
"Zam ..." tegur perempuan cantik itu membuat Azam yang sedang tersepona eh maksudnya terpesona langsung tersentak dari lamunannya.
"Eh ... E ... Erika ..." ucapnya ragu.
Erika terkekeh melihat tingkah Azam yang sepertinya hampir tak mengenalinya.
"Iya, kenapa? Aku aneh, ya?" tanya Erika sambil melihat penampilannya sendiri. Mulai dari mengamati pakaian, sepatunya, ia juga mengambil bedak di dalam tasnya untuk mengaca apakah make up'nya terlalu tebal, semua tak luput dari perhatian Azam.
"Zam, aku aneh ya?" tanyanya sekali lagi. Ia juga mulai mengucapkan aku-kamu tidak seperti dulu-dulu yang kerap memanggil loe-gue, untung nggak end kalau nggak mereka udah loe-gue-end dong. hehehe ...
"Nggak kok. Nggak aneh, cocok sama kamu. Aku pikir, kamu selamanya bakal jadi cewek kelelakian karena gayamu yang nggak jauh beda sama kami." ujar Azam sambil terkekeh.
Erika mendengus karena ucapan sarkas Azam.
"Itukan karena pekerjaan. Masa' iya, aku kesana sini pakai dress." Erika mendelik. "Bagaimana pun kodratku perempuan. Aku bergaya tomboi cuma di dalam kesatuan kita aja, tapi di luar itu nggak." ujarnya memberi tahu.
"Emang hari ini loe mau kemana? Nggak tugas?" tanya Azam penasaran.
"Tugas." sahutnya singkat.
Azam mengernyitkan dahinya, "Dengan pakaian seperti ini?" tanyanya heran.
"Aku dapat misi dari pak Umar." ucapnya, lalu ia melangkah ke samping Azam membuat Azam menegang karena aroma parfum Erika masuk ke indra penciumannya. "Aku disuruh nyamar jadi pemandu karaoke. Di sana bakal ada transaksi besar dan bandar narkoba incarannya akan datang kesana sore ini." bisik Erika di telinga Azam. Ia sengaja berbisik agar tak ada yang mendengar perbincangan mereka bagaimana pun itu termasuk misi rahasia.
Azam membelalakkan matanya saat mendengar ucapan Erika.
"Kamu serius? Kamu masuk ke sana sama siapa?" tanya Azam khawatir.
"Tempo hari aku sama Ayu masukkin lamaran pekerjaan kesana, tapi cuma aku yang diterima, jadi dengan terpaksa ya aku sendiri yang masuk ke sana." ucap Erika santai.
"Dimana lokasinya?"
"Di Lovey Dovey Karaoke, Zam. Kenapa? Khawatir eaaa?" ujar Erika dengan nada usil.
Azam mendengus saat melihat Erika yang sempat-sempatnya mengusilinya. Lalu ia mendorong dahi Erika dengan jari telunjuknya agar menjauh.
"Ayo buruan, mau aku antar kemana?" tanya Azam mengabaikan keusilannya tadi. 'Khawatir? Mana ada.' kilahnya dalam hati.
"Nggak usah, nggak mungkin aku naik motor kayak gitu dengan dress kayak gini." tolaknya halus.
__ADS_1
Tapi Azam sang Mister no penolakan justru melepas jaketnya dan menyodorkannya pada Erika.
"Untuk apa? Aku kan udah pakai Cardi, masa' pake jaket lagi?" tanya Erika bingung.
"Buruan naik! Pakai jaket itu untuk menutupi paha kamu." ucap Azam yang kini telah berada di atas motor Ducati Erika tanpa menatap lawan bicaranya.
Erika hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Inilah sifat Azam, tak menerima penolakan. 'Coba kamu nembak aku, Zam, tanpa penolakan, wih pasti aku bakal salto sambil guling-guling soalnya aku nggak bakal nolak. Nolak pun kan kamu nggak menerima penolakan. hahaha ...'
"Cepetan! Malah melamun."
Akhirnya, Erika pun diantar Azam menuju Lovey Dovey Karaoke. Dalam perjalanan, Erika tersenyum-senyum sendiri sebab adegan romantis semalam terulang lagi.
Di saat Azam sibuk mengantar Erika menuju tempat wanita itu akan melaksanakan misinya, di lapas tampak Kentaro menjerit-jerit memanggil kakak dan mamanya. Ia menjerit-jerit dan memohon agar dipertemukan dengan Jelita.
"Abang .... bang Azam ... tolong pertemukan aku sama Jeje, bang! Mama ... tolong Kenta, ma ... Kenta mau ketemu Jeje ma ... Kenta mau ketemu calon anak Kenta, ma ... Kenta mohon ma ... Kenta mohon pertemukan Kenta sama Jeje dan calon anak kami, Ma ... Kenta mohon, Ma ..." racau Kentaro yang makin lama makin lirih hingga akhirnya ia jatuh pingsan.
"Ka, kami hati-hati ya di sana! Segera hubungi tim atau aku kalau kamu mendapatkan masalah." pesan Azam setibanya tak jauh dari lokasi.
"Tenang aja, tim aku udah siap di lokasi hotel itu." ujar Erika tenang seraya memasang earphone berbentuk anting-anting di telinganya. Karena ia kesulitan memasangnya, maka Azam pun membantunya. Setelah selesai, Erika mengucapkan terima kasih seraya tersenyum manis.
Saat Erika mulai memasuki tempat karaoke itu, tiba-tiba hatinya merasa tak tenang. Azam pun mulai gelisah, hingga tiba-tiba ponselnya berbunyi. Azam membulatkan matanya saat mendengar kabar dari penjara.
...***...
Setibanya di cafe, mereka pun membaur dengan para tamu yang lain. Sedang pasangan Luna dan Aglian duduk di satu meja yang sama dengan Anggi dan Diwangga.
"Bang, gimana, Abang udah ambil alih tugas om Esa?" tanya Aglian seraya berbisik.
"Semua udah beres. Kita tinggal menunggu Luna genap 19 tahun, baru semua sah beralih ke tangan Luna." ujar Diwangga pelan agar tak ada yang mendengar.
Namun, tiba-tiba suara tegas seseorang menginterupsi telinga mereka. Bukan mereka yang sedang diajak orang itu bicara, tapi Luna.
"Halo keponakan paman yang cantik. Senang akhirnya paman bisa bertemu denganmu lagi setelah sekian tahun kita dipisahkan." ujar seseorang yang ternyata itu Derian.
Derian ternyata menjadi salah satu tamu yang diundang orang tua Alan. Tentu ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu sebab ia sudah mendengar bahwa calon tunangan Alan adalah sahabat dari Aglian. Artinya, ia memiliki kesempatan mendekati keponakan yang dibencinya itu .
"Paman? Keponakan? Maaf, maksud tuan apa ya? Saya kurang paham." sahut Luna dengan raut wajah kebingungan.
Sedangkan Aglian , wajahnya sudah mengeras. Berani-beraninya si tua Bangka itu mendekati istrinya. Ia yakin, si tua bangka itu pasti memiliki niat buruk pada istrinya.
__ADS_1
"Hmm ... paman maklum kamu tidak mengenali paman. Paman sebenarnya adalah adik dari ayahmu, Argadana Mahendra. Perkenalkan, nama Paman Derian. " ucap Derian seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sebagai sopan santun Luna pun menyambut tangan itu lalu menciumnya dengan takzim.
"Ayah saya? Argadana siapa tadi?"
"Argadana Mahendra. Itu nama ayah kamu." ucapnya seraya melirik wajah Aglian. Aglian diam, ia ingin melihat, apa yang hendak dilakukan si tua bangka itu.
"Dari mana paman tau nama ayah saya? Sedangkan saya sendiri tidak mengetahuinya."
"Tentunya sangat mudah untuk mengetahuinya sebab wajahmu sangat mirip dengan wajah ayahmu. Benar begitu kan tuan Aglian yang terhormat!" ucap Derian dengan penuh penekanan.
Sorot mata mereka saling beradu seolah sedang mengukur kekuatan masing-masing lawan.
"Apa? Mas sudah tau tentang ayah Nana?" tanya Luna penuh selidik.
Aglian mengalihkan pandangannya pada Luna, sebenarnya iya belum mau menceritakan perihal ini, tapi semua sudah terlanjur terbongkar.
"Nanti mas ceritakan semuanya di rumah termasuk bagaimana cara orang tuamu meninggal dan siapa saja yang terlibat." ucap Aglian dengan sorot mata lembut menatap manik mata Luna dan Luna mengangguk. Namun, berubah saat menatap Derian.
"Aku harap kau tak bicara yang aneh-aneh." ucap Derian seraya menatap Aglian. "Dan kamu cantik, jangan mudah percaya pada orang luar. Yakinlah, hanya keluargamu yang sebenarnya lah yang benar-benar menyayangimu." ujar Derian seraya mengusap rambut Luna pelan. Aglian dan Diwangga yang mendengarnya hanya bisa mendengus pelan. Ia harus segera menceritakan yang sebenarnya sebelum Luna mendengar yang tidak-tidak dari pihak lain.
...***...
Sementara itu, di sebuah rumah sakit, tampak Azam dan Ratna sedang menunggui Kentaro yang sedang dirawat. Kentaro tampak istirahat dengan tenang dengan jarum infus menancap di pergelangan tangannya. Ternyata ia terjangkit tipes sehingga ia kehilangan tenaganya, belum lagi efek sindrom kehamilan simpatik yang tak kunjung hilang. Sepertinya calon bayi Jelita dan Kentaro sedang menghukum ayahnya karena telah membuat ibunya menderita. Atau bisa saja, calon bayi mereka merupakan perantara agar Kentaro menyadari perasaannya dan mau bertanggung jawab serta bersatu dengan bersatu dengan sang ibu.
Baru saja Azam hendak beranjak mengambil air minum, tiba-tiba ponselnya berdering, seketika wajahnya pias saat mendengar kabar dari seberang telepon. Gegas ia pun berpamitan pada sang ibu karena masalah ini sangat genting.
"Ma, Azam pamit dulu! Tim Erika membutuhkan bantuan. Azam harus segera menuju ke tempat lokasi." ujarnya pada sang mama.
"Iya Zam, kamu hati-hati ya!" pesan Ratna.
"Mama nggak papa kan Azam tinggal sendiri?" tanya Azam yang tampak khawatir. Bukan hanya mengkhawatirkan sang mama, tapi seseorang di sana.
"Mama nggak papa kok, di depan kan ada polisi yang menjaga. Nanti kalau ada apa-apa, mama bisa minta tolong sama mereka." ujar Ratna mencoba menenangkan.
"Baiklah, kalau begitu, Azam pergi dulu, Ma. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
...***...
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...