Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.139 (S2) Jelita & Azam


__ADS_3

Mentari pagi kini mulai menampakkan sinarnya. Namun, tampak seorang wanita cantik masih asik terbuai dalam alam mimpi. Di sampingnya, duduk seorang lelaki dengan perawakan gagah, berwajah tampan, dan berwibawa, dengan setia menunggui wanita itu yang belum juga sadarkan diri semenjak hampir ia tabrak dini hari tadi.


Flashback on


Beberapa Minggu ini Azam mendapat tugas dari satuannya untuk menyelidiki seseorang yang diduga sebagai pelaku pembunuh berencana yang telah lama buron. Orang itu bersembunyi di Jakarta Barat . Berkat kegigihannya, ia dan beberapa bawahannya pun berhasil menangkap buronan itu. Hari telah larut saat ia menyelesaikan semua tugasnya. Karena sudah sangat merindukan sang ibu, tak mau menunda waktu, selepas menyelesaikan tugasnya, ia segera melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah. Namun, baru setengah perjalanan, ponselnya berdering bahkan hingga berkali-kali, membuatnya mengerutkan kening, bertanya-tanya siapa yang menghubunginya selarut ini.


Azam pun segera menepikan mobilnya untuk mengangkat panggilan itu. Azam terkejut, ternyata panggilan itu berasal dari sang mama. Ia sontak khawatir terjadi sesuatu pada sang mama karena tidak biasanya mamanya menghubungi di waktu selarut ini. Gegas ia mengangkat panggilan itu. Mata Azam seketika membelalak saat mendengar apa yang disampaikan sang mama.


"Assalamualaikum, Ma." sapa Azam


"Wa'alaikum salam." jawab Bu Ratna dengan suara seraknya membuat Azam khawatir. Ia bisa menebak bahwa sang mama tengah menangis saat ini.


"Ada apa, Ma? Kenapa mama menelpon selarut ini? Dan kenapa mama nangis?" tanya Azam bertubi.


"Hiks ... hiks ... hiks ... A ... adik kamu, Zam ... Adik kamu ..." Bu Ratna tergugu hingga sulit mengeluarkan suaranya.


"Iya Ma, Kenta kenapa? Di nggak kenapa-kenapa, kan!" tanya Azam pelan, berusaha untuk tenang walau dalam hatinya khawatir.


"Dia ditangkap polisi, Zam. Adik kamu ditangkap polisi." ujar Bu Ratna parau membuat mata Azam membola karena terkejut.


"Kenapa? Apa yang dilakukan Kenta, Ma?"


"Dia ... dia mencoba memperkosa teman perempuannya sendiri. Mama belum tau bagaimana kronologisnya, karena itu tolong kamu segera melihatnya ya, nak." ujar Bu Ratna.


Azam menghela nafas berat. Ia tak habis pikir dengan apa yang dilakukan adiknya itu. Memperkosa temannya sendiri? Apa dia gila? Pikir Azam. Bagaimana bisa ia ingin memperkosa temannya sendiri?


Azam mengusap wajahnya kasar. Ia petugas penegak hukum, tapi adiknya justru seorang pelanggar hukum. Gila, sungguh gila. Karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, ia sampai hampir lupa bahwa telepon ibunya masih terhubung.


"Zam ..." panggil Bu Ratna membuat Azam tersentak.


"Eh, i-iya, Ma. " jawabnya gagu.


"Kamu bisa kan melihat kondisi adikmu? Mama khawatir dia ..."


"Baik, Ma. Azam segera kesana. Mama jangan khawatir." potong Azam.

__ADS_1


Setelah sambungan telepon ditutup, Azam segera melajukan mobilnya menembus pekat dan dinginnya malam untuk segera melihat adiknya.


Namun, baru 30 menit mobil dilajukan kembali, dari jauh ia melihat seorang perempuan yang hendak menyeberang, mendadak berhenti di tengah jalan dengan tangan memegangi perut. Gegas ia menarik tuas rem agar mobil segera berhenti. Beruntung, mobilnya tepat berhenti di depan perempuan itu. Namun, tepat saat mobil berhenti, perempuan itu langsung ambruk jatuh terkulai di tengah jalan membuat Azam panik.


Gegas ia keluar dari dalam mobil untuk memeriksa tubuh perempuan itu, tapi tidak ada luka apapun di tubuhnya. Khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan, Azam langsung memasukkan perempuan itu ke dalam mobil untuk membawanya ke rumah sakit. Dan kini, disinilah Azam berada, di sebuah rumah sakit yang terletak di Jakarta Barat.


Azam terpaksa menunda untuk menemui Kentaro di kantor polisi karena ia tidak bisa meninggalkan perempuan itu di rumah sakit seorang diri. Ia hendak menanyakan dimana keluarga atau suaminya agar ada yang menemaninya di rumah sakit. Ia mengira perempuan itu sudah bersuami sebab menurut dokter, perempuan itu tengah hamil. Ia pingsan sebab kelelahan yang berakibat turunnya tekanan darah dan terjadi kram di bagian perutnya.


Namun, hingga jarum jam menunjukkan pukul 7 pagi, perempuan itu tak kunjung sadarkan diri. Akhirnya ia menghubungi ibunya dan menceritakan alasan ia belum ke kantor polisi.


Tak lama kemudian, Azam melihat pergerakan pada kelopak mata perempuan itu. Azam segera menekan tombol bantuan untuk memanggil dokter. Tak butuh waktu lama, seorang dokter perempuan bersama seorang perawat datang untuk memeriksa keadaan perempuan itu hingga tak lama perempuan itu benar-benar telah sadarkan diri.


"Eargh ..." perempuan itu tampak melenguh sembari membuka matanya perlahan. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali mencoba mengenali tempat ia berada saat ini.


Lalu arah pandangan perempuan itu beralih ke seorang dokter dan perawat yang berdiri di sampingnya. Tak jauh dari tempatnya, berdiri seorang laki-laki tampan dengan kedua tangan berada di dalam saku celananya.


"Hai." sapa sang dokter. "Bagaimana keadaanmu saat ini? Apakah ada yang sakit?" tanyanya.


Perempuan itu tampak menggeleng, namun sedetik kemudian mengangguk membuat sang dokter tertawa geli. Ia tahu, pasiennya ini sedang bingung .


Perempuan itu mengangguk tanda paham.


"Kamu hanya kelelahan. Jangan khawatir! Bila cairan infus ini sudah habis, kamu bisa segera pulang." ujar dokter itu. "Kalau tidak ada keluhan atau yang mau ditanyakan, saya permisi." sambung dokter itu dan perempuan itu kembali mengangguk.


Setelah dokter itu keluar, Azam segera mendekati perempuan itu untuk menanyai identitasnya. Walau ia sempat melihat dari kartu pengenal yang ada di dompet perempuan itu , namun ia ingin mengetahui lebih benyak termasuk keluarganya agar ia bisa meninggalkannya dengan tenang.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Azam basa basi.


Perempuan itu menatap wajah Azam yang tampak familiar, tapi ia tidak ingat siapa.


"Ba ... baik, pak." jawab perempuan itu gugup sebab ia tahu Azam adalah seorang polisi saat dokter tadi bicara.


"Maafkan saya karena saya hampir menabrak mu semalam." ucap Azam. "Oh ya, saya Azam." sambung Azam sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Sa ... saya Jelita, pak. Bapak tidak perlu meminta maaf, itu memang kesalahan saya. " sahut Jelita sembari tersenyum yang juga dibalas senyum tipis oleh Azam.

__ADS_1


Deg ...


'Kenapa aku jadi ingat wajah Kenta, ya!' batin Jelita saat melihat senyum Azam.


"Oh ya, ada keluarga yang mau kamu hubungi? " tanya Azam karena ia ingin segera pergi ke kantor polisi untuk melihat keadaan adiknya.


Jelita menggeleng pelan sambil tersenyum miris.


"Kalau bapak mau pergi, silahkan. Saya nggak papa kok disini. Saya bisa pulang sendiri." ujar Jelita seraya menolak halus membuat Azam mengerutkan keningnya.


"Kalau begitu, saya minta alamat kamu saja, nanti setelah urusan saya selesai, saya akan mengunjungimu." tukas Azam.


Jelita tertunduk lesu saat dimintai alamat, tempat tujuan saja ia belum punya, bagaimana ia bisa memberikan alamat.


"Tidak perlu pak, terima kasih atas perhatiannya." ucapnya seraya tersenyum tipis.


Azam mengamati senyum Jelita. Tampak kegetiran di sana. Azam yang sudah sering menghadapi berbagai macam jenis orang apalagi saat menginterogasi tahanan tentu paham arti senyum itu.


"Apa kau belum memiliki tempat tinggal di sini?" tanya Azam seraya memicingkan matanya.


Jelita membelalak kaget. Bagaimana ia bisa tahu, pikir Jelita.


"Tak perlu malu, katakan saja yang sejujurnya."


"E ...i ... iya, saya baru pertama kali datang ke sini." lirih Jelita.


"Keluarga?" lanjut Azam dan Jelita menggeleng.


"Baiklah, setelah cairan infus ini habis, kamu bisa ikut dengan saya ." ujar Azam santai.


"Hah?" Mata Jelita seketika membola. 'Ikut degannya! Kemana?'


"Kamu bisa menempati apartemen saya di Jakarta Pusat. Saya juga jarang menempatinya." ujar Azam santai.


"Ah, tidak perlu, pak. Saya mau di sini saja . Saya tidak mau ke sana. Saya akan mencari tempat tinggal di sini." ujar Jelita yakin sambil mengibas-ngibaskan tangannya karena ia tak mau kembali ke sana. Ia khawatir bertemu kembali dengan Kentaro.

__ADS_1


"Kalau ada yang kamu takuti atau takut kamu temui di sana, tenang saja. Tempat saya aman. " tandas Azam lagi sengaja membuat Jelita tidak bisa berkutik.


__ADS_2