Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.147 (S2) Sindrom Kehamilan Simpatik?


__ADS_3

Tak terasa, honeymoon dadakan Aglian dan Luna telah berakhir. Kini mereka telah kembali ke kediaman Davindra. Untuk sementara, mereka akan tinggal di rumah orangtuanya. Aglian berniat mencari rumah untuk mereka tempati berdua dan bila mereka cepat diberi kepercayaan, rumah itu juga akan ditinggali bersama anak-anaknya kelak.


Kini Luna dan Aglian tengah merebahkan diri di ranjang kingsize milik Aglian. Aglian tengah berpikir, bagaimana cara menyampaikan permintaan Azam tadi. Ia juga tengah memikirkan trauma yang kini Luna alami, akankah dengan Luna mencoba menghadapi sumber traumanya, ia akan jadi sembuh atau makin menjadi. Tentu ia harus memikirkannya dengan matang. Ia juga tak bisa sembarangan memberi saran sebab kejadian itu bukan ia yang mengalami.


"Mas ..."panggil Luna membuat Aglian tersentak dan sadar dari lamunannya.


"Eh, ya sayang! Ada apa, hm?" sahut Aglian. Ia membalik tubuhnya menghadap Luna.


"Mas Lian melamun? Emang siapa sih yang tadi nelepon sampai Mas ngelamun gitu?" tanya Luna dengan sorot mata meminta penjelasan.


Aglian berdeham pelan lalu mulai menceritakan siapa yang menghubunginya tadi.


"Tadi yang nelepon Mas itu Bripka Azam." jeda Aglian. Luna diam dan tetap menyimak kelanjutan cerita Aglian. "Dia kakak sahabat kamu." Luna mengerutkan keningnya. Ia mulai bertanya-tanya mengapa kakak Kentaro menghubungi suaminya. "Katanya, adiknya memohon ingin bertemu denganmu dan meminta maaf. Dia berharap, kamu mau menemuinya." jelas Aglian. Ia pandangi wajah istri kecilnya itu yang tampak murung.


"Menurut Mas Lian, Nana harus bagaimana?" Tentu ia harus bertanya pada Aglian sebab ia sekarang sudah menjadi seorang istri. Ia tak bisa menemui sembarangan pria tanpa seizin suaminya.


"Menurut Mas, lebih baik kamu temui, mungkin saja bila kamu mencoba berdamai dengan hatimu, beban yang menjadi sumber traumamu bisa berkurang bahkan sembuh. Kalau soal memaafkan, Mas serahkan semua pada mu, toh nggak mudah maafin perbuatan keji kayak gitu. Beruntung Mas sempat nyelamatin kamu, kalau nggak? Mas tak mampu bayanginnya." ujar Aglian.


"Tapi Mas temenin, kan?" mohon Luna dengan mata memelas membuat Aglian gemas.


Cup ...


"Pasti dong! Nggak mungkin Mas biarin kami masuk ke sarang penyamun kayak gitu." ujar Aglian terkekeh setelah mencuri satu kecupan dari bibir Luna.


"Ish, dikit-dikit nyosor, udah kayak angsa aja." ujar Luna sambil mengerucutkan bibirnya. Membuat Aglian makin gemas dan lagi-lagi ia mencuri satu kecupan yang dilanjut dengan sedikit lu ma tan.

__ADS_1


***


"Gimana Zam keadaan adik kamu?" tanya Ratna pada Azam saat Azam telah menghempaskan punggungnya di sandaran sofa .


"Masih kayak kemarin, Ma. Mual, muntah, pucat." jelas Azam.


Tampak raut wajah khawatir pada Ratna. Andai putranya itu ada di rumah, tentu ia bisa dengan mudah mengurusnya.


"Kami udah panggilkan dokter?" tanya Ratna.


Azam mengangguk, "Udah."


"Terus, menurut dokter dia sakit apa?" cecar Ratna.


Deg ...


***


Pagi yang cerah, tampak seorang wanita cantik berjalan dengan penuh semangat keluar dari lift apartemen tempat ia tinggal. Ia sudah tak sabar lagi untuk mendatangi toko bunga yang dijadikannya tempat untuk mencari rejeki demi sang buah hati yang kini tengah berkembang di dalam rahimnya.


Jelita, wajahnya memang secantik namanya. Ia berjalan sambil mengusap perutnya yang masih datar. Siapa sangka, di dalam perut yang rata itu ada buah cintanya dengan lelaki yang ia cintai. Walaupun, prosesnya ia lalui tanpa rasa cinta dari sang lelaki, tapi ia tak pernah menyesalinya. Walaupun ia sempat terpuruk, apalagi saat tau keluarganya sendiri ingin menggugurkan kandungannya, beruntung ia bertemu keluarga yang sangat baik hati , yang bukan hanya menampungnya, tapi juga memberikan pekerjaan. Jelita sampai membatin, alangkah indahnya bila ia memiliki keluarga sebaik Ratna dan Azam. Bolehkah ia berharap Ratna jadi ibu mertuanya? Jelita terkekeh saat membayangkannya. Mana mungkin. Jelita menggelengkan kepalanya. Mana mungkin Azam mau dengannya yang sedang hamil di luar nikah, belum lagi mereka bukan siapa-siapa, tak ada perasaan sama sekali. Ia juga merasa tak pantas untuk Azam. 'Hais, ini kepala kok mikir yang aneh-aneh. Tapi kalau Kenta yang jadi putra kedua Bu Ratna gimana ya? Wah, pasti menyenangkan! Tapi apa Kenta mau menikahiku kalau tau aku hamil? No, aku nggak mau ketemu sama dia. Kenta nggak pernah cinta sama aku. Bisa aja dia malah mau gugurkan kandunganku. Tapi kalau dia minta maaf dan mau tanggung jawab, gimana?' monolog Jelita dalam hati.


Jelita kini tengah duduk di lobi apartemen. Ia mengeluarkan ponselnya hendak memesan ojek online untuk mengantarkannya menuju toko bunga. Baru saja tangannya hendak menekan tombol mencari driver, tiba-tiba ponselnya direbut oleh seseorang membuat Jelita tersentak.


"Eh, hp gue ... " Jelita hendak emosi saat ponselnya diambil tiba-tiba. Namun, emosinya seketika menciut saat melihat siapa yang berdiri di depannya.

__ADS_1


"Mas Azam ..." Jelita menggaruk dahinya dengan jari telunjuk.


"Kan Mas udah bilang, jangan naik ojek online, kamu itu lagi hamil, Lita! Bahaya, ngerti nggak sih!" tegas Azam.


"I ... iya, Mas. Lita cuma nggak mau ngerepotin aja." sahut Jelita sambil menunduk.


"Ya udah, sana masuk mobil." titah Azam membuat Jelita ketakutan.


Baru saja Azam hendak membukakan mobil untuk Jelita, tiba-tiba namanya dipanggil seseorang. Sontak Azam segera menoleh ke arah sumber suara itu.


"Zam." panggil seseorang.


"Erika ..."


"Ternyata beneran kamu, gue kira mirip aja." ujar Erika sembari tersenyum canggung. Erika mengarahkan pandangannya pada Jelita yang belum masuk ke mobil, seketika senyumnya sedikit memudar, tapi dalam hitungan detik, senyuman itu kembali merekah. "Wah, kirain masih jadi jones, ternyata udah ada gebetan nih! Hai, kenalin, gue Erika, rekan kerja Bripka Azam ." ujar Erika seraya mengulurkan tangan.


"Sa ... saya ..."


"Dia adik gue. Namanya Jelita." potong Azam. "Masuk sana." titahnya pada Jelita. Jelita pun mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil. Semua itu tak luput dari tatapan Erika


"Serius dia adik loe? Bukannya adik loe cuma si Kenta itu?" tanya Erika penuh selidik.


"Hmm ... adik gue, tapi bukan kandung." sahut Azam santai membuat Erika mengernyitkan dahinya. "Dah, gue mau nganterin dia dulu! Udah itu baru gue ke markas." ujar Azam lalu ia pun masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan standar.


'Adiknya? Tapi bukan adik kandung? Apa adik angkat? Atau adik tiri? Ah, bikin bingung aja loe, Zam!' gumam Erika pelan. Lalu ia melenggangkan kakinya menuju basemen untuk mengambil mogenya. Ya, kalau perempuan lain gemar naik motor matic atau mobil, maka beda dengan Erika, ia gemar mengendarai motor yang mampu memacu adrenalinnya, yaitu moge alias motor gede. Setelah ia menaiki moge kesayangannya, ia pun melajukannya keluar dari basemen apartemen.

__ADS_1


__ADS_2