Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch. 131 (S2) May, I Kiss You, Na?


__ADS_3

"Idih Mas Lian , anak kita apaan! Emang kita suami istri bisa punya anak bareng ." delik Luna dengan wajah memerah. Ia sudah benar-benar salah tingkah kali ini. Luna ingin mengalihkan perhatian Aglian agar tak membahas ucapan tadi, lalu ia mencubit perut Aglian, namun beberapa kali mencoba , ia tak kunjung bisa. "Idih kenceng banget sih itu perut, masa' nggak bisa dicubit sih!" Luna kesal karena tak bisa mencubit Aglian.


Aglian tergelak melihat ekspresi Luna yang jengkel.


"Ya iyalah, dada sama perut Mas itu kencang tau, tiap malam sepulang kerja pas sempatin nge-gym minimal push up dan sit up di rumah. Badan Mas itu pelukable banget lho, kamu mau coba?" goda Aglian.


"Coba apa?" tanya Luna polos.


"Peluk Mas-lah, sini kalau mau Mas peluk biar kamu bisa kasi penilaian seberapa pelukable badan Mas ini."


Mata Luna melotot lalu tangannya reflek bergerak ke kuping Aglian dan menariknya ke atas.


"Ini otaknya ya, kayaknya perlu diruqiyah deh!" ejek Luna.


"As, sakit sayang! Wah, belum jadi istri aja udah suka KDRT apalagi jadi istri nih!" Aglian pura-pura melotot tak terima.


"Emang siapa yang mau jadi istri Mas? Ngigo nih Mas Lian. Lagian tadi, sayang-sayang, sejak kapan Luna jadi sayangnya Mas?" Luna mencibir hingga bibirnya naik sebelah.


Baru saja Aglian ingin membuka mulut membalas ucapan guna tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Dilihatnya nama dr. Alan yang terpampang di layar ponselnya. Gegas ia panggilan itu dan mendengarkan penuturan dr. Alan seksama, seketika bibir Aglian menyunggingkan senyum bahagia. Sembari mendengarkan dr. Alan berbicara, Aglian melirik Luna sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Luna geleng-geleng.


Setelah selesai, Aglian segera menutup panggilan telepon itu. Ia kembali menatap mata Luna dalam.


"Ada apa, Mas? Siapa yang telepon sampai Mas bahagia banget kayak gitu?" tanya Luna sambil mengerucutkan bibirnya. Entah mengapa ia merasa tak suka ada yang bisa membuat Aglian sangat bahagia seperti itu.


"Kenapa mau tau, hm? Penting?" goda Aglian


"Nggak, bodo amat , iya." Luna mengalihkan pandangannya dari Aglian ke arah lain.

__ADS_1


"Mas ditelepon cewek, dia mau ngajak Mas ketemuan." dusta Aglian.


Luna sontak memicingkan matanya ke Aglian.


"Ya udah sana, pergi sana, urusin aja tuh cewek. Luna bisa pulang sendiri nanti." kesal Luna.


Aglian terkekeh melihat tingkah Luna yang sepertinya sudah mulai memiliki rasa cemburu untuknya. Ia pikir artinya pendekatan yang ia lakukan beberapa waktu ini ada kemajuan. Bukan tidak mungkin Luna sudah mulai menyukainya. Buktinya, setiap skinship yang ia lakukan tidak mendapat penolakan dari Luna.


Aglian melirik sekitar, tak ada orang, anak-anak juga sepertinya sedang asik menyantap sate dan martabak kejunya sambil menonton televisi.


Lalu Aglian segera menarik lengan Luna hingga wajahnya menabrak dada bidang Aglian . Luna mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah Aglian, begitu pun Aglian menundukkan wajahnya hingga mereka saling bertatapan.


"Yang tadi telepon itu dr. Alan. Dia bilang operasi Stefani berjalan lancar. Stefani saat ini memang belum sadarkan diri, tapi ia optimis semua akan segera membaik. Setelah ini, Stefani tinggal menjalani masa pemulihan sekitar 3-6 bulan. Bila semua berjalan lancar, 1 bulan kemudian Stefani akan balik ke Indonesia dan akan menjalani masa pemulihan di sini." ujar Aglian menjelaskan.


"Alhamdulillah, ya Allah. Luna ikut seneng dengarnya, Mas ." sahut Luna turut berbahagia. Lalu tanpa sadar ia membalas pelukan itu. Luna memejamkan mata saat menghirup aroma tubuh Aglian yang bercampur parfum, sungguh menenangkan batinnya. Begitu pun Aglian, ia merasakan sesuatu yang berbeda saat memeluk Luna. Tidak seperti saat ia memeluk Stefani, rasa kali ini benar-benar nyaman dan menenangkan.


"May i kiss you, Na?" tanya Aglian dengan suara beratnya namun sensual.


Entah sadar atau tidak, Luna justru menganggukkan kepalanya membuat Aglian menyunggingkan senyum. Perlahan, Aglian mendekatkan wajahnya pada Luna ...


"Onty, mau makan martabaknya juga nggak?" pekik Damar seraya berjalan mendekati tempat mereka duduk.


Sontak Aglian dan Luna saling menjauhkan diri. Jantung mereka berdua langsung dag dig dug, sudah seperti pasangan yang ketahuan selingkuh. Wajah mereka berdua sudah memerah karena menahan malu.


'Sialan, kenapa harus kepergok sih? Kenapa harus datang di saat tak tepat sih, bang? Yah, kepending deh!' batin Aglian bermonolog dengan tangan menggaruk tengkuknya yang tak gatal..


'Hufth, untung aja nggak ketahuan Damar! Kalau ketahuan kan bisa malu. Bukan cuma malu, bisa-bisa aku digorok mbak Anggi karena mempertontonkan sesuatu yang nggak boleh diliat anak-anak. Selamat ... selamat ... selamat ...' batin Luna. Tangan Luna pun sedang sibuk mengusap dadanya yang berdegup kencang.

__ADS_1


Damar kini sudah berdiri tepat di depan wajah Luna dan Aglian. Ia mengernyitkan dahinya saat melihat ekspresi Luna dan Aglian.


"Kok wajah onty Luna sama om Lian merah? Udah kayak kepiting rebus ih." ejek Damar. Luna dan Aglian sontak meraba wajah mereka sambil melirik satu sama lain. Mereka lupa, wajah yang memerah mana bisa dirasakan dengan diraba, tapi dilihat dengan cermin.


Damar geleng-geleng melihat Luna dan Aglian yang hanya diam membisu tapi matanya seperti saling memberi kode yang tidak Damar mengerti.


"Onty, om, mau martabaknya nggak? Kalau mau ntar Damar anterin ke sini?" tanya Damar lagi.


"Eh, nggak usah Bang, itu kan memang buat Abang sama adek-adek. Jadi makan aja sampai habis." jawab Luna.


"Onty, malam ini tidur di sini, ya! Mama kan masih di rumah sakit. Papa juga pasti jagain mama, kami nanti nggak ada yang temenin dong!" bujuk Damar dengan wajah memelas.


"Iya onty, temenin kami di sini ya!" mohon Karin yang ikut menyusul Damar.


Luna tampak berfikir, "Tapi onty nggak punya baju ganti, sayang. Onty harus pulang dulu kalau gitu ambil pakaian ganti." ujar Luna.


"Ya udah, Mas anterin kamu ambil pakaian. Sekalian, kamu ikut Mas ambil baju ganti juga, biar kita malam ini tidur di sini jagain anak-anak." timpal Aglian.


"Hah???" seru Luna yang terkejut mendengar Aglian juga akan menginap di sana.


...


Di rumah sakit Singapura, tampak dr. Alan tetap setia mendampingi setiap proses perawatan Stefani. Karena obat bius yang dipakai merupakan dosis tinggi, hingga hari sudah menjelang malam ini, Stefani belum juga sadarkan diri.


Bila dr. Alan sedang menjaga Stefani, maka Steven sedang menjaga Stefano yang harus menjalani pemulihan pasca pengambilan sel darah yang digunakan untuk transplantasi sumsum tulang belakang Stefani. Ia terus-menerus melirik jarum jam yang sudah menunjukkan hampir pukul 7 malam, tapi hingga saat ini sang istri belum juga pulang. Ia sangat mencemaskan istrinya yang keras kepala itu. Ia menyebutnya keras kepala sebab siang tadi ia memaksa ingin pergi jalan-jalan padahal ia sudah diperingatkan bahwa mereka sedang di Singapura bukan di Indonesia. Jalanan di sini asing, belum lagi kendala bahasa, ia takut istrinya itu tersesat tapi Melani tetap kekeh ingin pergi ke mall yang tak jauh dari rumah sakit. Memang jarak mall itu tidak terlalu jauh. Hanya dengan menaiki taksi selama 10 menit , mereka sudah sampai. Tapi tetap saja, mereka ini sedang di negara orang, ia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada istrinya itu. Namun Melani tetap keras kepala, ia ingin memanfaatkan waktunya selama di Singapura untuk berjalan-jalan dan bersenang-senang tanpa mempedulikan anaknya yang butuh ditemani selama di rumah sakit. Steven pun terpaksa membiarkan. Ia harap istrinya itu baik-baik saja .


...

__ADS_1


__ADS_2