Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.50 Kedatangan Adam part III


__ADS_3

"Nggi, mari kita kembali bersama! Mari kita menikah lagi." ucap Adam lantang membuat Anggi dan Diwangga tercengang


Sejujurnya Diwangga saat ini sangat tegang dan was-was, apalagi yang ada dihadapan Anggi kini adalah mantan suaminya. Ia belum tau apakah Anggi masih mencintai Adam atau tidak. Bahkan ia juga belum tau, Anggi juga mencintainya atau tidak seperti ia mencintai Anggi.


Pun Adam, ia pun sama was-wasnya. Ia sama tegangnya dengan Diwangga. Ia tak tau apa respon Anggi atas ajakan rujuk darinya.


Mendengar ajakan kembali bersama alias rujuk dari mulut berbisa mantan suaminya, sungguh membuat Anggi jengah. Ingin rasanya ia mengumpat, tapi keinginan itu ia tahan.'Ingat dosa Nggi, nggak boleh ngomong yang aneh-aneh.' batinnya bermonolog.


Anggi hanya bisa terkekeh mendengar keinginan Adam itu. "Mas ,kamu sakit? Amnesia? Atau salah makan obat? Kok ngomongnya ngelantur sih!" kekeh Anggi


"Aku nggak ngelantur Nggi, aku serius. Aku mau kita balik kayak dulu." ucap Adam serius


"Apa? Balik kayak dulu? Dicaci maki, direndahkan, dihina, diabaikan, disakiti, dan dikhianati, gitu?" tanya Anggi dengan sorot mata tajam


"Bukan Nggi, aku janji itu nggak akan terjadi lagi."


"Memang ada jaminan?"


"Aku jamin dan aku berani bersumpah asal kamu mau balik sama aku."


"Kau pikir aku mau kembali masuk ke lubang yang sama ,mas? Setahu aku mas ya, yang namanya tukang selingkuh itu biasanya pasti akan balik lagi selingkuh."


"Aku janji ,Nggi aku nggak bakalan selingkuh lagi."


"Memang istrimu yang cantik itu mau dikemanain? Emang dia mau dimadu?" pancing Anggi


"Aku akan segera menceraikannya." ujar Adam penuh percaya diri


"Yakin dia mau?" cibir Anggi


"Dia harus mau." tegas Adam


Anggi mendesah kasar dan menggelengkan kepalanya tak habis pikir atas pola pikir mantan suaminya itu, lalu sorot matanya berubah menajam. "Maaf mas, aku bukanlah Anggi yang dulu yang hatinya mudah kau gapai lalu kau hempaskan. Aku bukanlah Anggi yang dulu yang begitu mudahnya luluh akan cintamu. Dan aku bukanlah Anggi yang dulu yang begitu mengagungkan cintanya padamu padahal hidupnya begitu tersiksa hampir setiap hari. Dan aku takkan masuk ke dalam lubang yang sama. Lagi pula..." ucapan Anggi terjeda, lalu tatapan matanya beralih ke Diwangga. Begitu pun sorot matanya, berubah seketika menjadi teduh, hangat, dan penuh cinta, membuat Adam menggeram menahan emosi.


"Lagi pula apa? timpal Adam


"Lagi pula aku tak lama lagi akan menikah dengan mas Angga. Lelaki yang begitu mencintai dan menyayangiku dan anak-anak." ujar Anggi sambil tersenyum manis ke arah Diwangga. Diwangga pun yang mendengar setiap untaian kata yang keluar dari mulut Anggi merasa menghangat. Walau kata cinta itu belum pernah terucap dari bibir Anggi, tapi ia yakin perlahan tapi pasti Anggi akan mencintainya nanti.

__ADS_1


"Apa kau mencintainya?" selidik Adam


"Mengapa kau begitu kepo urusan orang, bung? Isi hati Anggi itu urusannya, bukan urusanmu. Ingat kataku siang tadi, kau itu hanya MANTAN jadi jangan sok bersikap posesif pada calon istriku." cibir Diwangga


"Kepo? Aku tidak kepo. Mengapa? Kau takut mengetahui kenyataan kalau Anggi tak mencintaimu?" kekeh Adam penuh percaya diri. "Nggi, aku yakin kau pasti tak mencintainya, bukan? Aku yakin, kau masih mencintaiku. Pasti takkan mudah menghapus diriku yang selama 8 tahun membersamaimu dari hatimu itu. Mari kita menikah lagi Nggi dan membesarkan anak kita bersama-sama." Adam masih bersikeras ingin mengajak Anggi kembali bersama


"Dengarkan aku baik-baik mas Adam, mau sampai dunia ini kiamat pun, aku takkan pernah kembali padamu. Cukup beberapa tahun yang lalu saja aku menderita dalam naunganmu dan itu takkan terulang lagi. Mau kau bersumpah, berjanji ribuan atau bahkan jutaan kali pun takkan merubah pendirianku. " tegas Anggi


"Nggi pikirkan anak-anak, mereka butuh aku ,sosok ayah kandungnya."


"Apa kau yakin anak-anak itu membutuhkanmu? Bertemu denganmu saja mereka enggan, apalagi membayangkan kalian hidup bersama kembali ." desis Diwangga


"Kau..." Adam menggeram menahan amarahnya. Ia tak mau Anggi makin jauh dari jangkauannya bila ia kembali menunjukkan sifat temperamentalnya.


Adam mencoba menenangkan dirinya kembali. "Nggi, pikirkanlah kembali. Kembalilah padaku. Setidaknya demi anak-anak kita." ucapnya lalu ia pergi meninggalkan kediaman Anggi.


Anggi menatap kepergian Adam dengan jengah. "Sungguh keras kepala. Apa dia pikir apa yang dia lakukan selama ini dapat dengan mudah aku lupakan. Meminta maaf pun tidak pernah. Jangan harap aku mau kembali padamu." gumam Anggi dalam hati


"Nggi " panggil Diwangga


"Aku harap kau tak luluh dengan permintaannya." ucap Diwangga lirih


"Aku hanya takut ,Nggi. Apalagi kau belum mencintaiku." ucap Diwangga tak kalah lirih


"Kata siapa aku tak mencintaimu?" ucap Anggi dengan senyum penuh arti


Seketika mata Diwangga membola saat mendengar pertanyaan tapi sekaligus berisi jawaban tersirat itu. "Apa tadi yang kau bilang Nggi? Bisa kau ucapkan sekali lagi?" pinta Diwangga dengan mata berbinar


"Nggak ada siaran ulang. Mas pulang gih, aku mau mandi. Aku capek, mau istirahat. Badanku juga udah lengket semua." ucap Anggi mencoba mengalihkan permintaan Diwangga


"Ayolah, Nggi. Katakan sekali lagi. Jangan buat aku nggak bisa tidur malam ini ." rengek Diwangga membuat Anggi terkekeh melihat tingkah calon suaminya yang menggemaskan


"Sorry... nggak ada siaran ulang. Pulang sana gih! Nanti aja kalau mau mendengar versi lengkapnya." ucap Anggi sambil mendorong tubuh kekar Diwangga menuju pintu keluar


"Kapan?" tanya Diwangga


"Kalau aku udah sah jadi istri kamu." bisik Anggi membuat jantung Diwangga kian berdebar tak sabar menantikan hari itu.

__ADS_1


"Baiklah, aku tunggu. Kami janji?" Diwangga menyodorkan jari kelingkingnya ke arah Anggi


"Cih, kekanakan banget sih!" cibir Anggi tapi ia tetap menyambut jari kelingking itu dengan menautkan jari kelingkingnya


"Love you, Nggi. Love you so much." pekik Diwangga saat ia sudah mencapai pintu mobilnya


Anggi melotot mendengar pernyataan cinta yang diteriakkan Diwangga. "Ish bikin malu aja sih ,mas. Pergi sana." desis Anggi


"Bye sayang, assalamualaikum." ucapnya sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil


"Wa'alaikum salam." jawab Anggi


"Cie cie... ternyata Om Angga lucu juga ya mbak, love you Nggi. Love you so much." ledek Luna sambil terkekeh


"Ish ini juga ya, nggak usah ikut-ikutan nyebelin deh." delik Anggi sambil tersenyum simpul


"Hehehehe...mbak Anggi makin cantik deh kalau mukanya memerah kayak gitu. Lain bener yang lagi fallin in love, kayak ada bunga-bunga yang lagi bermekaran di hati." timpal Lia yang langsung ngacir saat Anggi hendak melayangkan protesnya.


Anggi pun segera berlalu untuk membersihkan diri lalu setelahnya ia memeriksa keadaan anak-anaknya. Ia memasuki kamar Damar menggunakan kunci cadangan.


"Mama." pekik ketiga anaknya


"Makan yuk, dah malam. Kalian pasti lapar." ajak Anggi. Ia tidak membahas tentang kedatangan Adam yang hanya akan membuat anaknya tertekan.


"Tapi ma." Damar bersuara


"Ada apa?"


"Apa papa masih di luar?"


Anggi tersenyum. Ia sadar, anaknya sepertinya sedikit trauma akan sikap Adam di masa lalu. Tapi selama itu tidak membahayakan, ia akan bersikap biasa saja yang penting mereka tetap dalam pengawasannya.


"Udah pulang. Tapi lain kali jangan gitu ya, biar gimana pun papa itu ayah kalian jadi kalian harus tetap menghormatinya. oke...!"


"Iya ma, oke. " Sahut mereka pelan.


"Udah yok, kita makan sekarang. Mama udah lapar."

__ADS_1


"Ayooo,ma " ucap si kembar girang


__ADS_2