
Pagi-pagi sekali, selepas sarapan, Luna sudah tampak bersiap. Di depan cermin riasnya, Luna memulai harinya dengan alat tempur wajah miliknya. Tentu ia ingin tampil sempurna hari ini sebab hari ini adalah kali pertamanya Aglian menggandengnya di depan khalayak ramai sebagai seorang istri. Make up minimalis nan elegan adalah pilihannya. Ia tak suka make up yang tebal karena akan membuatnya terkesan lebih tua.
Aglian kini sedang berdiri di balkon kamarnya. Ia memegang ponselnya hendak menelpon seseorang.
"Halo tuan, ada yang busa saya bantu?" tanya Robi saat tau tuannya lah yang menghubunginya. Ia sangat tau, bila Aglian menelpon, pasti ada yang harus ia kerjakan.
'Baru aja mau leyeh-leyeh, eh udah ditelepon. Si pak bos kayaknya demen banget bikin gue kelimpungan. Ntah apa lagi yang dimintanya. Semoga aja bukan hal yang aneh-aneh.' gumam Robi dalam hati.
"Rob, nanti jemput Safa di rumahnya dan temani ia ke pesta pernikahan Stefani." ujar Aglian datar.
"Tapi tuan, kenapa harus saya?" tanya Robi bingung.
Aglian mendengus, "Mau ku potong gaji, kau? Laksanakan atau ..."
"Baik tuan, laksanakan!" potong Robi cepat sebelum tanduk tuanya keluar yang mengakibatkan kesehatan ekonominya menurun.
"Bagus. Perlakuan dia dengan baik, kalau tidak ..."
"Baik tuan, Anda tenang saja. Aku akan memperlakukannya dengan baik. Aku juga akan melayaninya bagai seorang putri." potong Robi lagi.
"Makin hari sepertinya kau makin melunjak ya! Pagi ini saja sudah 2 kali ucapanku kau potong, kau mau ku hukum?" Aglian terdengar mendelik membuat Robi seketika gelagapan. Padahal sebenarnya, ia sedang menahan tawanya yang hampir menyembur karena sikap asisten pribadinya itu.
"Ti ... tidak tuan. Maafkan saya." sahut Robi salah tingkah.
__ADS_1
"Baiklah, kali ini aku maafkan tapi lain kali tidak. Cepat bersiap, jam 9 kalian sudah harus di pesta itu. Oh ya, berpenampilan layaklah! Pakai jas yang pernah ku berikan padamu."
"Baik, tuan." jawab Robi sebelum panggilan itu ditutup Aglian.
Selesai menelepon, Aglian segera masuk ke dalam kamar. Ia mengungkung tubuh Luna dari balik kursi yang diduduki Luna. Ia dapat melihat dengan jelas wajah cantik Luna yang sudah berpulas make up. Ia akui, istri kecilnya itu memang sangat cantik. Tanpa make up saja cantik Apalagi setelah dipulas oleh makeup minimalis seperti ini, menjadikan kecantikannya berkali-kali lipat.
"Sweetheart, Mas udah hubungi Robi, sekarang giliranmu hubungi Safa." ujar Aglian seraya mengecup ceruk leher Luna.
Luna dan Aglian memang berbagi tugas menghubungi kedua orang itu. Aglian sendiri lah yang memberi ide itu. Ia sadar statusnya sekarang adalah sebagai seorang suami jadi ia harus membatasi interaksinya dengan lawan jenis. Terlebih itu bukan keluarganya.
"Mas, ih, jauh-jauh gih! Kalau dekat, nggak berhenti nyosor." Luna mendelik kesal, namun tetap saja Aglian tak mau menghentikan kegiatannya.
Aglian baru menghentikan kegiatannya, saat Luna hendak menghubungi Safa.
...***...
Lalu Robi turun dari mobilnya untuk bertanya benarkah itu rumah Safa. Ia ke sana hanya bermodalkan alamat yang diberikan Aglian.
"Selamat siang, pak, benar ini rumah nona Safa?" tanya Robi pada penjaga yang sedang berjaga di dalam pos.
Penjaga itu memperhatikan penampilan Robi dari atas ke bawah yang kelihatan wah, 'Apa ini pacar nona ya? Wah, nona hebat banget, batu berapa hari di Indonesia sudah dapat pacar.' penjaga itu menggeleng-geleng takjub.
"Pak." panggil Robi lagi.
__ADS_1
"Oh, iya tuan. Benar, ini rumah non Safa. Sebentar, saya buka pagarnya dulu."
Lalu penjaga itu, menekan sebuah tombol hingga pagar rumah Safa terbuka secara otomatis membuat Robi berdecak kagum.
'Sebelas dua belas rumah pak bos, nih. Sama-sama orang kaya. Orang kaya mah bebas. Apalah aku yang hanya kacung.' Robi menghela nafas panjang.
"Silahkan masuk, pak. Non Safa udah dikasi tau." ujar penjaga itu.
Robi pun membawa masuk mobilnya. Lalu ia turun dan diajak masuk oleh asisten rumah tangga Safa. Tak lama kemudian, terlihat Safa turun dari tangga. Robi yang awalnya duduk sontak berdiri saat melihat penampilan Safa yang sangat-sangat menawan. Dengan memakai dress selutut berwarna biru langit, dipadukan heels bertali berwarna krem, jam tangan mewah berwarna silver, rambut diurai dan hanya diberi sebuah jepitan di sebelah kanan, terlihat sederhana namun sangat .... cantik.
Bila Robi terpesona pada penampilan Safa, pun Safa terpesona pada penampilan Robi. Dengan memakai setelan tuksedo slimfit dan celana dasar hitam dengan kemeja putih sebagai dalaman. Walaupun tanpa dasi, penampilan Robi sudah sungguh menarik hati.
Robi berdeham untuk memecah kecanggungan karena mereka berdua sedang sama-sama mematung.
"Sudah siap, nona?" tanya Robi, Safa pun mengangguk sebagai jawaban.
Lalu mereka pun berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir di carport. Robi membantu Safa membukakan pintu, seperti janjinya pada Aglian akan memperlakukan Safa seperti seorang putri. Safa tersipu mendapatkan perlakuan manis Robi.
'Apaan sih Saf, jangan mudah GR! Ntar makan hati berakhir patah hati baru tau rasa loe! Save your heart, oke! Cukup patah hati karena kak Lian. Jangan patah hati lagi gara-gara bang Robi!' peringat Safa dalam hati dengan tangan mengepal menyemangati diri sendiri.
Robi melirik Safa yang tampak diam saja dengan tangan mengepal. Robi sedang menebak-nebak, apa yang dipikirkan gadis itu.
'Apa dia masih marah karena aku suruh pulang sendiri kemarin, ya?"
__ADS_1
...***...
...Happy Reading 🥰🥰🥰...