Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.166 (S2) No judul


__ADS_3

Seperti biasa, setiap beberapa hari sekali Luna memiliki jadwal mengecek Anggrek Fashion cabang Angkasa Mall. Begitu pun hari ini, ia pergi ke Angkasa Mall diantara Aglian. Setibanya di sana, Aglian pun melanjutkan perjalanannya ke Angkasa Grup.


"Udah sampai, sweetheart." ucap Aglian saat mereka masih di dalam mobil. Mobil itu tengah berada di basemen khusus petinggi Angkasa.


Luna menoleh ke jendela mobil, lalu kembali menatap Aglian, "Hmm ... Makan siang ini mas dimana?" tanya Luna.


"Kenapa? Mau makan siang bareng?" tanya Aglian seraya menyampirkan anak rambut Luna ke belakang telinga.


Luna mengangguk antusias seraya tersenyum manis.


"Ukh, gemasnya! Istri siapa sih ini gemesin banget!" ujar Aglian seraya menangkup kedua pipi Luna lalu mengecup ujung hidungnya.


'Astaga, pak bos .... nggak mikir banget sama jones di depan nontonin adegan 17+ di belakang! Nasib ... nasib ... jadi pingin cepat punya bini. Tapi kalo punya bini sekarang, bisa-bisa sering tidur di sofa karena jadwal kerjaan nggak menentu. Dasar pak bos bucin!' cibir Robi dalam hati. Hari ini Robi bukan hanya bertugas sebagai asisten pribadi Aglian, tapi juga merangkap sebagai sopir karena sopir pribadi Aglian sedang mengurus istrinya yang sedang sakit. (Padahal salah sendiri nontonin orang yang lagi kasmaran. DL banget sih, Robi. 😆)


"Mas Lian, ih, malu tau!" Luna merengek kesal.


"Malu? Sama siapa? Kan nggak ada siapa-siapa di sini?" tanya Aglian bingung.


Luna menepuk jidadnya pelan, lalu menepuk bahu Aglian geram.


"Emang yang duduk di balik kemudi itu bukan orang?" Luna mendelik sebal. Memang Robi yang duduk di balik kemudi itu manekin sampai nggak dianggap.


"Oh, itu, abaikan aja kenapa sih! Anggap aja dia nyamuk, beres kan!" ujar Aglian sambil terkekeh. "Lagian, dia nggak akan lihat kok! Benar kan , Rob, kami nggak liat apapun?" tanya Aglian dengan sorot mata elangnya.


Robi meneguk salivanya kasar.


"Nggak , bos." sahutnya. 'Nggak salah lagi maksudnya.'


"Good! Tuh kan sweetheart, dia nggak liat kita!" ujar Aglian sembari menggesek-gesekkan ujung hidungnya di pipi Luna.


"Mas kok manja banget sih! Nggak malu banget sama umur. Udah kayak kang kucing. Uh, manisnyaaaa...!." Luna gemas melihat tingkah manja suaminya itu. "Udah, ah, Luna masuk dulu, ya mas!" Luna mencium bibir Aglian sekilas lalu tangannya kemudian segera keluar dari mobil.


Aglian tergelak melihat tingkah menggemaskan istrinya itu. Namun itu tak berlangsung lama. Ia langsung mengalihkan perhatiannya pada Robi


"Semua sudah siap?" tanya Aglian dan Robi menganggukkan kepalanya. "Ayo, cepat kita ke Angkasa Grup


Di Anggrek Fashion hari ini cukup sibuk karena banyaknya barang masuk. Luna pun bersama karyawannya sibuk mengecek satu persatu baik itu kualitas produk maupun jumlah agar tiada kesalahan. Saat sedang sibuk mengecek barang, tiba-tiba ponselnya berdering.


"Mbak Anggi?" gumamnya lalu ia segera mengangkat panggilan itu.


"Assalamualaikum, mbak." ucap Luna.


"Wa'alaikum salam, Lun. Lun, bisa tolong jemput Damar! Mbak ada meeting di luar, mas Angga juga ada sidang siang ini, sopir yang biasa jemput sedang ada urusan." ujar Anggi lembut.


"Ya udah mbak, mbak tenang aja. Aku yang akan jemput." sahut Luna.

__ADS_1


"Tapi siapa yang anterin?" Anggi tau saat ini Luna tidak diperbolehkan keluar tanpa pengawalan ketat.


"Ada Reno mbak. Dia tiap hari jagain aku." Ya memang Reno selalu mengawal Luna bahkan saat ia diantar Aglian pun.


"Baguslah. Kamu hati-hati di jalan, ya!" pesan Anggi.


"Iya mbak. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam." sahut Anggi sebelum panggilan telepon ditutup.


...***...


Kini Luna sedang dalam perjalanan menuju ke sekolah Damar. Setibanya disana, ia keluar dari dalam mobil dan duduk di bawah pohon rindang yang ada di taman sekolah.


Tak lama kemudian, bunyi bel berbunyi tanda anak-anak sudah boleh pulang. Luna melihat Damar berjalan beriringan dengan teman-temannya keluar dari kelas. Ia pun segera memanggilnya.


"Damar." panggil Luna.


Damar pun menoleh dan segera berlari menghampiri Luna.


"Onty Luna." serunya sambil berlarian. "Onty udah lama?" tanya Damar pada Luna setelah ia berdiri tepat di hadapan Luna.


"Hmm ... nggak kok, bang. Onty belum lama. Udah mau pulang kan?' tanya Luna seraya merangkul bahu Damar.


"Udah Onty. Tapi kok onty yang jemput?" tanya Damar heran.


"Bukan." Damar menggeleng kencang. "Justru sebaliknya, Abang seneng banget. Abang sayang onty." serunya seraya tersenyum lebar.


"Uh, manisnya keponakan onty!" Luna gemas sendiri dengan tingkah Damar.


"Onty, kalau om Lian jahatin Onty, bilang Abang ya, biar Abang marahin kalau perlu Abang yang gantiin om Lian, biar dia tau rasa." seru Damar penuh semangat membuat Luna melongo.


Luna terkekeh mendengar ucapan Damar. "Okey keponakan ony yang ganteng!" sahut Luna sambil mencubit pipi Damar gemas.


Mobil yang membawa Luna dan Damar pun keluar dari area sekolah. Namun, tanpa mereka sadari, ada sebuah mobil Fortuner yang telah mengikuti mereka sejak Luna keluar dari Angkasa Mall.


Saat baru pertengahan jalan, Reno mulai menyadari keberadaan mobil Fortuner itu. Reno mengerutkan dahinya, penasaran apakah benar mobil itu mengikuti mobilnya. Lalu ia memilih jalan memutar dan benar saja mobil itu masih mengikuti. Bahkan ada satu buah mobil lagi di belakangnya. Reno segera melirik ke arah Luna yang tampak sedang asik berbincang dengan Damar.


Reno hendak menghubungi Aglian, tapi panggilannya tak dijawab. Ia pikir mungkin ia sedang rapat apalagi kata sesama rekannya, Aglian akan mendatangi Indomarco Coal TBK. Lalu ia segera menghubungi rekannya yang lain dan mengkonfirmasi dugaannya agar mereka segera mengirimkan bantuan dan menyelidiki siapa yang ada di dalam mobil itu.


Namun, belum sempat bantuan datang, tiba-tiba ada mobil yang datang dari pertigaan jalan dan mencoba menabraknya, beruntung Reno segera membanting stir untuk menghindari tabrakan mobil itu.


Brakkk ...


Terdengar suara tabrakan mobil tadi dengan mobil lainnya. Luna dan Damar yang menyadari ada sesuatu yang tidak beres, menjadi khawatir.

__ADS_1


"Onty ..." Luna mendekap erat tubuh gemetar Damar untuk menguatkan.


"Ssst ... anak laki-laki nggak boleh penakut apalagi cengeng. Kita percayakan sama Allah ya! Yakinlah, kita pasti selamat." ucap Luna menenangkan.


Reno berusaha untuk tenang. Tak lama kemudian, seseorang menghubunginya. Melalui earphone, ia sekarang tau siapa dalang dari semua ini. Siapa lagi kalau bukan Derian dan abdi setianya, Aldo.


Reno menyeringai, lalu ia segera mengabari Aglian. Beruntung Aglian sudah dapat dihubungi.


Kini mobil mereka saling kejar-kejaran, terlihat bantuan datang tak jauh dari mereka. Rekannya mencoba memblok mobil Derian, namun dihalangi mobil Aldo sehingga mobil Derian dapat melaju bebas mengajar mobil Luna.


"Dasar gadis kecil kurang ajar! Karena kau, usahaku bertahun-tahun jadi hancur dalam sekejap mata. Kau ingin memenjarakan aku, hah! Daripada aku membusuk di penjara, bukankah lebih baik kita mati bersama, keponakan ku tersayang. Kita akan menyusul ayahmu. hahaha ..."gumam Derian sambil terbahak. Tangan tuanya ternyata masih mampu mengendalikan laju mobil dengan baik. Semakin menua, bukan berarti kemampuan pun makin menua. Justru semakin menua, pengalamannya makin bertambah. Kini ia menambah kecepatan mobilnya agar dapat mengejar mobil Luna .


Derian segera mengeluarkan Glock 17 dari belakang pinggangnya. Ia segera membuka jendela kaca mobilnya dan mengarahkan Glock 17 ke mobil di depannya.


Dor ...


Tembakan pertama dapat dihindari mobil yang dikendarai Reno.


"Sial!" umpat Derian.


Dor ...


Tembakan kedua mengenai bemper belakangnya.


"Aaargh ... sopir sialan!" geram Derian.


"Nona, sebaiknya kalian menundukkan kepala kalian." ucap Reno tenang. Tapi nada suaranya terdengar panik.


Luna paham saat mendengar suara tembakan yang begitu nyaring langsung memeluk tubuh gemetar Damar dan menundukkan kepala mereka berdua.


Dor ...


"Aaaaakh ..."


Tiba-tiba mobil kehilangan keseimbangan karena ban mobilnya lah yang menjadi sasaran.


Reno berusaha mengendalikan mobil itu, namun baru saja mobil itu hendak menepi ke area yang sepi, brakkkk.....


Bemper mobil telah ditabrak Derian membuat mobil itu benar-benar kehilangan keseimbangan dan terseret lalu bagian samping menabrak pagar pembatas jalan.


Brakkk ...


Sedangkan mobil Derian, ikut kehilangan keseimbangan dan menabrak pilar MRT membuat mobil itu langsung berasap dan bom ... meledak.


"Sampai jumpa di alam lain keponakanku." ujar Derian sambil terkekeh sebelum api membakar semua bagian mobilnya.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2