
Seminggu yang lalu,
Safa tampak sedang asik membantu sang mama mencatat detil ukuran gaun Bridesmaids pesanan seorang pelanggan. Namun, tiba-tiba ponselnya berdering sangat nyaring. Dilihatnya nama yang tampil adalah nama sang kakak yang bermukim di Australia.
Safa pun bergegas mengangkat panggilan telepon itu, seketika dia terhenyak setelah mendapat panggilan itu. Setelah panggilan ditutup, ia segera berlari mencari sang mama. Dengan nafas tersengal-sengal, ia bicara pada Amel.
"Ma ... hosh ... hosh ... hosh ..."
"Ada apa sih, Fa, sampe lari-larian gitu kayak ada berita genting banget aja. Kamu kenapa?" tanya Amel penasaran.
"Kak Aina, ma, kak Aina, ...." ucap Safa terbata.
"Aina kenapa? Apa terjadi sesuatu padanya?" kini Amel ikut panik setelah melihat bagaimana piasnya wajah Safa.
"Kak Aina terjatuh di kamar mandi. Dia pendarahan jadi sekarang masuk UGD. Sepertinya, bayinya terpaksa dilahirkan secara caecar." ucap Safa terbata.
"Astagfirullah ... Kita harus terbang kesana segera, Fa. Kita pulang sekarang untuk siap-siap." titah Amel.
Safa pun mengangguk patuh dan langsung menyambar kunci mobilnya. Ia dan Amel pun segera pulang ke rumah dan bersiap. Sebelum berangkat, Safa terlebih dahulu membeli tiket pesawat secara online.
Safa dan Amel pergi ke bandara dengan menaiki taksi siang itu juga. Namun, belum ia sampai di bandara, sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel Safa. Safa tersenyum saat menatap panggilan itu. Lalu ia pun segera mengangkat panggilan itu.
"Assalamualaikum, Bu." ucap Safa.
"Wa'alaikum salam, neng geulis. Panggil emak aja kayak yang lain, neng geulis, biar lebih akrab gitu." seloroh si Emak.
Ya, yang menelpon Safa saat itu adalah si Emak gaul kesayangan netijen. Tidak seperti Robi yang lamban bergerak, kalau si Emak sih gercep pake banget. Calon menantu udah depan mata, kenapa harus menunggu lagi, tentu si Emak harus bergerak cepat sebelum calon menantu idaman disabet orang.
"Iya, Mak. " sahut Safa membuat Amel yang duduk di sampingnya mengerutkan dahinya.
Lalu Safa menutup speakernya dengan telapak tangan.
'Ibunya bang Robi, Ma.' ucap Safa seraya berbisik.
__ADS_1
Amel pun mengangguk seraya tersenyum. Ia sudah melihat siapa itu Robi. Bahkan Aglian pun sudah meneleponnya dan mengatakan hendak menjodohkan Robi dengan Safa. Aglian juga menjelaskan tentang siapa itu Robi termasuk sifat kakunya pada perempuan karena memang ia tidak pernah dekat dengan perempuan lain selain si Emak. Walaupun banyak rekan kerja wanitanya yang menaruh hati pada Robi, tapi ia acu tak acuh saja. Sebenarnya, Amel sempat khawatir, bagaimana kalau mereka bersama tapi sifat Robi masih kaku, tapi Aglian meyakinkan perlahan Robi pasti akan berubah. Bila perlu, ia akan menasihatinya. Katakanlah, ia akan menjadi penasihat cinta Robi.
"Kamu dimana, nduk?" tanya Si Emak
"Safa sekarang sedang dalam perjalanan menuju bandara, Mak. Safa mau pergi ke Australia bersama mama." ucap Safa lembut.
"Oalah, kamu mau balik ke sana? Terus kamu balik lagi kesini nggak, nduk? Gimana kalau emak kangen, kamu." ujar si Emak sendu membuat Safa terhenyak. Padahal Si Emak baru mengenalnya tapi si emak sudah menyayanginya seperti anak sendiri.
"Safa nggak lama kok, Mak. Tapi nggak pasti sampai kapan soalnya kakak ipar Safa mengalami kecelakaan. Maksudnya, kakak ipar Safa terpleset di kamar mandi. Dia pendarahan hebat soalnya kakak ipar Safa itu sedang hamil karena itu Safa dan Mama ke sana untuk mendampingi kakak sekaligus memberikan dukungan." ujar Safa jujur membuat Si Emak menghela nafas lega.
"Alhamdulillah, nduk. Emak pikir selamanya. Emak pikir karena anak emak si map plastik laminating, kamu jadi balik ke sana. Emak lega akhirnya kamu bakal balik lagi. Tapi jangan lama-lama ya, nduk." ujar Si Emak.
Safa menutup mulutnya menahan tawanya yang hampir meledak karena si Emak yang mengatai anaknya sendiri dengan panggilan map plastik laminating. Amel yang melihat itu hanya tersenyum tipis. Sepertinya si emak sudah berhasil mencuri hati calon menantunya.
"Nggak kok, Mak. Safa pasti balik kok. Nanti kalau Safa udah balik, pasti Safa jengukin Emak deh. Insya Allah, Safa nggak lama kok. Doain kakak ipar Safa sama anaknya baik-baik aja ya, Mak. Jadi Safa bisa cepat balik lagi kemari dan jenguk emak. "
"Semoga kakak ipar kamu baik-baik aja ya, nduk. Semoga bayinya juga sehat sempurna tanpa satu kurang apapun." doa si Emak.
"Mak, Safa udah mau sampai nih di bandara. Oh ya, nanti Safa kirim nomor Safa yang lainnya, Mak. Kalau emak mau hubungi Safa pake nomor itu. Soalnya nomor ini cuma Safa pakai saat di sini aja." ujar Safa menjelaskan hingga tak lama kemudian panggilan pun ditutup karena Safa dan Amel sudah tiba di bandara dan tengah bersiap di mengambil boarding pass
3 hari kemudian,
"Bagaimana nduk kabarmu di sana?"
"Kabar Safa baik, Mak. Alhamdulillah. Kabar Emak gimana?"
"Sepi nduk. Mak benar-benar kesepian." ujar Mak lirih membuat Safa terdiam. "Nduk ..." panggil si Emak.
"Iya, Mak. Ada apa?"
"Oh masih ada, kirain emak, kamu udah tidur." ujar si emak sambil terkekeh.
"Belum kok, Mak. Safa cuma lagi bingung aja , Mak. Safa pingin sering-sering nemenin emak biar nggak kesepian, tapi kan Safa bukan siapa-siapanya emak." ujar Safa.
__ADS_1
"Serius kamu mau temenin emak?" Safa mengangguk lalu tersadar kalau ia sedang bicara lewat telepon, mana mungkin si Emak melihat anggukannya.
"Iya, Mak." ujar Safa sambil terkekeh.
"Kalau kamu serius, kamu jadi menantu emak aja. Kamu mau nggak?"
Safa menggigit bibirnya sendiri, bingung harus menjawab apa.
"Kenapa? Kamu takut si map plastik laminating itu nggak menyukai kamu?" tanya emak.
"I ... iya, Mak." jawab Safa terbata.
"Kalau emak boleh tau, gimana perasaan kamu sama anak emak? Jujur ya nduk, biar emak bisa ambil tindakan."
"Sejujurnya, Safa udah mulai suka sih Mak, sama bang Robi, tapi .... emak tau sendiri kan gimana dia. Safa ragu bang Robi menyukai Safa." lirih Safa membuat si emak menghela nafas lega sekaligus sendu.
"Gini aja , nduk, kalau ternyata Robi juga suka sama kamu, kamu mau kan jadi menantu emak?" ucap Si Emak yang melamar duluan. Bang Obi bener-bener kalah gercep.
"Insya Allah, Mak. Semua tergantung sama bang Robi, Mak. Kalau bang Robi serius dan mau perjuangin Safa, insya Allah, tanpa pikir dua kali, Safa akan menerima jadi menantu emak ."
Si emak tampak menyeringai, lalu ia memberi Safa sebuah instruksi hingga tibalah hari dimana ia tersenyum bahagia saat mendengarkan percakapan di sebuah panggilan dari calon sang emak mertua karena ternyata diam-diam si map plastik laminating juga menyukainya. Ia kini tinggal menunggu dan melihat, bagaimana cara Robi memperjuangkannya. Semoga semuanya berakhir indah, harap Safa..
...***...
Robi kini tengah berada di rumah Aglian. Ia sedang menemui atasannya tersebut untuk meminta sedikit nasihat atas dunia percintaannya. Aglian dan Luna terkekeh geli saat mendengar pernyataan Robi mengenai perasaannya pada Safa. Aglian dan Luna pun tentunya mendukung langkah Robi untuk segera menyusul Safa ke negeri kangguru tersebut..
"Pergilah segera! Kejar cintamu. Aku beri kau izin cuti selama 3 hari. Ingat, hanya 3 hari dan bawa Safa kembali ke sini. Pakai saja jet pribadiku. Aku akan bilang pada orang di sana agar segera mempersiapkan segalanya." ucap Aglian mantap membuat wajah Robi yang tadinya pias jadi sumringah dan berbinar bahagia.
'Safa, tunggu Abang! Abang akan segera menjemputmu.'
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1