Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.148 (S2) Luna's Story


__ADS_3

Di ufuk timur, matahari mulai menampakkan sinarnya. Mengikis dingin, mengukir hangat. Membuat jiwa-jiwa kembali bersemangat tuk menyambut indahnya hari mereka.


Seperti pagi ini, adalah pagi pertama bagi Luna melayani suaminya yang ingin pergi bekerja. Selepas melaksanakan kewajibannya di subuh tadi, Luna gegas membantu mbok Rum menyiapkan sarapan, setelahnya ia kembali ke kamar hendak membersihkan diri.


Setibanya di kamar, Luna disambut dengan sebuah senyuman manis dari suaminya. Aglian tampak masih sibuk dengan laptopnya. Mungkin ia sedang memeriksa beberapa laporan pekerjaan dari para bawahannya.


Luna pun membalas senyum itu lalu ia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, ia langsung masuk ke walk on closed untuk memakai pakaian. Setelahnya, Luna juga memilah pakaian yang akan dikenakan Aglian untuk bekerja. Sebuah kemeja berwarna putih, dipadukan dengan celana bahan dan jas berwarna abu-abu, serta dasi bermotif garis berwarna putih dan abu-abu. Tak lupa juga dalaman yang akan dipakai suaminya itu. Setelah semuanya komplit, ia letakkan pakaian itu di atas meja yang ada di walk in closed.


"Mas, mandi gih! Kan katanya mau meeting. Ntar kesiangan lho!" ujar Luna seraya menyisir rambutnya di depan meja riasnya m.


"Hmm ... udah wangi aja nih istri! Mas seneng banget, akhirnya Mas ada yang ngurusin. Nggak perlu berkhayal lagi." ujar Aglian seraya terkekeh.


Luna mengerutkan keningnya, "Berkhayal?" tanya Luna , Aglian mengangguk membuat Luna terkekeh pelan. "Udah, sekarang mandi my suami, nggak usah berkhayal lagi, soalnya di sini udah ada istri yang real, nyata, istri beneran. Buruan sana!" tukas Luna seraya mendorong tubuh Aglian menuju kamar mandi.


Tapi setibanya tepat di depan pintu kamar mandi, Aglian menahan tangan Luna, dan menariknya agar mereka saling berhadapan.


"Tapi kiss dulu." Luna membulatkan matanya saat mendengar ucapan suaminya itu.


"No, mandi dulu, terus gosok gigi, baru nanti Nana kasi." tegas Luna.


Aglian menyeringai jahil, membuat Luna meronta ingin melepaskan diri, namun apalah daya, tenaga Luna tak sebanding dengan tenaga suaminya itu hingga sebuah kecupan singkat mendarat tepat di depan bibir Luna.


Cup ....


"Aaakh, Mas Lian?" pekik Luna, gegas ia langsung berlari setelah cengkraman tangannya dilepas. Wajahnya sudah memerah karena malu. Bisa-bisanya, sebelum mandi minta jatah sun dulu, 'Dasar suami'


Kini Aglian, Luna, Ajeng, dan Davindra tampak hendak sarapan bersama. Luna yang sudah belajar banyak dari Anggi bagaimana cara melayani suami, segera melayani Aglian dengan mengambilkan makanan dan dihidangkan tepat di depan Aglian. Senyum manis tercetak jelas di wajah Aglian. Ia bahagia, sangat bahagia , ternyata gadis nakalnya yang cenderung bar-bar ini mampu melayaninya dengan baik. Dipandanginya wajah cantik istrinya itu lekat, ia penasaran dengan masa lalu istrinya itu. Siapa orang tuanya, dimana orang tuanya, dan mengapa ia bisa berakhir di panti asuhan. Sebab wajah itu, bukanlah wajah orang biasa. Garis wajah tegasnya menyiratkan kalau ia bukanlah dari kalangan biasa, tapi bila itu benar, mengapa ia bisa berakhir di panti? Mungkinkah kisahnya tak beda jauh dari kisah saudara kembarnya itu.

__ADS_1


"Na, apa kamu pernah bertanya-tanya tentang orang tuamu?" tanya Aglian. Ajeng dan Davindra pun ikut menyimak apa jawaban dari menantu kecil mereka itu.


"Kenapa Mas tanya itu?" tanya Luna balik.


"Mas penasaran aja. Pingin tahu. Soalnya kamu itu cantik banget, jadi mas mikir orang tua bodoh mana yang tega buang kamu." seloroh Aglian. Luna hanya tersenyum tipis mendengarnya.


"Orang tua Luna nggak bodoh kok, Mas." ujar Luna sendu. Ia menundukkan kepala. Tanpa sadar air matanya mengalir membuat nafas Aglian tercekat, begitu pun Ajeng dan Davindra. Mereka merasa ada sesuatu yang mereka belum ketahui tentang menantunya itu, pun Aglian. Ia jadi merasa bersalah karena mengungkit masalah orang tua istrinya tersebut. "Bu Yanti pernah cerita, orang tua Nana kecelakaan dan meninggal di tempat. Nana selamat sebab saat itu mama peluk Nana erat. Terus ada seseorang entah siapa itu menitipkan Nana di panti. Katanya, bila saatnya tiba , dia akan kembali mencari Nana. Tapi saat Nana tanya siapa itu, Bu Yanti nggak mau cerita." jelas Luna seraya mengusap air mata yang telah membanjiri matanya.


Aglian yang cukup shock mendengar cerita itu, sontak menggenggam erat tangan Luna. Ia tak percaya bahwa kisah hidup istrinya itu juga cukup menyedihkan. Dalam hati Aglian berdoa agar senantiasa bisa membahagiakan istri kecilnya itu.


"Maafin Mas ya udah buat kamu sedih. Mas nggak maksud kayak gitu." ujar Aglian penuh penyesalan.


"Nggak papa kok , Mas. Mas kan suami Nana sekarang jadi wajar ingin tahu." sahut Luna seraya tersenyum.


"Ehem ... mentang-mentang pengantin baru, ya! Mama sama papa jadi dikacangin." ejek Ajeng sambil tersenyum simpul.


"Aish, papa, bukannya bantuin mama, malah sebaliknya." ujar Ajeng sambil mengerucutkan bibirnya.


"Tuh, Lian, kayaknya mama ngasih kode nih!" lanjut Davindra menggoda Ajeng .


"Papa, udah ah! Makan sana!" Ajeng mendelik ke arah Davindra. "Kamu juga ya sayang, makan yang banyak, biar banyak tenaganya. " ucap Ajeng ambigu.


'Biar banyak tenaga? Buat apa? Emang aku nguli jadi mesti banyak tenaga.' batin Luna.


Lalu mereka pun melanjutkan sarapan yang sempat tertunda.


***

__ADS_1


Hari yang sibuk, merupakan makanan sehari-hari bagi Aglian. Dalam satu hari ia bahkan bisa mengunjungi banyak tempat dan bertemu banyak klien. Begitulah rutinitasnya sehari-hari. Beruntung, ia tak pernah lupa bila urusan menyangkut keluarganya. Seperti siang ini, ia telah berjanji pada Luna untuk menemui Kentaro di lapas. Selepas makan siang bersama, ia dan Luna segera pergi ke lapas tempat Kentaro menjalani hukuman.


Di sana telah menunggu Ratna dan Azam yang turut mendampingi. Tak lama kemudian, Diwangga pun turut bergabung, sebab ia tengah bertindak sebagai kuasa hukum Luna bila sewaktu-waktu ia dibutuhkan.


Setelah berkumpul, mereka segera meminta izin untuk masuk secara bersamaan. Mata Kentaro seketika berbinar saat melihat kedatangan Luna .


"Luna." pekik Kentaro girang. "Lun, gue seneng loe mau nemuin gue di sini."


Namun keceriaan itu seketika surut saat melihat Luna yang tampak enggan menatapnya. Apalagi saat ia melihat tautan tangan antara Aglian dan Luna. Kentaro pun segera duduk di kursi dengan wajah sendu.


"Cepat, katakan apa yang ingin kau sampaikan!" tegas Aglian enggan berbasa-basi.


'Sepertinya dia telah menjadi malaikat pelindungmu, Lun. Yah, gue akui gue udah kalah.'


"Lun , maafin tindakan bodoh gue waktu itu! Gue mohon Lun, maafin kesalahan gue! Gue nggak akan minta loe lepasin ataupun ringanin masa tahanan gue, gue cuma minta loe mau maafin gue." lirih Kentaro.


Bruk ...


Mata semua orang membelalak saat melihat Kentaro tiba-tiba bersujud di hadapan Luna. Ia bersimpuh dengan menekuk kedua lututnya di lantai. Mata Kentaro pun tampak berkaca-kaca. Bahkan sepertinya tak lama lagi kabut itu akan benar-benar lirih membanjiri pipi Kentaro.


"Gue mohon ,Lun, maafin kesalahan gue, gue khilaf, gue janji gue akan berubah. Gue nggak mau kehilangan sahabat kayak loe, Lun. Gue mohon maafin kesalahan gue, gue mohon dengan amat sangat Lun." ujar Kentaro dengan wajah memelas, tangannya ia tangkubkan di depan dada, air matanya pun sudah tumpah membasahi wajahnya.


...***...


**Lanjut besok ya akak, mata Mak othor udh semeriwing soalnya.🤭


Happy Reading 🥰🥰🥰**

__ADS_1


__ADS_2