Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.145 (S2) Jalan-jalan


__ADS_3

Patung Merlion berada di 1 Fullerton Rd, Singapore, tempat wisata Merlion Park yaitu sebuah taman publik yang bisa diakses oleh siapapun. Kita bisa mengakses Merlion Park dari stasiun MRT yang terdekat dari lokasi ini, yaitu Raffles Place. 


Dan disini lah Aglian dan Luna berada, mereka tampak sedang berjalan kaki menyusuri sungai Singapore River menuju ke arah Fullerton Hotel. Dari sini tinggal menyeberang jalan ke arah bangunan bertulisan “One Fullerton”. Nah, Patung Merlion tempat wisata yang ingin sekali Luna lihat berada tepat di samping bangunan itu.


Patung Merlion tempat wisata yang berbentuk ikan duyung dengan kepala singa ini, dianggap sebagai ikon negeri Singapura yang paling terkenal. Oleh karena itu, setibanya di Singapura kemarin, Luna langsung berkeinginan mendatangi patung tersebut dan bersua foto di sana. Apalagi sekarang ia memiliki fotografer pribadi, tentu hal itu akan dimanfaatkannya sebaik mungkin.


Luna dan Aglian sengaja datang ke sana menjelang malam hari sebab saat malam hari, pemandangan dan suasana di sana lebih menarik, dengan disinari cahaya lampu yang gemerlap membuatnya makin menakjubkan.



Luna dan Aglian berjalan menyusuri sungai Singapore River sambil bergandengan tangan. Malam hari ini keduanya tampak bugar, karena siangnya telah mereka habiskan untuk beristirahat setelah semalam mereka berperang di atas ranjang. Aglian belum berani melakukannya lama-lama sebab itu adalah yang pertama bagi Luna, begitu pun dirinya.


Saat melihat wajah Luna yang meringis kesakitan ketika mereka mulai melakukan penyatuan ada rasa tak tega pada diri Aglian, namun tak mungkin juga ia berhenti di tengah jalan. Tanggung, bro!


Oleh karena itu, siang harinya , mereka habiskan hanya untuk beristirahat. Dengan memanfaatkan layanan kamar, mulai dari sarapan hingga makan siang, mereka melakukannya di kamar. Kecuali malam ini, mereka memang sengaja belum makan sebab Aglian berniat mengajak istrinya itu makan di luar. Apalagi selama mereka saling mengenal, Aglian merasa belum pernah mengajak Luna makan di restoran secara romantis.


"Gimana , sayang? Kamu suka?" tanya Aglian seraya merangkul bahu Luna.


"Hmm ... makasih, Mas. Ini bagus banget. Ternyata apa yang Mas Lian tempo hari di Bali beneran, kirain cuma gombalan doang." cengir Luna.


"Mas bukan tipe pria gombal ya! Apa yang Mas ucapkan itu pasti akan Mas wujudkan." ucap Aglian bersungguh-sungguh. "Na, kamu mau nggak berobat ke psikiater!" tanya Aglian.


Sebab saat ia ingat bagaimana Luna mimpi semalam, ia sadar, Luna cukup trauma dengan peristiwa yang dialaminya beberapa hari yang lalu.


Luna cemberut, "Emang Luna gila?" ketus Luna.


Aglian lantas membalik badan Luna agar mereka saling berhadap-hadapan.


"Na, ke psikolog itu bukan hanya karena gila tapi juga bagi orang-orang yang memiliki tekanan batin, frustasi, depresi, masalah pribadi, beban pikiran, termasuk trauma. Nah, kamu itu menurut Mas termasuk trauma. Mas nggak tega kamu sampai kebawa mimpi tentang peristiwa malam itu. Mas pingin kamu bisa hidup tenang. Tidur dengan nyenyak. Nggak mimpi buruk lagi." ujar Aglian bersungguh-sungguh.


"Mas yakin, dengan berobat dengan psikiater, Nana bisa sembuh? Nggak mimpi buruk lagi?"


"Yakin. Yakin banget, kamu mau kan?" tanya Aglian lagi.


Luna pun mengangguk dengan yakin," Kalau itu memang yang terbaik, Nana nggak masalah." jawabnya yakin.

__ADS_1


Lalu setelah puas berjalan-jalan, mereka pun makan di sebuah restoran mewah. Restoran Ce La Vi adalah tujuan mereka. Ce La Vi adalah restoran yang terletak di atap Marina Bay Sands hotel di Singapura. Restoran ini mengusung konsep keindahan Marina Sand Bay, yang letaknya tepat menghadap ke teluk Marina di Singapura. Pada malam hari, tentu restoran ini akan terlihat sangat menakjubkan. Sembari makan, para pengunjung bisa sekalian menikmati keindahan gemerlap lampu kota dan pemandangan di teluk Marina.



"Masya Allah Mas, tempat ini bagus banget! Minta fotoin boleh?" pinta Luna dengan mata berbinar.


Tentu sebagai suami yang pintar menabung, baik hati, dan tidak sombong, Aglian akan memenuhi semua keinginan Luna. Apalagi hanya sebatas minta foto, hal sederhana yang hampir semua wanita sukai.


"Of course. Siniin ponselnya!" pinta Aglian lalu ia pun mulai mengambil gambar istrinya itu dengan berbagai pose. Tak lupa mereka pun berselfie ria untuk mengabadikan momen kebersamaan mereka di Singapura.


"Makasih ya, Mas. Makin cinta deh." ujar Luna.


Aglian yang merasa gemas pun mencubit hidung Luna, "Kamu tuh ya, makin hari makin gemesin. Masih mode bar-bar aja Mas gemes apalagi mode kalem gini, bikin Mas pingin gigit tau."


"Astaghfirullah, emang Mas Lian itu drakula, doyannya kok gigit sih!"


"Iya, emang Mas drakula lebih tepatnya drakula cinta, cintanya ama kamu, jadi doyan gigitnya ya cuma sama kamu."


"Ck ... gombal mode on lagi. hahaha ..."


***


Sesuai janjinya, Azam memperkenalkan Jelita pada ibunya agar ia bisa ikut bekerja dengan sang mama.


"Halo sayang, salam kenal juga. Nama Tante Ratna, kamu bisa panggil Tante Ratna. " sambut Ratna lembut dengan senyuman hangatnya.


"Silahkan duduk, sayang. Azam udah cerita banyak perihal kamu. Kamu tegar sekali, sayang. Tante salut sama kamu. Oh, gimana keadaan kandungan kamu? Udah periksa ke dokter?" cecar Ratna.


"Mm ... pernah sekali saat Lita dibawa ke rumah sakit, Tan." ujar Jelita seraya tersenyum canggung.


"Hmm ... lain kali periksa bareng Tante, ya? Udah lama Tante pingin punya anak perempuan, tapi sayang nggak kesampaian. Pingin punya mantu, tapi anak-anak Tante belum ada yang dapat jodoh. Tante senang pas Azam cerita tentang kamu. Kamu jangan sungkan ya sama Tante, anggap aja Tante seperti ibu kamu sendiri." ujar Ratna.


"Makasih banyak, Tan. Padahal kita baru ketemu, tapi Tante udah baik banget sama Lita. Sama Mas Azam juga, Lita ngerasa berhutang Budi. Oh ya, tadi Tante sebut anak-anak, Tante punya anak lain selain Mas Azam ya?"


"Karena kamu kelihatan anak baik jadi kami mudah disukai. Iya, Tante punya anak cowok satu lagi, kayaknya seumuran kamu deh, cuma sekarang ada di luar kota." dusta Ratna. Tak mungkin ia menyebutkan putranya ada di penjara karena kasus percobaan pemerkosaan.

__ADS_1


"Oh gitu ya, Tan." sahut Jelita. "Lita udah bisa mulai kerja hari ini, Tan?" tanya Jelita.


"Hmm ... boleh kalau kamu udah siap. Kamu bisa belajar merangkai bunga sama mbak Weni." ujar Ratna. "Wen, ini Jelita, ia mulai kerja hari ini, tolong ajarin dia gimana caranya merangkai bunga ya!"


"Baik Bu " ujar Weni. "Sini Jelita, duduk di sini. Nanti mbak ajarin kamu gimana merangkai bunga-bunga ini." ujar Weni pada Jelita.


"Panggil Lita aja, mbak. Biar lebih akrab."


"Oh, oke Lita. " ujar Weni seraya tersenyum.


Di ruang kerja Ratna,


"Gimana Zam, kamu udah dapat kontak gadis itu? Kenta pingin banget ngomong sama dia dan minta maaf. Mama nggak tega liatnya melas gitu."


"Nanti ya ma, nanti aku belum ke kantor lagi soalnya. Nanti aku coba tanya Erika nomor tuan Aglian aja. Kan tempo hari dia bantu keluarga Angkasa selamatkan Anggi dari percobaan penculikan. Nah, gadis itu kata Kenta dekat sama tuan Aglian itu. Dia CEO Angkasa Grup, saudara kembar Anggi." jelas Azam.


"Apa? Kasus percobaan penculikan? Mama baru tau. Mama taunya dia putri pemilik perusahaan Angkasa yang lama hilang aja. Nggak tau masalah itu. Tapi Anggi-nya nggak apa-apa kan?"


"Yang mau nyuliknya itu ternyata dalang hilangnya Anggi dulu, Ma. Ternyata dia masih dendam. Putrinya juga bantuin. Tapi mereka akhirnya gagal sebab kembaran Anggi udah ngebaca rencana mereka."


"Alhamdulillah, baguslah kalau gitu. Mama nggak bisa bayangin kalau terjadi hal buruk sama dia. Soalnya anaknya masih kecil-kecil. Belum lagi, ia baru aja nikah, masa' udah harus menderita lagi." sahut Ratna. "Oh ya, jangan lupa tanyain teman kamu tadi, siapa namanya? Oh ya, Erika. Kalau perlu mama yang ngomong sama saudara Anggi itu." tukas Ratna.


"Baik, ma. Azam pergi dulu, ya! Nanti sekalian Azam lihat Kenta, takutnya dia masih mual muntah kayak kemarin. Assalamualaikum, Ma." pamit Azam seraya mencium punggung tangan ibunya.


"Wa'alaikum salam. Hati-hati di jalan, nak." ucap Ratna yang diangguki oleh Azam.


"Lita, Mas pergi dulu, ya! Nanti kamu pulang diantar sopir mama. Mas udah bilang tadi sama mama." pamit Azam.


"Eh, nggak usah, Mas. Nanti ngerepotin. Lita bisa pulang naik ojek online." tukas Jelita.


"Jangan, kamu lagi hamil, bahaya. Nurut, okay!" pungkas Azam tak mau ditolak.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2