
"Mama.." rengek Karin
"Apa ,sayang." sahut Anggi yang sedang sibuk menyiapkan sarapan mereka
"Ma, kok om papa nggak kesini-sini ya!" tanya Karin sendu sebab sudah berapa hari Diwangga tidak datang ke rumah mereka. Mereka hanya saling menyapa melalui sambungan telepon tentu hal tersebut membuat Karin sangat merindukan om papanya. Anak-anak Anggi memang sangat dekat dan manja dengan Diwangga terutama Karin.
"Om Angga mungkin lagi sibuk, sayang jadi belum bisa kemari." ucap Anggi mencoba memberi pengertian pada putrinya
"Tapi Ayin kangen om papa, ma. hiks... hiks... " Karin terisak
"Epin juga ma , Epin juga kangen om papa." tiba-tiba Kevin meringsut memeluk kaki Anggi sambil terisak. "Kenapa om papa nggak kesini ,ma? Apa om papa malah cama kami?" tanya Kevin
"Duh, sayangnya mama beneran kangen banget ya sama om Angga?" tanya Anggi sambil memeluk kedua buah hatinya
"Om papa ma, bukan Om Angga, tapi om papa Angga." ketus Karin
"Iya.. iya.. , kalian beneran kangen ya sama om papa Angga?" dan si kembar pun kompak mengangguk-anggukan kepala
"Hmm... gimana kalau kita ke kantor om papa sambil bawa kue?" Anggi memberi ide
"Setuju ma, setuju. "
"Oke kalau begitu kita nanti pergi setelah jemput Abang Damar, mau nggak? Tapi sebelumnya bantu mama buat kue dulu."
"Oke ma. Asiikkk... Kita bisa ketemu om papa." seru Karin dan Kevin
.
__ADS_1
.
.
Tok tok tok...
"Hai, Ngga, boleh aku masuk?" tanya seorang wanita cantik, kepalanya menyembul dari balik pintu, hanya menampilkan wajahnya saja
"Lea." gumam Diwangga. "Silahkan masuk." Diwangga mempersilakan gadis yang bernama Lea itu masuk
"Hai Ngga ,apa kabar?" ucap Lea sembari meringsek tubuhnya ke dekat Diwangga,mencoba mencium pipinya, tapi sebelum hal itu terjadi, Diwangga segera menarik dirinya ke posisi lain.
"No skinship. Cukup salaman aja, oke!" ucap Diwangga datar.
"Ish cuma cipika cipiki aja nggak boleh. Zaman sekarang, hal kayak gitu udah biasa kali, Ngga, jangan terlalu kolot ah!" ujar Lea sambil tersenyum kecut
"Nanyain kabar dulu kek, nggak ada basa basi sama sekali kamu ini ,Ngga. Nggak ada perubahan dari zaman SMA. Aku nanyain kabar kamu tadi aja, malah nggak dijawab."omel Lea dengan wajah masam
Huft..
Diwangga mendesah kasar. Bukan maksud hatinya bersikap datar, tapi ia tak mau membuat orang-orang salah sangka akan kebaikannya. Awalnya dulu ia tidak dingin dan kaku seperti ini. Ia sama seperti orang lain yang senang bergaul, tapi ternyata banyak temannya khususnya para gadis yang menyalahartikan kebaikannya. Akhirnya para gadis itu saling bertengkar, saling bermusuhan, saling membenci, dan selalu sok kenal sok dekat alias SKSD , membuatnya risih.
Lambat laun sikap Diwangga jadi kaku dan dingin. Ia enggan terlalu baik pada orang lain khususnya pada lawan jenis. Termasuk dengan Lea, tapi sepertinya gadis itu memiliki tingkat kekeraskepalaan di atas rata-rata. Dari zaman SMA, kuliah, hingga sekarang ia selalu bersikap seenaknya. Sok kenal sok dekat, padahal ia sudah bersikap acuh. Kata teman-temannya ia memiliki perasaan pada Diwangga, tapi mau bagaimana lagi, Diwangga tak memiliki perasaan sedikit pun padanya. Ia tak bisa membalas perasaan gadis itu. Akhirnya ia pun makin menjaga jarak, tapi tetap saja Lea seperti tak ada bosannya mendekati Diwangga.
"Ehem..." Diwangga berdeham untuk menetralkan kekesalannya. "Kamu apa kabar?" ia terpaksa mengeluarkan kalimat basa-basi itu.
"Nah, gitu donk! Kabarku baik. Hmm.. padahal baru 2 bulan ya kita nggak ketemu, tapi kamu makin tampan aja, Ngga." ujar Lea seraya tersenyum manis
__ADS_1
Diwangga sebenarnya jengah menghadapi sikap seenaknya Lea , ingin mengusir tapi tak bisa karena ia bukanlah orang tak beretika.
"Oh ya Ngga, nih, " Lea tampak mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan ia letakkan di depan Diwangga. Diwangga mengernyitkan alisnya, "Undangan?" Lea pun mengangguk,mengiyakan. "Itu undangan nikahan Rafad dan Sunny. Mereka nggak sempat kasiin undangan ini secara langsung, jadi mereka titipin ke aku. Kamu mau kan datang bareng aku ." ucap Lea
"Insya Allah aku datang tapi maaf, aku nggak bisa datang sama kamu." ucap Diwangga telak. Membuat dada Lea bergemuruh. Untuk kesekian kalinya kehadirannya ditolak.
"Ngga, kapan sih kamu anggap keberadaanku? Kamu tau, aku selalu menunggumu, mencintaimu sejak dulu, tapi kenapa kamu selalu nolak aku? Apa kurangnya aku di matamu?" ucap Lea penuh penekanan dengan tangan mengepal di atas pahanya. Tidak mudah bagi Lea untuk mengendalikan amarahnya. Lea adalah sosok emosional, tapi ia mencoba sekuat tenaga mengendalikan emosinya demi mendapatkan hati seorang Diwangga Yudhistira, tapi usahanya selalu tak pernah dianggap sama sekali.
Lea meringsek, memindahkan bokongnya ke sebelah Diwangga. Dicengkeramnya kedua lengan Diwangga, ia ingin menyalurkan amarahnya. Tapi baru mulutnya ingin terbuka untuk mengeluarkan seluruh emosinya yang sesak memenuhi dada, terdengar suara salam dari luar ruangan. Suara yang sangat dikenali Diwangga. Suara dari seseorang yang selalu menghiasi harinya sejak lama. Suara seseorang yang meneduhkan hatinya. Suara seseorang yang telah merajai seluruh hati dan pikirannya. Suara seseorang yang beberapa hari ini dirindukannya. Baru mendengar suaranya saja hati Diwangga langsung menghangat. Bahkan tanpa sadar senyum yang sedari tadi tak pernah terlihat, mulai menghiasi wajahnya.
"Assalamualaikum."
"Anggi." gumam Diwangga
Namun, belum sempat Diwangga melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Lea, Anggi sudah lebih dulu membuka pintu ruang kerja Diwangga.
Sontak mata Anggi membola, ia jadi tak enak hati melihat posisi Diwangga saat itu.
Ia salah paham.
"Oh maaf, kirain nggak ada orang. Ayo anak-anak, kita pulang saja. Om nya sibuk." ucap Anggi pada ketiga buah hatinya, Damar, Karin, dan Kevin. Anggi langsung membalik badannya membelakangi Diwangga. Ia hendak menuntun anak-anaknya agar keluar dari ruangan itu.
Diwangga sontak terkejut melihat rekasi Anggi dan anak-anaknya. Dapat ia lihat raut kekecewaan di wajah Anggi. Bukan hanya Anggi, tapi ketiga buah hatinya yang telah membuatnya benar-benar jatuh cinta.
Ya, dia bukan hanya jatuh cinta pada Anggi, tapi juga ketiga buah hatinya.
Takut Anggi salah paham dan pergi dengan kekecewaan yang dapat mengakibatkan kegagalannya mendapatkan hati sang janda cantik, ia lepaskan cengkraman tangan Lea dengan sekali sentak. Ia lantas berdiri dan segera berlari mendekati Anggi dan anak-anaknya yang sudah mulai melangkahkan kakinya menuju luar ruangan.
__ADS_1
"Nggi, tunggu! Jangan pergi, please!" ucap Diwangga sambil memegang erat lengan Anggi.