Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.66 Ego Lea


__ADS_3

Saat sedang duduk bersandar di bangku, tiba-tiba mata Adam melihat sosok yang ia kenal. Matanya membulat sempurna, ia yakin dengan siapa yang dilihatnya. Ia pun segera mengikuti gadis itu yang ternyata adalah Tita. Sepertinya Tita baru saja membeli kopi dan makanan ringan dari kantin rumah sakit. Adam pun tanpa sadar mengikuti ke mana tujuan Tita.


'Mau kemana Tita? Siapa yang dirawat di rumah sakit ini? Apa Anggi? Ah, semoga saja bukan. Tapi ... bila pun benar, bukankah ini kesempatanku untuk memberinya perhatian agar ia mau kembali ke pelukanku.' seringai Adam dengan mata berbinar penuh harap.


Tak lama kemudian Adam melihat Tita masuk ke sebuah ruangan VIP. Adam mengerutkan dahinya karena rasa penasaran yang belum terobati.


Kini Adam tengah berdiri di depan pintu ruang VIP tersebut. Ada perasaan ragu yang menyelinap, menghalangi langkahnya untuk masuk ke ruangan itu. Ingin dia mengetuk pintu, tapi karena sadar jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, bisa jadi pasien yang dirawat di dalam sana telah tertidur membuatnya mengurungkan niatnya. Adam pun memberanikan diri mendorong pintu ruangan itu secara perlahan hingga terbuka sempurna. Lalu ia mengedarkan pandangannya ke 2 orang yang malah membelalakkan matanya karena terkejut melihat keberadaannya dari kursi yang mereka tempati.


Lalu mata Adam pun beralih menatap 2 orang yang tengah tertidur lelap di ranjang pasien.


Deg...


"Karin, Kevin, mereka ...mereka sakit apa?" batin Adam penasaran saat melihat kedua anak kembarnya terbaring lemah di atas ranjang pasien


Tak lama kemudian Raju yang terkejut melihat keberadaan Adam di ruangan itu, dengan gerakan refleks langsung berdiri dan menghampiri Adam. Lalu dengan sekali sentakan ia mendorong tubuh Adam yang tadi mematung agar keluar dari ruangan itu. Setelah mereka di luar, Raju segera menutup pintu setelah sebelumnya memberi kode pada Tita agar mengunci pintu dari dalam.


Ingin sekali rasanya Raju menghajar Adam langsung di tempat itu, tapi sadar perbuatannya dapat memancing keributan yang justru mengganggu tidur Karin dan Kevin, bahkan bisa juga pasien di kamar lainnya, Raju segera menarik lengan Adam, tujuannya adalah taman rumah sakit itu.


Namun Adam menyentak tangan Raju hingga pegangannya terlepas. Lalu Adam menatap nyalang mata Raju karena kesal tangannya diseret begitu saja dari ruangan itu seolah ia tidak diperbolehkan menemui anak-anaknya.


"Apa-apaan kau brengsek? Kenapa kau menarikku keluar dari ruangan itu, hah?" bentak Adam


Raju tampak menyeringai, "Dari mana kau tau kami ada di sini, hah?" tanya Raju, mengabaikan pertanyaan Adam sebelumnya.


"Jangan mengalihkan pertanyaan brengsek!" bentak Adam lagi. "Apa salah aku ingin melihat anak-anakku?" sambungnya


"Anak-anakmu?" tanya Raju menyeringai. "Cih, sejak kapan kau peduli pada anak-anakmu, hah? Kau tau, kedatanganmu itu justru akan memperparah sakit mereka, bodoh." umpat Raju kesal sebab ia sudah benar-benar muak melihat keberadaan Adam di sekitar kehidupan Anggi.

__ADS_1


"Apa? Memperparah sakit mereka? Jangan mengada-ada. Kau pikir aku akan percaya dengan kebohonganmu itu." delik Adam


"Maaf tuan, kalau kalian ingin bertengkar tolong jangan di sini! Kalian bisa menggangu istirahat pasien di sini." potong seorang perawat yang mencoba melerai perdebatan antara Adam dan Raju.


"Maafkan kami sus sudah mengganggu kenyamanan di sini." ucap Raju sopan, sedangkan Adam bersikap acuh tak acuh.


Raju pun segera memberi kode pada Adam agar mengikuti langkahnya. Tak lama kemudian, tibalah mereka di taman belakang rumah sakit tempat keluarga pasien untuk sekedar melepas penat atau beristirahat. Setibanya mereka di taman itu, Raju segera membalikkan badannya hingga mereka saling berhadapan.


"Kau tau, kau itu selain suami yang brengsek, juga seorang ayah yang tak bertanggung jawab. Kau tahu, anak-anakmu itu sakit karena perbuatanmu tempo hari, brengsek. Kau membuat keributan di rumah mbak Anggi dan berteriak-teriak sehingga mereka merasa ketakutan. Alhasil malamnya Karin dan Kevin mengalami demam tinggi dan setelah diperiksa penyebab utamanya adalah tekanan batin akibat seringnya melihat kau melakukan kekerasan baik secara verbal maupun fisik pada Mbak Anggi sehingga mereka menderita gangguan kecemasan. Bagaimana , apa kau senang melihat anak-anak menderita dan sakit seperti itu?" hentak Raju pada Adam.


Hati Adam mencelos saat mendengar penuturan Raju. Ada rasa tak percaya atas kebenaran yang disampaikan Raju tersebut.


"Nggak, nggak mungkin. Ini pasti cuma alasan kalian kan untuk menghalangiku menemui anak-anakku, iya kan!" bentak Adam tak terima disalahkan atas sakitnya Karin dan Kevin.


"Kau memang lebih tua usianya dariku tapi ternyata pola pikirmu tak sedewasa usiamu. Kalau kau tidak percaya ucapanku, tanyakan saja pada dokter Aisyah yang menangani langsung penyakit Karin dan Kevin." ucap Raju lalu ia pun pergi meninggalkan Adam yang mematung.


Adam mencoba mencerna setiap perkataan Raju tadi. 'Benarkah aku penyebab Karin dan Kevin sakit? Bila benar, alangkah brengseknya aku. Dulu, saat masih tinggal bersama, aku tak pernah mempedulikan mereka dan kini setelah berpisah pun aku masih menyakiti mereka. Semoga apa yang Raju katakan hanya kebohongan belaka. Karena bila benar, kemungkinan aku dapat meraih Anggi kembali ke pelukanku akan semakin kecil. ' desah Adam dalam hati.


*Tapi belum sempat ia menghampiri bagian resepsionis, ponselnya berdenting pertanda pesan masuk. Saat ia membacanya, mata Adam langsung membulat sempurna.


"Mas, kayaknya rumah kita kemasukkan maling. Perhiasanku semuanya hilang. Kamar mama juga kayaknya dimasukkan tapi aku nggak tau apa aja yang hilang."


Tubuh Adam tiba-tiba lemas seketika*.


.


.

__ADS_1


.


Sedangkan di saat yang sama, Anggi dan Diwangga saat ini masih berada di dalam pesta pernikahan Rafad dan Sunny. Mereka sedang bersiap ingin pulang. Sebelum pulang mereka menyempatkan diri menyapa dan memberi ucapan selamat pada kedua mempelai yang kini sudah turun dari atas pelaminan. Mereka berdua tampak membaur bersama para tamu.


"Ngga, kami mohon maaf ya atas ketidaknyamanannya? Aku juga nggak habis pikir Lea bisa berbuat seperti itu. Maafkan kami ya, Anggi. Benar kan, nama Anda Anggi?" ucap Sunny mencoba meyakinkan


"Benar, nama saya Anggi. Tidak perlu berbicara formal, santai aja. Oh ya, nggak usah pikirin yang tadi. Kami nggak apa-apa kok. Kami juga sepantasnya turut meminta maaf karena membuat kegaduhan di pesta pernikahanmu." ucap Anggi tulus


"Benar, Raf, Sunny, kami tak bermaksud membuat kegaduhan di pestamu. Maafkan kami yang tadi terbawa suasana." timpal Diwangga penuh penyesalan


"Tak apa-apa, Ngga. Itu semua bukan salah kalian. Terima kasih sudah mau datang ke pernikahan kami." ucap Rafad


"Semoga kalian jadi keluarga sakinah, mawadah,dan warohmah, ya ." doa Anggi tulus


"Aamiin." jawab Rafad dan Sunny bersamaan


"By the way, kapan nih nyusul?" ucap Rafad seraya menaik turunkan alisnya


"Insya Allah dalam waktu dekat. Mohon ditunggu undangannya dan jangan lupa untuk hadir, pastinya." jawab Diwangga dengan tersenyum lebar.


"Wah wah wah, akhirnya, bakalan nyusul juga nih! Pantas aja Lea tadi ketar ketir." ledek Sunny lalu mereka pun tergelak bersama.


"Le, kamu nggak mau minta maaf sama mereka?" tanya Meri pada Lea yang kini sedang duduk di sudut ruangan. Dari sana mereka dapat melihat keberadaan Anggi dan Diwangga yang sedang berpamitan pada Rafad dan Sunny.


Lea hanya tersenyum kecut. Sifatnya yang tinggi hati, membuatnya enggan untuk mengucap maaf walaupun itu untuk kebaikannya sendiri.


"Iya, Le, mumpung mereka masih disini." timpal Rini

__ADS_1


"Buang jauh-jauh egomu, Le. Jangan sampai kau menyesal kemudian karena sifat keras kepala dan egomu yang terlalu tinggi itu." Dila mencoba mengingatkan, tapi sayang Lea tetap acuh.


Lea tak bergeming sedikitpun pun. Walau dalam hatinya sebenarnya ada sedikit rasa was-was, tapi egonya yang tinggi seolah membisikkan untuk tak melakukan hal tersebut. Ia adalah karyawan teladan di Angkasa Grup, tak mungkin hanya karena permasalahan sepele seperti itu ia sampai dipecat. Siapalah Anggi, hanya seorang penyewa kios di Angkasa Mall yang hanya bagian dari bisnis Angkasa Grup. Wanita itu tak terlalu penting sampai harus membuatnya dipecat, batinnya.


__ADS_2