Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.127 (S2) Cafe


__ADS_3

Di sebuah hamparan hijau nan luas, tampak sesosok gadis cantik merentangkan tangannya dengan kepala menengadah menghadap hamparan langit biru. Ia pejamkan matanya seraya menarik nafas panjang, menghirup udara pagi nan sejuk hingga ke paru-paru lalu dihembuskannya perlahan.


Di sini, di tempat ini, adalah tanah kelahiran dari seorang gadis cantik yang tengah patah hati. Ia kembali lagi setelah sekian tahun pergi mencari jati diri, namun bukannya jati diri yang ia temui, tapi hati yang hancur dengan kehormatan diri yang tiada lagi.


Perlahan ia buka mata sendunya. Dulu , mata itu begitu berbinar, walau sempat meredup setelah kepergian kedua orang tuanya untuk selamanya, namun binar itu kembali saat ia bisa secara perlahan meraih mimpinya. Namun kini, binar itu kembali menghilang setelah apa yang dilakukan oleh lelaki yang sangat ia cintai. Lelaki yang dengan begitu kejamnya, merusak harga dirinya hingga tiada bersisa.


'Mengapa kau tega, Ken? Mengapa kau begitu kejam? Kau bilang kau mencintainya, tapi mengapa kau rusak diriku? Mengapa kau hancurkan harga diriku? Mengapa aku yang kau jadikan pelampiasanmu? Apakah tak sedikitpun kau memikirkan bagaimana aku nanti? Bagaimana keadaanku? Bagaimana perasaanku? Di sini aku tersiksa, Ken. Aku mencintaimu, tapi aku juga membencimu.' gumam Jelita lirih dengan air mata berderai. Perlahan, wajahnya kini benar-benar basah karena air mata yang tak mau berhenti mengalir.


"Mbak Lita, dipanggil mama, disuruh anterin kue pesanan bu Rully." panggil Juwita. Juwita adalah anak bibi dari Jelita. Beliau adalah kakak perempuan dari ibu Jelita. Semenjak orang tua Jelita meninggal, mereka sekeluarga menempati rumah orang tua Jelita. Padahal rumah itu harusnya hak Jelita, warisan orang tua Jelita, tapi Jelita di sana justru seperti menumpang.


"Hmm ... sebentar lagi aku kesana." sahut Jelita tanpa membalikkan badannya.


Tak lama kemudian, Jelita pun masuk ke dalam rumah orang tuanya. Bude Jum tampak sedang mengemas kue-kue pesanan pelanggannya.


"Bude panggil Lita?" tanya Jelita. Di kampung, orang-orang memanggil jelita, Lita.


"Kamu ini kemana aja sih, ngeluyur mulu? Nggak ada kerjaan lain. Nih, anterin pesanan Bu Rully. Awas , jangan sampai ada yang rusak!" titah Bude Jum dengan sorot mata menajam ke arah Jelita. Jelita yang sudah paham akan sikap budenya, hanya menuruti saja walau dengan perasaan dongkol karena selama ia di kampung, ia selalu diperintah-perintah seenaknya.


"Huh, padahal ada Wita, tapi aku terus yang disuruh." keluh Jelita seraya memasukkan kue pesanan itu ke dalam sebuah kantong yang besar.


"Kamu nggak suka? Kalau nggak suka, angkat kaki dari sini, gitu aja ribet!" cerca Bude Jum.


"De, rumah ini peninggalan almarhum orang tuaku, jadi rumah ini adalah hakku karena aku adalah anak satu-satunya orang tuaku dan yang menumpang di sini adalah Bude, kok malah aku yang mau diusir? Aku kan bicara fakta, Wita ada tapi bude selalu nyuruh-nyuruh aku seenaknya. " kesal Jelita. Ia sudah banyak beban pikiran dan tak ada tempat mengadu, lalu ditambah tingkah budenya yang semena-mena membuatnya terpancing emosi. "Udah de, Lita anterin ini dulu. Assalamualaikum." potong Jelita, malas berdebat.


Bude Jum hanya memasang wajah masam. Apa yang dikatakan keponakannya itu memang benar, tapi ia tak mau kehilangan rumah ini. Apalagi ia tau penghasilan suaminya takkan mampu membelikannya rumah yang besar . Hal tersebutlah yang memicunya ingin memiliki rumah ini sepenuhnya.


...


Luna, Lia, Tita, Raju, dan Aji kini telah tiba di Angkasa Mall. Sebelum mereka keliling-keliling, mereka mampir dulu ke cabang Anggrek Fashion yang ada di dalam Angkasa Mall tersebut. Mereka mampir sekedar untuk mengecek beberapa hal, kemudian mereka melanjutkan mampir ke sebuah cafe yang ada di lantai 3. Posisi meja mereka yang tepat di balik dinding kaca transparan, membuat mereka dapat menikmati pemandangan kota Jakarta dari sana.

__ADS_1


Tak lama kemudian seorang pelayan datang dengan membawa daftar menu. Mereka pun mulai memesan satu per satu.


"Loe pesan apa,Lun?" tanya Tita.


"Hmm ... apa ya? Maunya yang seger-seger. Jus alpukat aja deh sama spaghetti carbonara. Lagi laper soalnya." ujar Luna sambil nyengir .


"Wah, boleh juga tuh, gue juga mau spaghetti tapi yang bolognese sama minumnya iced blend chocolate." sahut Lia yang langsung dicatat oleh pelayan cafe tersebut.


Lalu dilanjut yang lain ikut memesan. Tak butuh waktu lama, pelayan itu pun kembali membawakan semua pesanan mereka. Namun, baru saja Luna menyuapkan satu suapan spaghetti ke mulutnya, tiba-tiba ada yang menepuk bahunya lalu menarik kursi dari meja lain dan meletakkannya di samping Luna membuat keempat orang lainnya menjengit kaget.


Luna yang sudah hafal aroma dari parfum orang itupun tidak kaget. Ia tetap melanjutkan makannya dengan santai.


'Kirain cuma iseng mau ngerjain taunya datang beneran. Tapi kok Mas Lian bisa tahu gue disini, ya?' batin Luna bermonolog.


"Eh Mas Lian, kok bisa ada di sini?" tanya Lia.


Tita menyikut lengan Lia, "Kan ini mall-nya Mas Lian juga, jadi wajar dong ada di sini." ujar Tita.


"Oh iya, ya! Sorry, Mas! Bawa'an laper, jadi nggak kepikiran ke sana." ujar Lia sambil nyengir.


"Halo Mas, apa kabar?" sapa Raju sambil menyalami tangan Aglian. Di sambung Aji, Lia, dan Tita. Sedangkan Luna hanya menoleh sambil menyengir.


"Hmm ... baik. Kalian baru sampai?" tanya Aglian seraya melirik Luna yang tampak masih asik menikmati spaghetti miliknya.


"Belum terlalu lama, tadi mampir dulu kak Anggrek fashion terus lanjut ke sini." sahut Raju. Raju memang sudah terbiasa bercengkrama dengan Aglian karena itulah iia yang terus menimpali pembicaraan Aglian.


"Ck, makan kok celemotan gini sih, Lun!" ujar Aglian seraya mengambil sapu tangan dalam saku jasnya lalu menyapukannya di bibir Luna yang terdapat saos dari spaghetti yang dimakannya. Aksi Aglian tersebut tak lepas dari sorot mata keempat orang di hadapannya. Sedangkan Luna tampak santai sambil tersenyum malu.


Luna yang baru selesai makan, hendak meminum jus alpukatnya, tetapi baru saja tangannya bergerak untuk menggapai jus alpukat miliknya itu, jus tersebut sudah berpindah tangan ke Aglian terlebih dahulu. Lalu dengan santainya Aglian menyesap jus alpukat itu.

__ADS_1


"Mas, itu jus Luna, kok diminum sih! Pesan sendiri kenapa? Luna kan mau minum." omel Luna kesal .


"Ini kan masih sisa setengah gelas Lun, tinggal diminum aja, apa susahnya sih!" ujar Aglian sambil mencubit pipi Luna.


"Whoaaa, kalian kok bisa Deket banget? Jangan-jangan ..." ujar Lia dengan mata mengerjap beberapa kali.


"Jangan-jangan apa?" ujar Luna sambil mendelik tajam.


"Nggak usah digalak-galakin tuh muka. Jelek tau." ejek Aglian membuat keempat orang itu makin terperangah melihat sisi lain Aglian. Mereka mulai menerka-nerka apa hubungan antara kedua orang tersebut.


"Kalian habis ini mau kemana?" tanya Aglian memecahkan keheningan. Ia tau, pasti keempat orang itu tengah canggung dengan kehadirannya.


"Kami mau lanjut nonton, Mas. Mas mau ikutan?" tanya Raju.


"Hmm ... kayaknya asik, ayo!" Aglian berdiri seraya memanggil pelayan untuk memberikan kartu debit nya untuk melakukan pembayaran. Keempat orang itu berusaha menolaknya. Namun, Aglian tak menerima penolakan sehingga mereka pun terpaksa menerima saja kalau apa yang mereka makan tadi dibayari oleh Aglian.


"Mas serius mau ikutan nonton?" tanya Luna sambil berjalan bersisian dengan Luna.


"Hmm ... emang kenapa? Nggak boleh?" bisik Aglian membuat Luna merinding karena nafas Aglian menelisik telinganya.


"Bukannya nggak boleh cuma Mas yakin mau nonton pakai pakaian kayak gini?" ucap Luna sambil memperhatikan Aglian dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Emang kenapa pakaian Mas?" Aglian memperhatikan pakaiannya, setelan jas berwarna abu-abu, dengan celana dasar senada, dan kemeja putih sebagai dalaman.


"Mas buat kami kayak jalan sama om-om tau!" ujar Luna mendelik.


"Bukannya ini buat penampilan Mas semakin oke?" Aglian tersenyum usil ke arah Luna.


"Udah ah, terserah Mas Lian aja, Luna mau gabung sama Tita dan Lia aja." ujar Luna kesal. Baru saja ia hendak berlari mendekati Lia dan Tita , Aglian sudah lebih dahulu menghentikan langkahnya dengan menarik lengan Luna.

__ADS_1


"Apaan sih, Mas?" hujan Luna sambil mengerucutkan bibirnya.


"Temenin Mas beli pakaian ganti dulu, baru kita nyusul. Ayo!" ajak Aglian seraya menarik lengan Luna menuju salah satu toko pakaian terkenal. Lalu Aglian beralih menggenggam erat jemari Luna membuatnya terkejut setengah mati. Dipandanginya genggaman tangan itu, mereka sudah tampak seperti pasangan kekasih. Luna pun tersenyum simpul mengingat kedekatannya dengan Aglian akhir-akhir ini.


__ADS_2