
2 hari sebelumnya
Stefani tampak mengerjapkan matanya, menghalau silau yang tiba-tiba menerpa penglihatannya.
"Li ... Lian ... kamu ..." Stefani tampak terkejut saat melihat Aglian duduk tepat di samping tempat tidurnya.
"Sstt ... Jangan banyak bicara dulu! Kamu masih harus banyak istirahat. Banyak yang haruskah jelaskan padaku."
Stefani pun menurut untuk istirahat sejenak, namun tak kunjung bisa. Mungkin karena rasa penasaran yang tinggi, tentang bagaimana Aglian ada di ruangannya sehingga membuatnya tak dapat memejamkan mata.
"Yan ..." panggil Stefani pada Aglian yang tengah berkutat dengan ponselnya. Sebenarnya ia sedang sibuk berbalas pesan dengan anak buahnya yang tengah ditugaskan mencari keberadaan ayah kandung Stefani. Besar harapan Lian , ayah Stefani ditemukan. Ia ingin Stefani sembuh, bagaimana pun caranya, ia akan lakukan.
"Kenapa? Nggak bisa tidur?" tanya Aglian.
"Hmm ..." sahut Stefani sembari mengangguk.
"Mau minum?" tanya Aglian lagi, Stefani kembali mengangguk. Setelah meneguk air yang disodorkan Aglian, Stefani kembali membuka mulutnya.
"Lian." panggilnya lagi, lantas Aglian fokus menatap mata Stefani.
"Kenapa kamu bisa di sini? Apa ... apa kau sudah tau ..." tenggorokan Stefani tiba-tiba tercekat saat ingin mengucapkan penyakit yang dideritanya.
"Ya aku sudah tau. Semua." jawab Aglian dengan tatapan nanar. "Kau menghilang selama 3 hari, apa kau pikir aku tak khawatir, hm? Walaupun aku tak ada di sini tapi aku tetap mengawasimu. Aku tak ingin lalai lagi mengawasimu. Cukup 1 tahun terakhir aku lalai. Beruntung dr. Alan mencarimu ke apartemen karena kau tak kunjung ke rumah sakit. Andai terlambat sedikit saja, mungkin ..." Nafas Aglian seakan berhenti saat membayangkan sesuatu yang tak pernah terbayangkan olehnya.
"Maaf ..." ucap Stefani lirih.
"Kenapa, Stef? Kenapa? Kenapa kau rahasiakan semua itu? Kenapa? Apa aku tak cukup pantas untuk jadi sandaranmu? Apa aku tak cukup pantas menjadi tempat berkeluh kesah mu? Apa aku tak cukup pantas menjadi tempatmu untuk bergantung? Kau tau, bagaimana kalutnya diriku saat mengetahui semuanya dari mulut orang lain?" ucap Aglian dengan mata berkaca-kaca.
Stefani mematung. Tanpa sadar, air mata mengalir membasahi pipinya. Lambat laun isakan lirih itu pecah menjadi sebuah tangisan yang mengiris hati.
"Maaf Lian, maaf. Maafkan aku. Bukan maksud hatiku begitu. Tapi ... tapi aku tak ingin membebani mu lagi. Sudah cukup selama 8 tahun ini aku selalu menjadi beban dalam hidupmu, menggantungkan diriku pada pundakmu. Bahkan demi aku kau tak pernah membuka hati untuk perempuan lain. Apalagi saat itu fokus mu sudah terpecah di banyak tempat. Mencari keberadaan saudaramu, membantu om Davindra mengurus perusahaan Angkasa Grup, mengurus Angkasa Mall, dan masih banyak lagi. Sudah cukup aku menjadi beban mu, Lian. Aku juga tak sanggup melihat kesedihanmu saat tahu tentang penyakitku. Oleh sebab itu, aku menyembunyikan semuanya dari dirimu dan dari semua orang. Aku ingin pergi dengan tenang tanpa menjadi beban ataupun sumber kesedihan orang lain." ujar Stefani lirih sambil terus terisak.
"Siapa yang bilang kau adalah beban? Aku memang sedih saat mengetahui tentang penyakitmu, tapi aku akan lebih sedih lagi bila harus kehilanganmu tanpa bisa berbuat apapun. Aku menyayangimu, Stef. Sangat menyayangimu. Bukankah kau ingin menikah denganku? Bahkan aku sudah berjanji akan menikahimu. Tapi mengapa kau malah menyerah dan ingin pergi meninggalkanku? Kau sadar, kau begitu egois. Tak memikirkan perasaan orang-orang di sekitarmu. " ucap Aglian dengan tatapan kecewa.
__ADS_1
Tangis Stefani makin pecah saat mendengar penuturan Aglian. Ia tidak berpikir sampai sejauh itu. Ia hanya tidak ingin menimbulkan luka dihati orang-orang terdekatnya. Ia juga tak sanggup melihat tatapan kesedihan orang-orang saat melihat titik terlemahnya. Ia hanya ingin pergi dengan damai dan tenang. Hanya itu.
"Sudah Stef, sudah. Berhentilah menangis. Aku tidak marah padamu atau menyalahkan mu. Aku hanya takut, Stef. Aku takut. Aku takut kau pergi tiba-tiba dan itu pasti akan membuatku hancur. Namun aku janji, aku akan berusaha membuatmu sehat kembali. "
"Tapi bagaimana caranya? Bahkan aku sudah berobat kesana kemari. Kau tak lihat, bahkan rambutku pun sudah hampir habis, membuatku terpaksa memakai rambut palsu agar orang-orang tak menyadarinya." ucapnya lirih.
"Ada satu cara. Semoga berhasil."
"Apa itu?"
"Cangkok sumsum tulang belakang."
Mata Stefani membola. Bagaimana ia bisa melakukannya? Yang ia tahu, cangkok sumsum tulang belakang hanya bisa dilakukan dengan keluarga kandung saja, sedangkan ia sudah tidak memiliki ibu lagi dan ayahnya entah dimana.
"Kau tak usah banyak pikiran. Pikirkan saja kesehatanmu. Semua itu urusanku. Aku pasti akan mengusahakan yang terbaik buatmu." ucap Aglian tenang seraya mengusap lembut kepala Stefani yang rambutnya sudah sangat-sangat tipis , bahkan hampir botak.
"Terima kasih, Lian. Kau memang sahabat terbaikku." ucap Stefani dengan wajah berbinar.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Stefani saat melihat ekspresi Aglian yang bahkan sampai mengerutkan keningnya sembari membersihkan wajahnya dari sisa-sisa air mata .
"Apa maksudmu sahabat terbaik?" tanya Aglian dengan tatapan mata memicing.
"Apa kau lupa, aku sudah memutuskanmu beberapa hari yang lalu." ucap Stefani dengan bibir mencibir.
"Apa aku menerimanya? Tidak. Aku tidak berkata apa-apa. Jadi tidak ada kata putus diantara kita." tegas Aglian.
"Kau tahu kan , aku paling tak suka menjilat ludahku sendiri. Lian, mari kita kembali bersahabat seperti dulu. Ntah, aku merasa lebih nyaman seperti itu. Bukankah kita sama-sama tau, kita tak saling mencintai. Kita hanya terlalu nyaman dalam kebersamaan kita. Mungkin ini juga akibat kita tidak pernah dekat dengan orang lain sehingga kita salah menafsirkan rasa. Tapi kini aku menyadari apa yang ku rasa. "
"Aku anggap kata-katamu hari ini hanya bualanmu saja." tegas Aglian . Lantas ia berbalik meninggalkan Stefani di ruangannya.
'Semoga kau dapat memahami maksud ku, Yan. Sebelum semua terlambat. Aku harap kau dapat membuka hatimu untuk orang lain, begitu pun aku.'
.
__ADS_1
.
.
Tampak Aglian sedang uring-uringan di dalam kamarnya. Berbagai pikiran sedang berkecamuk di dalam benaknya. Ia pun berusaha mencerna setiap kata yang dilontarkan oleh Stefani. Apa yang dikatakan Stefani memang benar, mereka sudah terlalu nyaman dalam kebersamaan sehingga salah menafsirkan rasa. Kata-kata cinta yang selama ini terucap hanya sebuah pemanis dalam hubungan mereka. Namun, mereka belum benar-benar memahami apa arti itu cinta dan bagaimana rasanya jatuh cinta. Sifat mereka yang sama-sama introvert itulah yang membuat mereka nyaman saat bersama.
'Jatuh cinta? Sebenarnya bagaimana rasanya jatuh cinta itu? Ck ... udah hampir bangkotan juga masih bodoh soal cinta. Apa harus aku tanyakan pada Anggi, ya? Dia kan udah 2 kali jatuh cinta.' Otak Aglian tampak berfikir keras. Bahkan rasanya pikiran ini lebih berat dari pada memikirkan bagaimana caranya memenangkan tender.
.
.
.
3 hari kemudian.
Aglian tampak sedang bersandar di kepala ranjangnya. Ia ingin tidur, namun ntah kenapa ia tampak sukar memejamkan matanya padahal tubuhnya sudah sangat lelah. Lantas ia membuka ponselnya dan melihat story WhatsApp dari beberapa orang yang kontaknya tersimpan di ponselnya. Namun kini matanya sedang terfokus pada story satu orang yang belum lama ini dikenalnya. Ia geser beberapa foto dan video yang orang itu share. Matanya membola saat menyadari di mana orang itu berada sekarang. Tiba-tiba, dadanya bergemuruh saat Aglian melihat orang itu tampak berfoto ria sambil tersenyum lebar menatap kamera dengan seseorang yang .... tampan.
Aaargh ...
Aglian mengerang frustasi tanpa ia sadari alasannya.
"Bali ... Mengapa dia bisa berada di Bali? Sama lelaki? Dasar gadis nakal. " Aglian berdecak kesal sendiri.
"Tapi kenapa aku jadi kesal sendiri begini? Ada apa denganku? Bukankah itu hak dia mau kemana dan dengan siapa? Tapi ... aaargh ... kenapa aku malah kesal gini sih!" Aglian gusar sendiri. Rambutnya sampai berantakan karena ia acak-acak.
.
.
.
Happy reading all 🥰
__ADS_1