
Mengetahui Luna sudah mulai sadarkan diri, Aglian sungguh merasa sangat bahagia. Ia pun segera masuk ke ruangan serba putih dimana Luna tengah menjalani perawatan. Tampak dokter sedang mencoba mengajak Luna berkomunikasi.
Aglian yang sudah tidak sabar mendengarkan suara Luna yang kadang lembut terkadang juga ketus itu segera menghampiri ranjang Luna. Dengan tersenyum lebar ia memegang tangan Luna yang tidak tertancap jarum infus dan mengecupnya hangat dan penuh kasih sayang.
"Na ... Nana ... Alhamdulillah, kamu udah sadar, sayang." ucap Aglian lembut.
Namun reaksi Luna tidak sesuai harapannya. Membuat Aglian sampai mengerjapkan matanya hingga berkali-kali. Lalu tatapannya beralih ke dokter.
"Kamu ... siapa? Nana? Siapa Nana? Nama saya Luna bukan Nana ." cicit Luna pelan , bahkan sangat pelan.
"Na ... jangan bilang kamu ... Na, aku Mas Lianmu, ini Mas Na, Mas Lian, suamimu. Orang yang sangat mencintai mu. Na, please, jangan main-main! Jangan buat Mas panik dan frustasi! " ujar Aglian dengan suara bergetar hingga tanpa ia sadari ekor matanya sudah tampak basah.
"Oh ya! Jadi aku sudah menikah sama, Mas ya? Udah berapa lama?" tanya Luna sambil memicingkan matanya. "Mana buktinya?"
"Udah 1 bulan lebih, sayang. Na, kamu beneran lupa sama Mas ya? Ya Allah, Na ... Ini ini, buktinya, ini foto akad nikah kita berdua, sayang." ujar Aglian seraya menunjukkan foto-foto saat akad nikah mereka di ponsel miliknya.
Luna memperhatikan foto itu satu per satu
"Foto resepsinya mana?" tanya Luna.
"Kita belum sempat resepsi, sayang."
"Kenapa? Emang Mas nggak mau buat resepsi pernikahan kita ya?" tanya Luna seraya memajukan bibirnya. Aglian mengernyitkan dahinya dan mulai berfikir.
__ADS_1
"Oh, kamu mau ada resepsi ya?"
"Ya iyalah, masa' cuma akad nikah doang. Ntar orang-orang nggak tau kalau sebenarnya mas udah beristri terus aku ditikung orang gimana? Ntar di luar mas ngaku-ngaku masih single , nggak enak di Nana dong!" cerocos Luna membuat Aglian mengerjapkan matanya lalu memicing.
"Oh, jadi Luciana Calista aka Luna Calista ngerjain mas karena takut ditikung nih?" Aglian mendelik.
"Hehehe ... soalnya tadi ada yang bilang mas itu kan tampan, mapan, kalau ditikung orang gimana, karena itu Nana langsung sadarkan diri. Nana juga mikir, kita belum resepsi. Yang tau kita udah nikah juga baru beberapa orang. Nana nggak mau lho ditikung." gerutunya dengan bibir mencucut.
"Astaghfirullah, tega kamu ya Na ngerjain Mas. Mas udah panik tau!" sahut Aglian seraya geleng-geleng kepala. "Kamu tenang aja, Mas janji, yang penting kamu sembuh total dulu, baru Mas akan wujudkan resepsi pernikahan impian kamu." ucap Aglian seraya mengecup dahi Luna.
"Janji ya! Nggak pake bohong. Nana nggak perlu pesta mewah-mewah kayak punya mbak Anggi kok. Nana cuma pingin konsep pesta pernikahan garden party. Yang diundang juga jangan banyak-banyak, capek salamannya ." ujar Luna sambil terkekeh geli seraya membayangkan pesta pernikahan impiannya.
"Iya iya, apapun yang kamu mau. Kamu mau pesta di lapangan gelora bung Karno aja mas jabanin." ujar Aglian sambil terkekeh. "Udah ah, kamu belum pulih benar sayang. Kamu istirahat lagi ya! Besok kamu masih harus menjalani CT scan dan serangkaian pemeriksaan lanjutan lainnya." sambungnya.
"Mana menantu mama, Lian?" tanya Ajeng saat tiba-tiba masuk ke ruangan Luna. "Luna, ya Allah, Alhamdulillah kamu sudah sadarkan diri, nak!" ucap Ajeng saat melihat Luna sudah mulai sadarkan diri.
"Kamu nggak usah banyak pikiran, sayang. Alhamdulillah, mereka sudah lebih baik. Justru luka-luka kamu yang paling parah dari mereka." ujar Ajeng seraya mengusap puncak kepala Luna yang tertutup perban.
"Tapi Ma, Luna merasa bersalah, kasian Damar, pasti sakit sekali, seingat Luna kemarin aja, ada lengannya yang luka dan berdarah, kakinya juga, Luna udah mencoba melindungi Damar tapi ternyata masih aja terkena pecahan kaca. Kasian Danar Ma, Luna merasa gagak jagain Damar." keluh Luna sambil terisak.
"Udah sayang, jangan sedih. Nanti, kalau kondisi tubuh kamu udah stabil, nanti mas antar kamu menjenguk Damar ya! Sekarang yang terpenting, kamu istirahat ya sayang. Mas juga masih ada yang mau diurus. Nanti kamu akan dijaga mama." ujar Aglian.
Setelah memberi pengertian pada Luna, Aglian pun pergi ke suatu tempat untuk menemui seseorang.
__ADS_1
"Bagaimana, kalian sudah kerjakan tugas yang saya berikan?" tanya Aglian pada seseorang di hadapannya. Mereka kini tengah mengadakan pertemuan rahasia.
"Sekarang orang yang saya utus sedang beraksi, tuan. Ia sudah menyamar menjadi perawat tuan Derian. Mungkin saat ini, ia sedang melaksanakan misinya." ujar orang itu.
"Segera kabari saya kalau semua sudah beres. Kerjakan dengan bersih. Jangan sampai ada yang mengetahui perbuatan kalian. Dia harus menerima akibatnya karena telah berani-beraninya mengusik bahkan mencoba menghabisi keluargaku." ujarnya dengan sorot mata tajam penuh bara dendam.
Lalu orang yang ditemui Aglian itu mengangguk pasti seraya meyakinkan bahwa misi yang Aglian berikan pasti akan mereka selesaikan dengan baik. Setelah itu, ia pun berlalu meninggalkan Aglian berdua dengan Edward.
"Ternyata tuan muda Angkasa bisa berbuat sangat kejam juga, ya!" ujar Edward.
"Aku takkan berbuat kejam bila orang itu tidak sampai membuat keluargaku terluka parah. Aku tak dapat membayangkan bagaimana seandainya Luna, Damar, dan Reno tak dapat diselamatkan, mungkin aku yang akan menghabisinya dengan tanganku sendiri." ujar Aglian dingin.
Edward pun paham bagaimana perasaan Aglian jadi ia tak ikut campur sebab ia pun berpikir apa yang akan diterima Derian itu memang pantas ia dapatkan.
Di sebuah rumah sakit, tampak dua orang polisi berjaga dengan siaga di depan sebuah kamar serba putih. Di dalamnya ternyata ada seorang pelaku pembunuh yang tengah menderita kesakitan atas luka bakar yang ia alami. Ia pikir, setelah menghabisi putri Argadana, ia akan mati dengan tenang. Tapi nyatanya, ia justru masih hidup dengan luka bakar yang hampir memenuhi seluruh tubuhnya. Dia terus meringis kesakitan, merasa panas dan perih bersamaan di sekujur tubuhnya. Bahkan ada beberapa luka yang mulai mengalami iritasi membuatnya makin tersiksa.
Tak lama kemudian, masuk seorang perawat yang bertugas memeriksa keadaan Derian secara berkala. Lalu ia memeriksa cairan infus yang sudah hampir habis dan menggantinya dengan yang baru. Setelahnya ia mengambil sebuah jarum suntik dan obatnya kemudian menyuntikkan cairan obat itu ke dalam cairan infus.
Setelah tugasnya selesai, ia pun tersenyum seraya menyeringai ke arah Derian. Wajah cantik itu, sekilas terlihat seperti iblis yang tengah menertawakan kemalangan Derian.
"Semoga dengan ini kau bisa menebus semua dosa-dosamu pada nona Luciana Calista, tuan Derian yang terhormat." ujarnya. Lalu perawat itu pun pergi dari ruangan itu setelah sebelumnya memberi hormat kepada kedua polisi yang berjaga.
Tak berapa lama kemudian, tampaknya obat itu bereaksi. Luka-lukanya terasa makin perih, panas, dan gatal. Mulutnya ingin sekali berteriak memanggil siapa saja yang bisa membantunya, namun anehnya, suaranya tak dapat keluar sama sekali. Ia seakan menjadi bisu. Lalu ia teringat pada perawat yang menyuntikkan obat ke dalam selang infus, matanya seketika membelalak.
__ADS_1
...***...
...Happy Reading 🥰🥰🥰...