
"Hei kamu janda gatel." ujar seorang wanita dan Anggi masih mengingat wajah orang yang menghinanya itu
"Maaf, Anda bicara dengan siapa ya?" Anggi pura-pura melirik ke kanan dan ke kiri. Ia tahu umpatan itu untuk dirinya tapi bukan berarti ia harus langsung terpancing bukan. Yang ada malah mengukuhkan ia seperti umpatan yang dilontarkan wanita itu.
"Nggak usah pura-pura bodoh. Sudah jelas yang aku bilangin itu, loe janda gatel." cemooh wanita itu.
Sontak Anggi berdiri dari tempat duduknya. Tangannya dibawa bersedekap di dada. Ia takkan menunjukkan wajah lemah, yang ada ia akan makin direndahkan. Ia harus menjadi wanita kuat. Pantang diintimidasi apalagi direndahkan. Dengan sorot mata tajam, ia balas menatap tajam wanita itu.
"Saya?" tanya Anggi dengan mata memicing. "Maaf saya emang janda, tapi saya nggak gatal tuh. Mungkin Anda yang gatal karena belum mandi atau Anda kehabisan sabun jadi mandinya nggak bersih." ucap Anggi dengan nada mengejek
"Kurang ajar. Ternyata selain janda gatel, loe juga janda resek bin nyebelin, ya! Janda nggak tau diri dan nggak sadar diri, harusnya nyadar kamu itu janda , jangan mimpi mau dapatin seorang lelaki single . Atau jangan-jangan kamu pakai pelet ya biar bisa dapetin Angga." bentak wanita itu yang ternyata adalah Lea.
__ADS_1
Dia merasa sakit hati dan tidak terima saat tau Diwangga malah memilih wanita seperti Anggi yang notabene adalah seorang janda. Belum lagi dia punya anak 3, Lea pikir Anggi benar-benar tak pantas menjadi pendamping Diwangga.
Tak lama keributan yang dimulai oleh Lea itu pun mengundang banyak mata dan telinga. Bahkan ada dari mereka yang sengaja merekam adegan pertengkaran antara 2 wanita tersebut. Pesta pernikahan yang meriah dan syahdu kini justru dihiasi suasana mencekam akibat teriakan-teriakan yang dilontarkan Lea ke Anggi. Membuat para tamu kasak-kusuk mengamati apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada bukti saya pakai pelet? Kalau nggak ada lebih baik Anda diam karena apa yang Anda katakan itu jatuhnya fitnah. Saya bisa saja melaporkan Anda ke polisi dengan alasan pencemaran nama baik." tegas Anggi.
"Makanya jadi orang tau diri, kamu itu janda , sudah punya anak 3, nggak pantas menjadi pendamping seorang pria single seperti Angga. Pasti kamu mau deketin karena tau Angga kaya ,kan! Aku tau kamu itu dulu janda miskin. Kamu juga yatim piatu, tak punya orang tua ,dan dibesarkan di panti asuhan, jadi nggak akan mungkin mampu bangun sebuah ruko kalau tiada campur tangan Angga." hentak Lea bertubi-tubi.
Wajah Anggi mulai merah padam menahan emosi yang bergejolak di dadanya. Tangannya pun telah mengepal erat hingga bukunya memutih dan meninggalkan bekas bukan sabit akibat kepalannya yang terlalu kuat. Namun ia tetap berusaha menampilkan wajah tenangnya. Ia tak mau kalah oleh emosi. Walaupun ingin sekali rasanya ia memaki dan menjambak wanita yang ada di hadapannya itu, tapi itu hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Ia tak mau dicap janda bar-bar. Apalagi orang-orang yang ada di ballroom itu hampir semuanya mengenal seorang Diwangga, otomatis itu akan mempermalukan calon suaminya tersebut.
'Istighfar Nggi, istighfar, astaghfirullahal adzim, astaghfirullahal adzim.' ucapnya dalam hati mencoba menenangkan batinnya yang bergejolak ingin memuntahkan kemarahannya.
__ADS_1
"Apa hakmu mengatakan Anggi tak pantas untukku? Dan apa yang kau tau tentang keluarga Anggi? Ingat kau bukan siapa-siapa jadi kau tak punya hak menentukan pilihanku termasuk siapa yang aku pilih untuk menjadi pendamping hidupku. Lagi pula, aku yang lebih tau siapa Anggi dan aku bukanlah orang bodoh yang semudah itu dimanfaatkan. Jadi jangan sembarangan kau menilai calon istriku. Tetaplah di posisimu sebagai teman dan jangan melampaui batasanmu karena aku pun bisa bertindak melampaui batas bila kau bertindak semaumu lagi. " seru Diwangga tegas dan penuh penekanan.
Sekeluarnya Diwangga dari toilet, ia bingung saat melihat tempat ia meninggalkan Anggi tadi dikerumuni banyak orang. Hatinya tiba-tiba was-was, ia takut terjadi sesuatu pada calon istrinya tersebut. Gegas ia berlari menerobos kerumunan. Hatinya panas seketika saat melihat apa yang dilakukan Lea pada Anggi. Diwangga mengetatkan rahangnya karena menahan emosi. Bisa-bisanya Lea menghina Anggi di hadapan banyak orang. Bersyukurnya Anggi tetap dapat menghadapi Lea dengan tenang. Tapi tetap Diwangga tak bisa tenang melihat hal itu. Lea memang temannya, tapi ia tidak berhak ikut campur dalam urusan pribadinya, terutama masalah pasangan hidup. Diwangga pun gegas meringsek maju mengambil posisi di samping Anggi untuk memberi pelajaran pada temannya yang mungkin akan menjadi mantan teman sebentar lagi. Kecuali ia meminta maaf pada Anggi dan menyesali perbuatannya.
"Tapi Ngga, apa lebihnya dia dibandingkan aku. Aku lebih segala-galanya dari wanita itu. Bukan hanya dari penampilan fisik, tapi juga pendidikan, dan yang lebih utama dia itu janda. Dia tak pantas untukmu. Sedangkan aku, aku sama seperti dirimu, kita sama-sama single. Aku pun masih perawan. Bukankah kita sangat cocok ? Aku yang lebih pantas jadi pendampingmu, Ngga , dibanding janda itu." ucap Lea lirih.
Ia sudah sekian lama memendam perasaan pada Diwangga tentu ia tidak terima bila Diwangga mendapatkan pasangan yang tak sebanding dengan dirinya. Terlalu tinggi hati dan gemar menilai orang lain rendah. Bukankah seharusnya dirinya lah yang harus tau diri bahwa cinta tak bisa dipaksakan dan Diwangga telah menjatuhkan pilihannya pada Anggi. Sebagai seorang teman, bukankah sudah sepatutnya mendoakan, bukannya mencoba menghancurkan dengan berbagai dalil yang tidak masuk akal.
"Sudah bicaranya?" ucap Diwangga dingin dengan sorot mata menajam bahkan Sakin tajamnya dapat menembus jantung Lea. Lea bergidik ngeri seketika. Bahkan ia sampai kesulitan meneguk salivanya sendiri. Ia tak pernah melihat sosok Diwangga yang seperti ini. Setaunya, walaupun pendiam dan cenderung dingin, tapi Diwangga tak pernah menunjukkan sorot mata tajam dan mengintimidasi seperti ini. Itu benar-benar bukan Diwangga yang ia kenal.
"Ternyata pendidikan tak menjamin seseorang memiliki etika yang baik rupanya." ucap Anggi tiba-tiba sambil memiringkan sedikit kepalanya dengan mendelik tajam. "Kau memang berpendidikan, memiliki keluarga yang lengkap, mungkin, tapi... etikamu itu ck... sangat tidak mencerminkan, ya kau tau lah apa itu. Setidaknya, walaupun pendidikanku tak tinggi, dan aku tak memiliki orang tua, dan hanya dibesarkan di panti asuhan, tapi aku tau cara menghargai seseorang. Dan aku tak suka mempermalukan orang lain di di hadapan orang banyak. Oh ya, satu lagi, jangan suka merendahkan seorang janda. Sebab nasib siapa yang tau, jangan sampai kau ketulah sendiri." ucapnya sebelum membalik badan, mengajak Diwangga pergi dari hadapan gadis itu.
__ADS_1