Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.173 (S2) Musim nikah atau musim kawin?


__ADS_3

Tak terasa sudah 1 bulan berlalu semenjak peristiwa yang menimpa baik Luna, Damar, maupun Reno. Kini mereka juga telah pulang ke rumah masing-masing.


Damar dan Reno akhirnya telah sembuh total, namun untuk Luna masih harus menjalani pemeriksaan rutin agar tulangnya yang patah dapat kembali normal. Begitu pun cedera kepalanya, masih harus menjalani beberapa kali pemeriksaan untuk mencegah adanya efek samping dari operasi yang dijalaninya.


Hari sudah beranjak petang, tampak mobil yang dikendarai Aglian dan sang sopir telah memasuki carport. Tak lama kemudian, Aglian pun turun dengan raut wajah lelah. Namun ekspresi itu tak berjalan lama, sebab senyuman sang istri yang menyambut kepulangannya membuat rasa lelahnya tiba-tiba menguap seketika.


"Assalamualaikum, sweetheart." ucap Aglian saat melihat sang istri tengah duduk di kursi Tan depan rumah. Aglian pun segera duduk tepat di samping Luna dan mengecup bibirnya sekilas.


"Mas, Lian ih! Malu , nggak liat tuh, disana ada mbak Anggi sama anak-anak." ujar Luna sambil bersungut-sungut kesal dengan bibir mencebik membuat Aglian terkekeh. Lantas Aglian menoleh ke arah tak jauh dari posisi Luna, terdapat Anggi, Damar, dan si kembar sedang makan rujak bersama.


"Mas kan nggak tau sweetheart, mas pikir kamu sendirian. " sahut Aglian seraya terkekeh dan mencubit hidung Luna gemas. "Kamu lagi makan apa sih? Rujak?" Aglian menaikkan kedua alisnya melihat istrinya memakan rujak aneka buah dari manis hingga asam sambil berdecak nikmat.


"Iya, mas mau?" tanya Luna sambil menyodorkan buah bengkoang yang sudah dicocol saos yang terbuat dari gula merah, kacang tanah, dan cabai. Tanpa sadar, Aglian sampai menelan salivanya sendiri karena tergoda nikmatnya saos gula merah yang menempel di potongan bengkuang itu. Lalu Aglian pun membuka mulutnya dan melahapnya dengan nikmat.


"Enak?" tanya Luna.


"Enak banget, sayang. Lagi dong!" Aglian kembali membuka mulutnya dan melahap buah lain yang disodorkan Luna bahkan hingga berkali-kali membuat baik Luna maupun Anggi dan Ajeng yang baru saja duduk di samping Luna melotot tak percaya.


"Ih Mas Lian, doyan apa laper sih?" ejek Luna sambil terkekeh.


"Nggak tau nih, sweetheart, tiba-tiba aja liat yang beginian jadi pingin. Bikin nagih, apalagi pedasnya pas banget. Siapa sih yang buat?" tanya Aglian sambil mengelap bibirnya dengan tisu.


"Oh kalau saos gula merahnya Tita yang buat tadi sebelum dia pergi. Kalo buahan, tadi si Kentang yang bawain terus kita kupas rame-rame deh." sahut Luna.


"Iya om, Abang juga bantuin onty kupas buahnya tadi." sahut Damar sekarang sudah duduk di samping Luna sambil menyandarkan kepalanya di bahu Luna.

__ADS_1


"Idih manja banget sih keponakan om satu ini, maunya nempel-nempel onty Luna melulu." ujar Aglian sambil mencubit pipi Damar.


"Om Lian, sakit! Onty, liat om Lian, cubit pipi Abang." adu Damar.


"Abisnya Abang tu gemesin, jadi om Lian cubit pipinya." ujar Luna sambil terkekeh dan mengusap pipi Damar yang dicubit Aglian.


"Ih, onty malah belain om Lian nakal ." Damar cemberut lalu berlari mendekati Anggi lagi.


"Sweetheart, kamu tadi bilang si Kentang itu kemari? Mau ngapain? Masih mau deketin kamu lagi?" tanya Aglian dengan nada tak suka bercampur kesal.


"Jangan cemberut Mamas Lian ku tersayang! Dia nggak ngapa-ngapain kok, kan disini ada mbak Anggi, mama, trio bocil juga. Dia juga nggak datang sendiri, tapi sama ibu dan istrinya. Jadi nggak mungkin lah dia berani aneh-aneh. Kamu juga sekarang nggak perlu khawatir, dia udah nikah kok sama sesama rekan modelnya dulu malah istrinya sekarang sedang hamil." ujar Luna seraya mengelus rahang Aglian lembut.


"Udah nikah? Kapan? Kok tau-udah hamil aja? Bukannya tempo hari pas kejadian itu dia belum nikah ya? Malah kita duluan yang nikah. Kamu aja belum hamil sampai sekarang, sweetheart. Atau jangan-jangan ... " tampak satu dugaan yang melintas di kepalanya. "Ah udahlah, itu urusan dia. Yang penting kamu sekarang aman dari si kentang busuk itu." ujar Aglian tak mau ambil pusing. Yang penting, semoga si kentang busuk itu tidak terobsesi lagi pada istrinya, pikir Aglian. "Oh ya, ngomong-ngomong, kamu belum jelasin, mereka kemari mau ngapain, sweetheart?" lanjut Aglian.


"Duh, posesif banget sih! Nggak Abangnya, nggak adek iparnya, sama-sama cemburuan dan posesif." ujar Anggi sambil terkekeh melihat bagaimana ekspresi Aglian mengetahui Kentaro datang ke rumah mereka. "Tadi juga mas Angga mencecar mbak kayak gitu, ya Lun, saat tau Bu Ratna datang kemari."


"Bu Ratna itu langganan aku di toko. Dia itu ibunya mas Azam sama Kentaro. Mas Azam itu dulu pernah mau pdkt gitu tapi nggak jadi soalnya baru hari pertama datang udah patah hati pas dengar aku ngenalin mas Angga sama Tante Tatik di toko. Ibaratnya, layu sebelum berkembang. Padahal ya, tempo hari mas Azam itu datang biasa-biasa aja, tapi mungkin naluri lelaki, bisa tau tanpa diceritakan. Eh, taunya Kentaro juga anaknya Bu Ratna. Aku juga nggak nyangka banget." jelas Anggi sambil tertawa dan mengusap perutnya lembut.


"Wah, hebat ya, ternyata saudara kembarku sama istriku sama-sama udah bikin patah hati dua bersaudara." Aglian terkekeh memikirkannya. "Terus tujuan mereka datang kemari apa?" Aglian mengulang lagi pertanyaannya.


Anggi dan Luna menghela nafas pelan.


"Mereka mengundang kami ke resepsi pernikahan mereka seminggu lagi. Mereka itu maksudnya, Kentaro dan Mas Azam ." jelas Anggi. "Kalau Kentaro kan udah nikah duluan, nah kalo Azam ntar sekalian Minggu depan. Jadi paginya akad nikah, siangnya resepsi pernikahan kedua beradik itu." jelas Anggi lagi.


"Kita datang, ya, Mas. Nggak enak nggak datang, dia sahabatku lho terlepas dia udah pernah hampir berbuat yang tak sepantasnya." ujar Luna dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Apa? Minggu depan? Beneran?" tanya Aglian yang tampak shock.


Anggi dan Luna pun mengangguk bersamaan.


"Emang kenapa, mas? Nih, undangannya." Luna menunjukkan sebuah undangan berwarna putih yang cantik dengan pita merah muda di depannya.


"Astaga ... gimana mau mengaturnya ini?" Aglian tampak frustasi.


"Emang kenapa, Mas? Mas ada kerjaan, ya?" tanya Luna yang kini penasaran.


Aglian pun menghela nafas panjang lalu menatap kedua 2amita dihadapannya. Sedangkan Ajeng tidak ikut karena sibuk bermain dengan si kembar.


Lalu Aglian mengambil tasnya dan mengeluarkan beberapa undangan berwarna biru dan menunjukkannya pada Luna dan Anggi.


"Minggu depan Stefani juga mau nikah sama Alan, dokter yang selama ini merawatnya. Artinya, waktu mereka bersamaan. Kenapa mesti barengan sih!" ujarnya menjelaskan sambil geleng-geleng kepala.


Sedangkan Luna dan Anggi saling bertatapan dan terkekeh.


"Mungkin sekarang lagi musim nikah, ya Lun!"


"Mungkin sekarang lagi musim kawin, ya mbak!


"Eh ..." seru mereka berdua karena bicara bersamaan.


Lalu ketiga orang itu pun tergelak bersama.

__ADS_1


...***...


......Happy Reading 🥰🥰🥰......


__ADS_2