
Sedangkan di meja Lea, tampak teman-temannya sibuk kasak kusuk. Mereka bertiga meyakini apa yang mereka lihat.
"Dil, itu kayaknya emang Anggi owner Anggrek Fashion deh!" terka Rini.
"Iya ya, tuh liat aja, ketiga anaknya ada di sana, jadi kemungkinan besar emang si pengantin wanitanya itu emang Anggi." sahut Dila. "Gimana menurut loe, Mer?" sambungnya meminta pendapat Meri.
"Gue juga ngerasa ya gitu. Nggak mungkin kan ketiga anaknya jalan di depan seolah bridesmaids mereka kalau yang jadi pengantinnya itu bukan ibunya." sahut Meri.
"Diam, bodoh! Nggak usah banyak bacot kalian. Nggak mungkin itu Anggi. Gue tau sendiri dia aja nggak punya orang tua." bentak Lea pada ketiga temannya.
"Kalau loe nggak sependapat, nggak usah pake bentak-bentak kami, Le! Mulut-mulut kami sendiri, terserah kami mau bicara apa yang penting kami nggak jahatin orang kayak loe!" desis Meri kesal atas bentakan Lea.
"Pergi loe bertiga dari pada buat kepala gue makin stres!" usir Lea pada ketiga temannya.
"Oh, gitu! Oke, nggak masalah. Hilang 1 teman kayak loe nggak akan bikin kami rugi, malah untung dan bebas dari dosa. Mulai sekarang kita nggak berteman lagi. Kalau ada apa-apa, jangan minta bantuan kami lagi. Gue nggak sudi punya teman kayak loe." desis Dila, lalu ia mengajak Meri dan Rini pergi dari hadapan Lea, pindah ke meja lain.
"Dasar brengsek semua, kalian." desis Lea saat menatap ketiga temannya itu pindah ke meja lain yang cukup jauh darinya.
Lalu arah pandangan Lea ia fokuskan lagi ke arah pasangan pengantin yang telah duduk di singgasananya. Dapat ia lihat pancaran kebahagiaan di wajah Diwangga saat ia saling melempar senyum ke arah pengantin wanitanya. Hati Lea sontak perih, bagai diiris sembilu. Bukan sebentar ia memendam rasa pada Diwangga, tapi cintanya justru bertepuk sebelah tangan. Dipandanginya lamat-lamat wajah Diwangga, ia begitu tampan dan gagah dalam balutan tuxedo pengantinnya. Ia sering bermimpi dia lah yang akan menjadi pengantin wanita Diwangga, tapi mimpi itu tetaplah sebuah mimpi, tak akan jadi kenyataan karena kenyataannya Diwangga justru bersanding dengan wanita lain. Tapi siapa wanita itu? Benarkah itu Anggi? Tapi bukankah dia hanya seorang yatim piatu. Hati Lea mendadak cemas. Wajahnya pun sudah memucat. Aliran darahnya seakan berhenti. Dalam hati ia berdoa semoga ia salah. Semoga wanita itu bukan Anggi.
__ADS_1
Sama halnya dengan Lea, Bu Tatik pun sudah tampak pucat pasi. Saat melihat sang pengantin telah duduk di singgasananya, ia pun berusaha mendudukkan bokongnya ke kursi yang ada di belakangnya, namun hal tak terduga terjadi.
Brakkk ...
"Awww ..."
"Mama ...!!!" pekik Adam dan Sulis saat melihat mamanya terduduk di lantai.
Sontak mata tamu-tamu yang duduk di sekitar mereka beralih menatap kejadian terduga itu. Ada yang merasa iba, ada juga yang mengulum senyum dan tawa mereka karena geli.
Pemandangan itu pun tak luput dari tatapan Anggi dan Diwangga. Anggi sampai mengerjapkan matanya, takut salah penglihatan.
"Itu mantan mertua kamu, Nggi." ucap Diwangga pelan di dekat telinga Anggi.
'Biar mereka shock dengan kenyataan apa yang akan mereka lihat sebentar lagi.'
"Mama nggak apa-apa?" tanya Adam saat Bu Tatik sudah duduk kembali di kursinya, Bu Tatik hanya bisa mengangguk menahan malu.
"Dam ...."
__ADS_1
Tiba-tiba suara bariton seseorang menginterupsi Bu Tatik yang baru saja hendak berbicara dengan Adam. Pun semua tamu undangan, mereka sontak terdiam saat mendengar suara itu. Apalagi bagi mereka yang bekerja di perusahaan Angkasa, tentu sangat tahu dengan sosok itu.
"Selamat siang para hadirin semuanya. Terima kasih atas kehadiran para tamu undangan sekalian. Bagi yang belum mengenal saya, perkenalkan, nama saya Davindra Putra Angkasa. Dalam kesempatan ini, saya ingin memperkenalkan putri saya, putri kandung saya yang telah lama menghilang sekian lamanya. Yang Alhamdulillah, seminggu yang lalu kami telah dipertemukan kembali oleh putraku, saudara kembar dari putriku , CEO Angkasa Grup, Aglian Saputra Putra Angkasa. Perkenalkan, inilah putriku Tercinta, ANGGI SARASWATI PUTRI ANGKASA. Owner Anggrek Fashion. Pewaris seluruh Angkasa Trade Center atau yang lebih kalian kenal dengan nama Angkasa Mall. Selamat datang putriku, selamat kembali, dan selamat menempuh hidup baru. Semoga pernikahanmu kali ini dapat memberikan kebahagiaan sejati , kebahagiaan hakiki, selalu saling mencintai, hingga maut memisahkan. Mama dan papa mencintaimu, sayang." ucap Davindra yang membuat air mata Anggi seketika meluruh, membasahi pipi. Anggi sontak berdiri dan memeluk Davindra dengan erat. Ajeng yang tengah duduk, lantas ikut berdiri dan memeluk suami dan anaknya itu. Pun Aglian yang duduk berdua Stefani tak jauh dari mereka ikut berdiri dan berhambur ke pelukan orang tua dan saudara kembarnya.
Suasana haru menyelimuti pesta itu. Pesta yang sungguh luar biasa karena bukan sekadar merayakan pernikahan pasangan pengantin itu, tapi juga merayakan pertemuan antara anak dengan saudara dan kedua orangtuanya.
"Oh ya, untuk merayakan kebahagiaan ini, kami mempersilakan para hadirin untuk menikmati santapan yang telah kami sediakan. Dan satu lagi, bagi para tamu yang memiliki undangan resmi, dipersilahkan mengambil gift khusus dari kami berupa logam mulia seberat 1 gr di stan yang telah disediakan. Terima kasih atas perhatiannya." lanjut Davindra sebelum kembali ke tempat duduknya semula.
"A-Anggi ... Ja-jadi di-dia be-benar-benar Anggi!" cicit Bu Tatik. "Te-ternyata di-dia anak orang kaya." ucapnya dengan wajah pias. Bahkan kakinya kini telah lemas sempurna. Untuk menggerakkan sedikit saja tak bisa.
"A-apa? Ja-jadi dia benar-benar Anggi. Mantan istriku. Istri yang ku campakkan." cicit Adam dengan wajah yang sudah memucat sempurna.
"Nggak-nggak mungkin. Pasti aku salah dengar kan, mas! Di-dia pasti bukan Anggi yang kita kenal kan, mas!" cicit Sulis .
"Dia benar-benar mbak Anggi. Orang yang pernah kalian sakiti, kalian campakkan, kalian abaikan. Sekarang kalian lihat, orang yang kalian anggap bukan siapa-siapa itu, orang yang kalian sebut tidak jelas asal-usulnya, ternyata ... dia anak pemilik tempat kau bekerja." desis Raju yang saat itu telah berdiri di dekat meja mereka.
Kepala Bu Tatik seketika pening. Ia memijit pelipisnya untuk mengurangi rasa pening di kepalanya. Darahnya seakan berhenti mengalir. Rasanya ia ingin segera pergi dari tempat itu, namun kakinya terlalu lemas. Bahkan suaranya pun seperti sulit keluar. Terlalu kelu. Ia ingat, betapa banyak hinaan demi hinaan yang telah ia lontarkan pada Anggi. Terlalu banyak, sangat banyak. Betapa malu rasanya ia saat ini. Ingin rasanya ia segera menghilang, ia sudah kehilangan muka saat ini. Baru saja tadi ia mengucapkan seandainya putranya lah yang menjadi mempelai laki-laki, padahal nyatanya, kesempatan itu pernah ia rasakan, namun ia sia-siakan karena sifat serakah, egois, tinggi hati yang menguasai hati dan pikirannya. Seandainya ia tidak bersikap jahat dan tinggi hati, mungkin Anggi akan tetap menjadi menantunya. Tapi sayang, semua telah berakhir. Nasi telah menjadi bubur. Tak mungkin Anggi akan kembali pada putranya. Hanya penyesalan yang kini memenuhi relang hati dan pikirannya.
Tak jauh berbeda dengan Bu Tatik, Sulis, dan Adam, kini Lea terdiam dan terpaku seorang diri. Teman-temannya telah pergi meninggalkannya. Semua salahnya, semua karena keegoisannya, hingga kini semua menghilang, menjauh dari dirinya.
__ADS_1
Kaki Lea kini begitu lemas, di saat tamu lainnya sibuk mencicipi berbagai menu yang disediakan catering hotel, ia justru tak mampu menggerakkan kakinya barang sesenti. Wajahnya kini benar-benar pias, tampak peluh mengalir deras di dahinya, ia sungguh tak bertenaga, bahkan untuk mengambil gelas berisi air minum untuk melegakan dahaganya saja ia tak mampu. Malu, iya, dia terlalu malu. Bukan hanya pada Anggi, Diwangga, tapi juga pada teman-temannya dan orang-orang yang mengenalinya. Teman-temannya sudah berulang kali mengingatkannya agar tidak berbuat sesukanya, tapi ia selalu keras kepala. Ia selalu merendahkan Anggi dan menghinanya dengan kata-kata pedas dan tak pantas. Dan kini, semua seakan menjadi bumerang baginya. Justru orang yang selalu ia hina dan rendahkan merupakan putri pemilik tempatnya bekerja. Bagaimana nasibnya kelak. Membayangkannya saja ia tak sanggup.
'Adakah yang mampu menolongku keluar dari tempat ini? Tolong ...tolong ... tolong aku ... aku mohon! Aku tak kuasa menggerakkan kakiku. Aku mohon tolong aku .' lirih Lea sambil menunduk dengan berurai air mata.