
Mobil yang membawa Aglian kini melaju dengan kencang membelah jalanan pulau Dewata itu. Aglian merasa beruntung sebab jalanan sedikit lengang karena sore tadi sempat diguyur hujan. Di dalam mobil, dada Aglian tak henti-hentinya berdebar kencang. Ini adalah untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Bahkan dulu, saat pertama kali menghadapi investor dari luar negeri saja ia tak pernah merasa gugup, berdebar, apalagi gemetar seperti saat ini.
'Gila, benar-benar gila, pelet apa yang digunakan gadis nakal itu sampai membuat seorang Aglian bisa bertindak sejauh ini.' ujar Aglian sambil terkekeh dalam hati.
Bagaimana tidak, baru saja sore tadi ia melakukan perjalanan udara Jakarta-Surabaya dan malamnya disambung lagi penerbangan Surabaya-Bali dengan tujuan berbeda. Dan yang lebih gila lagi, perjalanan ini ia lakukan hanya karena melihat foto seorang gadis yang sedang berpegangan tangan lalu dipeluk oleh seorang laki-laki yang dikirim kepadanya.
Akhirnya, mobil yang membawa Aglian dan Robi tiba di tempat tujuan. Tak mau buang waktu, belum sempat mobil berhenti di tempat semestinya, Aglian sudah lebih dulu membuka pintu dan melompat keluar dari mobil itu, membuat Robi dan sang sopir melongo.
"Apa bapak ada pertemuan?" tanya pak sopir pada Robi saat mobil telah benar-benar berhenti. Ia pikir mungkin, Aglian ada pertemuan dan hampir terlambat karena itu ia terlihat sangat terburu-buru.
Robi menggeleng. "Nggak ada." jawabnya singkat membuat pak sopir makin bingung. 'Kalau nggak kok tampak terburu-buru banget !' gumam sopir itu.
"Sebenarnya tuan Lian mau ketemu siapa sih kok sampai terburu-buru banget kayak gitu?" Robi pun tampak bertanya-tanya sebab selama perjalanan pun Aglian tak mengatakan apa-apa.
...
Luna kini sedang berjalan di tepi pantai sembari menghirup udara malam di sana yang terasa sangat menyegarkan. Dengan kedua tangan bersedekap di dada untuk menghalau dingin yang menyergap tubuhnya, ia berhenti dan memejamkan matanya. Semua yang ia lakukan tak luput dari tatapan Kentaro yang memang masih duduk di tempat semula. Luna sengaja meminta waktu sendiri. Entah mengapa, ada rasa yang aneh dalam hatinya. Merasa tak nyaman tanpa tahu alasannya.
Namun tiba-tiba saja ada sesuatu yang menutupi pundaknya hingga ke arah depan tubuhnya membuat Luna tersentak. Dingin yang tadi menyapa kini terhalau dan berganti kehangatan. 'Aroma ini ...'
Luna lantas membalik tubuhnya ke arah belakang. Matanya seketika membelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ma ... Mas Lian." Luna sampai mengucek matanya berkali-kali, takut-takut salah lihat atau hanya imajinasinya saja.
"Ngapain di sini malam-malam, hmm? Nggak dingin?" tanya Aglian seraya menepikan helaian rambut Luna yang berterbangan ke belakang telinganya.
"Kok Mas Lian bisa ada di sini?" tanya Luna, mengabaikan pertanyaan Aglian barusan.
Cletak ...
Aglian lantas menjentikkan jarinya di dahi Luna membuatnya meringis kesakitan.
"Mas ... sakit!" rengek Luna.
"Salah sendiri, orang nanya, bukannya dijawab, malah dibalas nanya." ketus Aglian.
"Lun ..." panggil Kentaro. Ia yang baru saja kembali dari toilet terkejut saat melihat Luna sedang berbicara dengan seorang lelaki. Matanya bahkan memicing saat melihat sebuah jas tersampir menutupi tubuh Luna. Gegas ia mendekati Luna untuk mengetahui siapa lelaki yang berani-beraninya mendekati Luna saat ada dirinya sedang tidak ada.
"Eh, Tang." sahut Luna kikuk.
"Siapa dia?" tanya Kentaro dengan tatapan sinis.
"Loe nggak tau dia siapa? Yah, kurang update loe, padahal loe sering mampir ke Angkasa Mall." ujar Luna dengan nada meremehkan. Kentaro hanya mengernyitkan dahinya karena penasaran. "Dia ini sodara kembar mbak Anggi, pemilik Angkasa Mall juga. Masa' nggak tau."
"Hah! Seriusan loe!" ucap Kentaro. "Tuan beneran CEO Angkasa?" tanya Kentaro meminta kepastian.
"Hmm ..." jawab Aglian hanya berupa dehaman.
__ADS_1
"Perkenalkan, tuan. Saya Kentaro." Kentaro mencoba memperkenalkan diri dengan bangganya.
"Ya , saya sudah tau." sahut Aglian singkat. Lalu tatapannya beralih ke Luna. "Ayo, balik! Sudah malam, nggak baik anak perempuan di luar malam-malam kayak gini. Cuacanya juga dingin, nanti masuk angin." ucap Aglian seraya merangkul bahu Luna dan dengan sedikit dorongan agar Luna mengikuti langkahnya.
"Eh, tunggu , Mas, kan Luna ke sini bareng Kentang, Luna mau pamit dulu dong , masa' main cap cus cap cus aja. Luna juga mau ambil tas Luna di meja tempat Luna duduk tadi." ujar Luna seraya menurunkan tangan Aglian dari bahunya membuat Aglian mendengus kesal
"Tang, gue pamit balik duluan, ya!" ucap Luna lalu ia berlari menuju meja untuk mengambil tasnya.
Kentaro hanya bisa melongo saat menatap kepergian Luna dengan Aglian.
Setelah melihat Luna memakai tasnya Aglian kembali merangkul bahu Luna dan mengajaknya menuju mobil yang membawanya kemari.
Robi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku atasannya itu. Sebenarnya ia penasaran apa hubungan antara atasannya dengan gadis bernama Luna itu. Namun ia tidak berani menanyakannya. Terlalu banyak pertanyaan yang bercokol di benak Robi, belum selesai masalah Stefani lalu kini harus berurusan dengan Luna. Apalagi Aglian tampak terlalu over protektif pada gadis itu.
'Apa Tuan selingkuh dari Stefani? Tapi mana mungkin. Ah mungkin saja itu permintaan Bu Anggi takut terjadi apa-apa pada adik angkatnya itu.' gumam Robi sambil manggut-manggut.
"Ngapain kamu manggut-manggut kayak gitu?" tanya Aglian pada Robi sesaat setelah mereka memasuki mobil.
"Ah, ti-tidak ada tuan." jawab Robi kikuk.
'Ternyata terburu-buru karena urusan cewek.' gumam pak sopir dalam hati seraya melirik ke belakang lewat kaca spion. Tanpa sadar , pak sopir pun tersenyum saat menyadari mungkin si bos sudah jadi bucin seorang gadis muda yang sedang duduk di sebelahnya.
Aglian lalu meminta sopir mengantarkan mereka ke hotel tempat Luna menginap. Luna benar-benar terkejut sebab tanpa perlu memberitahu ternyata Aglian telah mengetahui di mana ia menginap. Ingin ia bertanya, tetapi ia merasa tak enak karena di mobil itu bukan hanya ada mereka berdua.
Mobil yang membawa Aglian dan Luna telah tiba di hotel tempat Luna menginap. Sebelum masuk ke dalam hotel, terlebih dahulu Aglian meminta Robi memesankan pakaian ganti untuk ia pakai malam ini dan esok hari. Setelah Robi pergi, barulah ia dan Luna masuk ke dalam hotel menuju kamar Luna.
"Tadi mau reservasi, taunya udah full booked semua. Jadi Mas numpang tidur di kamar kamu aja, ya! Tenang aja, Mas nggak bakalan macem-macem, kok!" ucap Aglian seraya mengedipkan sebelah matanya.
Luna mendadak kikuk sendiri mengahadapi Aglian. Namun ia tetap mempersilakan Aglian masuk ke kamarnya.
"Janji lho, nggak ngapa-ngapain?" tekan Luna.
"Iya, iya, janji. Nggak usah khawatir." ucap Aglian seraya membaringkan tubuh lelahnya di sofa tak jauh dari tempat tidur Luna.
Setelah melihat Aglian tampak berbaring tenang di sofa, Luna gegas beranjak mengambil pakaian ganti dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Jas Aglian yang sempat ia pakai juga sudah ia gantung di tempatnya.
Saat Luna sedang berada di kamar mandi, terdengar suara pintu di ketuk. Aglian segera berdiri dan membuka pintu. Aglian sudah tau itu adalah Robi yang ingin memberikan paperbag berisi pakaian ganti. Setelah paperbag itu di tangan, Aglian segera memerintahkan Robi untuk memesan kamar dan beristirahat. Ia akan kembali ke Jakarta besok pagi.
"Mas mau mandi?" tanya Luna setelah keluar dari kamar mandi.
"Hmm, kenapa? Mau ikut?" goda Aglian.
"Is, dasar mesum!" ejek Luna sedangkan Aglian hanya terkekeh saat melihat wajah Luna yang memerah.
Tak sampai 15 menit, Aglian telah keluar dari kamar mandi dengan memakai celana pendek selutut dan baju kaos putih tanpa lengan yang membuat otot-ototnya terlihat jelas. Aglian memang senang tidur memakai pakaian seperti itu. Luna hanya bisa berdecak dalam hati karena tak sengaja memuji tubuh Aglian yang tampak kencang dan berotot. Kulitnya pun putih bersih. Tak kalah dengan kulit wanita yang rajin perawatan.
Tak Jauh berbeda dengan Luna, pakaian yang biasanya Luna pakai tidur pun hampir sama. Namun, karena malam ini Aglian menginap di kamarnya, Luna terpaksa memakai kemeja kebesaran dengan hotpant yang tidak terlalu pendek. Ia tak memiliki celana lain, jadilah ia terpaksa berpakaian seperti itu.
__ADS_1
Aglian yang melihat penampilan Luna hanya bisa meneguk salivanya sendiri. Padahal ia sering melihat perempuan berpakaian seksi apalagi saat ia menyelesaikan pendidikan magister-nya di luar negeri, tapi ia tak pernah sekali pun tertarik. Namun hal berbeda saat ia melihat Luna. Padahal pakaiannya masih cukup sopan, tapi sudah sanggup mengobrak abrik jiwa kelelakiannya.
Aglian hanya bisa ber-istighfar dalam hati, semoga ia masih kuat iman mengahadapi gadis nakalnya itu.
"Mas ..." panggil Luna seraya mendudukkan dirinya di dekat Aglian.
"Hmm ..." sahut Aglian seraya menoleh ke arah Luna.
"Kok bisa ada di sini? Mas Lian ada kerjaan di Bali?" tanya Luna.
"Eh, i ...iya. Mas ada pertemuan tadi. " dusta Aglian.
"Kok bisa tau Luna ada di pantai itu?" tanya Luna penuh selidik.
"Oh, tadi ... tadi Mas pingin merilekskan badan sejenak di pantai, eh taunya Mas liat kamu, jadi Mas hampiri deh!" dustanya sambil tersenyum lebar.
"Ooh, terus Mas bisa tau Luna nginep di sini dari mana?" tanya Luna lagi. 'Mampus, aku harus jawab apa ini!' Aglian tiba-tiba kehilangan kata. Namun tiba-tiba, suara ponsel Aglian berdering. 'Huh, selamat! Siapa kira-kira penyelamatku ini, ya!' gumam Aglian dalam hati seraya bersorak bahagia bisa terbebas dari jerat pertanyaan Luna.
Segera ia melihat siapa yang menelepon malam-malam seperti ini. Luna pun tampak penasaran, lalu Aglian menunjukkan layar ponselnya yang ternyata panggilan itu dari Anggi. Aglian memberi kode untuk diam pada Luna, lalu ia segera mengangkat panggilan itu.
"Ya, halo, Nggi. Ada apa telepon malam-malam?" tanya Aglian pada Anggi.
"Kamu dimana? Tadi mama telepon katanya kamu belum pulang juga. Ditelepon nomor kamu nggak aktif." berondong Anggi.
"Oh , mungkin mama telepon saat aku masih di pesawat. Sore tadi aku ada pertemuan di Surabaya, terus lanjut ke Bali. Jadi malam ini aku tidur di Bali." jelas Aglian.
"Apa? Serius? Jangan terlalu diforsir tubuh kamu, Lian! Nanti kamu sakit. Telepon mama gih, mama udah cemas nungguin kabar kamu dari tadi." pesan Anggi.
"Oke, twins. Salam buat Abang sama si bocil, ya!" ucap Aglian.
"Oke, hati-hati di sana. Jangan macam-macam!"
"Iya, iya, aku tau kok." Setelah mengucapkan kalimat itu, Aglian segera menutup teleponnya.
Lalu wajahnya beralih menatap wajah cantik Luna. Aglian tersenyum melihat wajah polos tanpa polesan itu.
"Tidur gih, udah malam!" ujar Aglian seraya mengusap surai Luna yang indah hingga membuat Luna terkesiap.
"Eh ... I ... iya, Mas." Luna pun segera beranjak menuju tempat tidurnya. Namun terlebih dahulu ia mengambilkan sebuah bantal dan selimut lalu diserahkannya kepada Aglian. Aglian menyambutnya dengan sebuah senyuman manis membuat jantung Luna seketika berdebar hebat.
'Apa-apaan sih ni jantung, kok bisa-bisanya jumpalitan! Ingat Lun, Mas Lian itu udah ada yang punya. Jangan sampai loe jatuh hati pada dia! Bisa berabe.' sisi kanan Luna bersuara.
'Ih, nggak papa kali, Lun, kalau loe suka dia, kan janur kuning belum melengkung.' kini giliran sisi kiri yang bersuara.
Luna sontak menggetok kepalanya sendiri karena memiliki pemikiran aneh seperti itu. Tak mau berpikir macam-macam lagi, Luna segera menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya hingga ke kepala. Semua tingkah laku Luna tersebut, ternyata tak luput dari perhatian Aglian. Aglian hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku absurd gadis nakalnya itu.
'Syukurlah, aman dan terkendali.' kekehnya dalam hati.
__ADS_1