
***
Sudah 1 Minggu Melani menjalani perawatan di rumah sakit. Luka-lukanya pun sudah mulai mengering. Namun, satu yang membuatnya histeris, yaitu saat perban di wajahnya dibuka, beberapa luka terpampang nyata seakan mengolok-olok dirinya.
Ia sudah secara diam-diam mengirimkan pesan pada sang milyuner yang sudah menanggung semua biaya pengobatan Stefani dan Stefano, ditambah kini dirinya, tapi saat ia mengirim pesan untuk meminta tambahan biaya guna pengobatan menghilangkan bekas luka di wajahnya, Aglian justru mengabaikannya. Rasa geram seketika menggelegak di batinnya. Bukan hanya pada Aglian, tapi juga pada sang putri tiri. Ia tak mungkin kembali ke Indonesia dengan keadaan seperti itu. Pergi dalam keadaan cantik bergaya lalu pulang dalam keadaan buruk rupa, ia sangat benci saat membayangkannya. Dicengkeramnya ujung selimut yang membalut tubuhnya dengan erat, 'Tidak, aku tidak mau pulang dalam keadaan seperti ini. Mereka tidak bisa mengabaikan ku begitu saja.' monolognya dalam hati.
Beberapa saat yang lalu, sebuah pesan masuk ke ponsel Aglian. Di layar tertulis nama Stefani. Aglian mengerutkan keningnya, selama pengobatan yang sudah masuk Minggu ke 3 di Singapura, Stefani tak pernah mengirimkan pesan singkat seperti itu. Bilamana ia ada perlu pun, ia akan langsung menelfon karena Stefani kini sudah sadarkan diri. Tapi kini, ia mendapatkan sebuah pesan dengan nama pengirimnya Stefani. Isinya berupa permintaan uang tambahan guna pengobatan ibu tirinya yang mendapatkan musibah di sana.
Aglian yang belum tau perihal peristiwa yang menimpa ibu tiri sahabatnya tersebut, segera mencari tahu . Aglian tersenyum sinis saat mengetahui kronologis musibah yang menimpa Melani. Hal tersebut bukanlah ranahnya. Hal itu adalah buah keserakahan dan kebodohannya sendiri. Aglian pun memilih mengabaikan. Sudah cukup ia memberikan uang. Uang yang ia berikan tidaklah sedikit. Semua kebutuhan mereka di sana pun, Aglian yang menanggung, jadi bila wanita itu mendapat musibah dan membutuhkan dana tambahan, itu merupakan urusannya sendiri.
***
__ADS_1
"Lita, ada yang mau bude bicarain denganmu." ucap bude Jum pada Jelita. Jelita yang semula sedang duduk sembari menonton televisi, segera mengalihkan perhatiannya pada budenya itu.
"Bude mau bicara apa? Bicarain aja." ucapnya dengan sorot mata tegas.
"Bu Ruly mau lamar kamu untuk anaknya. Rencananya Minggu depan mereka sama keluarganya akan datang kemari." ucap bude Jum santai membuat Jelita tersentak.
"Ap ... apa? Mau lamar Jelita? Bukannya anaknya udah nikah semua?"
Ya, Bu Ruly memiliki 2 orang anak laki-laki dan keduanya sudah menikah. Sontak saja ia terkejut saat bude Jum mengatakan bahwa ia dilamar untuk dinikahkan dengan anak hu Ruly.
"Memang iya. Kamu akan dinikahkan sama si Beno, putra sulungnya. Dia udah nikah 5 tahun tapi belum juga dikasi keturunan jadi kamu akan dinikahkan sama dia dengan harapan kami bisa kasi keluarga mereka keturunan." ujar bude Jum santai.
"De, Lita nggak mau. Apa-apaan Lita mau dinikahin sama suami orang, untuk dapetin keturunan pula. Emang Lita mesin pembuat anak." Jelita mendengus saat mendengar penuturan budenya.
"Kamu itu bodoh apa, Ta? Harusnya kamu seneng, keluarga Bu Ruly itu kaya, juragan sapi. Beno juga punya pabrik pengolahan susu murni jadi apa salahnya. Maharnya pasti gede. Kamu juga bakal dikasi rumah. Hidup kamu pasti akan sangat terjamin." Bu Ruly mendelik saat mendengar penolakan Jelita.
"Kalau gitu, kenapa nggak Wita aja yang dinikahkan sama Beno, nggak usah Lita. Bude bisa dapetin rumah itu jadi bude bisa pindah dari rumah ini." tukas Jelita kesal. Lalu ia beranjak meninggalkan bude Jum yang masih duduk di tempatnya.
"Dasar, anak nggak tau diri. Pokoknya bude nggak mau tau, Minggu depan kamu harus terima lamaran mereka. Titik." bentak bude Jum saat melihat Jelita berlalu begitu saja dari hadapannya.
***
Tring
💌 Aglian
[Na, pulang jam berapa?]
💌 Luna
[Nana pulang jam 8, Mas.]
💌 Aglian
[Mas jemput, oke!]
💌 Luna
[Nggak usah Mas, Nana pulang sama Kentang aja. Nana udah janji pulang sama dia.]
1 menit
5 menit
__ADS_1
10 menit
Luna tak henti-hentinya memeriksa layar ponselnya. Memastikan ada notifikasi pesan baru di ponselnya atau tidak. Namun, sejak terakhir kali membalas pesan Aglian, ia tak kunjung mendapatkan balasan. Entah, ia merasa sepertinya Aglian tampak kesal padanya.
Gelisah karena tak ada pesan masuk sama sekali, ia pun mencoba mengetik pesan untuk Aglian. Tapi setiap ia baru mengetik beberapa kata, ia kembali menghapus pesan itu.
Dilihatnya, status Aglian sedang online, tapi kenapa ia tak kunjung membalas pesannya lagi, tidak seperti biasanya.
Luna gelisah sendiri. Ia yang sedang makan siang, mendadak kehilangan selera makannya hanya karena pesannya belum dibalas.
"Aaargh ..."
Luna mengacak rambutnya sendiri.
"Lun, loe kenapa?" tanya Alin rekannya sesama make up artist.
"Eh, Lin, gue nggak kenapa-kenapa kok." kilah Luna sembari tersenyum canggung.
"Yaelah, keliatan banget loe itu lagi gelisah nungguin pesan yang belum dibalas, benar kan!" tebak Alin seraya menghempaskan bokongnya di kursi sebelah Luna.
Luna mengerjapkan matanya, 'apakah semudah itu ekspresi wajahnya ditebak?'
"Kenapa ? Loe bingung gue bisa nebaknya?" goda Alin. "Semua orang yang lagi jatuh cinta biasa kali kayak gitu. Loe lagi jatuh cinta ya!" tebak Alin seraya tersenyum menggoda.
"Ah, si ... siapa? Nggak ah. Gue ... gue ... " Luna bingung sendiri ingin menjawab apa.
"Udah deh! Ngaku aja. Siapa sih cowok itu? Jadi penasaran. Kenalin kek!" Alin terus saja berusaha mengorek informasi.
"Si ... siapa?"
"Ck ... cowok yang sedang kamu taksir lah, Lun! Masa' cowok gue. Gue aja masih jomblo. hehehe ..." sahut Alin sambil terkekeh. Luna hanya bisa tersenyum canggung, hingga suara pesan masuk membuat senyum canggungnya menjadi sebuah senyuman lebar. Tampak jelas, Luna sangat bahagia saat melihat pesan masuk tersebut.
💌 Aglian
[Kalau udah sampai rumah, telepon Mas, okey! Mas kangen. 😘]
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading all 🥰😘😘