
"Kenta ..." lirih Ratna saat mengunjungi Kentaro. Ia didampingi Azam.
"Ma ... Mama." lirih Kentaro dengan wajah sendu.
"Bagaimana kabarmu, nak?" tanya Ratna. "Sepertinya kamu tidak sedang baik-baik saja."
"Kenta, nggak kenapa-kenapa kok, Ma. " ucap Kentaro sambil memaksakan tersenyum.
"Tak perlu bohong sama mama. Matamu tak bisa berbohong. Kata kakakmu beberapa hari ini kamu muntah-muntah terus, kamu masuk angin? Wajahmu juga sangat pucat, nak ."
"Oh, mungkin itu karena Kenta belum terbiasa tidur di sini, Ma. Maklum, nggak ada kasurnya. Kenta jadi sering kedinginan." canda Kentaro miris.
"Maafin mama, ini salah mama, mama tak mampu mendidikmu jadi anak yang baik. Mama gagal." lirih Ratna. Tanpa sadar, air mata mengalir dari pelupuk matanya.
"Nggak, Ma, semua bukan salah mama. Ini kesalahanku, ini semua karena kebodohanku." lirih Kentaro sambil menggenggam tangan Ratna.
"Ya, ini memang ada kesalahanmu juga. Kenapa Ken, kenapa kamu lakukan itu? Lihat akibatnya, nak!" racau Ratna tak mengerti jalan yang dipilih anaknya.
"Kenta mencintainya, Ma. Tapi dia nggak mencintai, Kenta. Jadi Kenta gelap mata, Kenta jadi memilih jalan yang salah."
"Tapi cinta bukan berarti menyakiti, nak. Cinta tak bisa dipaksakan. Apa kau tak memikirkan akibatnya? Apa kau tak memikirkan mama yang sedih melihat keadaanmu seperti ini?" lirih Ratna tak kalah pilu. "Dan , maafkan mama, mama nggak bisa bantu kamu untuk menemui Anggi, kakak angkat gadis itu. Mama malu, nak. Anggi mengenal mama. Jadi mama mohon, bersabarlah, terimalah hukumanmu dengan lapang dada. Cobalah berubah. Pikirkan semua kesalahanmu. Perbaiki dirimu agar bisa menjadi lelaki yang lebih baik dan bertanggung jawab. Dan dekatkanlah dirimu pada yang Kuasa agar hidupmu bisa menjadi lebih baik." pesan Ratna.
"Ma, Kenta nggak kenapa kalau mama nggak bisa bantu mengeluarkan ataupun meringankan hukuman Kenta, tapi Kenta ada satu permohonan?" ucap Kentaro dengan wajah memelas.
"Tolong bantu Kenta supaya bisa bertemu Luna, Ma! Kenta mau minta maaf. Kenta menyesal." lirih Kentaro dengan wajah memelas sebelum akhirnya Kentaro kembali mual-mual. Ia gegas berlari menuju toilet untuk memuntahkan isi perutnya yang lagi-lagi hanya cairan bening yang keluar. Tiba-tiba sebuah tangan terulur, lalu memijat tengkuk Kentaro sehingga membuatnya merasa lebih nyaman. Kenta segera menyeka mulutnya yang basah dengan telapak tangannya lalu membalikkan tubuhnya menghadap sang mama.
"Terima kasih, Ma." ucap Kentaro seraya tersenyum tipis.
Ratna memandangi wajah Kentaro yang tampak lebih tirus , bibirnya memutih hampir menyamai warna kulitnya. Wajahnya pucat, membuat hati Ratna teriris.
"Kamu kok muntah-muntah terus kayak gini sih? Udah minum obat?" tanya Ratna seraya mengusap pelan pipi Kentaro.
"Udah Ma, Abang bawain kemarin." ujar Kentaro sambil berjalan kembali ke tempat duduknya.
"Kamu aneh deh! Mama jadi ingat papa waktu mama hamil kamu dulu, ya gini. Papa mual-mual, muntah, pucat, susah makan, terus nggak bisa cium aroma masakan yang berbumbu." ujar Ratna sambil terkekeh.
__ADS_1
Deg ...
'Semua sama dengan yang aku alami, apa mungkin? Ya Tuhan, bagaimana kalau benar? Bagaimana nasib Jeje? Je, maafin kesalahanku! Maafin kebodohanku! Je, kalau kamu benar hamil, semoga kamu selalu sehat. Aku nggak papa mengalami mual muntah kayak gini, asal kamu sehat Je. Walau harapku, itu tak terjadi karena itu justru bisa membuat rasa bersalahku makin menjadi. Je, satu harapku, bila kamu benar hamil anakku, tolong jaga anak itu. Jangan kau gugurkan karena itu bisa membuat rasa bersalahku yang sudah setinggi gunung ini bisa meluas hingga seluas samudera.' lirih Kentaro dalam hati.
"Ken, Kenta, kok bengong? Nak, ..." panggil Ratna hingga ia menepuk punggung tangan Kentaro, baru ia sadar.
"Oh, i .. iya, Ma. Maaf, tadi Ken melamun."
"Kamu mikirin Luna? Baiklah, mama akan mencoba membantu kamu untuk bertemu dia. Kamu tenang ya! Semoga dia mau maafin kamu." ucap Ratna.
***
"Mas ... i ... ini beneran kamar kita?" tanya Luna saat melihat kamar hotel yang akan ia tempati bersama Aglian selama 3 hari ke depan.
Aglian sengaja memesan kamar di hotel yang berbentuk resort. Kamar yang dikelilingi dinding kaca dan tepat menghadap ke pantai. Bila kaca sliding digeser, mereka dapat menemukan sebuah private swimming pool yang disediakan khusus untuk penyewa kamar. Bahkan sembari berenang, mereka dapat langsung menikmati keindahan pantai. Tampak pohon kelapa menjulang tinggi dengan daun melambai-lambai membuat Luna sangat-sangat terpesona.
Luna gegas berlari dan menggeser pintu sliding untuk melihat keindahan pantai. Luna sangat menyukai suasana dan keindahan pantai. Aglian seakan dapat membaca apa yang Luna sukai. Tak lama kemudian, Aglian mendekat dan mendekap Luna dari belakang. Tangannya melingkari perut Luna, membuat Luna merasakan gelenyar aneh yang membuai tubuhnya.
Luna mengangguk antusias dengan senyum manis yang tercetak jelas di bibirnya.
"Suka banget, Mas. Sangat-sangat suka." ucap Luna mantap .
Lalu Luna membalik badan dan mengecup sekilas bibir Aglian sebagai hadiah atas kebahagiaan tiada Tara yang diberikan Aglian .
"Udah berani menggoda, hm?" Aglian menyipitkan matanya menatap Luna.
Luna mengerucutkan bibirnya, "Idih, siapa yang menggoda? Nana cuma mau menunjukkan rasa terima kasih Nana sama Mamas Lian tersayang aja. Nggak boleh?" tanya Luna dengan alis terangkat.
"Boleh, sangat boleh, mau lakukan hal lebih juga boleh." terang Aglian.
"Hal lebih? Contohnya?" tanya Luna polos dengan tangan yang kini berada di bahu Aglian.
"Dengan kissing yang lebih lama dan sesuatu yang nananina."
__ADS_1
Luna mengerutkan dahinya, "Nananina? Enak-enak maksud, Mas?" Kalau kissing Luna sudah paham, tapi kalau nananina? Luna benar-benar tak mengerti.
"Hampir mirip, tapi lebih enak . Mau tau kayak gimana?"
"Bisa banget. Tapi kita mandi dulu, ya terus makan malam, baru mas kasi tau nananina itu kayak gimana." tukas Aglian membuat otak volos Luna traveling memikirkannya.
Hingga saat malam tiba, Luna sedang duduk di kursi tepi kolam, asik memandangi keindahan malam yang syahdu. Tampak langit lebih terang karena cahaya rembulan yang memanjakan mata. Lalu Aglian pun berdiri seraya mengulurkan tangan.
"Katanya mau tau apa itu nananina?" Luna mengangguk sebagai jawaban sebab ia dari tadi berpikir tapi tak juga kunjung paham.
Aglian membantu Luna berdiri, lalu tangan Luna ia letakkan di bahunya, sedangkan tangannya melingkari pinggang Luna.
Aglian mendekatkan bibirnya pada telinga Luna dan berbisik, "Yuk kita mulai nananina!"
Setelah mengucapkan itu, Aglian segera membungkam bibir Luna yang hendak mengeluarkan kata.
Awalnya hanya sebuah kecupan kecil, namun lama-kelamaan menjadi lebih menuntut. Rasa manis kian terasa di setiap cecapan dan lum*t*n yang mereka mainkan. Menjadikan nafas Luna kian memburu apalagi saat tangan Aglian mulai bermain-main di titik-titik sensitif miliknya dengan agresif menimbulkan gelenyar-gelenyar hasrat yang kian membumbung.
Perlahan tapi pasti, keduanya kini telah terbakar gelora cinta yang kian membara. Setiap sentuhan dan gesekan kulit mereka menghantarkan mereka pada gejolak yang lebih besar lagi. Aglian pun segera membopong tubuh Luna dan membaringkannya di kasur.
Hingga entah siapa yang memulai, satu per satu pakaian mereka tertanggal dan berceceran sembarangan. Dipandanginya wajah Luna yang telah memerah dengan tangan bersedekap, menutupi aset kembar miliknya yang tak lagi berpenutup. Sebab kini keduanya telah dalam keadaan polos. Membuat nafas Aglian kian memburu. Aglian tersenyum di sela deru nafasnya. Disingkirkannya tangan Luna agar ia bisa melihat dengan jelas keindahan yang tak pernah dilihatnya itu.
"Na, izinkan Mas memilikimu seutuhnya?" lirih Aglian telat di depan wajah Luna .
Luna hanya mengangguk pasrah. Apa lagi yang bisa ia lakukan. Ini adalah kewajibannya sebagai seorang istri, memberikan apa yang telah menjadi hak suaminya.
Setelah mendapatkan persetujuan Luna, Aglian pun memulai penyatuan, hingga rintihan, erangan, dan des*h*n mulai memenuhi kamar itu. Membuat keduanya makin terbakar gairah. Penyatuan cinta, kenikmatan yang hakiki, kenikmatan surga dunia. Kenikmatan yang penuh kehalalan. Kenikmatan yang berhadiah pahala bagi pasangan halal tentunya.
"I love you, Na."
"I love you, too Mas. Love you more."
Cup ...
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1