
Langit sudah mulai gelap dan seharusnya Azam sudah pulang untuk beristirahat. Tapi sepertinya waktu untuknya beristirahat harus sirna berganti dengan kegelisahan yang bergelayut di hati. Satu per satu masalah datang mendera. Baru saja ia pikir sudah lebih baik, ternyata datang masalah baru lagi yang lebih pelik dan membuat hati Azam cukup gelisah.
Entah, perasaan apa itu, Azam pun belum paham. Yang pasti kini hati dan pikirannya seakan jungkir balik karena rekannya sesama polisi tapi berjenis kelamin perempuan.
Perasaan aneh itu sebenarnya sudah ada sejak pagi tadi, namun ia tepis. Apalagi saat dapat kabar sang adik pingsan dan terpaksa dibawa ke rumah sakit. Ia pikir, perasaan aneh itu akibat pertalian darah antara dirinya dan Kentaro. Tapi ternyata, setelah Kentaro dibawa ke rumah sakit pun perasaannya masih tak tenang. Hingga akhirnya, rasa penasaran Azam terjawab sudah. Kabar dari rekan sejawatnya tentang penyamaran Erika yang diketahui musuh karena ada yang mengenali sosok dirinya sebagai seorang polisi. Erika ditawan dan dibawa entah kemana. Earphone yang menyerupai anting itu sepertinya sudah tak berfungsi, entah rusak, jatuh, atau ketahuan musuh. Beruntung, Erika memakai lensa kontak yang dapat membaca lokasi sekaligus sebagai GPS yang dapat diakses tim IT . Jadi rekan yang menelpon Azam segera meminta bantuan untuk menyusul ke lokasi yang telah ia bagikan.
Gegas, dengan motor Ducati milik Erika, Azam membelah jalanan dengan kecepatan di atas rata-rata. Tujuannya hanya satu, menyusul Erika dan menyelamatkannya.
Hanya dalam 30 menit, Azam telah sampai di lokasi. Radar menunjukkan pergerakan Erika berhenti di sebuah gudang tua di tempat terpencil. Azam segera menepikan motornya agak jauh dari lokasi. Lalu dengan mengendap, Azam mendekati lokasi penyekapan Erika. Ia pun mencari celah untuk mengintip aktifitas dalam gudang tua itu. Mata Azam melotot, rahangnya mengeras, dan darahnya bergejolak saat melihat Erika diikat di kursi dengan tangan dibelakang.
"Berani-beraninya loe menyamar dan mencoba mengelabui kami, hah! Loe pikir loe dan rekan sesama polisi itu pintar! Cih, kalau pintar, mereka nggak akan ngasi umpan seorang cewek kayak loe ini!" bentak salah seorang lelaki bertubuh gendut.
"Udah, sabar, bro! Kalau dilihat, mbak polwan ini cantik juga! Cuaca dingin gini, emang pas banget kalau ada cewek buat ngangenin, ya nggak bro!" ujar seorang lelaki bertubuh kurus l, namun terlihat lebih muda. Mungkin usianya masih sekitar 24 tahunan.
"Emm ... emm ... emm ..." pekik Erika kesulitan bicara karena mulutnya yang disumpal kain.
"Kamu mau bicara manis? Oke, saya buka ya sumpalan di mulut kamu." lalu lelaki kurus itupun membuka sumpalan di mulut Erika.
Cuihhh ...
Erika meludah tepat di wajah lelaki kurus itu.
Lelaki itu menyeringai sambil mengusap wajahnya yang terkena ludah Erika.
Kemudian tangannya terulur untuk menarik rambut Erika ke belakang membuat Erika sontak menjerit.
"Awww ... brengsek kalian semua! Tunggu saja, aku akan membalas kalian satu persatu dan menjebloskan kalian semua ke penjara sampai kalian membusuk di sana." seru Erika dengan wajah memerah.
__ADS_1
"Hahaha ... Apa katamu tadi? Kau ingin menjebloskan kami ke penjara hingga kami membusuk di sana? Hahaha ... Justru kami yang akan membuatmu membusuk di sini, nona!" bentak pria gendut membuat pria kurus dan ketiga anak buahnya tertawa. "Namun itu nanti, setelah kami menikmati tubuh indahmu dulu. Jujur, dari tadi aku sudah on fire." ujar pria gendut sambil terkekeh.
Lalu pria gendut itu mencengkram rahang Erika, lalu ia memajukan wajahnya mendekati wajah Erika. Tujuannya adalah bibir merah wanita yang ada di depannya.
Baru saja bibirnya hendak m*lum*t bibir Erika, sebuah gebrakan pintu mengejutkan mereka semua.
"Angkat tangan kalian!" seru Azam membuat Erika membelalakkan matanya.
"Ck ... dasar pengganggu." seringai pria gendut. Lalu pria kurus maju dengan tatapan mengejek .
"Sendirian? Yakin bisa melawan kami?" tantangnya sambil mengeluarkan pistol dari belakang tubuhnya. Ternyata kelima orang itu juga memiliki pistol hingga adegan tembak menembak pun tak bisa dielakkan.
Tak lama kemudian, bala bantuan Azam pun datang. 4 orang sudah berhasil dibekuk. Tinggal pemuda yang bertubuh kurus. Namun saat Azam hendak melepas ikatan di tangan Erika, tiba-tiba pria kurus itu mengambil pistol rekannya yang jatuh tak jauh dari tempat ia bersembunyi. Lalu ia mengarahkan pistolnya ke arah Azam. Erika yang melihat segera mendorong tubuh Azam hingga akhirnya tubuh Erika lah yang terkena timah panas tersebut bersamaan robohnya pria itu karena hantaman peluru dari rekan Azam.
"Erika ..." teriak Azam shock saat melihat tubuh Erika yang limbung ke lantai yang dingin.
"Erika, aku mohon bertahanlah! " gumam Azam lirih lalu ia segera menggendong tubuh Erika menuju mobil salah satu rekannya. Ia tak mau menunggu ambulance yang belum tahu pasti kapan datangnya. Ia harus segera menyelamatkan Erika. Ia harus segera membawa Erika ke rumah sakit . Dibantu salah satu rekannya yang bertindak sebagai sopir, mereka pun segera menuju rumah sakit terdekat. Didekapnya tubuh Erika dengan salah satu tangan menggenggam tangan gadis itu seraya berbisik, "Bertahanlah, Erika! Bukankah kau belum mengatakan kalau kau menyukaiku? Aku tidak bodoh, Erika. Aku tahu perasaanmu padaku. Kalau kau memang menyukaiku, katakan dan buktikan, mungkin saja aku akan membalas perasaanmu padaku." ucapnya lirih seraya berbisik di telinga Erika.
...***...
Sedangkan di sebuah apartemen, ada seorang gadis cantik yang tengah gelisah. Ia teringat obrolannya dengan Weni siang tadi.
Saat itu ia mendengat kabar bahwa putra kedua Ratna masuk rumah sakit. Karena penasaran, Jelita bertanya pada Weni mengenai siapa putra kedua Ratna tersebut. Hingga sebuah fakta terkuak dan membuatnya cukup shock.
"Mbak, mbak kenal sama anak kedua Tante Ratna?" tanya Jelita pada Weni yang sedang asik merangkai bunga pesanan pelanggan.
"Kenal, orangnya cakep. Dia seorang model. Kayaknya seumuran kamu deh orangnya." ujar Weni.
__ADS_1
"Oh, ya! Emang siapa namanya? Aku dulu kan juga model, mbak. Siapa tau kenal." ujar Jelita mencoba mengorek informasi.
"Oh, ya! Kamu juga model toh! Namanya den Kentaro , kenal nggak?" tanya Weni antusias.
"Hah! Mbak serius itu namanya? Kentaro Atmaja, kan!" ucap Jelita penuh rasa penasaran.
"Wah, ternyata dunia ini sempit, ya! Ternyata kamu kenal sama den Kentaro . "
"Kalau yang kita dengar tadi anak kedua Tante Ratna yang sakit, artinya itu ... Kenta. Dia sakit. Sakit apa?" gumamnya pelan.
"Kalau kamu khawatir, datangin aja, kamu juga kan kenal. Kalau nggak salah aku tadi dengar, den Kentaro dirawat di RS Cinta Medika. " Jelita hanya mengangguk lesu. 'Haruskah aku muncul di hadapannya? ' monolog Jelita dalam hati.
Jelita sedang gelisah. Di satu sisi ia begitu mengkhawatirkan Kentaro bahkan ia juga sangat merindukannya. Mungkin bukan hanya dirinya, tapi juga calon anaknya. Tapi di sisi lain, ia takut, apalagi bila ia ketahuan sedang hamil anak lelaki yang ia cintai itu. Yang ia takutkan adalah Kentaro memintanya menggugurkan kandungannya sama seperti yang ingin dilakukan bude Jum dan Juwita. Tidak. Ia tidak mau itu terjadi. Tapi perasaannya begitu merindukan sekaligus mengkhawatirkan ayah dari calon anaknya tersebut. Ia harus bagaimana?
Lalu ia mengambil setangkai bunga mawar yang ia bawa dari toko tadi. Ia mulai menghitung kelopak bunga mawar itu, datang, tidak, datang, tidak , datang, tidak, datang. Akhirnya setelah berperang dengan batinnya sendiri, ia pun mengetahui jawaban apa yang harus ia lakukan.
"Ya, aku harus datang. Harus." gumam Jelita pelan. Lalu matanya beralih ke perutnya yang belum membuncit. Diusapnya perutnya, "Dedek kangen ayah? Dedek mau ketemu ayah? Ayo, kita jenguk ayah, ya sayang." ucapnya seraya tersenyum.
...***...
Just info buat para pembaca, kisah Anggi dan Diwangga sebenarnya telah end di ch. 105, tapi tidak langsung saya tamatkan karena ada yang request kisah Luna dan Aglian. Awalnya mau buat lapak baru, tapi nggak jadi dan lanjut di sini aja dengan tanda (S2) di judul bab yg artinya Session 2. Tapi di kisah ini bukan hanya ada Luna dan Aglian aja, tapi ada kisah yang lainnya. Kisah Anggi dan Diwangga hanya dimunculkan sekali-sekali sebagai bumbu.
**Makasih buat yg masih setia stay dicerita ini. Semoga menghibur.
...***...
...Happy Reading 🥰🥰🥰**...
__ADS_1