
Flashback on
"Om Seno, bisa kita bicara sebentar di luar. Kalau bisa ajak juga bang Angga juga." ajak Aglian sambil melirik Diwangga yang berdiri di dekatnya tengah asik memperhatikan Anggi yang sedang mengobrol dengan Bu Sofi
"Mau membicarakan apa? Kenapa nggak di sini saja?" timpal Diwangga seolah enggan mengikuti kemauan Aglian. Ternyata matanya memang fokus ke Anggi, tapi telinganya masih dapat mendengar jelas pembicaraan antara ayahnya dan Aglian
"Ck... Ini rahasia. Jadi ..." Aglian menoleh ke arah Anggi yang menatap mereka bingung. "Anggi nggak boleh tau. Cukup kita bertiga aja." ujar Aglian seraya mengembangkan senyum iklan pasta gigi.
"Rahasia?" tanya Diwangga dan Aglian mengangguk dengan mantap. "Kenapa Anggi nggak boleh tau?" tanyanya lagi
"Ck... Abang itu budek kali ya, udah dibilang rahasia. Kalau dia tau, nggak surprise donk!" seringai Aglian
"Surprise? Apa maumu hah? Jangan katakan kau menyukai Anggi ?" sergah Diwangga pelan tak mau pembicaraannya didengar Anggi
"Tak sulit untuk menyukai wanita secantik dan sebaik Anggi, benar kan om?" ucap Aglian sambil mengulum senyum. "Begitu pun aku, terus terang aku tertarik padanya bahkan sejak awal aku melihatnya di sebuah minimarket. Boleh dibilang, aku juga menyukainya." sambungnya lagi
"Jangan macam-macam denganku. Aku nggak akan biarkan siapapun merebut Anggi dariku." tegas Diwangga penuh penekanan
"Oh, begitukah? Sorry bang, aku nggak takut. Kalau nanti Anggi yang malah suka sama aku dan lebih memilihku gimana?" ucap Aglian dengan senyum mengejek
"Kau..." mata Diwangga sudah memerah seperti ada nyala api yang membara
Melihat pertengkaran antara Diwangga dan Aglian sontak membuat Suseno tersenyum geli. Bagaimana bisa putranya dan putra sahabatnya memperebutkan seorang wanita yang sama.
"Udah, stop. Kalian kok malah bertengkar sih!" delik Suseno. "Ayo Ngga, kita ikuti duku permintaan Lian, mungkin memang ada sesuatu yang yang penting yang ingin dia bahas." ucap Suseno menghentikan pertengkaran mereka. Aglian hanya menyeringai menghadapi tatapan membunuh dari Diwangga. Dengan berat hati Diwangga pun mengikuti permintaan Aglian.
Kini Aglian, Diwangga, dan Suseno telah sampai di sebuah cafe yang letaknya di seberang rumah sakit. Aglian sengaja memilih ruangan tertutup untuk menjaga privasi mereka , bagaimana pun yang akan dibahas oleh Aglian adalah hal rahasia yang kebenarannya masih perlu ia buktikan.
"Sekarang jelaskan apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Diwangga to do point
"Sabar bang, kita pesan minum dulu kek. Haus tau. Om mau minum apa?" tawar Aglian pada Suseno
"Om minta kopi hitam aja."
__ADS_1
"Kalau Abang?" tanyanya pada Diwangga
"Caramel macchiato."
"Mbak pesan caramel macchiato 2 sama kopi hitam 1. " ucap Aglian pada pelayan yang telah bersiap mencatat pesanannya
Setelah pelayan itu pergi, Suseno pun mulai membuka suaranya.
"Kau mau membicarakan apa, Lian? Sepertinya sangat penting sampai kau mengajak kami ke ruangan privat seperti ini." ucap Suseno seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi
"Hmm... om benar. Ini penting, bahkan sangat penting." jawabnya yang terhenti sejenak karena pelayan kembali datang untuk menghidangkan pesanan mereka.
Setelah pelayan itu pergi , baru mereka kembali berbicara.
"Hal apa itu?" tanya Diwangga yang turut penasaran.
Aglian menatap Diwangga sebentar lalu ia mengalihkan pandangannya pada Suseno.
Suseno mengernyitkan dahi, belum paham kemana arah pembicaraan Aglian.
"Hhmm... kami berteman sejak kami SMA, kenapa?" tanya Suseno penasaran
" Kalau begitu om maaih ingat wajah mama saat masih sangat muda ,bukan?" tanya Aglian ambigu
Suseno makin tak paham apa yang ingin dibahas anak sahabatnya tersebut. "Iya, walaupun tidak terlalu jelas. Tapi om masih sedikit mengingatnya. Memangnya ada apa? Kenapa kau tiba-tiba membahas ini?"
Diwangga hanya diam mendengarkan pembicaraan antara ayahnya dan Aglian. Ia belum memiliki keinginan untuk menyela.
"Om masih ingat tragedi 23 tahun yang lalu kan?" tanya Aglian dengan sorot mata serius. Seketika Suseno terkesiap mendengar pertanyaan dari Aglian.
"Kau... Apa kau sudah tau?"
"Hmmm... papa sudah cerita."
__ADS_1
"Tunggu-tunggu, tragedi apa? Kenapa kau ingin membahas tragedi 23 tahun yang lalu pada kami." tanya Diwangga yang jadi ikut penasaran, begitupun Suseno yang juga penasaran mengapa Aglian membahas tragedi 23 tahun yang lalu. Tragedi yang cukup mengguncang keluarga pendiri Angkasa Grup tersebut.
"Om, sepertinya aku telah menemukan kakak kembarku." ucap Aglian lantang namun cukup mengejutkan Suseno yang bahkan sampai tersedak ludahnya sendiri saat mendengar penuturan mengejutkan Aglian tersebut.
"Hah! Kau serius? Dimana dia? Bagaimana keadaannya? Apa dia sudah tau? Apa mama dan papa mu sudah tau?" tanya Suseno memberondong Aglian, membuat Aglian tergelak mendengarnya.
"Satu-satu bisa om nanya nya? Sumpah, Lian bingung mau jawab yang mana dulu." jawab Aglian santai seraya menyesap caramel macchiato miliknya.
"Oke oke, sorry. Om terlalu antusias. Kamu tau sendiri gimana perjuangan om dulu membantu papamu mencari keberadaan Anggi, tapi keberadaannya seakan ditelan bumi. Mamamu sampai depresi karena kehilangannya. Eh tunggu dulu..." Suseno menjeda ucapannya seraya melirik Diwangga, begitu pun Diwangga yang turut menoleh ke arah ayahnya dengan dahi mengkerut dalam.
"Apa maksudmu dia adalah... "
"Anggi." potong Diwangga
Aglian tersenyum lebar seakan memberikan jawaban iya kepada Diwangga dan Suseno.
Suseno tampak berpikir keras." Kau benar, om baru ingat, wajah itu... sama persis, sangat persis , yang membedakan hanya bola matanya saja yang lebih mirip ke papa mu." ucap Suseno yang dibenarkan Aglian
"Jadi maksudmu Anggi adalah saudara kembarmu yang hilang, begitu?" tanya Diwangga dan Aglian mengangguk
"Bukankah kau bisa melihat kemiripan antara kami berdua. Bahkan si kecil Karin pun bisa mengenali kemiripan kami. " ujar Aglian sambil terkekeh. "Oh aku tau, kau tadi terlihat kesal saat Karin mengatakan kalau kami mirip karena kamu mengira akan ada istilah mirip itu jodoh, bukan?" ucap Aglian sambil tergelak sedangkan wajah Diwangga tampak masam.
"Bagaimana kalau dia cuma mirip?" tanya Diwangga
"Aku saudaranya tentu aku bisa merasakan keberadaannya. Aku merasakan ikatan batin kami. Aku sangat-sangat yakin kalau Anggi memang saudara kembarku yang hilang. Tapi untuk membuktikan tentu aku harus memiliki bukti otentik, karena itu aku tengah melakukan test DNA pada Anggi."
"Bagaimana bisa kau melakukannya?" tanya Diwangga makin penasaran
"Bukankah tadi Anggi melakukan test darah." ucap Aglian dengan tersenyum lebar
Mata Diwangga melotot. " Jadi itu semua rencanamu? Kau menyarankannya memeriksa kesehatannya agar bisa sekalian melakukan test DNA, begitu?" tanya Diwangga, sedangkan Aglian hanya tersenyum lebar karena rencananya berjalan lancar.
"Baik, kalau memang Anggi adalah saudara kembarmu, tentu aku tidak bisa melarangnya. Itu malah bagus artinya ia memiliki keluarga yang jelas. Ia takkan lagi mendapat cemoohan sebagai anak yang tak jelas asal-usulnya. Ia pasti sangat bahagia. Tapi bisakah kau menceritakan kronologis hilangnya saudara kembarmu itu?" tanya Diwangga dengan raut wajah sangat serius
__ADS_1