Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.39 Hanya Kamu


__ADS_3

"Nggi, tunggu! Jangan pergi, please!" ucap Diwangga sambil memegang erat lengan Anggi


"Maaf, mas, aku harus pulang sekarang. Maaf ganggu waktu kamu." ucap Anggi datar. Lalu Anggi memutar tubuhnya agar menghadap Diwangga, "Oh ya, ini kue yang aku dan anak-anak bikin tadi. Semoga kamu suka." ucap Anggi lagi.


Anggi hendak melepas cekalan tangannya dari Diwangga tapi Diwangga justru mempererat cekalan itu.


"Mas, tolong lepasin, aku mau pulang. " ujar Anggi sendu tapi Diwangga tetap mempertahankan cengkraman itu.


"Ku mohon jangan pergi." ucap Diwangga dengan wajah memelas


"Ngga." panggil Lea. " Siapa mereka? Saudaramu ya?" tanya Lea sambil memandangi satu per satu wajah Anggi dan anak-anaknya


Wajah Damar, Karin ,dan Kevin yang melihat ada sosok perempuan yang berdiri begitu dekat dengan Diwangga, seketika pias. Tatapan mereka sendu. Tersirat kesedihan di bola mata nan jernih anak-anak itu.


"Ayo ma, kita pulang." ucap Karin lirih


Diwangga mengabaikan pertanyaan Lea, ia justru langsung melipat kakinya agar bisa sejajar dengan Karin lalu memeluknya erat. Beberapa menit kemudian, ia melepas pelukan itu, lalu ia menatap kedua bola mata Karin yang nampak sudah berkaca-kaca.


"Karin kok mau pulang? Kan udah jauh-jauh datang, jangan pulang dulu, ya! Om papa kangen sama kalian. Emang kalian nggak kangen sama om papa, hmm?" tanya Diwangga dengan nada penuh kelembutan


Lea yang masih berdiri memperhatikan interaksi antara Diwangga dengan Anggi dan anak-anaknya, nampak mengerutkan keningnya. Ia bertanya-tanya, apa hubungan Diwangga dengan Anggi dan anak-anak itu.


Lalu sorot mata Lea beralih ke Anggi. Ia menatap intens Anggi. 'Seperti pernah liat wajahnya, tapi siapa ya?' Lea tampak berfikir keras. 'Ah, aku ingat, bukankah dia pengusaha baru, pemilik toko pakaian Anggrek Fashion. Apa hubungan Angga dengan wanita itu?' batin Lea bertanya-tanya. Hingga ucapan Diwangga yang menyebut dirinya om papa di depan anak-anak itu menyentak kesadarannya. 'Om papa? Apa mungkin mereka... Ah, tidak mungkin. Masa' aku kalah saing sama janda sih!' Lea berdecak kesal


"Ayin kangen cama om papa. Kangen banget malah." ujar Karin lirih yang lama-kelamaan malah terisak.


"Yuk, ikut om papa ke ruang kerja om papa!" ajak Diwangga sambil menggendong Karin di lengan sebelah kanan, lalu lengan sebelah kiri ia gunakan untuk menggandeng Kevin yang tampak matanya juga sudah memerah diikuti Damar. Melihat anak-anaknya yang justru mengikuti Diwangga membuat Anggi mau tak mau ikut masuk ke ruang kerja Diwangga.


Begitu pun Lea, ia masih penasaran apa hubungan Diwangga dengan Anggi. Ia kesal karena diabaikan. Ia sudah seperti makhluk tak kasat mata, tak terlihat, diabaikan. 'Ck.. kurang ajar. Brengsek banget kamu, Ngga. Aku yang udah lama kenal kamu malah diabaikan ,udah kayak makhluk gaib tau nggak, nggak keliatan di mata manusia.' omel Lea dalam hatinya

__ADS_1


Gegas Lea mengikuti langkah Diwangga, lalu menyentak lengan kirinya kasar, membuat pegangannya pada lengan Kevin terlepas."Ngga, kita masih perlu bicara!"


Diwangga pun menoleh ke arah Lea, ia menatap tajam tepat di manik Lea, "Mau bicara apa lagi? Tidak ada kan! Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Jaga batasanmu, Lea." ucap Diwangga penuh penekanan


"Aku hanya ingin tau apa hubungan kau dan dia?" tanya Lea sambil menunjuk wajah Anggi dengan sorot mata tak suka


"Kau mau tau siapa dia? Oke aku jawab, DIA ADALAH CALON ISTRIKU DAN MEREKA ADALAH CALON ANAK-ANAKKU jadi aku minta mulai sekarang kau jaga batasanmu. Aku hanya menganggapmu sebagai teman , tak lebih." ujar Diwangga penuh penekanan berharap Lea mengerti akan statusnya.


Anggi tersentak saat mendengar setiap kata yang terucap dari bibir Diwangga. Ini kali kedua Diwangga menyebutkan ia sebagai calon istrinya di hadapan orang lain. Seserius itukah seorang Diwangga pada dirinya? Tapi apakah pantas ia menjadi pendamping seorang pengacara terkenal Diwangga Yudhistira? Belum lagi Diwangga adalah orang berada, sedangkan ia hanyalah seorang janda anak 3 yang berasal dari panti asuhan, ia takut mempermalukan Diwangga dan keluarganya kelak, oh Tuhan berikanlah petunjuk-Mu, gumam Anggi dalam hati.


"Ca-calon istri? Are you kidding me?" Lea terkekeh mendengar apa yang Diwangga ucapkan. "Segitunya kamu mau menghindari diriku, Ngga. Sampai-sampai kamu mengakui janda beranak 3 itu sebagai calon istrimu. Udah ah, lebih baik aku pulang dulu, next kita bahas lagi. Mungkin otak kamu lagi korsleting saat ini." ucap Lea masih dengan tawanya .


"Bye calon suami. Mmuach..." ucapnya sambil memberikan ciuman jarak jauh membuat Diwangga mendengus kesal. Lea memang sangat keras kepala. Kadang ia bingung sendiri dengan tingkah gadis itu yang tetap bertahan meskipun telah ditolak berkali-kali. Ntah dia sebenarnya gadis yang gigih atau tak tahu malu, Diwangga pun tak mengerti itu.


Anggi tersenyum masam melihat kelakuan Lea. Ia tak dapat menyalahkan Diwangga bila ada yang menyukainya, hal tersebut wajar sebab Diwangga masih muda, gagah, tampan, mapan, tak ada kurang satu pun menurutnya. Hal itu juga salah satunya yang membuatnya cemas , pasti banyak gadis yang menyukai Diwangga, bagaimana kalau suatu saat ia tergoda seperti Adam dulu, ia belum siap merasakan patah hati lagi.


Sejenak Diwangga mencoba tak banyak bicara pada Anggi, ia tahu, Anggi butuh waktu untuk mengurai sedikit rasa kecewanya. Jadi ia kini lebih fokus membujuk calon buah hatinya dulu. Hatinya ikut berdenyut kala melihat kesedihan yang terpancar di wajah ketiga anak Anggi.


Mereka bertiga saling pandang lalu berhambur ke pelukan Diwangga. Karin sampai terisak di dada Diwangga.


"Duh, om papa seneng deh, ternyata bukan Om papa saja yang rindu kalian, tapi kalian juga "


"Emang om papa kemana berapa hari ini? Kok nggak main ke rumah?" tanya Damar setelah melepas pelukannya


"Om papa sebenarnya ada tugas keluar kota 3 hari dan baru pulang semalam. Oh iya, om punya oleh-oleh lho buat kalian." lalu Diwangga beranjak menuju ke meja kerjanya. Lalu ia membuka pintu yang ada di bawah meja kerja itu dan mengambil beberapa bungkusan di dalamnya.


"Nih, buat kalian."


"Yeay, makasih om papa." seru mereka bertiga

__ADS_1


"Buat mama juga ada lho, itu yang paperbag pink, kalian kasiin ya!" bisik Diwangga


Dengan semangat Karin, Kevin, dan Damar hendak mengambil paperbag itu, yang berujung mereka berebutan karena ingin memberikannya sendiri.


"Damar, Kevin, Karin, kok bertengkar? Kan mama sering bilang, nggak baik sesama saudara saling bertengkar." tegur Anggi


"Ya udah, Karin aja nih yang kasiin." Damar menyerahkan paperbag yang berhasil dia rebut


"Yeay, makasih Abang Damal." seru Karin dengan tersenyum lebar


"Mama... ini ada oleh-oleh dali om papa buat mama. Cpecial lhooo!." ujar Karin sambil menherjap-ngerjapkan matanya. "Buka donk ,ma!" pintanya


Sebenarnya Anggi enggan menerima hadiah itu tapi karena bujukan trio bocil, Anggi pun menerimanya. Lalu ia segera membuka paperbag itu, di dalamnya ada sebuah kotak persegi yang tidak terlalu besar. Anggi segera mengeluarkan kotak itu dan perlahan membukanya.


Mata Anggi sontak membola dan dengan telapak tangan kirinya ia menutup mulut. Rasa takjub dan bahagia melingkupi hati Anggi.


"Makasih mas, gelangnya cantik banget." ujar Anggi dengan mata berbinar dan Diwangga hanya membalasnya dengan senyuman yang tak kalah lebar.


Ya, Diwangga memberi Anggi hadiah sebuah gelang perak dengan permata biru yang mengelilinginya. Sangat cantik apalagi saat telah melingkar di lengan Anggi


"Tapi mas, apa nggak berlebihan kasih aku hadiah kayak gini? Ini pasti mahal banget, kan! Belum lagi hadiah untuk anak-anak." ucap Anggi merasa tak enak hati


"Nggak ada kata berlebihan kalau itu menyangkut kalian, Nggi. Justru aku sangat senang bisa memberikan dan melakukan sesuatu yang bisa membuat senyum manis kalian makin lebar. Karena kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan aku juga."


Tak ingin Anggi salah paham dengan keberadaan Lea tadi, Diwangga juga menjelaskan siapa Lea sebenarnya. Ia tak mau perjuangannya mendapatkan si janda cantik harus pupus hanya karena kesalahpahaman.


"Jadi dia cuma temen kamu, nggak lebih?" tanya Anggi , mencoba memastikan kembali


"Iya Nggi, aku bahkan berani bersumpah. Dia hanya teman dari semasa SMA sampai kuliah, hanya itu. Nggak lebih. Walau dia suka sama aku sejak lama, tapi aku nggak pernah ada rasa sedikit pun sama dia. Cuma kamu Nggi, hanya kamu, satu-satunya yang ada di sini." ucap Diwangga sambil menunjuk dadanya

__ADS_1


Anggi menatap dalam mata Diwangga, dapat ia lihat ketulusan dan kejujuran dalam sorot matanya. Seketika hati Anggi terasa berdesir bahagia. Haruskah ia memberi keputusan sekarang?


__ADS_2