
Setelah makan siang, Robi pun kembali ke kantor. Berkutat dengan berkas-berkas yang bertumpuk sudah biasa baginya. Walaupun kadang ia kerepotan karena sang bos yang kadang memberinya tugas out of the box , tetap semuanya ia kerjakan dengan baik. Karena kesibukan inilah hingga membuatnya lupa mencari jodoh.
Banyak karyawan wanita di Angkasa Grup yang berusaha mengambil hatinya, tapi ia tak berminat sedikit pun sebab ia lebih suka fokus pada pekerjaan. Apalagi ia memiliki cita-cita membahagiakan sang emak tercinta. Ibu Robi sudah menjadi single parent sejak Robi berusia 1 tahun. Semenjak kepergian ayahnya, ibu Robi berjuang mati-matian untuk menjadikan putra satu-satunya itu orang yang sukses walaupun di tengah keterbatasannya yang hanya tamatan SMP.
Ibu Robi rela bekerja serabutan dari cuci setrika, tukang sapu jalanan, penjaga toko, dan pembantu rumah tangga , yang penting bisa menghasilkan uang demi makan dan pendidikan Robi. Hujan panas tak ia rasa, semua demi kesuksesan dan kebahagiaan putranya tercinta. Atas dasar itulah, Robi membatasi diri dari orang lain dan lebih fokus membangun karir dan membahagiakan ibunya.
ddrrt ...
Ponsel Robi yang tergeletak di atas meja tampak bergetar. Robi lun segera mengecek nama pemanggilnya, seketika Robi tersenyum saat melihat nama yang tertera di layar.
"Assalamualaikum, Mak." ucap Robi dengan sumringah.
"Wa'alaikum salam , Bi. Kamu udah makan , Bi?" tanya ibu Robi.
"Alhamdulillah sudah, mak. Mak gimana, udah makan? Jangan sampai lupa makan lho, nanti sakit lagi." ucap Robi sarat perhatian dan kasih sayang.
"Iya Le, iya. Kamu nggak usah cemas. Bulek mu urus Mak dengan baik kok." sahut Ibu Robi.
"Mak, kapan Mak pulang? Nggak kangen sama Robi?" tanya Robi manja.
Ibu Robi terkekeh mendengar suara manja putranya itu. "Kangen sih, tapi Mak malas pulang kalau akhirnya harus ditinggalin sendirian. Mak kesepian, Bi. Coba kalau kamu punya istri, pasti Mak nggak akan kesepian lagi. Apalagi kalau kamu kasi Mak cucu, ya Allah, Mak pasti bahagia banget. Bila suatu hari nanti Mak pergi, Mak akan temuin bapak terus cerita tentang kamu dan anak istri kamu." ucap Ibu Robi yang awalnya senang jadi sendu.
Robi terdiam, tak mampu membuka suara. Ia paham keinginan ibunya itu. Tapi apakah ada perempuan yang mau menerimanya apa adanya dan membantunya mengurus ibunya. Hal inilah yang kadang berkecamuk di benak Robi.
Robi sangat bahagia memiliki atasan seperti Aglian. Walaupun harus double bahkan triple repot, ia tak masalah sebab kompensasi yang diberikan pun tidak main-main. Berkat menjadi asisten pribadi Aglian, ia bisa membeli rumah yang cukup megah untuk ibunya. Namun sayang, rumah besar tidak serta merta dapat membahagiakan ibunya sebab ibunya kerap merasa kesepian. Karena itulah ibunya lebih suka tinggal di kampung, di tempat sepupu dan keponakannya. Di sana ia tidak kesepian karena keponakannya sudah berkeluarga dan memiliki anak kecil membuatnya begitu terhibur berada di sana. Ibu Robi di sana juga bukan serta merta tinggal saja sebab Robi memberikan sejumlah uang untuk keperluan sang ibu. Ia tak ingin, ibunya dianggap benalu yang hanya bisa numpang tinggal. Walaupun, keluarganya menerima ibunya dengan baik, tapi kita tidak tahu isi hati seseorang kan.
__ADS_1
"Maafkan Robi ya Mak belum bisa kasi Mak menantu apalagi cucu." lirih Robi dengan nada penuh penyesalan. Walaupun keinginan itu ada, tetap semuanya harus ada pertimbangan.
Ibu Robi mendesah pelan, "Ya Le, nggak apa. Namanya belum ketemu jodoh, ya Mak nggak bisa maksain. Mak cuma bisa mendoakan, semoga secepatnya kamu dipertemukan dengan jodohmu." doa Ibu Robi tulus.
...***...
Aglian dan Luna baru saja selesai makan siang. Mereka pun berlanjut menuju rumah sakit untuk mengecek kandungan Luna. Ia sudah membuat janji dengan dokter kandungan yang menangani Anggi. Jadi mereka tak perlu bersusah payah untuk mengantri lagi.
"Assalamualaikum." ucap Aglian dan Luna bersamaan.
"Wa'alaikum salam." sahut dokter kandungan yang bernama dokter Shinta itu. "Silahkan masuk." ujarnya ramah.
Luna dan Aglian pun melangkah kakinya masuk ke ruang yang di dominasi warna krem dan putih itu.
Lalu dimulailah sesi tanya jawab yang diajukan dokter Shinta yang berhubungan dengan kandungannya.
Seulas senyum terukir di bibir merah dokter Shinta membuat Aglian dan Luna jadi saling memandang penasaran.
"Bagaimana dok? Apa ... istri saya benar-benar sedang hamil?" tanya Aglian dengan sorot mata penuh rasa keingintahuan.
Dokter Shinta pun tersenyum lebar seraya mengangguk.
"Selamat, pa, Bu, kalian akan segera menjadi orang tua. Usia kandungan istri Anda sudah memasuki 8 Minggu tutur dokter Shinta lembut yang disambut Luna dan Aglian dengan senyum lebar.
Lalu dokter Shinta pun memberikan wejangan dari yang kuasa harus dan tak boleh dilakukan seorang ibu hamil sebab ia tahu Aglian dan Luna merupakan calon orang tua baru. Dokter Luna juga meresepkan obat yang bagus untuk menguatkan kandungan dan bagus untuk pertumbuhan dan perkembangan sang baby.
__ADS_1
Setibanya di rumah, Aglian dan Luna turun dari mobil. Setibanya di depan tangga, baru saja Luna hendak melangkah kakinya menaiki undakan tangga, tiba-tiba tubuhnya terasa melayang. Siapa lagi kalau buka perbuatan Aglian.
"Mas ." pekik Luna terkejut saat tubuhnya melayang di udara.
Aglian hanya terkekeh geli melihat reaksi Luna yang menurutnya lucu lalu ia pun mencuri satu kecupan singkat di bibir Luna membuat Luna yang tadinya hendak protes jadi bungkam dengan senyum tertahan.
"Mulai sekarang kamu nggak boleh naik turun tangga sembarangan." ucap Aglian.
"Lah, jadi gimana Nana naik turunnya?"
"Ya tunggu ada Mas lah. Mas yang akan gendong kamu naik turun tangga." over protective mode on.
Luna menghela nafas berat, "Ya kali Nana harus nunggu mas kalau mau naik turun ke kamar." Luna mendelik tajam.
"Mas cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa, sweetheart. Turuti perintah, Mas, oke!" titahnya tak terbantahkan.
"Baiklah yang mulia paduka suami." ujar Luna sambil terkekeh membuat Aglian gemas dan mencium bibirnya begitu mereka sampai di kamarnya.
Kini Luna dan Aglian sedang bersandar di kepala ranjang sambil berbincang.
Barusan Safa menelpon dan melaporkan apa saja yang dilakukan asisten pribadinya itu padanya.
Luna dan Aglian tergelak saat mendengarkan penuturan Safa. Gadis itu sangat jengkel dengan sifat dan tingkah Robi. Aglian tak menyangka, sifat Robi begitu menyebalkan. Mungkin karena ia belum bertemu pawang yang tepat apalagi Robi memang tidak pernah terlihat dekat dengan perempuan manapun. Jadi Aglian memaklumi tingkah bawahannya tersebut.
Aglian dan Luna pun lantas berpikir, bagaimana cara mendekatkan kedua orang itu. Mereka pun lantas mengingat pesta pernikahan yang akan mereka hadiri besok. Sepertinya mereka akan memanfaatkan momen itu untuk melaksanakan misi pendekatan kedua orang itu. Mereka berharap, Robi dan Safa benar-benar berjodoh.
__ADS_1
...***...
...Happy Reading 🥰🥰🥰...