
Usai Aglian berganti pakaian, Luna dan Aglian pun menyusul Raju, Tita, Lia, dan Aji. Mereka kini tengah menunggu di kursi tunggu di depan gedung bioskop. Mereka sengaja menunggu disitu sebab mereka ingin berdiskusi bersama dahulu mau menonton apa. Setibanya di sana, mereka pun mulai membahas film-film yang sedang tayang dan pilihan mereka jatuh pada film horor. Dari keenam orang itu, hanya Lia yang tidak setuju. Alhasil, Lia hanya memasang wajah masam di hadapan ke lima orang itu.
"Ju, Ji, kalian beli tiket gih, ajak juga Mas Lian tuh! Kami bertiga mau beli popcorn sama minumannya." ujar Luna memberi instruksi.
"Luna, kamu temenin Mas aja beli tiketnya, urusan makanan dan minuman baru berikan ke mereka." ujar Aglian menyela .
Raju, Aji, Tita, dan Lia saling melirik lalu menyetujui saran Aglian. Mereka sepertinya mulai paham kalau saudara kembar mbak Anggi mereka itu sedang ingin PDKT dengan Luna.
"Lagian kan beli makanan dan minumannya banyak, buat orang 6, emang mending kamu berempat yang beliin biar nggak susah bawanya." Raju menimpali supaya Luna menyetujui.
Akhirnya Luna hanya pasrah dengan ucapan mereka.
"Yuk, Na, kita kesana!" ajak Aglian seraya menarik lengan Luna menuju gerai penjualan tiket .
"Na? Mas panggil aku apa tadi?" tanya Luna saat Lian memanggilnya Na.
"Iya, Na. Mas mau panggil kamu Nana aja, soalnya yang lain manggil kamu Lun, Lun, Lun, jadi Mas mau punya panggilan tersendiri khusus buat Nana." ujar Aglian menjelaskan.
Luna yang mendengarkan penuturan Aglian lantas tersenyum manis. Hatinya menghangat seketika.
'Please deh Lun, loe ini kok mudah banget baperan! Jangan mudah baper dong, kena PHP Mas Lian tau rasa loe.' batin Luna memperingatkan.
"Kenapa? Nggak suka?" tanya Aglian seraya mengernyitkan dahi.
"Eh, nggak kok Mas, suka kok. Tapi kenapa Mas kasih Luna panggilan khusus kayak gitu? Apa alasannya?" tanya Luna.
"Hmm ... alasannya ... Karena Mas suka..." jawab Aglian menggantung.
__ADS_1
Luna ingin lanjut bertanya, tapi sudah giliran mereka maju membeli tiket, alhasil ia tak melanjutkan pembicaraan mereka .
Mereka pun mulai memesan tiket untuk 6 orang. Selesai memesan tiket, mereka ikut bergabung dengan yang lainnya. Tak lama kemudian, pintu masuk teater pun dibuka. Mereka pun masuk dan duduk di kursi sesuai nomor urut mereka. Aglian memborong semua tiket di baris kedua membuat mereka bisa duduk bersama. Aglian meminta Luna duduk di kursi paling ujung, lalu ia duduk di samping Luna, diikuti Raju, Tita, Lia, dan Aji. Mereka sudah seperti triple date.
Film pun mulai diputar. Awalnya film itu tampak biasa saja tapi makin lama kesan horornya makin kentara. Lia yang memang penakut sampai menjerit-jerit ketakutan hingga ia memeluk Aji yang duduk di sebelahnya. Tita dibilang penakut tidak, pemberani juga tidak. Kadang kala ia merasa ketakutan hingga membuatnya meringis dan kadang menutup mata. Raju yang paham segera menggenggam tangan Tita erat. Raju pun tersenyum ke arah Tita membuat rasa takut yang tadi hadir jadi menyingkir. Sedangkan Luna karena terlalu fokus membuatnya yang ingin meraih popcorn dan menyuapkannya ke mulut, justru menarik jari Aglian dan memasukkannya ke mulut. Aglian sontak menjengit kaget saat merasakan jarinya digigit.
"Na, kayaknya hantunya pindah ke sini deh?" ucap Aglian tepat di telinga Luna. Luna lantas menoleh dan menatap Aglian. Jaraknya yang terlalu dekat membuatnya sontak menahan nafas. Aglian yang sadar akan hal itu hanya tersenyum simpul.
"Emang bisa pindah? Kok bisa? Kok Mas juga bisa tau?" cerca Luna merasa aneh.
"Bisa. Mas taulah soalnya ada buktinya, tuh liat jari Mas, malah digigit, jangan-jangan hantunya masuk ke tubuh kamu nih karena itu kamu gigit jari Mas." ucap Aglian .
Ucapan Aglian membuat Luna mengerutkan keningnya, lantas ia menoleh ke arah tangannya. Sontak Luna terkejut karena yang ia pegang ternyata bukan popcorn, tetapi jari Aglian. Muka Luna memerah menahan malu.
'Kok bisa nggak sadar sih!' rutuknya dalam hati.
"Na ..." panggil Aglian . Luna pun menoleh ke arah Aglian. Tampak Aglian menatapnya lembut . "Mas sayang kamu." ucapnya lagi.
Wajah Luna jadi makin memerah.
'Apa ... apa tadi kata Mas Lian? Gue ... gue nggak salah denger kan?'
Namun, baru saja hati Luna dibuat berbunga-bunga oleh ucapan Aglian, suara dering ponsel Aglian menginterupsi pembicaraan mereka.
Aglian melirik ponselnya sekilas, di layar terpampang nama Diwangga membuat Aglian mengerutkan keningnya. Pun Luna ikut menatap layar ponsel Aglian. Gegas Aglian mengangkat panggilan itu.
Wajah Aglian tampak memucat setelah mendengar ucapan orang di seberangnya, membuat Luna ikut panik.
__ADS_1
"Ada apa, Mas? Apa yang terjadi?" tanya Luna panik sesaat setelah panggilan di tutup.
"Kita harus segera ke rumah sakit. Anggi masuk rumah sakit." ucap Aglian dengan suara bergetar.
"A ... apa? Mbak ... mbak Anggi ... Mbak Anggi kenapa, Mas?" tanya Luna dengan wajah memucat. Rasa khawatir tiba-tiba menggerogoti benaknya.
"Nanti saja Mas jelasin." ujar Aglian. "Ju, kalian mau ikut ke rumah sakit? Anggi masuk rumah sakit." ujar Aglian sambil menatap ke arah Raju.
"Apa? Mbak Anggi kenapa , Mas? Apa yang terjadi?" tanya Raju panik. Pun Tita, Lia, dan Aji yang mendengar ikutan panik.
"Semuanya tenang dulu. Kita ke rumah sakit saja dahulu. Kita bisa bicarakan di sana saja. Kita ketemuan di rumah sakit Cinta Medika. Mas duluan, ya! Na, kamu ikut Mas kan?" tanya Aglian pada Luna sebelum ia hendak berdiri.
"Iya Mas, Luna ikut Mas aja." sahut Luna lalu ia segera berdiri mengikuti langkah kaki Aglian menuju keluar ruang bioskop. Aglian menggenggam erat tangan Luna seakan takut dipisahkan. Raju dan yang lainnya pun segera menyusul. Dengan langkah panjang mereka menuju mobil masing-masing dan melajukannya secepat mungkin.
"Mbak Anggi kenapa Mas kok bisa masuk rumah sakit? Mbak Anggi sakit?" tanya Luna saat mereka berdua telah dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Anggi jatuh terpeleset di kamar mandi anak-anak. Anggi mau memeriksa anak-anak yang sedang mandi, ternyata di lantai ada tumpahan sabun, Anggi nggak tau dan menginjaknya lalu ia terpeleset. " ujar Aglian menceritakan kronologisnya pada Luna.
Luna terkesiap, ia makin khawatir akan keadaan Anggi. "Ya Allah, semoga mbak Anggi nggak kenapa-kenapa. Mas tau gimana kondisi mbak Anggi sekarang?"
"Kata bang Angga tadi Anggi pendarahan. Kepalanya juga terluka karena terbentur ujung wastafel. Mas juga sebenarnya khawatir banget. Bukan hanya masalah Anggi yang kini ada di pikiran, Mas, tapi juga Stefani." ujar Aglian membuat Luna terperangah karena penasaran apa yang terjadi dengan Stefani. "Siang ini juga Stefani jalani operasi transplantasi sumsum tulang belakang di Singapura, sumpah Mas bingung harus gimana. " sambung Aglian tergugu bahkan matanya kini sudah memerah. Mungkin tak lama lagi bulir kristal akan mengalir dari pelupuk matanya.
Luna pun meraih tangan kiri Aglian yang ada di atas kemudi dan menggenggamnya.
"Kita berdoa bersama ya, Mas. Semoga mbak Anggi nggak kenapa-kenapa dan dedek bayi dalam kandungannya juga sehat wal afiat. Semoga juga operasi mbak Fani berjalan lancar supaya kita bisa segera kumpul bersama. Kita serahkan semuanya pada Allah, Luna yakin Allah akan memberikan yang terbaik bagi hamba yang mau memohon pada-Nya." ujar Luna mencoba menguatkan Aglian. Aglian pun menoleh ke arah Luna sekilas dan tersenyum.
"Aamiin ... semoga ya, Na. Terima kasih ."
__ADS_1
"Untuk?"
"Untuk semuanya. " ujar Aglian seraya tersenyum manis. Tanpa Luna sadari, tangannya tak lagi menggenggam tangan Aglian, tapi sebaliknya, tangan Aglian-lah yang menggenggam erat tangan Luna. Perlahan Aglian dekatkan genggaman tangan itu ke bibirnya, lalu ia berikan kecupan dalam pada tangan Luna membuat wajahnya kembali bersemu merah.