
Menjelang sore, jalanan tampak masih cukup lengang, mobil Anggi yang dikemudikan Reno pun akhirnya membelah jalanan menuju kediaman majikannya itu. Anggi tidak kembali lagi ke Angkasa Mall karena anak-anaknya pun sudah diantarkan ke rumah bersama Luna dan kedua kakek neneknya.
Jarak perjalanan dari rumah Bu Tatik ke rumah Anggi yang baru memang cukup jauh. Butuh waktu sekurangnya 1 jam perjalanan di untuk tiba ke rumahnya itu.
Di perjalanan, Reno sudah semenjak kepergiannya menuju rumah Bu Tatik merasakan ada yang mengikuti mobil yang ia kemudikan. Tapi ia tetap bersikap santai, seolah tiada masalah pun orang yang duduk di bangku penumpang, hanya menyibukkan dirinya dengan ponsel di tangan dan earphone di telinga. Sesekali Reno ntah memberi kode pada siapa dengan ekspresi datar dan tenangnya.
Reno bukanlah sembarang sopir, ia adalah seorang bodyguard terlatih. Ia juga mantan pembalap nasional karena itu Aglian menempatkannya sebagai sopir pribadi Anggi untuk menjaga keselamatan saudara kembarnya itu. Aglian tak mau kecolongan lagi. Ia tak mau kehilangan saudara satu-satunya lagi. Cukup dulu, sekarang tidak, karena itu tanpa Anggi ketahui, Aglian menempatkan banyak bodyguard bayangan di sekitar Anggi untuk menjaga keselamatan Anggi apalagi ia tahu, orang yang pernah memisahkan dirinya dan Anggi masih ada. Bahkan ia tau, pria tua itu masih memiliki niat jahat untuk membalaskan dendam yang dibuatnya sendiri.
Aglian bukan orang bodoh, pun Diwangga. Sebagai pengacara handal, ia tentu memiliki banyak koneksi yang berkecimpung di dunia hukum. Bahkan kini ia sedang berdiri dengan tenangnya, dengan lengan tersimpan dalam saku celananya, ia menatap layar monitor berukuran sangat besar yang menampilkan setiap sudut jalanan di ibu kota, khususnya jalanan yang kini tengah dilalui mobil yang dikemudikan Reno, sopir pribadi Anggi.
'Kau pikir kau bisa menyakiti istriku? Akan ku pastikan, kau akan membusuk selamanya di dalam penjara! Itu janjiku!' Seringai Diwangga.
Di tempat berbeda, tepatnya di gedung tertinggi Angkasa Grup, tampak Aglian menyeringai di kursi kebesarannya. Ia sedang mendengarkan laporan dari orang-orangnya tentang rencana besar yang telah ia rencanakan sebelumnya. Walaupun terkesan dadakan, namun ternyata rencana itu telah dirancang jauh-jauh hari bila saat seperti ini tiba.
Di jalanan ibu kota, seseorang yang tengah mengemudikan Jeep hitamnya, tampak menyeringai saat memperhatikan mobil mewah yang ada di depannya. Ia tengah mencari celah dan kesempatan. Ia sudah merencanakan kejahatan ini jauh-jauh hari. Bahkan ia sudah mengantongi revolver sebagai persiapan bila mangsanya mencoba melakukan perlawanan.
Semakin lama kedua mobil itu melaju makin kencang, seperti sedang saling berkejar-kejaran. Saling salip menyalip. Mobil-mobil yang ada di depannya pun tanpa sadar telah tertinggal jauh. Umpatan demi umpatan dilontarkan pemilik mobil lain saat mobil mereka tiba-tiba disalip semaunya oleh kedua mobil itu.
'Jadi mereka sudah menyadari keberadaanku.' pria dalam mobil Jeep menyeringai.
Dia adalah Carlos. Pelaku utama yang menyebabkan Anggi harus hidup dan tumbuh besar terpisah dari kedua orang tua dan saudaranya. Pelaku utama yang menyebabkan Anggi harus hidup menderita dan menjadi salah satu penghuni panti. Pelaku utama yang menyebabkan Anggi harus menerima cemoohan atas asal usulnya yang tak jelas. Walaupun Anggi tak pernah menyesalinya, tapi orang tua dan saudaranya tentu tak terima bila lagi-lagi sang tokoh antagonis kembali hadir untuk meluluhlantakkan kebahagiaan Anggi. Kebahagiaan Anggi adalah kebahagiaan semua keluarga besar Angkasa. Jadi menghancurkan Anggi sama saja menghancurkan keluarga Angkasa. Dan Anggi adalah seorang wanita lemah, pasti lebih mudah menghancurkannya dibanding menghancurkan Aglian atau Davindra. Aglian dan Diwangga takkan membiarkan itu. Apalagi kini keluarga Anggi bukan hanya milik keluarga Angkasa tapi keluarga Yudhistira. Tak ada yang boleh menyentuh barang seujung kuku pun kulit Anggi. Siapa yang berani melakukannya, hukuman yang pedih telah siap menanti.
'Kau ingin main-main denganku, pak tua? Ayo, kita lihat, sebatas mana kemampuanmu.' seringai Reno sambil terkekeh seraya melajukan mobilnya makin kencang melewati banyak mobil di depannya.
Seseorang menepuk pundak Reno dari belakang, "Ada apa?" tanya Reno.
"Jangan terlalu jauh, nanti pak tua itu tidak bisa mengikuti mobil kita!" ujarnya sambil terkekeh. Tak pelak, Reno pun ikut terkekeh.
"Okay, aku turunkan sedikit kecepatannya." sahut Reno seraya memperhatikan mobil Jeep hitam yang masih jauh tertinggal di belakangnya.
"Tuan, mereka tak lama lagi sampai di tempat tujuan." lapor seseorang berpakaian serba hitam pada Aglian.
__ADS_1
"Baiklah, mari kita segera kesana! Semua persiapan sudah beres?" tanya Aglian.
"Sudah, tuan."
"Jangan sampai membuat kesalahan! " tegas Aglian.
"Siap, tuan." jawab pria berpakaian serba hitam itu tak kalah tegas sambil menundukkan sedikit kepalanya.
Lalu Aglian dan para pengawal pribadinya berangkat menuju lokasi yang telah mereka rencanakan. Kepergian pemimpin Angkasa Grup dengan didampingi banyak pengawal tersebut tentu mengundang tanda tanya. Tak biasanya atasannya melakukan hal seperti itu. Apalagi saat ini, waktunya jam pulang kantor, tentu para karyawan Angkasa yang sudah berada di lobi hendak pulang ke rumah melihat dengan tatapan bergidik ngeri. Akhirnya sisi lain seorang Aglian Saputra Putra Angkasa dapat mereka lihat dengan jelas sore itu. Dengan rahang tegas, sorot mata tajam yang menyiratkan kemarahan, Aglian berjalan dengan gagah dan memasuki mobil yang telah menunggu tepat di depan lobi. Iring-iringan mobil serba hitam Aglian pun berangkat.
Pun Diwangga yang tengah menatap layar monitor raksasa itu, langsung bergerak sesaat setelah menerima telepon dari Aglian.
"Waktunya bergerak!" ujar Aglian saat sambungan telepon mereka telah terhubung.
"Okay." sahut Diwangga.
Akhirnya mobil yang saling berkejar-kejaran tadi tiba di suatu lokasi yang cukup sepi. Carlos lalu mengeluarkan sebagian tubuhnya dari jendela mobil, kemudian ia mengacungkan revolvernya ke arah mobil yang ia yakini di dalamnya ada putri dari seorang Davindra, mantan atasannya.
dorrr dorrr dorrr ...
Lalu tiba-tiba ada sebuah mobil hitam datang dari belakang mobil Carlos dan menabraknya membuat Carlos hampir terjungkal karena kesulitan mengatur keseimbangan. Ia pun kembali masuk ke dalam mobil untuk mengendalikan mobilnya itu. Kemudian mobil yang menabraknya tadi kini telah berada bersisian dengan mobil Carlos dan menabrak sisi kanannya membuat ia kembali hampir kehilangan keseimbangan. Melalui celah kaca mobil , Carlos kembali melesatkan sebuah tembakan ke arah ban mobil tersebut membuat salah satu bannya bocor.
"Kurang ajar ternyata dia ada yang mengawal." geram Carlos saat baru menyadari kalau Anggi ada yang mengawalnya secara diam-diam.
Lalu kembali Carlos memacu mobilnya secepat mungkin hingga tanpa sadar ia telah masuk ke dalam sebuah area yang telah direncanakan Aglian dan Diwangga. Kemudian ia pun menabrakkan mobil itu ke bagian belakang mobil Anggi hingga mobil itu hampir kehilangan keseimbangan dan lagi, Carlos meloloskan sebuah tembakan hingga menembus kaca belakang mobil membuat mobil yang dikemudikan Reno itu menabrak pohon dan berhenti. Carlos menyeringai bahagia, akhirnya ia bisa menghabisi anak perempuan keluarga Angkasa itu, pikirnya.
Carlos segera turun dari mobil dengan menggenggam revolvernya dan berjalan mendekati mobil Anggi. Dilihatnya, sang sopir dalam keadaan pingsan dengan kepala menyandar pada kemudi membuatnya tersenyum puas, begitupun penumpang yang ada di bagian belakang, tampak pingsan dengan tubuh terkulai ke arah jendela. Dengan segera Carlos pun membuka paksa pintu mobil, namun baru saja tangannya hendak menarik lengan orang yang diincarnya itu, terdengar suara pelatuk yang siap ditarik tepat di belakang kepalanya, membuat Carlos terkesiap.
Perlahan tangannya yang memegang senjata ingin ia arahkan ke belakang, tetapi brakkk ... tiba-tiba tangannya dicengkeram kuat dan ditekuk hingga hingga ia menjerit kesakitan dan tanpa sadar revolvernya terjatuh di bawah kursi mobil.
Carlos benar-benar terkejut, saat ia lihat ternyata yang membekuk tangannya adalah seorang perempuan, tapi yang membuat Carlos membelalakkan matanya adalah ...
__ADS_1
"Dia ..." tiba-tiba tenggorokan Carlos tercekat. 'Mengapa yang ada di dalam mobil ini bukan putri Davindra?'
"Hai ..." sapa perempuan itu. "Kenapa? Terkejut ternyata yang ada di mobil ini bukan orang yang kau incar?" ujar perempuan itu dengan senyum mengejek. Lalu Reno yang berpura-pura pingsan pun segera menolehkan kepalanya ke belakang dan memberi kode pada perempuan itu. Paham maksudnya, perempuan itu segera mengeluarkan sebuah borgol dan memasangnya di lengan Carlos.
"Ck ... sudah bau tanah masih saja bertingkah." ejek perempuan tadi yang ternyata seorang polisi wanita teman Diwangga.
"Ka ... kalian?" Carlos benar-benar shock kali ini.
"Ya, kau sudah masuk ke dalam perangkap, pak tua? Kau pikir kau bisa begitu saja menyingkirkan seorang putri keluarga Angkasa, apalagi sekarang dia udah jadi bagian keluarga Yudhistira." kini giliran Reno yang mengejek.
Carlos makin terkesiap saat ia menyadari bahwa ia sudah benar-benar terkepung. Mungkin karena terlalu fokus ingin melenyapkan Anggi sehingga ia tak menyadari bahwa para polisi dan pengawal pribadi Aglian dan Diwangga telah mengepung dirinya.
Wajah Carlos kini sudah pucat pasi. Mungkin kini ia akan menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi.
"Hai uncle." sapa Aglian. "Aku tak menyangka uncle akan berbuat jahat kembali. Seharusnya uncle menikmati masa tua di rumah dengan anak cucu, bukannya terus menerus memupuk dendam."
"Dan kali ini kau malah mengikutsertakan putrimu satu-satunya, apakah kau tak berfikir bagaimana masa depannya." timpal Diwangga. "Kau tau, rasanya tanganku sudah sangat gatal ingin memukulmu karena kau telah berencana melenyapkan istriku. Tapi aku mencoba mengontrol diriku. Aku tak ingin mengotori tanganku dengan darah kotormu itu."
"Jangan sakiti putriku! Aku mohon!" ucap Carlos memelas. "Dia melakukan itu karena terlalu mencintaimu."
"Tapi cinta tak harus memiliki, paman. Dan aku tak pernah mencintainya." tegas Diwangga. "Dan maaf, aku tak bisa melepaskan Lea begitu saja karena ia telah bekerja sama denganmu untuk melenyapkan istriku." sambung Diwangga dengan sorot mata tajam.
.
.
.
.
Kalau yang ada di mobil itu mbak polwan, lalu dimana Anggi?
__ADS_1
Tunggu ntar malam ya! 😁