
"Woaahhh, mangganya lebat banget om papa! Epin pingin manjat, boleh?" Bu Sofi dan Diwangga yang ada di taman belakang tiba-tiba menjengit kaget saat mendengar apa yang baru saja diucapkan Kevin. Bukan keinginan bocah itu untuk memanjat tapi panggilannya pada Diwangga
"Om papa?" Bu Sofi sontak menoleh ke arah Diwangga, tapi Diwangga hanya mengedikkan bahunya karena ia juga baru dengar.
"Itu panggilan balu dali kami untuk om papa Angga, Oma." jelas Karin penuh semangat
"Hah! " seru Diwangga terkejut
"Iya om papa, mulai sekarang kami mau panggil om dengan sebutan om papa, kan sekarang masih om, nanti kalo udah beneran jadi papa, baru kami panggil om papa, papa Angga." jelas Damar
Tanpa Diwangga sadari tadi, ternyata Damar, Kevin ,dan Karin telah membuat rencana ini saat di mobil. Setelah keinginan mereka menjadikan Diwangga sebagai papa mereka diberi lampu hijau, mereka lantas berbisik-bisik merencanakan mengubah panggilan mereka ke Diwangga. Jadilah sekarang Damar dan Si kembar memanggil Diwangga om papa.
"Wah, udah ada kode nih!" ledek Bu Sofi sambil cekikikan membuat Diwangga tersenyum simpul
"Ada apa nih, kayaknya ada yang seru banget." tiba-tiba saja Suseno, papa Diwangga ikut bergabung dengan mereka di taman belakang
"Ini lho pa, Angga udah dapat kode dari calon cucu-cucu mama buat jadiin Angga papa mereka." jelas Bu Sofi masih sambil terkekeh
"Wah, papa bakal dapat cucu langsung 3 nih!" seru Suseno tampak bahagia saat memandangi wajah ketiga anak Anggi itu
"Itu ciapa Oma?" tanya Karin
"Oh, kenalin itu papanya om papa kalian, sana kenalan dulu sama opa!" titah Bu Sofi lembut
Lalu Karin, Kevin, dan Damar pun mulai mengenalkan diri satu persatu dan mencium punggung tangan Suseno.
"Wah, kalau dapat cucu kayak gini siapa yang nggak bahagia! Udah ganteng, cantik, sopan juga, mamanya mana?" tanya Suseno
"Anggi masih sibuk di toko, pa." ujar Diwangga memberitahu
"Kapan kamu ajak kesini mama mereka, papa juga pingin kenalan sama wanita yang begitu hebat bisa membesarkan dan mendidik ketiga anaknya dengan baik seperti ini!" tanya Suseno sambil menatap mata putranya
"Nanti ya pa, Angga belum dapat jawaban pasti soalnya. Doain Angga ya ma, pa, biar diterima."
"Emang kamu udah lamar Anggi, Ngga?" tanya Bu Sofi penasaran
"Bukan lamar sih ma, tapi bisa juga disebut gitu. Anggi minta waktu sebentar, dia mau minta petunjuk dari Allah dulu, katanya."
__ADS_1
"Wanita sholeha memang gitu, dia selalu melibatkan Allah di setiap urusannya. Oh ya, kalau dia ada anak, berarti janda ya? Janda apa, cerai mati atau cerai hidup?" Suseno makin penasaran
"Mama ceritain di dalam aja pa, biar Angga temenin anak-anak dulu." Lalu Suseno dan Bu Sofi pun masuk ke rumah dan mulai menceritakan segala sesuatu tentang Anggi sesuai yang diketahuinya.
"Emang mama nggak masalah dapat mantu seorang janda?" tanya Suseno
"Mama balik nih, kalo papa setuju nggak?"
"Lha, kok nanya balik. Kalo papa sih, asal dia wanita baik-baik, pasti setuju aja apalagi kalo Angga udah cinta, kita sebagai seorang orang tua hanya bisa mendukung dan mendoakan, semoga pilihannya itu memang yang terbaik." jelas Suseno
"Nah, mama juga gitu apalagi mama udah duluan kenal sama Anggi juga anak-anaknya, dari awal mama malah udah suka banget cuma waktu itu kan Anggi masih berstatus istri orang jadi mama nggak berani berharap , eh taunya pucuk dicinta ulam pun tiba, Anggi malah pisah sama suaminya, dibantu Angga pula, kayaknya udah ada tanda-tanda mereka berjodoh,pa. Tapi tetap, semuanya kita serahin sama Gusti Allah dulu, semoga siapa pun yang jadi jodoh anak kita itu yang terbaik." ujar Bu Sofi
"Om papa, mau mangga yang itu!" tunjuk Karin pada salah satu buah mangga yang terlihat sangat ranum dekat pagar.
Diwangga pun segera mengambil galah untuk mengambil mangga itu.
"Om papa, manjat dong, Ayin pinginnya om papa manjat ambilnya."
"Oke cantik ." Diwangga pun meletakkan galah dan mulai memanjat pohon mangga itu. Untungnya pohon mangga itu tidak terlalu tinggi jadi Diwangga tidak perlu terlalu bersusah payah memanjatnya.
Hasil panen mangga Karin, Kevin, dan Damar lumayan banyak. Mereka pun mengupas buah mangga itu di bantu mbok Sum. Setelah dikupas, mereka memanggil Bu Sofi dan Suseno ke taman belakang lagi untuk makan mangga bersama. Diwangga, bu Sofi, dan Suseno tak berhenti tersenyum melihat tingkah laku mereka dan mendengarkan celotehan lucu anak-anak Anggi itu.
"Eh, mama juga lho jangan ditinggalin." sergah Bu Sofi dengan wajah cemberut
"Oma napa cembelut, kayak Ayin aja cuka cembelut." tanya Kevin polos
"Iya ya, Vin, Oma udah kayak Karin suka cemberut. " Diwangga terkekeh melihat mamanya makin cemberut
"Kamu ya Vin, malah ngejekin Oma, nanti Oma kelitikin kamu. Sini.." Bu Sofi pun menarik tubuh mungil Kevin dan menggelitik tubuhnya hingga menggelinjang karena kegelian
"Oma ampun Oma, ampun, geli... hahaha .. ampun Oma... om papa, toloooong!" pekik Kevin
"Ayo Oma kitikin lagi Epinnya, telus Oma, ayo...!" seru Karin yang justru mendukung Bu Sofi menggelitik tubuh Kevin
"Awas kamu ya, Yin, nanti Epin klitik juga." omel Kevin dengan nafas terengah-engah setelah selesai digelitik Bu Sofi, sedangkan Bu Sofi, Diwangga, dan Suseno hanya terkekeh
"Damar, sini duduk sama opa." Damar pun duduk di dekat Suseno
__ADS_1
"Sekarang Damar kelas berapa?" tanya Suseno
"Baru naik kelas 2 opa." jawab Damar
"Nanti sering-sering main sini ya! Ajak mama juga, trus bilang sama mama kalo Damar pingin om papa jadi papa Damar." bujuk Suseno
"Siap opa, pasti Karin, Kevin, dan Damar akan bujuk mama." ucap Damar sambil terkekeh membuat Suseno ikut terkekeh.
.
.
.
.
"Rob, bagaimana tugas yang aku berikan padamu?" tanya Aglian
"Sudah saya kumpulkan tuan. Ini informasi pribadi ibu Anggi." ucap Robi seraya menyerahkan sebuah map coklat
"Mantan istri Adam Prayoga? Manager pusat perbelanjaan Angkasa Trade Center, jadi mantan suami Anggi ada di mall ini, Rob?"
"Iya tuan. Beberapa bulan lalu ia sudah menikah kembali dengan karyawan Beauty Store bernama Adinda. Sepertinya mereka bercerai karena tuan Adam itu berselingkuh, tuan. Selain dari itu, menurut warga tempat Anggi tinggal sebelumnya, ternyata Adam dan keluarganya selalu berlaku kasar ke ibu Anggi,mengabaikan, sering menghina dan merendahkan juga karena ibu Anggi yang tak jelas asal usulnya. Bahkan tetangganya pernah mendapati ibu Anggi pingsan karena tindak kekerasan yang dilakukan mantan suaminya itu." Robi mencoba menjelaskan
"Kurang ajar. " Aglian tampak menahan emosinya
"Haruskah saya buat surat pemecatan untuk tuan Adam, tuan?"
"Nanti saja. Biarkan saja dulu. Kita harus menunggu waktu yang tepat. Apakah orang-orang panti memang tidak tahu sama sekali identitas keluarga Anggi?"
"Tidak tuan. Ibu Anggi ditinggalkan begitu saja di depan panti dengan sepucuk kertas bertuliskan nama dan tanggal lahir, cuma itu saja."
"Ya sudah, silahkan keluar. Kalau bisa kau cari lagi informasi yang lain."
"Baik tuan. Kalau begitu saya permisi." Robi sedikit membungkukkan badannya lalu keluar dari ruangan Aglian.
Aglian tampak sedang mencermati segala sesuatu yang tertulis di dalam map itu.
__ADS_1
"Apakah itu benar dia? Tapi mata itu, wajah itu, aku yakin itu pasti dia. Tapi bagaimana caraku membuktikannya. huft..." gumam Aglian