Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.203 (S2) dedeknya udah mau lahir


__ADS_3

1 bulan kemudian


Mentari pagi mulai memancarkan sinarnya. Menggeser malam berganti siang. Kicau burung bernyanyi merdu membuat suasana pagi kian syahdu.


Di pagi yang cerah itu, tampak Anggi sedang menyiram bunga-bunga di taman. Biarpun kehamilannya sudah memasuki bulan ke sembilan, tetapi tidak menyurutkan semangatnya untuk beraktivitas. Walau hanya sekedar menyiram tanaman atau memasak untuk keluarga tercinta, itu sudah cukup daripada tidak ada yang bisa ia kerjakan sama sekali. Sebenarnya ia masih ingin aktif di Angkasa Mall , tetapi Diwangga melarangnya tegas. Ia tidak ingin Anggi kecapaian yang bisa berdampak buruk baik bagi kesehatan Anggi sendiri maupun bayi yang ada di dalam kandungannya.


Damar, Karin, dan Kevin sudah pergi ke sekolah mereka masing-masing. Sedangkan Diwangga telah berangkat ke kantornya. Tinggallah Anggi bersama beberapa art di rumah dan security yang berjaga di gerbang depan.


"Bu, ibu jadi mau ke kantor bapak siang ini?" tanya salah seorang art pada Anggi.


Anggi yang sedang memangkas daun-daun yang mulai menguning lantas menoleh dan tersenyum.


"Iya, mbak, jadi. Kira-kira bahan makanan kita masih komplit ngga mbak ya?" tanya Anggi pada art yang bernama Asih. Umurnya 5 tahun lebih tua dari Anggi karena itu Anggi memanggilnya mbak.


"Sepertinya masih, Bu. Memang ibu mau masak apa jadi bisa Asih cek stok bahannya ada nggak." ujar Asih.


"Emm ... Biar Anggi liat sendiri deh!" ujar Anggi seraya tersenyum.


Lalu Anggi pun mulai memeriksa stok bahan makanan yang tersedia. Dilihatnya ada kentang, wortel, udang, telur puyuh, dan ayam. Anggi pun berpikir akan membuat sup telur puyuh, sambal udang pedas manis, dan ayam kremes.


Dengan dibantu Asih, Anggi pun mulai menyiapkan satu per satu bahan masakan dan bumbu-bumbunya. Setelah siap, barulah ia mulai memasak.


Kini Anggi telah selesai memasak yang bertepatan dengan kepulangan si kembar dari sekolahnya.


"Assalamualaikum, mama." ucap si kembar bersamaan.


"Wa'alaikum salam anak mama sayang." sahut Anggi. Lalu ia mencium pipi kedua anaknya secara bergantian. Karin dan Kevin juga menyalami Anggi dan mencium punggung tangannya dengan takzim.


"Mama, Epin ada pe-el, ma." adu Kevin.


"Ayin juga, ma, ada pe-el. Pe-el buat gambal bunga. Nanti Ayin mau minta ajalin papa ah." sahut Karin.


"Kalau Kevin ada PR apa sayang?" tanya Anggi


"Pe-el matimatika, ma."

__ADS_1


Anggi terkekeh mendengar ucapan Kevin, "Bukan matimatika, Vin, tapi matematika. Ma-te-ma-ti-ka, coba Kevin ikutin!"


"Mati eh matematika, ma. Bener kan , ma?" ucap Kevin.


Anggi mengangguk, "Tuh bisa. Ya udah kalian ganti baju dulu gih terus cuci kaki dan tangan. Nanti kita ke kantor papa anterin makan siang, kalian mau kan?" tanya Anggi.


"Mau, ma, mau. Epin mau." sahut Kevin girang.


"Mau ma, Ayin mau ikut. " ujar Karin girang lalu ia segera berlari masuk ke kamar, diikuti Kevin di belakangnya.


...***...


Kini Anggi, Kevin, dan Karin sedang dalam perjalanan menuju kantor Diwangga. Selama perjalanan, suasana di mobil didominasi oleh suara celoteh Karin. Sedangkan Kevin hanya menimpali sesekali. Ia justru lebih sibuk dengan Ipad-nya menggambar sebuah mobil. Kegemaran Kevin memang menggambar, sama seperti Damar. Sedangkan kegemaran Karin adalah bernyanyi. Oleh karena itu, kesal Kevin terlihat sibuk sendiri, Karin pun mulai bernyanyi sendirian.


Kurang lebih 40 menit kemudian, mobil yang membawa Anggi dan si kembar telah tiba di kantor Diwangga. Anggi dan si kembar pun segera turun lalu mereka masuk ke dalam lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai dimana kantor Diwangga berada.


"Bapak ada, Bin?" tanya Anggi pada Robin .


"Ada, Bu, tapi bapak sedang ada tamu." ujar Robin.


"Papa ..." seru si kembar girang saat melihat papa sambung mereka muncul dari balik pintu. Lalu si kembar pun langsung berhambur ke pelukan Diwangga.


Dari belakang tiba-tiba muncul seorang perempuan berpakaian seksi membuat mata Anggi memicing kesal.


"Ah, terima kasih atas kerjasamanya pak Diwangga! Semoga kita bisa jadi partner yang solid .* ucap perempuan itu.


"Sama-sama. Oh ya, perkenalkan, istri dan anak-anak saya." Diwangga memperkenalkan Anggi dan si kembar.


Lalu perempuan itu tersenyum ke arah Anggi dan memperkenalkan diri.


"Hai, salam kenal. Saya Yoana."


"Hai, salam kenal juga. Saya Anggi."


"Kalau begitu saya permisi dulu. Selamat siang." pamit perempuan itu.

__ADS_1


Sepeninggal perempuan itu, Anggi dan si kembar pun masuk ke ruangan Diwangga. Tapi karena kesal, Anggi hanya diam saja , tak mau bicara dengan Diwangga.


"Sayang, kamu kok cemberut gitu sih? Mas ada buat salah ya? Jawab dong, jangan diam aja." tanya Diwangga yang bingung melihat Anggi cemberut.


"Nggak, aku nggak papa kok." ketus Anggi


"Kalo nggak marah kamu nggak bakal diem kayak gini. Oh, mas tau, kamu cemburu ya sama perempuan tadi?" tanya Diwangga penuh selidik seraya tersenyum smirk.


"Nggak, kata siapa? Mas jangan ngadi-ngadi deh!" kilah Anggi


"Ya udah iya, kalo kamu nggak mau bicara, siapain makanannya ya! Mas udah laper banget nih!" mohon Diwangga sambil memegang perutnya.


"Ma, ayo makan ma, kasian papa udah kelapelan." bujuk Karin.


"Iya ma, kasian papa." timpal Kevin membuat Diwangga tersenyum puas karena anak-anaknya menolongnya.


Anggi pun mulai menyiapkan makan siang Diwangga. Namun, baru setengah perjalanan makanan itu masuk ke dalam perut Anggi. Anggi mulai merasakan sesuatu di dalam perutnya. Memang bilang ini waktunya ia melahirkan tapi jadwalnya masih sekitar 2 Minggu lagi.


Mang sejak pagi Anggi sudah merasakan nyeri di pinggangnya, tapi ia mencoba bersikap biasa saja. Tapi kini rasa sakit itu makin menusuk hingga membuat Anggi tak mampu berdiri.


"Mass .... " Lirih Anggi seraya meringis.


"Ada apa sayang?" Diwangga sontak panik mendengar rintihan keluar dari mulut Anggi apalagi saat dilihat ia tampak sedang menahan sakit.


"Mas, sepertinya dedek-dedeknya, udah mau lahir." imbuh Anggi seraya menahan rasa sakit.


"Apa? Ya Allah ... Sabar ya sayang." ucap Diwangga panik. Lalu ia mendekati Karin dan Kevin yang kini jiga tengah kelihatan khawatir. "Sayang, kalian pulang dulu ya sama om Robin, papa mau ke rumah sakit . Dedeknya udah mau lahir kayaknya. Kalian nggak papa kan?" tanya Diwangga lembut. Ia tentu tak ingin anak-anaknya khawatir.


"Baiklah, papa. Kami pulang dulu, ya pa. " ucap Si kembar pada Diwangga.


"Ma, Ayin dan Epin pulang dulu ya. Dah dedek." ucap keduanya. Lalu Diwangga mengantar kedua anaknya ke Robin agar Robin bisa mengantarkan mereka pulang terlebih dahulu.


Setelahnya, Diwangga segera menghubungi pihak rumah sakit juga Aglian. Setelah itu, Diwangga pun menggendong Anggi ala bridal style keluar dari ruangannya. Para karyawan melihat itu ikut merasa panik. Lalu mereka membantu Diwangga hingga menuju ke mobilnya. Karyawannya juga menawarkan diri untuk menyetir mengingat Diwangga sedang panik melihat keadaan Anggi. Diwangga pun setuju, hingga dalam hitungan menit Anggi kini telah berada di rumah sakit untuk menjalani penanganan.


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2